Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Ray 1


__ADS_3

Plakk... Plakkk... Plakkk...


" Mati kau anak nakal!!!!"


Pukulan dan teriakan melengking terdengar menggema di dalam ruangan besar di belakang rumah utama keluarga Fransiskus.


Seorang anak dengan tubuh kurus tergeletak di atas lantai hanya memakai pakaian dalam. Sekujur tubuhnya bergetar kala air es yang sangat dingin itu diguyur ke tubuhnya yang kecil dan lemah.


Dia gemetaran, tatapan mata sayup menatap dengan memelas memohon belas kasihan dari wanita gila di depannya.


Tubuh penuh luka, leher bekas ikatan tali, dan tangan bekas sayatan pisau, sungguh mengenaskan keadaan anak ini, sungguh menyedihkan kondisinya yang telah mengalami kerusakan mental karena kelakuan setan berkedok orang tua di depannya.


Dia menyeret tubuhnya, menggapai ujung kain wanita di depannya, dengan tangan gemetar dan mata memohon dia mendekati wanita itu," A..am..ampun ma... Ampun... Ray ti..tidak akan na..nakal lagi... Ampun..."ucapnya dengan suara tercekat, bahkan bibirnya kering penuh luka, wajahnya berdarah dan mata sebelah kirinya mengalami memar.


Wanita itu, Nyonya Siska menarik kepala Ray begitu saja dan menatapnya dengan tatapan penuh kebencian, tangannya terangkat jauh ke atas lalu berayun dengan begitu kencang menghantam kepala anak kecil itu.


Plaaakkk....


"Sudah kubilang jangan sentuh aku sialan, mati saja kau!!!!" Pekik Nyonya Siska.


Anak itu terjatuh ke lantai dengan wajah lebam dan penuh darah. Matanya bengkak, bibirnya terluka, dia menangis ketakutan menghadapi penderitaan yang tidak pernah berakhir ini.


Bukan kali pertama dia mengalami hal itu, sudah berkali-kali dan selalu mendapat perlakuan yang mengerikan dari mereka.


"Ma... Lantainya jadi kotor ihh, bau darah Lo mah, " Giselle datang dari ruang utama dengan daster brukat yang menempel di tubuhnya. Berjalan dengan wajah kesal karena mendengar teriakan anak kecil di seluruh bagian rumah.


"Anak sialan ini menjatuhkan vas bunga kesayanganku, dia merusak semuanya, kenapa kau masih memelihara nya disini Giselle, tugasnya sudah selesai, buang saja dia!!!" Kesal nyonya Siska.


Giselle mengangguk," tenang saja Ma, hari ini aku akan membuangnya, tapi jangan bilang-bilang jika tidak...


"Cihh... Aku tau, buang saja, toh dia bukan darah Keluarga ini, untuk apa memelihara hewan sialan ini, kau kan sudah hamil," ucap Nyonya Siska sambil menyisikan tubuh Ray seolah dia adalah sampah.


"Mama benar benar gila, bagaimana kalau James sampai tau hal ini? Dia pasti akan marah besar," ucap Giselle.


"Kau juga akan dalam bahaya kalau kau membocorkannya, jadi jaga rahasia ini sampai kau mati!" Ucap Nyonya Siska.


"Apa kau tau siapa orang tua anak itu? " nyonya Siska duduk di kursi dan menggunakan Ray sebagai tumpuan kakinya.


"Aku tidak tau, aku menerimanya dari seorang penjual, aku hanya bertransaksi tanpa tau siapa keluarganya, perannya hanya sampai hari ini, Karena bayiku sudah bertumbuh," ucap Gisele dengan memandang rendah anak itu.


Brakkkk...


" Cari tau tentang anak itu!!!" Marco tiba-tiba menggebu-gebu, bahkan sampai menggebrak meja kerja di ruangan itu membuat semua orang terkejut.

__ADS_1


" Lah situ kenapa woi, bikin gue gagal jantung syantik!!!" Teriak Max yang tersentak dari tidurnya. Dia merondok di bawah salah atau soda dan terlelap semalaman di sana dengan masker wajah yang sudah mengering menempel di wajahnya.


"Marco ada apa dengan mu!?" Senggak Richard yang tak kalah terkejut. Rara dan Daniel cuek saja, mereka hanya memperhatikan ke arah rekaman CCTV apalagi Rara sangat marah kala melihat anak itu habis disiksa oleh mereka. Belum lagi Rara mendengar celotehan Daniel tentang siapa Gisella dan hubungan mereka di masa lalu.


"Maaf," Marco sadar kalau salah," saya penasaran dengan anak yang dipukuli oleh iblis itu, boleh saya cari tahu tuan?" Tanya Marco.


" Apa alasanmu?" Tanya Richard sambil menatap Marco penuh tanya. Pasalnya jarang Marco mengusulkan sesuatu yang berkaitan dengan seseorang kecuali atas perintah Richard atau orang itu memang sangat dicurigai.


