
Sesuai kesepakatan, Rara kembali ke rumahnya hari ini, lebih tepatnya rumah Irene yang dia kontrak. Padahal baru beberapa saat lalu dia bertengkar dengan gadis itu.
Rara pulang menggunakan taksi, berjalan sendirian menyusuri lingkungan rumah dimana dia tinggal setelah ditendangi keluar dari rumah keluarganya sendiri oleh sang bibi yang memorotinya habis-habisan.
Rara kembali dengan mata bengkak dan wajah sembab, dia berjalan sambil memeluk dirinya sendiri. Meratapi dirinya yang menyedihkan. Selama ini dia berjuang keras untuk bisa hidup bahagia dan melupakan semua luka yang dia miliki.
Tetapi, luka itu terus disiram dengan air garam, disayat sayat dan di taburi dengan kepahitan yang harus dia telan bulat-bulat.
Hidup sebatang kara, dan kini dia benar benar jadi seorang wanita yang hidup kesepian tanpa sahabatnya.
Berkali-kali jari jari yang penuh dengan bekas luka, Kasar dan terlihat kering karena bekerja serabutan itu mengusap wajahnya yang kurus dan diisi dengan kesedihan.
Dia berusaha untuk tetap positif meski kata kata Irene tadi mengganggu kepalanya.
" Tenang Ra... sebentar lagi kamu akan bertemu anakmu, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan bayi mu, tenanglah, semua akan baik baik saja, nanti kita bicarakan pada Irene, mungkin dia sedang punya masalah," gumam Rara menguatkan dirinya sendiri.
Dia adalah pribadi yang positif sekalipun di masa lalu dia banyak menderita. Berusaha untuk melupakan semuanya dan memperbaiki hubungan yang rusak dengan cara damai.
"Tenanglah... tenanglah diriku..." gumamnya sambil menepuk-nepuk dadanya.
Kala dia sedih, matanya yang indah itu akan terangkat dan memandang jauh ke atas langit. Langit yang sangat indah dan cerah, wajah sang ayah yang tersenyum dengan lesung pipi yang indah diikuti kerutan halus di wajahnya membuat hati Rara kembali hangat.
Wajahnya yang cantik turun dari paras ayahnya yang tampan dengan lesung pipi di kedua pipinya. Tak dia sangka bahwa putranya yang dia lahirkan tujuh tahun lalu menuruni cacat yang indah itu.
Segurat senyum positif muncul di wajah wanita cantik berhati lembut tetapi berjiwa bar bar itu.
Masalah yang bertubi-tubi akan dia hadapi dengan kepala dingin sekalipun traumanya ditantang disini.
Ini yang membuat sahabatnya dan orang-orang di sekitarnya beranggapan bahwa hidup Rara sangat tenang tanpa ada masalah, padahal masalah yang dia hadapi ditangani dengan positif sekalipun traumanya berkali kali diuji.
Rara menatap rumah itu, dia masuk ke dalamnya. Ada sedikit ras takut kala mengingat yang hendak dilakukan Farhan padanya di rumah itu kemarin.
" Jangan menambah traumamu Ra, tenang dan kita hadapi dengan benar!!" batin Rara sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Rara masuk dan melihat rumah yang ternyata sudah di rapikan oleh anak buah Richard tanpa sepengetahuan wanita itu.
Namun dia menyerngitkan keningnya kala mencium bau samar samar yang tidak biasa, entah ini hanya perasaannya atau tidak tetapi bau itu menyerang penciumannya.
" Kenapa aku mencium bau bensin? padahal BBM naik, siapa yang menuangkan Bensin di sekitar sini!??" pikir Rara. Dia menatap sekeliling ruangan, dia merasa ragu dengan bau itu.
" Apa itu terbawa angin? ahh biasanya juga ada bau bau seperti itu," pikir Rara tak curiga sama sekali.
Dia masuk ke dalam kamarnya dan mengambil koper yang ada di atas lemari, bersiap mengemasi barang-barang pentingnya untuk pindah ke rumah pria yang dia sebuah cyborg si Helper yang dingin.
__ADS_1
Dengan rapi, wanita itu menyusun barang barangnya ke dalam koper. Namun dia teringat bahwa dia belum sempat memberitahu pada kedua sahabatnya kalau dia akan pindah untuk sementara waktu.
Rara mengirim pesan pada Irene dan Putri laku melanjutkan pekerjaannya.
Dengan cepat dia membereskan semua barangnya.
