Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB


__ADS_3

Seluruh isi rumah sakit panik mendengar teriakan melengking dari Irene yang sedang mengamuk, gadis malang itu berlari keluar dari dalam kamarnya. Mengamuk sambil membawa benda tajam yang dia curi dari dokter yang masuk ke ruangannya.


“ mati kalian hahahhahaa... mati kalian sialan...” teriakan melengking gadis itu membuat semua pasien panik. Mereka meringkuk ketakukan, beruntung para perawat datang dan langsung mengaman kan lokasi sehingga pasien lain tidak terganggu.


“ Irene.. turunkan senjatamu , gadis baik, ayo turunkan senjatamu...” bujuk perawat yang menjaganya di rumah sakit itu. Mereka berusaha sesabar mungkin menghadapi Irene. Sangat berbahaya jika dia sudah mengamuk.


Irene tertawa, menangis dan marah di saat yang sama,” turunkan? Hahhaha.. harusnya ku turunkan ke arah perutmu lalu kucabik-cabik perutmu itu jal4ng... beraninya kau memerintahku.... tidak ada yang menghargai ku, kalian tidak menganggapku keluarga hiks hiks hiks.. akahahhahahaha... ahhahahaa... aku menangis lagi....akhhh....” Dia meracau. Keadaannya sangat kacau dan menyedihkan.


“ Irene tolong tenanglah, tidak akan selesai kalau kamu marah seperti ini,” suara Rara terdengar di telinga Irene. Sontak di berbalik dan menatap Rara dengan air matanya yang mengelir dengan deras membasahi kedua pelupuk matanya.


“ hahhaha... Rara... halo Rara..... hiks hiks hiks... Rara... kau harus mati... kauharus mati.. kau mengambil semuanya dari diriku...” Irene berlari menodongkan senjatanya bukan ke arah Rara tapi ke arah pasien lain yang ada disana.


“Arrkhhh... arkrkhhh to... tolong...” pekik wanita itu dengan pisau bedah yang berada tepat di depan lehernya.


“ IRENE HENTIKAN SEMUA INI...” Rara berteriak histeris.


Tetapi tampaknya teriakan wanita itu tidak ada gunanya karena Irene sudah diselimuti dengan kebencian dan dendam yang sangat berkarat.


“ Kau harus mati kakak ipar, dan kau Giselle, kau bukan bagian keluarga ini kenapa kauikut campur atas semunya, aku juga anggota keluarga ini...a rrhkkkk sialan...” pekiknya.


Semua orang panik, perempuan itu tidak mudah di tenangkan, Irene kembali kambuh saat keluarganya datang ke ruangannya dan meminta pembicaraan pribadi. Tidak seorang pun tahu apa yang mereka lakukan pada Irene, Irene di paksa menandatangani surat pengalihan harta warisan yang di sisihkan mendiang sang kakek padanya. Dan terjadi lagi, seorang anak yang menjadi korban akibat harta warisan.


Karena Irene bersikap baik dan lembut, kepribadiannya juga hangat, kakeknya sangat menyayanginya sekalipun seluruh keluarga menolak keberadaan gadis itu. Tapi siapa sangka setelah kematian kakeknya, neraka sepunggungnya menghantui gadis itu selama bertahun-tahun.


Dia dilecehkan, dijebak, dipukuli dan direndahkan ,bahkan diusir dari rumahnya sendiri. Seluruh pendapatannya di kuras dan harta kekayaan miliknya direnggut oleh sang ibu sambung yang begitu kejam dan mengerikan.


Mereka semua hanya menganggap Irene sebagai mesin pencetak uang sedang mereka menikmati usaha Irene dan semua harta warisan yang dilimpahkan kepadanya. Hingga Irene mengalami gangguan jiwa, dia mengalami tekanan mental dan depresi bertahun tahun.


“ Irene... sadarlah, ini aku Rara, Pliss jangan begini , Irene.. Irene.. Irene lihat aku...” suara Rara terdengar begitu pilu, dia menangis seiring dengan itu tangan Irene turun dari leher wanita itu dan dia berbalik menatap Rara.

__ADS_1


“ Hiks hiks.. Rara.... kenapa semua ini terjadi padaku... kenapa semua yang kusukai dan semua yang kumiliki diambil , aku sendirian Rara... aku kesepian Raa... aku ketakutan Raa..... aku.. hiks hiks hiks....


Irene menangis sesenggukan dan berjalan dengan lemah masih memegang pisau bedah itu.


