Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Tertusuk


__ADS_3

Rara dan Damian terkejut bukan main saat melihat Irene sudah berdiri di samping Rara dengan pisau bedah yang tertancap di lengan Rara.


“ I..Irene?” Suara Rara tercekat saat melihat Irene dan lengannya yang tertusuk dalam.


“ Apa yang kau lakukan...”


“ Rara... lenganmu!!”


Damian panik, dia mendorong Irene sampai perempuan itu terjerembab ke tanah dan pisau beda itu tercabut dari lengan Rara menyebabkan pendarahan yang cukup besar.


“Akhhh.. Irene.. kau...” Wajah Rara panik saat melihat kondisi Irene yang sama persis seperti delapan tahun lalu saat dia depresi dan kondisi kejiwaannya drop karena masalah yang sedang dia hadapi.


Dengan cepat Rara menghampiri Irene sekalipun Irene telah menyakiti hatinya. Dia bukannya meninggalkan gadis itu tapi memeluk Irene yang sedang kambuh.


“ Rara jangan dekat dengannya, dia sudah gila!!” teriak Damian kesal sambil menarik Rara menjauh dari Irene dan mendorong gadis itu ke atas tanah.


“kak Damian jangan, dia akan semakin marah!” balas Rara panik.


“ Irene, tidak apa-apa, kumohon kendalikan dirimu!" pinta Rara dengan suara bergetar.


“ ini semua karena dirimu Ra.. ini semua karena ulahmu, kenapa kau menikah dengan Richard, kenapa kau menikahi pria yang kusukai, kenapa semua orang mengambil orang yang kucintai!!!” pekik Irene sambil menangis tersedu-sedu.


“ Dia ini gila ya? Datang-datang langsung menusukmu, kenapa kau berteman dengan orang gila Ra?” kesal Damian.


“ hahahahha... aku memang gila, aku memang gila, apa itu masalah untukmu hah!?"pekik Irene sampai semua orang yang ada di rumah sakit itu menoleh ke arah mereka dengan tatapan terkejut.


“ Kak, jangan ucapkan itu, dia... dia mengidap gangguan depresi, sudah lama tidak kambuh, tetapi aku tidak tahu kalau ini akan datang kembali, sepertinya dia sedang dalam masalah, biar kutangani,” ucap Rara.


“ tapi ra.. dia menusukmu,”


“ tidak apa, lebih sakit hatiku saat meliat dia hancur seperti ini kak, aku yang tahu apa yang terjadi padanya,” ucap Rara dengan mata berkaca-kaca.


Damian tidak bisa melakukan apa pun lagi, Rara keras kepala dan dia sangat menyayangi sahabatnya.


Rara perlahan mendekati Irene,” Ren... sadar Ren ini aku Rara,” lirih wanita itu sambil menatp Irene.


“ Iya aku tahu kau Rara, perempuan yang merebut semuanya dariku, kalian merebut semuanya dari aku!! kau..kau tidak boleh bahagia, tidak boleh bahagia, kenapa hanya aku yang menderita, kau... kau harus mati Ra!!” pekik Irene sambil menyerang Rara dengan pisau bedah itu lagi.

__ADS_1


Jlebbb...


“ Rara tidak!!"


Benda itu tertancap di perut Rara,”akhhh IRENE SADARLAH!” pekik Rara sambil menahan sakit .


Plakkk....


Satu tamparan keras mendarat di wajah Irene. Tamparan kuat yang berasal dari tangan Rara untuk menyadarkan perempuan itu.


Irene tersentak kaget, dia terjatuh lagi ke tanah dan menatap tangannya yang berlumuran darah dari perut Rara.


“ Ra.. Rara.... a.. apa yang baru saja kulakukan, a.. apa yang kulakukan....” Suara irene gemetar, dia menatap tangannya dengan nanar bergantian menatap Rara yang dipapah oleh Damian. Perut Rara terluka dan bersimbah darah.


“ Sialan, siapa pun tolong tarik perempuan sinting ini!!” pekik Damian dengan wajah kesal dan langsung menggendong Rara berlari menuju gedung rumah sakit.


Irene ditarik oleh perawat dan dibawa masuk ke dalam rumah sakit. Gadis itu terdiam dengan tatapan kosong seperti orang bodoh. Dia menangis,” apa yang baru saja kulaukan, aku menusuk Rara.. hahahha aku menusuk Rara.. seharusnya aku bisa menusuk mereka, kenapa Rara yang kutusuk hiks hiks hiks, aku memang bodoh ahahahhaha... “


Irene hanya bisa meracau seperti orang gila setelah menusuk Rara. Dia menangis dan ditarik tanpa perlawanan.


“ Seharusnya pasien sakit jiwa di kirim ke rumah sakit jiwa, aku heran kenapa rumah sakit ini menerima pasien ini,” kesal salah satu perawat yang membawa Irene.


Damian panik, dia menatap Rara yang berbarik di atas brankar, dengan cepat dia menghubungi Richard dan memberitahu pria itu keadaan Rara.


Tak ada hitungan beberapa menit, Richard tiba di ruangan itu dengan wajah panik.


“ apa yang terjadi? Kenapa dia sampai terluka, kau tidak menjaganya dengan benar damian...” Richard sampai menarik kerah baju Damian saking marahnya ketika mengetahui kondisi Rara.


“ Hei maaf, aku juga tidak melihat perempuan sialan itu datang tadi,” ucap Damian sambil melepaskan tangan Richard dari kerahnya.


“ perempuan? Siapa? Siapa yang berani melukai istriku? Katakan padaku!!" ucap Richard. Jelas Damian lihat sisi kepedulain Richard yang mulai berkembang .


“ Irene, gadis yang tergila-gila padamu sejak kalian SMA, sahabat Rara,” ucap pria itu pelan.


Wajah Richard berubah pias, dia terdiam saat mendengar nama Irene, padahal sejak kemarin dia sudah berniat memindahkan Ray dari rumah sakit itu agar Rara tidak bertemu Irene, tetapi dia malah kecolongan.


“ Sialan, lalu bagaimana keadaan Rara sekarang?” tanya Richard.

__ADS_1


“ tunggu saja, dia masih ditangani oleh dokter, sepertinya Irene memiliki gangguan jiwa dan Rara sudah tahu hal itu,” ucap Damian.


“ Rara sudah tahu? Dan dia masih berteman dengan orang gila?” Mata Richard membulat sempurna.


“ Ya, begituylah istrimu, kau tidak tahu ya,” ucap Damian.


Tidak beberapa lama menunggu akhirnya Rara selesai ditangani oleh dokter dan sudah bisa dikunjungi.


“ kami memberinya beberapa jahitan, lukanya akan sembuh dalam waktu seminggu, mungkin akan meninggalkan bekas luka,” jelas sang dokter.


Richard dengan cepat masuk ke ruangan perawatan dan melihat istrinya,” kenapa dia bisa sampai menyerangmu? Dia sudah gila? Bukannya kalian itu berteman? Kalau seperti ini jangan dekati perempuan itu, hanya membahayakan dirimu saja.” Kesal Richard.


Richard tampak panik, dia menatap perut Rara yang dibalut perban begitupun dengan lengannya.


“ Tenanglah, ini hanya luka kecil, tiga hari juga sudah sembuh, aku bahkan pernah mendaptkan yang lebih parah dari ini,” ucap Rara sambil menyibakkan rambut di belakang telinganya, terlihat bekas luka jahitan memanjang akibat kecelakaan kerja 5 tahun lalu.


“ Apa kau bangga dengan itu hah? Kau terluak Ra, kau punya anak yang harus kau jaga, sudah berapa kali kukatakan untuk tidak terluka, dan sekarang sahabatmu sendiri menyerangmu? kau ini gila ya?" Richard marah, dia sampai menatap Rara dengan tatapan kesal.


Damian yang melihat situasi tidak kondusif, perlahan lahan berjalan mudur dan melambaikan tangannya pada Rara,” sabar ya, Richard sedang mengamuk,” gumam pria itu sambil melarikan diri dari sana.


“ Apa kau tidak takut dia akan membunuhmu suatu hari nanti? Arrhhhkk sialan seharusnya kubawa kau dan anak-anak hari itu begitu tahu dia disini, dasar perempuan sinting, akan kubalas kau...” Richard terus terusan mengomel di depan Rara, dia benar-benar kesal. Melihat hal itu, Rara duduk dan menahan tangan richard,” tenanglah, “ hardik Rara.


Sontak pria itu terdiam sambil menghela nafas kesal,” ck.. bagaimana keadaanmu, apa sangat sakit, apa perlu kusuruh para dokter mengobatimu lebih cepat lagi? Biar ku paksa mereka,” ucap Richard.


“ Ck, dasar cerewet, tenanglah kutakana padamu tenang,” kesal Rara.


" Ra, kau terluka, ini tidak main-main, jika dia sudah memakai senjata seperti ini, aku tidak tau mungkin saja besok besok kami akan menemukan potongan tubuhmu, untuk sementara jangan dekati dia, biar aku yang urus!" ujar Richard.


"Tapi Richard, dia itu..


" Tidak ada penolakan Ra, jangan membantahku!" tegas pria itu dengan tatapan tajamnya.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen


__ADS_2