Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Daniel si Badut


__ADS_3

Irene berjalan dengan pikiran yang kalut. Penyakit kejiwaannya membuat dia berkelakuan aneh dan tidak masuk akal. Terlihat seperti mayat hidup yang berjalan tidak jelas kesana kemari tanpa ada yang menjaga.


Keluarga?


Tidak ada yang peduli padanya.


Yang mempedulikan dia selama ini hanya Rara dan Putri, tetapi dia malah merusak hubungannya dengan Rara.


“ Hahahaha..... hahahhaa..... aku gila ya? Hahahha... kenapa harus aku yang menderita.. tunggu semalam aku sedang apa ya? Kenapa ada bekas luka ini? Rara? Dimana kamu Ra? Putri.. hahahha.. aku sudah gila......


Aneh, satu kata yang menjelaskan kondisi gadis itu sekrang. Delapan tahun lalu dia juga dalam kondisi yang sama, saat itu Rara yang menjaganya dari depresi dan melakukan hal-hal aneh. Namun sekarang tidak ada yang mendampinginya.


Hanya segelintir orang yang tahu penyebab kegilaan Irene dan salah satunya adalah Rara.


Deghhh....


Jantung Rara tiba-tiba berdegup kencang, rasanya aneh dan firasatnya sangat buruk. Dia teringat dengan kedua sahabatnya yang sama sama memiliki kehidapan yang tidak normal menurut orang biasa.


Sikap Irene beberapa hari lalu membuat Rara kepikiran belum lagi kartu nama dari seorang pengusaha klub malam yang dijatuhkan Putri membuat Rara berpikiran negatif tentang gadis itu.


Pasalnya Rara tidak pernah dengar kalau Putri berhubungan dengan klub malam. Dan sikap Irene sangat aneh baginya, “ ada apa denganku, kenapa aku tiba-tiba khawatir pada mereka, ini aneh, perasaanku tidak enak,” batin Rara.


“ ada apa Ma?” tanya Gege yang duduk di samping Ray.


“ ahh nggak apa-apa sayang, ayo lanjut makan,” ucap Rara.


Dia menyuapi kedua anak itu, senyuman manis terus terpancar di wajah Ray yang babak belur.


“ Gege, ada apa dengan kaki Gege?” tanya Ray pelan sambil mencolek kaki Gege yang tidak bisa bergerak itu.


Gege menusuk-nusuk kakinya dengan ujung jarinya,” Gege mengalami kecelakaan mobil sekitar satu tahun yang lalu, sejak saat itu Gege nggak bisa berjalan, dokter mengatakan Gege butuh terapi,” jelasnya sambil tersenyum.


Sebuah kejutan bagi Pak Dono, Max dan pengawal yang ada di dalam ruangan itu saat melihat Gege menjelaskan kondisi kakinya sambil tersenyum.


Biasanya jika ada yang bertanya tentang kondisi Gege, dia akan selalu murung dan terdiam, tetapi seolah itu tidak ada apa-apanya dia menjelaskannya dengan singkat sambil tersenyum.


“ Kehadiran nona Rara dan tuan Ray sangat mengubah tuan muda Gege dan juga Tuan Richard, mereka banyak tersenyum sejak kedatangan mereka, ini perubahan yang sangat baik,” gumam Pak Dono.


Sudah satu minggu Ray dirawat di rumah sakit, dan Gege pulang pergi ke sekolah dari rumah sakit dengan Pak dono atau Richard yang bergantian mengantarkannya.

__ADS_1


Kondisi Ray semakin membaik, tubuhnya dan luka luka itu mulai membaik dan wajahnya tidak lagi sepucat pertama kali mereka bertemu.


“ Apa kaki Gege tidak bisa sembuh?” tanya Ray lagi.


Rara hanya diam, dia juga tidak tahu apakah Gege akan bisa pulih atau tidak.


“ Gege akan sembuh sayang, adikmu pasti akan sembuh,” Richard masuk sambil membawa beberapa cemilan untuk anak-anaknya dan juga Rara.


“ Wahhh kalian makan dengan lahap, “ puji Richard sambil tersenyum.


“ Papa...” ucap mereka berdua sambil tersenyum.


“ Ini untuk kalian, “


“ Wahhh macaroni..” seru Gege sambil tersenyum sumringah. Sedangkan Ray hanya menatap kudapan warna warni itu sambil mengedipkan kedua matanya. Penasaran dengan benda apa itu, tentu dia baru kali pertama melihat makanan cantik itu.


“ Apa mereka sudah selesai makan?” tanya Richard .


“ Baru saja,” jawab Rara.


Gege dengan penuh semangat membuka kotak macaroni yang sangat cantik. Ada beragam warna dan berbagai ekspresi di macaroni yang dibawakan oleh Richard. Kedua netra Ray terus menatap benda itu tetapi tidak mengatakan ingin mencicipinya, hanya terdiam dan menatapnya. Sepertinya dia sudah terbiasa menahan seleranya.


