
Giselle mengemudikan mobilnya dengan kencang menuju ke arah luar kota. Sambil sesekali melirik ke belakang, dia memastikan anak yang telah mengalami gangguan mental karena ulah mereka sekeluarga itu tidak berteriak.
"Beruntung James dan Papa sedang ke luar negeri, aku bisa membakar satu sekolah lalu mengatakan kalau Dia mati dalam kebakaran itu, dengan demikian yang jadi cucu kesayangan adalah anak yang ku kandung bukan anak sampah sialan ini, " gumam Giselle sambil mengemudi dengan cepat menuju jalanan sepi yang jarang dilalui oleh orang-orang.
Mobil itu terus melaju dengan kencang, sedangkan Ray tampak seperti orang bodoh di belakang. Dia hanya diam seolah kehilangan kewarasannya, menatap ke luar dengan tatapan kosong dan tidak mau bicara.
Tubuhnya yang kurus hanya dibalut kaus tipis dan celana pendek. Giselle tidak punya hati dan tidak punya sisi keibuan sama sekali. Dia hanya menyiksa anak itu dan membuatnya hidup dalam penderitaan sejak dia menerima bayi Ray yang masih berusia sebulan kala itu.
Ray menatap ke luar jendela mobil, ingin menangis tetapi air matanya seolah sudah mengering untuk selamanya.
"Kenapa Ray dibuang? Dimana orang tua Ray ? Kenapa Ray dipukul ?" Gumam Anak itu.
Telinga Giselle mendengar suara anak itu, dia menyerngitkan keningnya," Karena kau itu anak pembawa sial, pantas saja orangtuamu dulu membuangmu, rasakan itu dasar anak kurang ajar!!!" Umpat Giselle.
Anak sekecil itu diperlakukan bagaikan sampah yang tidak ada artinya. Hanya menimbulkan trauma dan ketakutan yang amat besar di dalam diri anak itu.
Ray hanya terdiam, tidak ada lagi harapan, hatinya dan tubuhnya sakit, dia lapar tetapi sebanyak apa pun dia makan, tidak akan memenuhi rasa laparnya, dia haus tetapi sebanyak apa pun dia minum tidak akan memuaskan dahaganya .
Mereka tiba di sebuah lingkungan hutan lebat, Giselle menghentikan mobilnya lalu keluar dari sana dan menarik Ray dengan keras .
"Keluar kau anak sialan!" Umpat wanita itu sambil mendorong Ray hingga terjerembab ke atas tanah.
" To... Tolong Ma.. ja..jangan...
Plaakkk..
"Sialan, siapa yang kau panggil Mama, apa kau masih tidak sadar!? Aku bukan ibu kandungmu, bahkan aku tidak Sudi punya anak seburuk dirimu sialan!!!" Giselle memukul dan mencengkram wajah anak itu dengan sangat kuat. Bahkan hampir mematahkan rahang anak kecil berusia tujuh tahun yang sangat malang itu.
Dengan kasar dia menarik tangan Ray hingga ke bibir jalan lalu..
__ADS_1
Brukkk...
Dengan satu kakinya dia menendang tubuh kecil dan kurus yang menatapnya dengan tatapan sendu dan memelas. Memohon ampun dan memohon agar tidak di buang. Tetapi semua itu hanya harapan dan omong kosong semata. Manusia di depannya bukanlah manusia yang punya hati, manusia di depannya adalah jelmaan setan yang berkedok sebagai seorang wanita yang akan segera melahirkan seorang anak.
Setelah memastikan anak kecil itu tergeletak di atas jalanan dengan kondisi mengenaskan, Giselle melajukan mobilnya begitu saja meninggalkan Ray di atas jalanan sambil merosot di atas tanah dan menangis memohon bantuan.
Tetapi siapa yang akan membantunya di jalanan sepi itu, siapa yang akan mendengar teriakannya di jalanan yang sunyi dan mencekam itu. Yang ada hanya semilir angin yang begitu dingin hampir membuat seluruh tulang-tulang anak kecil itu membeku. Dia menangis menatap jauh ke arah kepergian Giselle.
Sejak kecil, Ray mendapatkan perlakuan buruk, dia sering diberi makanan basi, dia sering dipukuli baik oleh James maupun Giselle. Yang memperhatikannya walaupun sedikit hanyalah tuan Fransiskus itu pun tidak terlalu memberi perhatian karena sibuk dengan bisnisnya.
“ to... tolong hiks hiks hiks... tolong aku.... “ Air mata Ray mengalir begitu deras. Tubuhnya gemetar begitu hebat, hatinya hancur dan mentalnya rusak karena perbuatan Giselle, Nyonya Siska dan James.
