Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB


__ADS_3

Pagi yang baru terlah dimulai, kehidupan yang lain telah menanti setiap umat manusia. Sama halnya dengan Damian, dia bangun dari tidurnya yang tidak nyenyak, pria itu berada di ruangan Nana di rawat, pria itu memilih menjaga Nana semalaman dan tidur di atas sofa. Selama lima hari dia melakukan hal itu hanya untuk memastikan Nana merasa tenang dan aman di rumah itu, hanya untuk memastikan gadis malang itu tidak mengalami luka hati yang menyedihkan.


Dia belum membuka matanya, asih berusaha untuk kembali terlelap, tetapi tangan mungil seseorang sedang bermain di atas wajahnya. Sontak pria itu membuka matanya, betapa terkejutnya dia ketika melihat Nana duduk di atas perutnya sambil tersenyum dan menyapanya. Sepertinya kebiasaan anjing yang diajarkan Lily pada gadis itu belum bisa hilang. Nana tidak tahu bersikap normal layaknya wanita dewasa, dia tidak bisa membedakan mana yang harus dia lakukan dan mana yang tidak boleh dia lakukan.


Ini hari pertama gadis yang tubuhnya kecil dan kurus itu bangun dari tempat tidurnya, selama ini dia hanya berbaring lemas di atas tempat tidur dan menangis ketakutan setiap malam, yang lebih parah Damian mendengar perempuan itu melolong sedih seperti anjing di malam purnama.


“ Guk... guk...”


Nana dengan senyum lebar, dan wajah polosnya, duduk di atas perut Damian sambil menatap pria itu dengan mata berbinar-binar. Seperti anjing yang diselamatkan dari jalanan, demikianlah sikap gadis cantik bersurai cokelat terang itu.


“ Nana? Sedang apa di atas tubuhku, dan kenapa kau menggonggong, kau manusia Nana, tidak ada yang memperlakukanmu seperti hewan di sini, turun..” hardik Damian.


Gadis itu mengerutkan wajahnya sambil menunduk dan turun dari perut pria itu lalu duduk di atas lantai seperti seekor anjing yang dimarahi oleh tuannya.


Damian tidak habis pikir dengan apa yang barusan di lakukan oleh Nana, bagaimana bisa gadis itu masih menganggap kalau dirinya adalah seekor anjing? Yang benar saja?


Pria itu terperanjat, dia bangkit dari sofa dan mendekati Nana yang masih mengerucutkan bibirnya sambil menggaruki tubuhnya.


“ Nak, kamu bantu dia sampai sembuh. Dia tanggung jawab kamu sejak kamu memilih menyelamatkannya, jangan biarkan dia seperti itu selamanya,” Suara sang ibu terdengar lembut di telinga Damian.


Cherry masuk ke dalam ruangan kamar perawatan sambil membawa dua gelas susu hangat dan dua potong roti untuk mereka.


Nana yang mencium aroma susu dan roti itu langsung merayap bak anjing ke arah Cherry dan tersenyum semringah menatap ke atas sambil menjulurkan lidahnya,” mau... mua....” ucap gadis itu dengan wajah bahagia.


Damian tidak tahan melihat ini tetapi Cherry sudah mempelajari sifat gadis itu, dia masih lekat dengan kebiasaan anjing, menurut penyelidikan tim Alpha, gadis itu sampai di kurung dalam kandang anjing selama satu tahun penuh agar bisa sama persis dengan anjing-anjing pada umumnya.


Jika Damian mengeraskan rahangnya dan marah, maka Cherry berbeda, dia membungkuk lalu menatap gadis itu," Duduk," ucapnya seperti sedang memerintah seekor anjing. Hal ini malah membuat Damian terkejut, kenapa sang Ibu berbuat demikian pikirnya.


“ mom?”

__ADS_1


“ Shhhttt...” Cherry menaruh jarinya di depan bibir agar Damian tenang. Lalu wanita itu duduk bersila di depan Nana yang duduk dengan patuh seperti anjing.


“ Duduk seperti ini, bukan seperti itu, yang patuh..” ucap Cherry sambil mengambil sedikit roti dan memegangnya lalu menggerakkannya di depan Nana.


“ Duduk seperti ini,” ucapnya sekali lagi.


Nana yang biasa di perintah dan mengerti gerakan tangan untuk bahasa anjing pun menurut, gadis itu duduk bersila sambil menatap tangan Cherry yang berisi potongan roti tawar.


“ Gadis baik,” ucap Cherry sambil mengambil tangan gadis itu dan meletakkan potongan roti di tangan Nana,” makanlah,” ucapnya.


Dia pun mengambil potongan yang sama dan mencontohkan gerakannya.


Nana memperhatikan dia dengan sangat serius, gadis itu mengikuti ucapan Cherry dengan patuh lalu memakan roti itu dengan tangannya bukan menjilatnya dari lantai seperti yang dia lakukan dua hari yang lalu.