“ eh... ng..nggak usah.. Gege saja,” tolak Ray. Masih jelas dalam ingatannya saat Giselle dan nyonya Siska bahkan seluruh keluarga sedang makan enak tetapi dirinya hanya duduk di sudut ruangan sambil meringkuk kelaparan menatap mereka memakan berbagai hidangan.


Dia tidak diberi makan sebagai hukuman karena menngotori lantai dengan minuman yang sengaja di tumpahkan Giselle.


Richard dan Rara saling menatap, reaksi Ray masih mereka pelajari, sejauh dan sedalam apa trauma anak itu karena perbuatan Giselle.


Gege menatap kakaknya, “ Kakak dahulu baru Ray, ayo makan, kalau enggak Gege enggak mau makan biar kaki Gege gak sembuh...” ucap anak itu sambil memanyunkan bibirnya.


Ray terlihat ragu, dia menatap Rara dan Richard bergantian, takut dimarahi hanya sekedar memakan kudapan yang tak seberapa itu. Hampir saja Rara menangis, dia menyembunyikan wajahnya, tangan Richard menepuk punggungnya untuk memberinya ketenangan.


“ Makanlah nak, “ ucap Richard.


Ray terlihat takut, dia membuka mulutnya dan menerima suapan Gege.


Wajah Gege berubah senang saat melihat kakak kembarnya menerima suapannya,” yeayyyyy ... makan yang banyak kak...” seru Gege sambil tertawa bahagia.


Senyuman Gege membuat wajah Ray juga tersenyum, dia terkejut dengan rasa unik dari macaroni itu, tidak terlalu manis, creme yang lembut dan roti yang renyah,” enak,” ucapnya dengan mata berbinar-binar.

__ADS_1


Di saat yang sama, tiba-tiba seorang badut berambut keriting dengan perut buncit dan kostum badutnya masuk ke dalam ruangan sambil membawa boneka beruang yang besar di punggungnya,” halo semuanya... wohoooooo selamat siang...” teriak Daniel si koboy yang berubah jadi badut dadakan.


“ paman Daniel hahahahhahahha.... kak Ray ini Paman Daniel hahahhahha...” Gege tertawa cekikikan saat melihat Daniel masuk dengan kostumnya yang heboh itu. Wajahnya putih, hidungnya merah bibirnya digambar dan matanya diberi warna biru.


“ Bukan paman Daniel, tapi Paman Badut guanteng lebih ganteng dari Bapak kalian hahahhahaha....” celetuk pria itu sambil tertawa di depan anak-anak.


Ray tersenyum saat melihat tingkah Daniel. Tetapi Ray sama sekali belum bisa tertawa lepas seperti anak-anak pada umumnya, dia terus bertindak hati hati.


Daniel mengangkat tangannya hendak mengambil sesuatu dari dalam rambut kering itu tetapi tiba tiba Ray berteriak ketakutan,” Ja.. jangan pukul!!" teriak anak itu. Sontak Rara dan Richard bahkan Daniel terkejut dengan teriakan Ray.


Dia mengangkat tangannya dan menutupi wajahnya seolah ketakutan akan terkena pukulan dari Daniel, padahal tidak ada yang berniat memukul anak itu.


“ Ray, sayang,” Rara mendekati putranya sambil menarik tangan Ray dengan lembut dan menatapnya.


Rara bisa merasakan tubuh Ray yang gemetaran, “ nak, tenanglah. Paman itu orang baik, tidak akan menyakitimu,” bisik Rara.


Ray menurunkan kedua tangannya dan menatap Rara dengan tatapan menyedihkan.


Sambil berusaha tersenyum walaupun rasanya getir, Rara mengusap wajah putranya,” tidak apa-apa, paman Daniel itu baik, dia tidak akan menyakiti kamu,” ucap Rara meyakinkannya.


Ray mengangguk.


“ Kalau Ray takut, coba tarik nafas dalam dalam dan buang dengan pelan, Ray pasti akan merasa lebih tenang,” ucap Rara.


Ray melakukan ucapan ibunya dan kembali tenang.


Daniel duduk di samping brankarnya lalu tersenyum dan menatap Ray,” Paman tidak akan menyakiti kamu, maaf ya kalau Paman bikin kamu takut, “ ucap Daniel dengan senyuman lembutnya.


Ray mengangguk, masih sedikit ragu tetapi dia menarik nafas seperti ucapan Ibunya.


“ Daniel tolong temani mereka sebentar,” ucap Richard yang dianggukkan oleh Daniel.


“ Ra ayo kita bicara sebentar,” ajak Richard.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen


__ADS_2