Tidak punya teman, hanya dijadikan sebagai boneka untuk pembodohan publik. Bahkan James saja yang tidak tahu kalau Ray bukan anak kandungnya membenci dia, bagaimana akhirnya James nanti jika dia memiliki anak dari Giselle.
Brakkkkk....
Meja kerja di depan Daniel terbelah menjadi dua bagian begitu saja karena gebrakan kasar dari pria tukang makan tetapi mendapat julukan tarzan gila si ahli IT itu. Jelas terlihat fungsi semua makanan yang dia cerna untuk kerja otaknya yang gila.
Marco dengan cepat beranjak dari ruangan itu dengan wajah panik,” Daniel lacak kepergian wanita sialan itu, aku akan mencari anak itu, kirim semua filenya pada tuan muda,” ucap Marco dengan tegas dan serius.
“ Insting ku benar, kalau dia memang berhubungan, dasar manusia sampah, tega sekali kalian, setelah memanfaatkan anak tidak bersalah itu, kalian membuangnya, lihat pembalasan yang akan kalian terima setelah ini terutama kau Giselle sialan...” Marco mengumpat di dalam hatinya.
Daniel melakukan instruksi pria itu. Hanya mereka berdua yang mencari tahu di dalam ruangan itu. Max sudah berangkat ke Milan untuk proyek lanjutannya. Jam terbang Max dan Damian cukup padat, tetapi mereka selalu memilih pulang ke rumah Richard sekalipun orang tua mereka mengomel sampai mulut mereka berbusa karena kedua manusia ini jarang pulang ke rumah keluarganya.
Mereka berasal dari keluarga dengan Back ground yang baik. Tidak pernah merasakan penyiksaan atau kekurangan kasih sayang. Tetapi berbeda dengan Richard, Daniel dan Marco. Ketiganya memiliki kisah mereka masing-masing, sangat pilu dan mengerikan.
Damian dan Max lebih senang menemani mereka dibanding pulang ke rumah. Anehnya orang tua mereka paham karena tahu cerita hidup ketiga orang itu sangat mengerikan.
Sementara itu, Rara dan Richard dalam perjalanan menuju sebuah supermarket untuk membeli barang-barang kebutuhan Rara, tentu saja setelah dipaksa dan di tipu oleh Richard, karena wanita itu bersikukuh membeli kebutuhannya dengan uangnya sendiri padahal dia tidak tahu pekerjaan suaminya seperti apa.
__ADS_1
Gege sudah didaftarkan di sekolah baru dan langsung masuk hari ini. Richard memastikan sekolah itu aman dan nyaman bagi putranya. Melihat fasilitas dan kualitas sekolah itu, Richard dan Rara yakin memasukkan Gege di sana. Apalagi di hari pertama anak itu sudah nyaman dengan guru dan siswa yang ramah di sana.
“ Sudah kubilang, aku saja yang beli, uangmu akan habis kalau kau membelikan kebutuhanku, bukankah sudah kukatakan sejak awal?” Rara tampak berdebat dengan Richard.
“ Ck... jangan menolak, atau...
Ting...
Pesan masuk di ponselnya dari Daniel menghentikan perkataan pria itu.
“ atau apa hah?” tanya Rara dengan suara ketus, mereka masih dalam perjalanan.
Shuuuttttt.....
Richard menaruh jarinya di bibir Rara,” prrhhhhfffttt... tanganmu Richard...”: gerutu Rara sambil menguap bibirnya.
“ Kita parkir sebentar, ada pesan darurat dari Tarzan hutan, “ucap Richard sambil menunjuk nomor Daniel yang diberi nama Tarzan.
“ Tarzan?” tanya Rara sambil menaikkan sebelah alisnya,” ahh itu sebutan si Daniel perut karet, di tukang makan itu,” jelas Richard .
Rara mengangguk. Richard menatap ponselnya dan membaca pesan dari Daniel. Membuka file dan data yang ditemukan oleh Daniel.
“ Ray, anak yang kau lihat di rumah sakit hari itu, anak yang dibawa James dan wanita sialan itu adalah anak kandungmu dengan Rara, semua data menjurus pada Rara mulai dari kelahiran dan penculiknya yang merupakan tetangga lama Rara, tunjukkan foto bayi Rey pada Rara, aku yakin dia mengenali anak itu,” isi pesan Daniel dari seberang sana.
Richard terdiam dengan tubuh membeku saat membaca pesan itu. Dia membuka file foto Rey saat baru diadopsi,” Rara, apa kau kenal bayi ini” tanya Richard sambil memberikan ponselnya pada Rara.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen