
Rara dibawa menuju rumah milik Richard dimana dia dan putranya tinggal selama ini.
" Kenapa kita kesini?" tanya Rara bingung.
" Lalu kau mau tinggal di bangkai rumah itu!?" Richard menaikan sebelah alisnya.
"Ehh ng..nggak sih," jawabnya pelan.
" Rara... bagaimana keadaanmu!?" Damian berlari kencang begitu dia tiba di rumah itu. Dia baru saja dari perjalanan bisnis sekaligus layanan plus plusnya.
Grepp...
Sontak pria itu memeluk Rara dengan erat," Apa yang terjadi? kenapa bisa sampai terjadi kebakaran? lalu bagaimana dengan mu? apa ada luka? bekas bakar!? traumamu!??" Ucap pria itu dengan wajah khawatir sambil memeriksa keadaan Rara dari ujung kepala sampai ujung rambut.
"Ya ampun Raa... rambutmu bau gosong!!!" teriak pria itu sambil mengangkat rambut hitam Rara yang terbakar sedikit di bagian ujungnya.
"Huhhff... sudahlah kak, sudah berlalu," ucap wanita itu sambil memeluk Damian.
Damian juga memeluk wanita itu, baginya Rara adalah seorang adik dan sama halnya bagi Rara, dia adalah kakak laki-laki yang bisa dia andalkan.
Richard menatap sinis ke arah dua manusia yang sedang berpelukan tanpa memedulikan keberadaan nya.
Max dan Daniel berjalan mengendap-endap sambil mengamati ekspresi Richard saat melihat Rara dan Damian berpelukan.
Pelan pelan berjalan seperti rubah licik yang hendak menangkap si gadis jubah merah.
Dan...
Dooorr!!!!
" Ehh kampret, aku terkejut sialan, kalian berdua ngapain sih!!!!" Teriak Richard kesal saking kagetnya dengan ulah kedua manusia itu.
"Bwhahahahaha... berhasil!!" seru kedua orang itu sambil tertawa cekikikan melihat wajah marah Richard.
Pria itu menatap malas ke arah mereka berdua, semakin kesal dan marah saat melihat Rara dan Damian yang asik berbincang tanpa mempedulikan dirinya.
" Rara ikut aku!!" ucap pria itu dengan tegas sambil menarik pergelangan tangan Rara dan membawa wanita itu masuk ke dalam rumahnya.
" Awhhh pelan pelan, kau menyakitiku," ucap Rara yang mendesis kesakitan karena cengkraman tangan Richard sangat kuat.
"Chard adek gue kenapa dibawa woi!!!" teriak Damian.
Max dan Daniel juga menatap heran ke arah Richard yang terlihat kesal dengan Susana hari ini.
" CK... dasar," kesal pria itu sambil berhenti dan berbalik menatap mereka diikuti oleh Rara.
Damian, Max dan Daniel menatap heran kepada kedua orang itu, tetapi tidak untuk Marco, pria sejak tadi hanya berdiri diam bak patung di depan pintu bersiap membukakan pintu untuk tuannya.
" Marco, jelaskan!" ucap Pria itu yang berbalik lagi lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Ketiga temanya yang super kepo dan heran dengan sikap Richard mengikuti pria itu dan menata Marco.
" Ada apa co!? kenapa dia bisa pegang tangan perempuan!? bukannya dia alergi!??" celetuk Daniel sambil menyesap permen lollipop pemberian Gege .
__ADS_1
Marca hanya menatapnya dengan tatapan dingin, " Jangan lihat gue begitu PAOK!!!" teriak Daniel sambil memukul perut Marco dengan Bogeman berapi miliknya.
Bughhh...
ughh...
"DANIEL!!!!" geram Marco sambil mengepalkan kedua tangannya.
greeeppp...
Daniel ditarik paksa oleh Damian dan Max lalu mengunci pria itu dalam apitan lengan kekar mereka," Udah jelasin dulu apa yang terjadi, entar lo bunuh juga si Tarzan liar ini gak masalah, pokoknya jelaskan apa yang terjadi pada mereka selama aku di luar!??" Damian menatap Marco dengan serius.
"Akhhh... lepaskan....sakit woiii, Lo maubtemen sendiri mati hah!? ini KDRT namanya, Kekerasan Diantara Rekan Tengik!!!!" pekik Danial yang dijepit oleh Kedua pria itu.
Pletakkkk...
" Diem ya, kalau nggak gue Gantung Lo di pohon cabe!!!" kesal Max sambil memukul kepala Daniel.
Marco menarik nafas dalam dalam sambil mengusap perutnya, matanya terus tertuju pada Daniel, ingin rasanya dia menonjok kepala pria itu sekarang.
" Tuan Richard dan Nona Rara sudah resmi secara hukum sebagai suami istri, mulai saat ini mereka akan tinggal bersama," jelas Marco singkat.
Brukkk.....
"A.... Apa!!!!" teriak ketiga pria itu. Teriakan besar bagaikan suara Auman Singa berhasil membuat burung-burung beterbangan di udara.
Gedubrakk...
