
Kenyataan pahit yang sedang menguji mereka saat ini berhasil membuat kedua insan yang dipertemukan dalam takdir yang mengerikan itu terpuruk.
Kenyataan pahit bahwa, Richard dan Rara ternyata memiliki anak kembar, tetapi keduanya menjadi korban penculikan anak.
Hati Rara hancur, begitu pun dengan Richard. Jika seandainya hari itu dia tetap di ruangannya, atau setidaknya memiliki kekuasaan untuk mencari keberadaan Rara maka anak anaknya mungkin tidak akan menderita.
Richard melepas pelukannya, dia membawa Rara duduk ke atas kasur. Wanita itu masih terguncang, dengan lembut Richard mengusap air mata Rara tanpa ragu barang sedetik pun.
Dia beranjak mengambil air minum, mengisi gelas dan memberikannya pada Rara," minumlah, tenangkan dirimu," ucap Richard dengan nada yang telah berubah total .
Suara dan tatapannya penuh perhatian, gerak tubuhnya menunjukkan dia peduli pada wanita itu.
Rara menenggak setengah air itu,"sudah cukup?" tanya Richard dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Rara.
Richard mengambil alih gelas itu dan meletakkannya di atas meja. Dengan pelan dia naik lagi ke atas ranjang, tangannya memutar tubuh Rara dan membuat dia dan wanita itu dalam posisi berhadapan.
" Apa tidak ada yang membantumu selama kejadian itu? bukannya kau punya sahabat?" tanya Richard melanjut pembicaraan tadi.
Rara menggelengkan kepalanya," Tidak ada, saat itu Irene baru keluar dari rumah sakit setelah operasi karena kecelakaan, lalu Putri belum memiliki pekerjaan, aku tidak mau mengganggu dan membuat mereka khawatir, akhirnya aku berbohong dan mengatakan aku pergi ke kampung untuk menikah dengan pria pilihan bibiku, lalu mengatakan pada mereka kalau aku diceraikan saat hamil dan kehilangan putra ku," jelasnya.
" Bagaimana dengan orangtua atau keluarga?" tanya Richard lagi.
" Tidak ada, saat aku pindah ke pelosok untuk melahirkan anak anakku adalah seminggu setelah kematian Papa, sedang ibu? aku tidak yakin punya seorang ibu atau tidak," jelas Rara.
Kenapa alam begitu kejam pada mereka, Richard juga hidup tanpa sosok seorang ibu sejak dia lahir ke dunia. Rara istrinya hidup tanpa sosok ibu sejak berumur lima tahu,n bahkan dia tidak tau seperti apa ibunya sekarang. Demikian Gege yang diculik setelah dia lahir dan hidup tanpa Rara selama tujuh tahun, yang terakhir anak mereka yang lain yang entah hidup dengan siapa.
"Lalu anak kita selain Gege? perempuan atau laki-laki?" tanya Richard.
" Laki-laki, dia mirip denganku tapi tidak punya lesung Pipi dan memiliki tanda lahir di bahunya, bentuknya unik seolah membentuk huruf V, Dia yang pertama lahir sebelum Gege, beda 10 menit," jelas Rara sambil mengepal kedua tangannya.
Richard terkejut, sepertinya putra pertamanya mewarisi tanda lahir unik yang ada di lehernya.
"Apa bentuknya seperti simbol di tengah tato pedang ini??" Richard menunjukkan lehernya yang diberi tato pedang dengan tanda lahir berbentuk V di tengah nya .
Rara menatap simbol itu, ya simbol yang dia ingat, satu satunya petunjuk untuk meyakinkan dirinya kalau Richardlah yang tidur dengannya hari itu.
" Jadi memang benar benar dia ," batin Rara.
" Apa iya?"tanya Richard.
__ADS_1
" Iya, persis seperti milikmu," jawab Rara pelan..
"Apa tidak ada petunjuk saat dia hilang?" tanya Richard lagi.
"Tidak ada, hilang tanpa jejak," ucap Rara dengan suara bergetar.
Richard menghela nafas berat, dia juga sedih dengan kenyataan yang harus mereka hadapi. Tetapi pertemuan mereka adalah awal perjuangan keduanya untuk membangun kembali keluarga mereka dan membalaskan semua perbuatan keji yang dilakukan orang-orang itu pada mereka.
Richard menatap Rara yang masih menunduk. Ibu mana yang tidak terpuruk ketika mendapati hal mengerikan seperti ini. Jik itu orang lain, mereka belum tentu sekuat Rara.
Richard menatap jam dinding, sudah pukul 1 malam, sudah terlalu larut dan ini saatnya untuk tidur," beristirahatlah, kau lelah, berbaringlah saatnya tidur, besok kita lanjutkan," ucap Richard.
Rara tampak bingung," Aku tidur di ruangan yang mana!??" tanya wanita itu sambil menatap Richard dengan tatapan penuh tanya sambil mengusap air matanya.
