Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Makam


__ADS_3

Rara berjalan dengan santai menyusuri jalanan kota yang dihiasi dengan hiruk pikuk kehidupan yang ramai dan berisik. Sembari mengangkat kaleng cat, wanita itu berjalan bersama tim design tata ruang dimana dia bekerja.


Dia diberi pilihan oleh Richard, tetap bekerja atau ikut Richard dan menghabiskan uang milik suaminya dengan bebas.


Tetapi demi menunjukkan dan menjalankan misinya yang sudah dia karang untuk memberitahu siapa sosok Tuan Fransiskus sebenarnya, dia memilih bekerja seperti biasa dia bekerja bersama timnya.


" Akhirnya aku kembali lagi bersama kalian pak Andre, aku merindukan kalian!!" Seru Rara sambil tersenyum bahagia mengangkat alat alat pekerjaan mereka.


" tuan Damian memberitahu kami alasan kamu cuti, selamat atas pernikahan mu monyet tembok, ternyata ada juga yang mau dengan manusia aneh bin ajaib seperti dirimu!" Celetuk sang supervisor.


Rara terkekeh, seluruh tim dalam grup itu turut senang dengan kembalinya perempuan tercantik dan si cerewet nan bar bar di kelompok mereka.


" Kenapa tidak mengadakan resepsi Ra? Suamimu kan kaya!" Celetuk yang lain dengan nada menggoda.


" Ihhh apaan pak, yang kaya suami saya bukan saya, ada ada saja si bapak, ayo kita bekerja!" Celetuk Rara.


Mereka semua tiba di sebuah Cafe yang sedang melakukan renovasi. Cafe ini menyewa Tim Tata ruang Shine, nama tim Rara yang bekerja di bawah naungan perusahaan rekonstruksi terbesar di negeri itu.


Seluruh pekerja masuk, melewati para pelanggan yang ada di dalamnya.


Rara memakai maskernya, sudah biasa dia bekerja dengan masker.


Sembari menenteng dua kaleng cat dengan tali yang melingkar di bahunya, dia berjalan dengan senyum bahagia karena bisa kembali ke kehidupan normalnya.


" ku pikir dia akan marah atau melarangku bekerja, tau taunya disuruh menghabiskan uang dan bekerja sesuka hati, Richard benar benar manusia robot!" Batinnya sembari menatap nanar ke seisi ruangan kafe.


"hahahha... Tenang saja tuan, hal mudah untuk menemukan perempuan ini, tidak saya kira kalau si pembawa sial ini berhubungan dengan anak anda, dia memang perempuan bayaran yang tidak tau diri!" Suara melengking dan tawa jelek dari seseorang yang sangat dibenci Rara terdengar menusuk telinganya.


Wanita itu memutar kepalanya dan melihat ke arah sumber suara sambil memperlambat langkah kakinya.


"Nenek si..sihir itu!??" Batinnya tercekat saat melihat Nyonya Korry di ruangan itu sedang berbicara dengan seseorang yang cukup dia kenal.


" Tu.. tuan Fransiskus dan Bibi Ko..Korry!?? Kenapa mereka bertemu? Bagaimana bisa mereka saling mengenal!?" Mata wanita itu membulat sempurna.


Jika Tuan Fransiskus sampai bertemu Nyonya Korry perempuan licik yang merusak seluruh kehidupan Rara, maka itu berarti keberadaan Rara akan segera diketahui oleh orang licik itu.


"Em...Pak Andre, saya ke sana dulu, mau beli kopi nanti saya menyusul ke atas," pamit wanita itu pada sang supervisor.


"Cepat ya, banyak kerjaan!" Ucap Pak Andre yang dibalas anggukan kepala oleh Rara.


Wanita itu berjalan dengan pelan sambil mencuri dengar pembicaraan kedua orang yang sedang berbincang itu.


Dia sudah sangat penuh persiapan. Dia tahu kalau tuan Fransiskus akan datang ke tempat ini, tetapi tidak tau kalau orang itu akan bertemu dengan Bibinya yang licik.

__ADS_1


Damian telah melacak dan memata-matai tuan Fransiskus tanpa sepengetahuan Richard. Dia dan Rara serta Max, Marco dan Daniel bekerjasama untuk memecahkan masalah ini tanpa mengatakan apa pun pada Richard.


Rara berjalan dengan pelan, melewati meja tersebut sambil menjatuhkan pulpennya sedang tangannya menyelinap diantara rongga kantong celana kodok kebesaran yang selalu dia pakai jika ikut proyek bangunan seperti ini.


Plukk...


Rara duduk berjongkok di samping tuan Fransiskus sambil mengangkat pulpen sedang tangannya yang lain menempelkan sesuatu ke jas pria itu.


Rara berdiri lagi sambil memasukkan benda itu ke kantongnya.


"Hei... " Tiba-tiba Nyonya Korry menatap dan memanggilnya.


