
Sementara itu di rumah kontrakan milik Rara, perempuan itu tiba-tiba merasakan sesak di dadanya, jantungnya berdebar begitu kencang.
Rasanya sangat sakit seperti ada yang menusuk-nusuk jantungnya, dia bahkan sampai menangis, nafasnya sesak dan kepalanya sakit, benar benar bukan dirinya yang biasa.
“akhhh.. akhhh... a.. ada apa ini...” perasaannya tak enak, dadanya sangat sakit.
Rara berjalan mundur sambil menepuk-nepuk dadanya yang sangat sakit, dia menangis bahkan sampai terduduk di atas lantai.
Pranhg...
Gelas yang dia pakai tadi terjatuh ke atas lantai sampai pecah berkeping-keping.
Di saat yang sama seorang gadis cantik berambut panjang dengan bola mata besar seperti Barbie berlari menghampiri perempuan itu dengan wajah panik.
“ Rara lo kenapa raa...?” teriak gadis yang wajahnya lembut tapi suaranya melengking seperti teriakan mak lampir yang nyangkut di atas truk.
“ put... tolongin.. dadaku sakit..” ucap Rara sambil menangis.
“ ya ampun kok gini... ayo duduk disini, lo manjat manjat terus sih kayak monyet, aduhh lok kalo ada sakit yang lain dikasih tahu Rara monyet, bikin gue panik tahu gak...” celetuk gadis cantik bermulut kasar itu.
“ sini duduk lo, jangan badan lo doang yang gede, otak juga dipakai, lo kerja terus, siang malam tapi gak kaya-kaya, ke utang semua.. bikin gue kesal tahu gak.. lo mau jadi apa lagi hah? Udah nyambi jadi monyet mau jadi ular juga atau jadi kerbau sekalian biar bisa bajak sawah hah? Badan lo ini badan perempuan bukan bada laki!” tegasnya,” jangan sok kuat Rara...” gadis itu menyemprot Rara habis-habisan tanpa henti bahkan sampai membuat yang mendengarnya tak bisa bernafas.
“ lo kalau ngomong di rem Putri... muka lo doang yang cantik tapi bibir kayak mak mak tukang gosip... sini biar gue periksa...” ketus seorang gadis lain yang baru saja pulang kerja terlihat jelas wajahnya lelah, jas dokternya dia lemparkan begitu saja ke atas lantai dan langsung memakai stetoskopnya untuk memeriksa keadaan Rara.
“ Nafasnya coba tahan Ra...” ucap gadis dokter bernama Irene itu.
Rara mengikuti arahan sahabatnya, menahan nafasnya sembari gadis dokter itu memeriksa kondisi kesehatannya.
Beberapa detik kemudian gadis itu selesai dengan tugasnya.
__ADS_1
Dia menatap Rara dengan serius,” apa yang sedang kau pikirkan? Apa telingamu bermasalah tadi?” tanya Irene sambil menatap Rara dengan tatapan serius seolah dia sedang menginterogasi perempuan di depannya itu.
“ Lo kumat lagi Ra? yang bener? Jawab gue.. kenapa gak nelpon tadi hah? Lo kalau sakit biang bilang Rara.... ini kan lo sesak sendiri... ihkkk ngeselin banget si monyet tembok ini, lo kecapean kerja, kerja terus sampai lo mau mampus.. apa si mak lampir itu gak bisa tunggu dulu hah.. bikin kesal gue aja.... apa perlu gue labrak dia hah?” Putri kembali menggerutu, mulutnya sudah komat kamit seperti pak dukun yang sedang baca mantra.
Rara dan Irene hanya bisa menghela nafas . Gadis itu pasti akan selalu mengomel kapan pun, dan setiap waktu pasti akan begitu sekalipun mereka menutup mulutnya dengan kaos kaki busuk.
“ Putri diam, atau gue suntik mati lo!!” Irene berbicara dan menatap Putri dengan tatapan dingin dan datar yang selalu berhasil membuat semua orang yang melihatnya ketakutan.
Putri sontak menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia terdiam sambil mengerucutkan bibirnya dan menarik-narik lengan baju Irene yang mulai menunjukkan taringnya.
Benar kata pepatah, marahnya orang pendiam bisa menghancurkan satu negara,beruntung Putri langsung bungkam sebelum Irene menghancurkan negara padat penduduk itu, tak terbayangkan akan berapa banyak jiwa yang mati.
