
Ruangan penuh warna cerah dengan banyak botol minuman bekas yang disusun beraturan di sisi ruangan hingga membentuk wajah Rara terpampang di pinggir ruangan depan rumah Rara. Ruangan minimalis dengan perabotan seadanya berupa tiga buah kursi plastik dan satu meja kayu buatan tangan yang jelas masih menunjukkan serat serat kayu yang hanya diberi pelitur itu.
Rara membawa Gege masuk ke rumahnya, membuat itu duduk di atas kursi," Sebentar ya nak," ucap Rara sambil mengusap lembut wajah Gege.
Gege menatap Rara dengan wajah terpaku diam, hati kecil anak itu bergetar, dia menangis tapi menyembunyikan tangisannya. Air matanya terlalu nakal dan selalu keluar dari tempat persembunyiannya.
Tangan mungil, putih dan gemuk itu mengusap kedua matanya berkali-kali agar bulir bulir air mata yang jernih bak kristal itu tetap bersembunyi di balik matanya yang indah.
" Gege nggak boleh menangis, Gege harus tetap kuat supaya bisa melihat Mama terus, dia Mama Gege, Foto tadi itu foto Gege, sama persis dengan wajah Gege di ponsel Papa... Gege harus tenang, air mata jangan nakal, Gege sudah ketemu sama Mama Gege .." malaikat kecil itu menghibur dirinya sendiri.
Wajah bayi di ponsel Farhan adalah wajah Gege ketika dia baru ditemukan. George adalah putra Rara yang hilang, anak laki laki yang selama ini dia cari, tanpa sepengetahuan nya sudah ada di dekatnya.
"Mama Gege sangat cantik, hiks hiks hiks... papa nggak boleh tau, kalau Papa tau... Papa pasti marah kan? Papa nggak boleh tau kalau dia Mama Gege, tapi Gege mau Mama... Apa yang harus Gege lakukan???" Anak itu masih begelut dengan pikirannya sebelum Sadar kalau Rara sejak tadi memperhatikan dirinya dengan tatapan heran.
" Hei... sedang memikirkan apa ?" jari Rara yang indah menyentuh pipi gemuk merona itu. Cepat cepat Gege mengusap kedua matanya dan menghapus air mata nya yang nakal.
"Kaki Gege sakit Mm...T...Tante..." Jawab anak itu dengan suara gugup. Anak sekecil itu berusaha menyembunyikan bahwa dirinya gugup menatap langsung sang ibu, yang dia pikir meninggalkan dirinya dan sang ayah tapi ternyata mencari keberadaan nya.
Hampir saja Gege memanggilnya dengan sebutan 'Mama', sebuah kata yang sangat ingin dia ucapkan.
Rara menepuk pucuk kepala anak itu dengan lembut. Dia membawa kotak P3K di tangannya," Tante obati dulu luka kamu ya sayang, nanti kita ke klinik, Orangtuamu juga harus tau kamu disini," ucap Rara.
Dengan lembut dan penuh perhatian, Rara mengobati luka di lutut, wajah dan lengan anak itu.
"Akhh... sakit...." lirih Gege kala cairan antiseptik dioles di atas luka terbuka anak itu.
" Fuhhhh..... fuhhhhh.... tenang sayang, ini sakit sebentar, tenang ya..." Ucap Rara sembari meniup luka itu.
__ADS_1
Dengan rapi dan teliti Rara menutup luka di tubuh Gege.
"Wahh George hebat, kita sudah selesai!!!" seru Rara sambil memeluk Anak itu dengan lembut.
Gege terdiam, dia sadar yang memeluknya saat ini adalah ibunya, orang yang sangat dia idamkan agar hadir di hidupnya.
Tangan kecil nan menggemaskan itu memeluk Rara dengan erat, berusaha menyembunyikan rasa haru dan bahagia ketika dia menemukan ibu kandungnya tanpa sengaja.
Namun tiba-tiba tubuhnya terasa seperti melayang di udara. Gege terkejut, dia hendak menoleh ke belakang tetapi Rara membisikkan sesuatu di telinganya," Ge jangan melihat ke depan, Tanta bawa kamu ke dalam dulu, ada yang harus Tante selesai kan," Ucap Rara.
Cepat-cepat perempuan itu berlari ke kamar seolah dia sedang dikejar oleh sesuatu. Gege penasaran, dia berbalik dan melihat di luar rumah ada seorang wanita bertubuh gemuk dengan rambut pendek yang diluruskan, tahi lalat besar di bawah mata kanannya, leher pendek yang berlipat dihias dengan bola bola mutiara putih, serta kacamata yang bertengger di wajah bulatnya yang gemuk.
