
Kediaman Rara dan Richard terlihat sepi. Jam berdetak, waktu terus berputar. Marco telah mengusir semua tim Alpha dari rumah milik tuannya.
Seperti ucapannya beberapa hari yang lalu, bahwa dia yang akan mengambil alih kasus kecelakaan yang menimpa tuannya.
Hubungan orang-orang yang tinggal di dalam rumah itu semakin dingin. Terutama hubungan Rara dengan Marco dan Daniel. Mereka sama sekali tidak berbicara, Marco dan Daniel sama sekali tidak menganggap keberadaan Rara di rumah itu.
Rara baru saja keluar dari ruangan perawatan suaminya dengan wajah pias. Dia menatap Marco dan Daniel yang baru masuk. Jelas Rara di usir dari ruangan itu, mereka tidak mau berada di ruangan yang sama dengan Rara. Bahkan mungkin tidak mau melihat wajah Rara.
Wanita itu mengepalkan kedua tangannya, jika bukan karena anak-anak dan Richard dia mungkin sudah pergi dari tempat itu.
Rara berjalan dengan cepat, dia paham rasa kehilangan dan takut yang dirasakan kedua pria di dalam ruangan itu, tetapi mereka juga tidak boleh sembarang menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada Rara.
Damian tidak di rumah itu dia kembali ke rumah keluarganya bersama Esther dan Hansel beberapa hari lalu.
Dengan tubuh lemas Rara berjalan menyusuri lorong panjang di rumah itu. Ingin dia berada di kamar yang sama dengan Richard tapi kenyataannya lawannya adalah Marco dan Daniel.
Wanita itu berjalan dengan pelan," Kaka Hansel adalah adik Kak Damian, aku tidak bisa bergerak bebas, aku harus menemukan cara untuk keluar dan mencari tahu semua ini sendirian, Kak Marco dan Daniel marah padaku, arrkhhh sialan, tapi kenapa mereka tiba-tiba berubah sikap seperti ini!?" batin Rara.
Wanita itu berjalan dengan cepat melewati ruang kerja. Namun dia kembali saat menyadari ponselnya tertinggal di ruangan itu saat mencari beberapa berkas penting, ruangan lain yang dipakai Daniel dan Marco.
Wanita itu masuk ke dalam lalu mengambil ponselnya. Di saat yang sama ponsel hutan yang terletak di meja cokelat dalam ruangan itu berbunyi.
Sebuah nomor baru, tetapi Rara tidak tahu ponsel siapa itu. Dia abaikan tetapi benda itu terus berbunyi.
Karena penasaran dia mengambil ponsel itu dan melihat nomor tak dikenal disana.
"Sepertinya ini milik kak Marco," ucap Rara.
Dia menjawab panggilan itu tetapi tetap diam. Merasa aneh dan curiga.
"“ Bagaimana? Apa kau sudah mengusir wanita itu? Jika kau menyerahkannya padaku maka akan kujamin aku memberitahu siapa yang memerintahkan kami untuk mengusik Richard, kau tentu tidak ingin organisasi mengusik tuamu lagi kan? Jika kau tidak menyerahkannya sesegera mungkin maka jangan salahkan aku membunuh tuanmu.”
“ Marco apa kau mendengarku? Ingat ini, sekalipun kau telah keluar dari organisasi dan menghancurkan organisasi yang pertama, aku akan pastikan kehidupanmu tidak pernah tenang selama kau tidak menyerahkan Clara Madison istri bosmu, aku hanya meminta dia, kau tidak perlu penasaran, aku punya urusan dengannya,” ucap orang itu.
__ADS_1
Tangan Rara gemetaran saat mendengar suara besar yang cukup familiar di telinganya. Rasanya seperti mengalami Deja-vu saat mendengar suara orang itu. Tubuhnya gemetaran, Marco sepertinya sudah tahu akan serangan ini atau dia sudah tahu seluruh seluk beluk kehidupan wanita berusia 32 tahun itu.
“ Apa dia tahu sesuatu? Siapa sebenarnya orang yang berbicara ini dan apa hubungannya denganku, dengan Marco...” batin Rara.
Dia menatap ruangan itu, meletakkan kembali ponsel itu. Kedua netranya menangkap sebuah kertas kecil persegi panjang berwarna hitam.
Bersamaan dengan itu dia mendengar suara langkah kaki menuju ruangan itu. Rara panik, dia menarik kertas kecil yang merupakan tanda nama itu lalu berlari dengan cepat ke arah balkon dan bersembunyi disana.
Rara menutup mulutnya sambil menggenggam ponselnya, cepat cepat dia matikan benda itu sebelum berbunyi dan ketahuan oleh orang yang masuk.
Marco masuk ke dalam ruangan kerja hendak kembali ke perusahaan setelah mengunjungi tuan mudanya. Dia menatap ruangan itu, rasanya ada yang berubah, terutama ponselnya bergeser tidak pada tempatnya. Dia menatap ruangan itu, sialnya tidak ada kamera CCTV di sana.
Marco berjalan dengan pelan, melihat ke sana kemari apakah ada yang masuk atau tidak.
“ Siapa yang masuk ke ruangan ini?” gumamnya.
Marco menatap ponselnya dan memeriksa panggilan terjawab,” cih... ada yang menjawab panggilan ku? Siapa ? Siapa tikus kecil yang penasaran dengan kehidupan pribadiku di rumah ini,” batin pria itu.
Rara semakin gugup, jantungnya berdebar kencang, wajahnya sampai memerah karena menahan nafas. Di saat yang sama Marco semakin mendekat dan sudah berada hampir di balkon tersebut.
“ Marco, ada informasi baru tentang ledakan itu,” suara Daniel mengalihkan perhatian Marco, dia yang sudah melangkah keluar balkon tetapi belum melihat Rara berbalik karena terkejut mendengar suara Daniel.
“ Informasi apa?” tanya pria itu.
“ Bom itu adalah bom bunuh diri dan yang meledak di hari itu bukan tuan Fransiskus tetapi seseorang yang wajahnya di operasi menjadi persis seperti tuan Fransiskus, tetapi yang berbicara dengan Richard hari itu memang jelas tan Fransiskus.” Ucap Daniel.
Marco hanya diam mendengar penjelasan Daniel. Sebab sangat aneh kejadian di hari itu, awalnya Richard dan yang lain di suruh ke rumah utama keluarga Fransiskus tetapi saat di perjalanan mereka malah diminta ke puri Emerald yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Jelas hal ini aneh.
“ Lalu bagaimana dengan catatan panggilan itu? Berasal dari mana?” tanya Marco.
“ Catatan panggilan yang pertama berasal dari rumah utama Fransiskus dan yang kedua di perjalanan,” jelas Daniel.
Rara terkejut mendengar penjelasan mereka. Karena jalannya dihalangi untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Richard, Rara sulit mencari tahu bahkan tidak bisa bekerja sama dengan Tim alpha.
__ADS_1
Daniel dan Marco sama-sama di buat bingung dengan kejadian ini. Tidak ada yang tersisa dari kejadian itu kecuali tubuh orang yang mengaku sebagai tuan Fransiskus itu.
Marco melirik ke balkon,” sebentar, sepertinya ada penyusup disini,” ucap Marco yang langsung berlari ke balkon saat merasakan ada sesuatu yang bergerak disana.
Srakkkkk.....
Dia menyibakkan tirai itu dan membuka seluruh pintu. Matanya dengan cepat mencari siapa yang bersembunyi disana.
“ Ada apa?” tanya Daniel yang ikut melihat keadaan di balkon.
“ Apa aku yang salah, aku merasa seperti ada penyusup yang mencuri dengar pembicaraan kita,” ucap Marco sambil menatap balkon itu. Tidak ada seorang pun disana, balkonnya kosong.
“ Itu perasaanmu saja, mungkin kau terlalu sensitif sejak kejadian ini,” ucap Daniel sambil menepuk bahu pria itu.
“ Bisa saja, tapi pastikan wanita itu tidak tahu apa apa tentang kasus ini, aku tidak ingin dia ikut campur dalam rencana ini,” ucap Marco sambil menutup balkon rapat-rapat.
“ hah... hahh.. arkhhhh... si. sial... hampir saja,” Rara menggantungkan tubuhnya di bawah balkon, memegang erat besi yang ada di bagian bawah balkon tersebut .
“ Hampir saja ketahuan,” gumamnya sambil melirik semak semak yang ada di bawahnya..
Rara menelan salivanya, dia melepaskan tangannya dan...
Brukkk...
Rara terjatuh diantara semak semak itu.
.
.
.
Like, vote dan komen
__ADS_1