" Ya maaf, kan gue panik..” ucap Putri sambil bangkit berdiri dan mengambil air putih hangat untuk Rara.
Irene gadis bermanik abu abu kebiruan itu menatap sahabatnya yang duduk bersandar di kursi kayu dalam ruangan kecil itu,” jangan terlalu lelah Ra.. kamu juga harus jaga badan, kalau kamu sakit kamu gak bakalan bisa menemukan putramu... jangan begini pliss.. rawat badanmu, kerja berat selama tujuh tahun, sekali sekali kamu bisa istirahat kan?” Irene menggenggam tangan Rara sambil menatapnya dengan penuh perhatian.
Irene menggeleng,” pemeriksaan fisik kamu sempurna, kamu sehat banget tapi kalau kamu sudah punya masalah pasti akan drop begini,” ucap Irena.
“ Lo mikirin anak lo lagi ya Ra? “ Putri duduk di samping Rara dan memberikan air hangat pada wanita itu.
Rara mengangguk, matanya berkaca-kaca, dia berusaha untuk menahan air matanya,” iya...” ucapnya pelan dengan suara yang bergetar.
“ Aku merindukan putraku... sangat merindukannya, hatiku mengatakan bahwa dia tak jauh dari diriku, dia ada di dekatku tapi sampai saat ini aku belum bisa menemukannya,” ucap perempuan itu sambil menunduk dan mengepalkan kedua tangannya.
Putri dan Irena bukannya tidak membantu Rara untuk mencari keberadaan anak Rara, tetapi keterbatasan informasi dan menghilangnya bidan yang membantu persalinan Rara membuat mereka kesulitan.
Sudah banyak detektif yang menolak mereka dan hasilnya sama, tak ada yang bisa menemukan putra Rara hanya dengan secuil informasi yang bahkan tak bisa di pakai.
Setelah melunasi hutangnya pada sang Bibi, Rara berniat menelusuri seluruh lokasi dimana dia tinggal dulu, bahkan hotel tempat kejadian itu terjadi, hanya dia yang tahu dan dia ingat jelas bahwa pria yang bersamanya malam itu memiliki tato pedang di lehernya, tepatnya di bagian belakang leher pria itu.
__ADS_1
Rara yang mabuk hari itu, tidak ingat dengan jelas wajah pria yang tidur dengannya, selain karena cahaya remang remang, matanya di hari itu mengalami masalah karena efek alkohol yang membuat sarafnya menegang.
“ hufft... aku gak boleh begini.. aku harus semangat, aku pasti bisa menemukan dia...” ucap Rara yang selalu berusaha menghibur dirinya sendiri.
“ nah begitu dong, harus semangat, “
“ by the way utang lo sama si mak lampir gimana? sudah selesai? Berapa sisanya? Biar gue lunasi ... tunjangan gue baru masuk dan uangnya cukup buat bantu lo..” tanya Putri sambil mengeluarkan uang dari dalam tasnya.
“ nggak perlu Put,” Rara menghentikan tangan gadis itu,” kalian berdua sudah terlalu banyak membantuku, aku baik baik saja, sekarang aku sudah punya uangnya dan akan kulunasi lusa,” ucap Rara sambil tersenyum menunjukkan segempok uang yang sudah berhasil dia kumpulkan setelah bekerja di berbagai bidang.
Apa pun yang bisa dia kerjakan akan dilakukan oleh wanita itu. Tak banyak yang menerima seorang wanita yang hanya lulusan SMA. Sehingga Rara harus kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan melunasi hutang pada sang Bibi.
“ Aku akan segera lunas kan dan kuharap semuanya berakhir dengan keluarga laknat itu..” ucap Rara.
Irene dan Putri mengangguk setuju.
Sementara itu dibalik pintu rumah mereka, ada seorang pria yang berdiri di depan rumah Rara sambil mencuri dengar pembicaraan mereka.
Dia memegang sebuah kantongan plastik berisi cemilan, entah kenapa, awalnya dia hendak masuk ke rumah itu tetapi malah mengurungkan niatnya, dia baru tiba dan tak mendengar pembahasan mereka tentang anak Rara.
“ Besok..ya besok saja..” gumam pria itu sambil melangkahkan kakinya dengan cepat.
.
.
..
Like, vote dan komen
__ADS_1