" Me... menikah, dua manusia gila itu!?? Rara si gadis batu dan Richard si pria yang alergi pada perempuan akhirnya malah menikah!???" Damian terduduk lemas dengan tatapan tidak percaya.
" Ya ampun, ramalanku berhasil lagi ,Dam, benarkan yang aku bilang, kita akan segera mendengar tangisan putri kecil di rumah ini, luar biasa... hahahhaah... bravo!!! luar biasa!!!!" teriak Max sambil bertepuk tangan kegirangan.
Sementara itu ,Daniel tengah mengamati situasi, ini saat yang tepat untuk kabur dari gorila besar, Marco si Maco!!!
" Saatnya kabur!!" gumam Daniel yang dengan sigap mengambil waktu saat Marco tidak melihatnya dan...
Syuuuttt......
Pria itu berlari secepat kijang ke sembarang arah yang penting bisa melarikan diri dari amukan Marco.
" Daniel mau kemana kau bajingan!!!!" teriak Marco dengan suara besarnya yang menggetarkan dunia.
" Aalaaaamakkkjaaaanggg.... ada Kentang besar mengejarku, tooooloooongggg akuuuu!!!!!" teriak pria itu. Daniel berlari sambil mengangkat kedua tangannya dan....
Hap!!!
Dia melompat ke sisi gedung apartemen yang dia panjat semalam dan sekarang beraksi lagi memanjat gedung itu dengan tangan kosong seperti cicak.
" Daniel turun kau dasar Tarzan gila!!!!" pekik pria itu.
" Wleekkk kejar kalau bisa!!!!!" teriak Daniel sambil menjulurkan lidahnya meledek Marco di bawah gedung.
" Sialan, awas kau kalau sampai dapat beraninya kau memukul perutku BAJINGAN!!!!" teriak Marco.
__ADS_1
Daniel tertawa terbahak bahak dari atas gedung, dia memanjat dengan bebas seperti monyet sedang Marco berlari masuk ke dalam gedung itu dan menggunakan lift mengejar Daniel.
Bukannya mengejar, pria itu masuk ke dalam apartemen Daniel yang berada di tingkat paling atas dan menunggu pria songong itu disana.
Sementara itu, Rara dan Richard masuk ke dalam rumah. Masih berpegangan tangan dengan wajah Richard yang begitu serius.
" Hei bisa lepaskan aku? ini sakit," ucap Rara.
"Eh... ekhmm..." Wajahnya canggung, dia melepaskan tangan Rara yang terlihat memerah karena dicengkram begitu kuat.
" Selamat datang, mulai hari ini kau akan tinggal disini, segala keperluan mu akan disiapkan, cukup lakukan peranmu dengan baik," ucap pria itu.
Rara menatap rumah itu, tampak sederhana dan membosankan karena yang tinggal di dalamnya hanyalah pria. Furniturenya mahal tetapi warnanya tidak hidup dan semua itu berhasil membuat Rara menghela nafas berat.
" Dimana Gege? aku tidak melihatnya," tanya Rara.
"Ahh... benar juga, semalam aku tidak pulang, ini akhir pekan, di pasti di kamarnya," ucap pria itu.
"Pak Dono, dimana Gege!?" teriak pria itu.
Terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat kala mendengar teriakan si macan jantan pemarah itu.
" Tuan, nona, selamat datang, tuan muda ada di ruang bermainnya," ucap Pak Dono kepala pelayan rumah itu.
" Ahh baiklah, oh iya mulai hari ini, dia akan bergabung dengan kita disini," ucap Richard memperkenalkan Rara.
" Ra ini Pak Dono, kepala pelayan di rumah ini" ucap pria itu.
"Pak Dono, di Clara, istriku," ucap ya dengan ringan tanpa beban.
" i..istri!??" mata Pak Dono membulat sempurna.
" Sejak kapan tuan!?? kapan tuan menikah!? dekat perempuan saja tuan langsung alergi, belum lagi tuan tidak pernah berada sedekat ini dengan wanita, apa tuan sakit!? bukannya tuan bilang akan menemukan ibu kandung tuan muda dahulu baru menikah dengannya!??" pak Dono terlihat syok.
" Apa mungkin tuan dan nona..." Pak Dono menunjuk mereka berdua dengan wajah terkejut," Kecelakaan Semalam!??" celetuk pria itu .
"Bukan!!!" jawab mereka berdua serentak dengan wajah malu.
" Ehh bukan ya, heheh kalau begitu selamat datang nyonya, saya Pak Dono, senang bertemu dengan Anda," ucap pria itu Sambil membungkuk hormat.
"Ekhmmm... sudahlah, kami ke ruang bermain Gege," ucap Richard yang sontak menarik tangan Rara.
Pak Dono senyum senyum sendiri melihat kedua orang itu," Cieee hahahha... Tuan dan nyonya muda serasi sekali!!!" gumam pria itu sambil tersenyum bahagia.
" Akhirnya setelah sekian lama, rumah ini akan punya banyak bunga wahahahahha.... ayo bekerja dengan baik rekan-rekanku!!!" seru Pak Dono tertawa bahagia.
.
.
.
like, vote dan komen 🤗
__ADS_1