" Mungkin kita bisa menggunakannya sebagai serangan untuk James, karena dia bukan anak kandung James dan kehamilan Giselle diumumkan ke publik hari itu, sekaligus menghancurkan karirnya dalam dunia Fashion!" Usul Marco.


"Wahhh sekali psiko tetap psiko ya, kau benar benar gila!!" Puji Daniel seraya geleng-geleng kepala dengan usul pria itu.


"Ide bagus, anak ini bisa kita gunakan sebagai alas balas dendam!" Ucap Richard yang sudah memiliki dendam membara di dalam hatinya.


Rara hanya menatap mereka tanpa menyela, dia terus menatap anak itu dengan rasa nyeri yang sangat menyakitkan di dadanya. Lagi lagi dia merasa aneh dan sakit padahal tidak ada penyakit lain yang dia alami selain gangguan pada sarafnya.


"Aneh, aku merasa ada yang aneh dengan anak itu, wajahnya itu..." Rara terdiam sejenak sambil menepuk dadanya yang sakit.


" Ada apa denganmu?" Tanya Daniel sambil melirik Rara," lapar? Ini ada cemilan," celetuk pria itu.


" Ahh terimakasih...ummm???


"Daniel, call me Daniel," ucapnya.


"Terimakasih Daniel," ucap Rara yang dibalas anggukan kepala oleh pria itu.


"Chard? Bagaimana?" Tanya Daniel.


" Tunjukkan padanya semua yang terlibat menurut pengakuan si berengsek itu!" Ucap Richard.


"Asshiaap bos!!" Seru Daniel yang langsung mengolah semua data dengan lengkap.


"Aku sudah mencari tahu semua detail tentang mereka, hanya saja belum kubaca, ini dia..." Ucap Daniel.


Namun tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka dan tampaklah si tampan Gege sudah bersiap dengan pakaian sekolahnya.


"Papa, Mama? Gege sudah siap, sudah sarapan juga bareng Paman Damian, paman tadi langsung berangkat kerja, katanya proyek bangunan akan dimulai hari ini, Mama nggak boleh terlambat, mulai jam 1 setelah makan siang," jelas Gege yang menghapal semua ucapan Damian dengan polosnya.


"Baiklah, waahh anak Mama tampan sekali, " Rara langsung menghampiri putranya, dia memeluk Gege yang duduk di atas kursi roda.


" Siap ke sekolah sayang?" Tanya Richard.


" Siap pa, ma!" Seru anak itu dengan penuh semangat.

__ADS_1


Mereka menjadi tontonan para pria di dalam kamar itu. Seutas senyuman tipis tergambar di wajah Marco, dia senang melihat keluarga tuan mudanya bahagia," sepertinya acara resepsi kecil akan sangat manis jika dilakukan, tetapi aku harus mencari keberadaan anak tuan yang lain, " batin pria itu yang kembali menatap layar komputer dimana foto Ray terpampang bersama beberapa foto lain sejak dia bayi.


" Kami pergi dulu, aku akan mendaftarkan Gege ke sekolah lain yang lebih ramah anak, lalu kirim dokumen itu ke ponsel," ucap Richard.


"Siap bos!" Jawab Daniel dengan tegas.


"Marco kuserahkan padamu, " ucap Richard.


Marco membungkuk hormat, dia adalah yang paling setia pada Richard.


Rara dengan mendorong kursi roda Gege berjalan beriringan dengan Richard keluar dar rumah itu.


"Ra kita belum mandi loh? Gak bau??" Richard teringat kalau mereka sama sekali belum mandi dan sarapan pagi, sikat gigi saja belum apalagi cuci muka.


"Ya ampun!!" Rara menepuk jidatnya,"tapi aku juga gak punya baju dan peralatan mandi, ya gimana dong??" Balas Rara.


Richard berpikir keras, dia menatap putranya dan menatap jam tangannya bergantian.


"Apa kau tidak masalah memakai pakaian pria?" Tanya Richard.


"Apa saja yang penting nyaman," jawabnya.


" Ya sudah,"


" Nak tunggu sebentar ya, mau mandi bebek dulu, gak enak gak mandi, Emak kamu tukang iler, baju papa bau!!" Celetuk Richard.


"Siapa yang ngiler ihhh... Dasar!!!"


" Tuhhh masih ada bekas iler di mulut kamu," celetuk Richard dengan jahilnya mengacak-acak rambut Rara dan berlari ke lantai dua meninggalkan wanita itu.


" Grrhhhh dasar tidak sopan!!!!" Kesal Rara


"Mama, ucapan Papa benar, itu ada garis-garis putih hahahahha...." Ucap Gege sambil tertawa geli.


" What!??? Astaga!?? Malu maluin !!!!" Rara mendorong kursi roda Gege lagi ke dalam rumah ," tunggu disini ya nak," ucap wanita itu yang langsung berlari menuju lantai dua.


" Loh nona???" Pak Dono terhuyung kala wanita itu berlari bak kijang hampir menyambar nampan yang dibawa pria itu.


" Mereka pasti sedang dimabuk cinta, sampai main kejar-kejaran begitu hahhah, indahnya cinta..."


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen 🤗


__ADS_2