Tubuh perempuan itu pendek dan gemuk, dibalut dengan blazer Merah di atas kaos hitamnya dan celana kulot hitam semata kaki. Penampilannya sangat mencolok, belum lagi sepuluh jari tangannya diisi dengan cincin berbatu besar.
Baru melihat wanita itu saja sudah membuat Gege merinding, dia menutup matanya dan memeluk Rara dengan erat.
Wanita itu membawa Gege ke dalam kamar dan meletakkannya di atas kasur," Nak apa pun yang kamu dengar nanti, Tante mohon jangan keluar, jangan sekalipun kamu keluar dari kamar ini ya, Tante tidak mau terjadi sesuatu yang buruk, tetap di kamar, biar Tante selesaikan masalah dengan orang itu dulu," ucap Rara.
" Sebentar ya sayang," ucap Rara.
Gege diam dan menurut, dia duduk disana dengan wajah penasaran.
Sementara itu Rara keluar dar dalam kamar dengan membawa tasnya yang dia isi dengan uang untuk melunasi utang pada sang Bibi, kamarnya dia kunci rapat-rapat agar mereka tak masuk ke ruangan itu..
Dengan wajah gugup, Rara berjalan ke depan. Bibinya duduk di ruang depan dengan angkuh menelisik seisi ruangan itu. Satu Ajudannya berpakaian seperti seorang tentara kerajaan berdiri di belakangnya seolah sedang mengkawal seorang ratu.
Rara berjalan dengan pelan, dia membawa semua uang yang dia miliki," Bibi sudah datang?" ucapnya pelan. Dia takut dengan bibinya yang kejam, padahal wanita itu adalah adik kandung ayahnya sendiri.
__ADS_1
" Bibi... sedeh deteng... cuihhh... jangan basa basi padaku Clara.. jangan menunjukkan wajah seperti ibu sialanmu yang sudah mati itu!!!" Baru saja tiba, dia sudah menghina Rara, wanita bernama lengkap Clara Maddison itu.
Rara hanya diam dan mengepalkan kedua tangannya, jika bukan karena utang dia pasti sudah melawan perempuan tidak tau diuntung itu.
"Mana uangnya!?" tanya Wanita yang kerap disapa Nyonya Korry itu. Rentenir yang memeras darah keponakannya sendiri.
Tangannya yang dipenuhi dengan batu batu besar itu naik turun di atas udara dan menatap Rara dengan angkuh.
Rara mengeluarkan ikatan uang yang dia kumpulkan selama sebulan, dia sudah membicarakan tentang utang itu pada sang Bibi, dan berjanji akan melunasi semuanya hari ini.
"Ini bi... ini semuanya beserta bunganya... tidak kurang satu lembar pun!!" ucap perempuan itu dengan penuh semangat.
Nyonya Korry menatap ikatan uang itu, lalu mengambilnya seolah olah dia jijik dengan uang yang dipegang oleh Rara.
" Hitung!" ucapnya pada bodyguardnya.
Pria itu menurut dan langsung menghitung," Lima juta, sesuai janji nyonya!" ucap orang itu.
" hmmm...." Dia menatap Rara sambil menaikkan satu alisnya, menatap perempuan itu dari atas sampai bawah," Sudah turun mesin tapi masih sok perawan, hei perempuan bayaran, perempuan miskin!?, kau mau dapat pekerjaan seperti tujuh tahun lalu? kali ini tidak akan salah kamar lagi, kau pasti akan dapat pria tampan yang memuaskan bir*himu!!!" ucap wanita itu dengan nada merendahkan Rara.
Rara menatap perempuan itu dengan senyuman kaku," utangku sudah lunas kan bi? lalu bibi mau memberi pekerjaan baru?" tanya Rara sambil menggigit bibir bawahnya sebelum dia benar benar meledak .
Nyonya Korry sekali lagi menatap wanita itu dengan tatapan sepele," hmm... utangmu sudah Lunas, aku mau memberimu pekerjaan baru," jawabnya dengan gamblang," turun mesin sekali tak akan membuat mu tak punya rasa, kurasa milikmu pun masih ketat karena lama tak dipakai, atau mungkinkah kau jadi Jal4ng untuk mendapatkan uang ini!??" ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 🤗