Tanpa dia ketahui, dari seberang rumah itu beberapa pria misterius mengintip dan menatap rumah itu dari balik pohon dan semak semak.
" Target sudah masuk, saatnya beraksi!!" ucap mereka memberi Koda satu sama lain.
Orang-orang itu berjalan dengan cepat lalu mendekati rumah itu dengan membawa obor di tangan mereka.
Di dalam rumah Rara mengemas barangnya, namun tiba-tiba.
Blammm...
Pintu kamarnya di tutup dengan rapat dari luar.
" Siapa itu!!??" teriak Rara panik.
Dia berlari ke arah pintu dan menarik gagang pintu, tapi tak bisa dibuka sama sekali.
Tiba-tiba...
"Bau terbakar, bensin!!!" teriak Rara panik saat menyadari ada yang membakar rumah itu.
" Siapa pun tolong aku!!!" teriak Rara histeris sambil menggedor-gedor pintu di depannya.
Karena rumah yang terbuat dari kayu menyebabkan api dengan cepat menyebar. Dan ternyata rumah itu sudah disiram dengan bensin sebelum Rara pulang.
" Tolong aku!!!" teriak Rara sambil menggedor-gedor pintu rumah .
Nasibnya begitu buruk sampai dia harus mengalami hal menyedihkan ini.
"Ya Tuhan, kenapa dan siapa yang melakukan ini!!!??" tangan nya gemetaran. Rara berusaha mencari jalan keluar. Tapi sayang, sisi dinding luar bagian kamarnya juga sudah terbakar terlihat dari asap yang masuk merambat melalui sela sela lubang rumah itu.
uhukk... uhuukk....
Rara menarik selimut dan menutup mulutnya.
" Air... aku butuh air!!!" gumam wanita itu. Dia melihat botol air mineral lalu dengan cepat menuangkannya ke atas kain dan menutup mulut dan hidungnya dengan benda itu.
"Arrhhkk uhuukk... uhukkk.. bagaimana ini!!!!" Rara mulai panik. Api menyebar dengan cepat.
__ADS_1
Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang disana," Kak Damian... Kak Damian semoga dia menjawab...." lirih Rara .
Dia terkunci di dalam dan tak bisa keluar.
"Halo Ra ada apa??" teriak Damian dari seberang sana.
" Kak Damian, rumah kebakaran tolong aku uhuk...uhuk...uhukkk..
"Apaa!!!! terus kamu sama siapa di sana Raa!???" teriak Damian panik.
" Sendirian kak, tolong aku... akhh... sesak, asapnya sangat banyak, aku tidak bisa melihat Apa-apa... kunci serepnya juga tidak kelihatan!!!" teriak Rara.
Lalu panggilan itu tiba-tiba putus.
Rara menepuk dadanya yang terasa sesak, dia terlalu banyak menghirup asap.
" Akhh... tolong aku!!!" teriak Rara .
Sementara itu di luar rumah, kebakaran besar itu membuat seluruh tetangga keluar dan panik, semuanya berbondong-bondong membantu memadamkan api yang sangat besar dalam hitungan menit.
Nyonya Korry si leher pendek, berdiri menatap rumah itu sambil menyeringai," matilah, kau tidak dibutuhkan lagi, dengan begini semua akan jatuh ke tanganku hahhaha...." gumam wanita itu sambil tertawa pelan dan pergi dari sana dengan mobil mewahnya.
Di saat yang sama, mobil Max terlihat masuk ke area itu. Pintu mobil dibuka dengan kasar, keluarlah Richard dengan wajah panik. Beberapa mobil lain ikut di belakangnya.
" Rara... ya Tuhan bagaiman bisa seperti ini!!!!" Richard menatap rumah itu, dia dalam perjalanan kesana, tepat sudah dekat rumah Rara dia dihubungi oleh Damian terkait keadaan wanita itu. Sontak mereka menancap gas dan mendapati rumah yang terbakar di lahap si jago merah.
"Tuan ini terlalu berbahaya!!" Marco menarik Richard menjauh.
Tapi pria itu tidak bisa dihentikan, dia mengambil jaketnya lalu mencelupkan ke dalam air dan mengguyurkan air pada tubuhnya.
" Chard kau mau kemana!!" Max panik.
" Aku akan menolongnya!!" ucap Richard yang langsung berlari ke dalam rumah sebelum mendengar jawaban mereka.
" Tuan Richard!!!"
"Richard!!!"
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 🤗