“ Kemarilah, kamu gak sendirian Ren.. ada aku.. ada Putri, kamu gak sendirian Irene.... kamu kuat reen...


“ tapi mereka menyiksaku Ra... MEREKA SEMUA MENYIKSAKU...” Pekik Iren yang tiba-tiba berlari dan mengangkat senjatanya ke arah Rara.


“ Mati kauuu ular beludak...” pekik nya dan..


Greeppp... bughhh...praaanggg....


Damian menangkap tangan Irene dengan mudah, menariknya dan memukul lengan gadis itu lalu mencampakkan pisau bedah itu ke sembarang arah,” jangan coba-coba menyakiti Rara, kau wanita bodoh...”umpat Damian sambil menatapnya dengan tatapan tajam.


“ Lepaskan aku... arrkhhh tolong.. tolong aku dia mau melecehkanku... arkrkkhhh...” Irene berteriak histeris saat dia di pegang oleh Damian. Bayang bayang malam menyakitkan dimana tubuhnya di gerayangi entah siapa yang bahkan tidak dia ketahui membuat gadis itu berteriak histeris sambil mennggaruk garuk tubuhnya yang terasa gatal.


Rara terjatuh ke lantai saat mendengar ucapan Irene, air matanya terjatuh demikian juga dengan putri yang juga menyaksikan semua kejadian itu, dia gemetar menangis panik saat mendengar teriakan Irene.


“ Dia mengidap gangguan jiwa karena pelecehan, sebenarnya saya sudah mengetahuinya sejak sebulan lalu saat nona Irene memberitahu saya tetapi melarang untuk membongkarnya sebelum dia melakukannya sendiri, maaf saya tidak bisa membocorkan informasi pasien apalagi dia yang meminat,” ujar dokter yang merawat Irene.


Rara, Max, Daniel dan Damian terdiam mendengar penjelasan dokter itu.


Dengan langkah kaki tertatih, Rara berjalan pelan mendekati Irene yang sedang menangis histeris sambil menggosok gosok tubuhnya bahkan sampai membuat tangannya lecet.


“ Irene...” suara Rara pelan dan lembut, dia mendekati Irene sambil memeluk gadis itu.


“ Hei berhentilah... tenang Ren.. tenang....” bisik Rara sambil memeluk erat sahabatnya , hatinya sangat hancur ketika mendengar hal itu.


“ Ini benar benar di luar dugaan, kasihan dia,” bisik Daniel ke telinga Max yang hanya terdiam membisu menatap gadis itu sambil mengepalkan kedua tangnya.

__ADS_1


“ Apa dia perempuan itu? “ Max menggigit bibirnya, dia terdiam mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Dia mabuk dan di jebak oleh mantan istrinya. Pria itu melakukan hubungan yang tidak seharusnya dengan seorang gadis perawan yang dia renggut kesuciannya malam itu. semua ini adalah jebakan dari mantan istrinya untuk membuktikan kalau Max masih seorang pria dewasa yang punya hasrat.


Suara itu, tangisan dan teriakan itu sejak awal sangat familiar di telinga Max. Dia hanya terdiam membeku menatap Irene yang begitu menderita. Entah Irene perempuan itu atau tidak, dia berjalan dengan langkah berat mendekati Irene.


Hari itu matanya terlalu kabur untuk mengingat wajah Irene tetapi ada satu tanda yang jelas dia ingat.


Max mendekat dan menarik pelan rambut di belakang telinga kiri gadis itu, sebuah tanda lahir berwarna hitam sebesar ukuran biji salak terletak disana.


Deghhh...


Max hanya bisa terdiam,” Ra... kakak pergi dulu,” ucapnya sambil beranjak dari sana dengan langkah cepat dan wajahnya yang pucat.


“ max ada apa denganmu? Kau terlihat pucat?” panggil Damian.


“ Ada yang harus kupastikan, tunggu aku.. aku akan kembali,” ucapinya sambil berlari dengan kencang keluar dari ruangan itu.


Rara, Damian dan Daniel menatap heran ke arah pria itu, sebenarnya apa yang disembunyikan Max pada mereka.


“ tolong urus dia dengan baik,” ucap Damian pada para perawat.


Irene dibawa ke ruangan perawatan dan diberikan suntikan penenang agar dia tidak kambuh dan tertidur untuk beberapa saat.


“ Benar-benar menyebalkan,” batin Damian yang benci melihat perempuan hancur karena tindak pelecehan,” perempuan itu harus dijaga bukan dilecehkan, bajingan mana yang melakukan ini?” batinnya kesal.


.


.


.like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2