Deg... Deg... Deg


Jantung Rara berdebar kencang, dia menatap balik wanita itu.


" Ini punyamu juga bukan? Aku melihatnya terjatuh tadi!" Ucapnya sambil menatap pulpen di dekat kakinya.


Rara tersenyum tipis di balik maskernya " ahh maaf dan terimakasih nyonya," ucapnya dengan suara pelan sembari membungkuk dan...


Klop!


Dia menempelkan sesuatu lagi ke kulit kaki wanita itu, sangat kecil dan lengket seperti tahi lalat.


"Nona, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Tuan Fransiskus tiba-tiba.


"Saya mengenal anda, Presdir terdahulu Fransiskus grup bukan? Saya pernah bekerja disana bersama tim renovasi," ujarnya.


" Kalau begitu saya permisi tuan, nyonya," ucapnya sambil melangkah dengan cepat dan beranjak dari sana.


Nyonya Korry hanya bisa terdiam,dia merasa familiar dengan suara dan siluet wanita itu. Rasanya seperti diamengenalinya dengan baik tapi dimana dan siapa orang itu??


Rara beranjak dengan langkah kaki yang cepat berjalan memutar setelah mengambil kopi dan naik ke lantai dua.


" Huffthhh menegangkan sekali!" Batinnya sambil menghembuskan nafasnya kasar.


Rara mengeluarkan ponselnya lalu mengubungi Damian.


"Ada apa?" Suara Dian terdengar datar dan dingin dari sebrang sana.


"Ada apa denganmu? Kenapa jawabannya ketus begitu?" Tanya Rara kembali.


"Eh tidak, ada apa Ra?" Balas Damian menutupi rasa kesalnya.

__ADS_1


"Dia disini, dan yang lebih mengejutkan dia bersama nenek sihir lintah darat itu!!!" Bisik Rara sambil melirik ke kiri dan kanan siapa tau ada yang mendengar.


" Nenek sihir? Siapa?"


"Bibi, Nyonya Korry, lintah darat itu kak!"


"Hah!?? Kenapa mereka bertemu dan bagaimana mereka bisa saling kenal!??" Bahkan Damian turut terkejut mendengar hal ini dari Rara.


"Aku juga tidak tahu, tapi mereka pasti sedang mencariku,jika tuan Fransiskus menemui bibi maka dia sudah tau siapa saja yang ada di dekatku, ini akan sangat berbahaya, aku takut lebih banyak yang mereka libatkan!" Ujar Rara.


"Tenang Ra, kita lakukan dengan tenang, Sekalipun kita beritahu si cyborg itu tentang hal ini, dia hanya akan marah dan kesal pada kita," celetuk Damian.


"Kau benar kak, dimana kau sekarang, datanglah kesini supaya kita bicarakan dengan baik!" Balas Rara.


"Ahhh, aku akan kesana tapi sedikit terlambat, aku ada sedikit urusan," jawabnya singkat.


" Baiklah kutunggu, "


Rara kembali bergabung dengan yang lain, dia memberitahu Max tentang alat penyadap yang dia pasang di tubuh nyonya Korry dan jas tuan Fransiskus untuk kemudian mereka lacak keberadaan kedua orang itu.


Sementara itu Damian sedang duduk sambil menyesap sebotol susu segar di depan makam bertulisan 'Hana Clara Bougenville ' dengan sebuah foto cantik di nisannya.


Gadis malang, berwajah lembut setenang lembayung senja, senyumnya sehangat sinar mentari dan matanya berbinar bak bintang di langit.


"Sayang, aku merindukanmu.... Aku sangat merindukanmu sudah 12 tahun berlalu, dan kau telah pergi selama itu," ucapnya sambil menangis. Setiap mengunjungi makam itu dia selalu menangis sesenggukan, menyalahkan dirinya dan merutuki semuanya terjadi pada Hana.


Keji dan menyedihkan, sampai gadis malang itu meninggal, orang orang jahat itu di depan mata Lili masih menytubuhi gadis malang itu. Jelas di video itu, Lili tersenyum sambil menghina Hana berkali-kali. Hana berteriak minta tolong, tetapi sama sekali tidak didengar oleh Lili.


Bagaimana perasaan Damian saat melihat hal itu, yang awalnya dia berpikir bahwa Lili mungkin banyak merundung kekasihnya, tetapi ternyata dia menyaksikan gadis itu disiksa dan dipermalukan oleh orang-orang jahanam itu.


Hanya dendam yang terus berakar mencengkram kuat hatinya. Dia akan menghancurkan siapa pun yang melakukan hal itu pada Hana, siapa pun itu!


"Kak Damian!?" Suara seseorang berhasil membuat pria itu menoleh sambil menghapus air matanya cepat-cepat.


"Putri!??"


.


.


.


Like, vote dan komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2