"Apa maksudmu tidur dimana? tentu saja tidur disini, memangnya istriku mau tidur dimana selain di kamar suaminya?" celetuk Richard yang dengan mudah mengucapkan kata suami istri di depan Rara.
" Su...suami? i..istri???" mata Rara tidak bisa berbohong kalau dia terkejut.
Richard mengangguk sambil menepuk pucuk kepala Rara," iya istriku, ayo tidur, sudah malah saatnya beristirahat, besok saja kita lanjut pembicaraan nya, berbaringlah," ucap Richard sambil menarik tangan Rara dan membuat wanita itu berbaring.
" Ehh kurasa, bukannya lebih baik kita tidur terpisah?" ucap Rara yang merasa canggung dengan situasi saat ini. Cepat-cepat dia berdiri dengan wajah gugup, rasanya dia terlalu takut untuk sekedar berbaring dengan Richard.
" Se..sedikit," jawabnya,
" Ya sudah tidur di lantai, aku tidak bisa tidur di tempat lain," ucap Richard," Kamar lain sudah penuh dengan pelayan," ucapnya berbohong sambil berbaring di atas kasur dan memakai selimut siap untuk terlelap.
Rara terdiam, dia takut dan gugup di saat yang sama.
Wanita itu menatap sofa, dengan langkah pelan dia berjalan menuju benda itu lalu berbaring disana," Disini juga tidak apa-apa," gumamnya sambil berbaring.
Richard menghela nafas," Dasar keras kepala,'" gumam pria itu. Dia bangkit dari kasur lalu berjalan menghampiri Rara yang berbaring di atas sofa.
Hap....
Dalam sekali hentak, dia mengangkat tubuh kurung wanita itu dan membawanya ke atas kasur" Mau apa kau? lepaskan aku!!!" teriak Rara sambil memukuli dada pria itu.
" Menurut lah, kau ini sangat keras kepala!" senggak Richard. Sontak dia terdiam sambil mengulum bibirnya.
Richard membaringkan Rara di atas kasur lalu memang akan selimut di tubuh wanita itu," Jangan tidur di tempat lain, lagi pula mulai sekarang kamar ini juga kamarmu, kita kan sudah menikah, " ujar Richard.
__ADS_1
Rara selalu dibuat terkejut dengan ucapan pria itu, seolah pernikahan ini memang hal yang serius yang akan mereka jalani sampai selamanya.
Richard berbaring di sisi lain kasur dengan Rara yang terus menatapnya," Apa kau serius dengan pernikahan ini? tapi kita kan??" Rara menatap pria itu.
"Tentu saja aku serius, aku hanya akan menikah sekali seumur hidupku, apa yang kau pertanyakan disini soal cinta? semua kan butuh proses," ucap Richard yang memiringkan tubuhnya dan bertatapan dengan Rara.
" Cinta bisa dibangun, saling memahami dan saling mempelajari satu sama lain yang lebih dulu, lagi pula kita sudah punya anak, dan kita punya misi untuk menemukan anak kita yang satu lagi, juga membalas perbuatan orang yang terlibat dengan kejadian ini," ucap Richard.
" Tapi kau... kau kan orang yang jelas berbeda denganku, aku hanya seorang anak yatim piatu, aku tidak punya apa-apa, sedangkan kau...
" Hei ayolah, kau sudah memberikan ku anak yang menggemaskan dan sangat cerdas, apalagi yang kurang, sudahlah jangan banyak berpikir, besok kita punya banyak misi, tenanglah, aku tidak akan memakanmu atau meminta hak sebagai suami, kita jalani pelan pelan," ucap Richard dengan sebuah senyuman indah dan lembut yang tergambar di wajahnya.
ini kali pertama Rara melihat senyuman yang sangat tulus, sungguh indah dan membuat hatinya hangat dan tenang. Jantungnya malah berdegup dan pipinya merah merona karena gugup.
" Tidurlah, selamat malam," ucap Richard sambil mematikan lampu.
" Selamat malam Richard," balas Rara.
Sementara itu di luar pintu ada empat pria aneh yang sedang menempelkan telinga mereka di dinding pintu kamar Richard.
" Ehh gak kedengaran uhhh... ahhh.. uhhh... aahhh!!!" celetuk Damian si otak mesum.
" Jangan jangan mereka makan!?? ehh nggak deh ,Richard makan Rara," balas Daniel si perut karet.
" Hei ayolah belum juga kedengaran, apa tititnya si Richard gak kuat ya!?" celetuk Max.
" Marco kau penasaran juga ya?" bisik Damian menatap Marco yang ikut nimbrung diantara mereka.
" eh.. ekhmm... kembali ke kamar kalian, sudah malam!!!" ucap pria itu dengan wajah kaku padahal sudah malu karena ketahuan penasaran dengan yang begituan.
" Pfthhhh hahahahha.... penasaran bilang kawan... hihihi..."
.
.
.
like, vote dan komen 🤗
__ADS_1