Damian terkejut melihat apa yang di lakukan oleh sang ibu. Cherry benar-benar berhikmat, dia sangat bijak dan pintar melakukan pendekatan pada orang-orang dengan masa lalu menyedihkan seperti Nana. Dia punya yayasan yang menampung anak-anak terlantar dengan berbagai kebutuhan khusus dan bekerja sama dengan yayasan milik Max yang menampung anak-anak disabilitas yang dibuang oleh orang tuanya. Cherry mendapatkan dukungan penuh dari suami dan anak-anaknya.


“ Jangan membentaknya sayang, tetapi lakukan pendekatan seperti dia diperlakukan selama ini, dengan demikian kau akan lebih mudah memahami kepribadian gadis ini, perlahan -lahan dia akan mengikuti yang kita lakukan, dia bisa sembuh, dia butuh kamu. Hanya kamu yang dia kenal, jaga dia baik-baik dan lakukan dengan benar, “ ucap Cherry.


Damian memeluk ibunya, dia sangat senang melakukan hal itu pada sang Ibu,” terima kasih Mommy, tanpa Mom Abang gak tahu apa-apa, abang gak bisa menghadapi ini sendirian,” ucapnya sambil memeluk erat Cherry.


“ apa kamu masih belum bisa melepas hana sayang? “ tanya Cherry pelan.


Damian melepas pelukannya dan duduk menatap Cherry,” Damian merasa bersalah, bukannya Damian belum bisa melepaskan dia, tetapi kepergian Hana terlalu menyakitkan, Damian sangat mencintainya, dan selamanya akan begitu, Damian sudah melepasnya tetapi untuk menghilangkan perasaan Damian, sepertinya tidak mungkin Mom, “ ujar pria itu sambil menunduk.


Perlahan-lahan air matanya mengalir,tangan seseorang mengusap wajah pria itu dengan lembut,” Jangan menangis,” ucap Nana yang duduk di dekat Damian sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


Cherry menatap kedua anak manusia,” aku tahu, aku tahu kalian akan menghadapi masa yang bahagia anakku,” batin wanita itu.


“ Nana.. umm.. maaf kamu melihat kakak menangis,” ucapnya sambil tersenyum getir dengan air matanya yang mengalir.

__ADS_1


Cherry menggenggam tangan putranya,” Anakku, dengan ucapan Mommy sayang,” Cherry terdengar sangat serius.


Damian menatap sang ibu, tangan Cherry mengusap air mata yang membasahi kedua pipi putra sulungnya,” dulu kamu dan Hansel pernah mengalami hal yang menyedihkan, Mom dan Daddy kamu memilih merawat kalian karena kami sudah menyayangi kalian sejak kita bertemu. Jantung Mom bergetar hari itu, dan ternyata keputusan yang tepat Mom mengambil kalian, dan sekarang, seperti yang kamu ceritakan saat membawanya ke rumah,” Cherry menatap Nana.


“ Perlakukanlah dia demikian anak, ikuti getaran yang ada di hati kamu,” ucapnya sambil menepuk dada Damian dengan lembut.


Sosok yang begitu tenang, lembut dan berkarisma ini mengajarkan begitu banyak hal bagi anak anaknya bahkan orang-orang di sekitarnya.


“ Buka hati kamu sayang, mulai masa yang baru, Hana sudah tenang di sana, ini saatnya kamu menjaga Nana, buka hati kamu, Mom yakin kamu dan Nana akan menemukan kebahagiaan kalian, dia gadis yang baik,” ucap Cherry sambil menyatukan tangan Nana dan Damian dengan senyuman merekah di wajahnya.


Damian menatap sang ibu, “ Apa Mom.. apa mom membiarkan Damian bersama Nana? Apa itu tidak akan mempengaruhi nama keluarga kita Mom?”


“ Hahah.. kamu bicara apa anak? Nama keluarga apanya? Sejak dulu Mom dan Daddy terkenal sebagai pemberontak yang mempermalukan nama sendiri, Saat memilih kamu dan Hansel, Mom dan Dad tidak memikirkan itu sama sekali, hati kami yang kami ikuti sayang, Mom yakin kamu juga bisa,” ucap Cherry sambil tersenyum.


Damian tidak habis pikir, padahal Nana jauh berbeda dengan Hana, gadis itu punya gangguan mental tetapi sang ibu memberikan restu bagi mereka.


“ Damian tidak janji, tapi Damian akan coba Mom,” ucapnya yakin.


“ Wahhhh.. anak Daddy sudah benar-benar jadi laki- laki hebat sekarang, Daddy bangga nak... lanjutkan...” celetuk Grape yang nyatanya sejak awal sudah mendengar percakapan mereka.


Damian tersenyum, dia bahagia, dia senang dengan orangtuanya yang sangat suportif,” Aku akan mencobanya Nana, aku akan mencobanya Hana, tenanglah di alam sana, aku mencintaimu Hana, mungkin ini saatnya menyudahi perasaan menyiksa ini , maafkan aku dan terima kasih Hana.”


.


.


.


Like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2