
Richard menatap anaknya, putra yang sangat dia sayangi, mata pria itu berkaca-kaca, saat semua anak bernyanyi untuk ibu dan ayah mereka, Gege sendiri yang bernyanyi di tengah panggung sambil menangis menatap ke arah sang ayah.
Melantunkan nyanyian yang sangat menyentuh hati dan ungkapan terimakasih pada seorang ayah yang mengambil peran ganda sebagai ibu dan ayah bagi putranya.
Suara serak Gege kala menyanyikan lagu itu membuat semua orang yang menatapnya menangis. Bahkan Max, Damian dan Daniel tak sanggup melihat Gege yang bernyanyi dengan sungguh sungguh sambil terus menatap ayahnya.
Sampai sebesar ini, ayahnya berjuang habis-habisan untuk memberikan kehidupan yang layak bagi Gege. Perjuangan Richard membesarkan Gege dari bayi sampai sebesar ini terekam jelas di ingatan anak sekecil itu, Richard juga rajin mengabadikan momennya bersama Gege sewaktu masih bayi dan Gege menghapal semua itu di dalam otak nya.
“ Lagu ini George persembahkan untuk Papa, terimakasih sudah jadi Papa yang hebat buat Gege, Gege sayang pada Papa..” ucap anak itu di sela sela nyanyiannya .
Air mata Richard lolos begitu saja dari kedua pelupuk matanya, dia menatap bangga pada putranya yang sangat lembut dan rendah hati itu.
Sekalipun saat ini Gege memiliki segalanya tidak membuat sifat sederhana dalam darahnya hilang, satu yang membuat Richard bahagia tentang sifat putranya adalah kerendahan hatinya yang Richard yakini turun dari perempuan itu, ibu kandung Gege yang dia tak tahu keberadaannya sampai sekarang.
Seisi ruangan dibuat menangis dengan nyanyian merdu dari anak itu.
Sementara itu di belakang panggung, Rara tampak berjalan menuju toilet dengan kepala yang pusing dan suara berdengung di telinganya.
Cepat cepat dia berlari menuju toilet karena kepalanya sangat sakti dan suara di telinganya semakin keras,” akhhhh.. harusnya aku tidak terlalu terhanyut dengan suasana, aku tidak membawa obatku, akhhh sial...” dia mengunci dirinya di dalam toilet perempuan sambil mencengkram pahanya sendiri untuk meredam rasa sakit yang menjalar di seluruh kepalanya bahkan sampai menyerang tulang punggungnya.
Tiiiiiitttt.t........
Suara dengungan melengking itu semakin keras, Rara duduk meringkuk di sudut toilet sambil menahan agar rasa sakitnya tak semakin parah, berusaha mengingat hal hal baik dan menenangkan dirinya agar rasa sakit akibat pengaruh depresi dan gangguan pada saraf itu bisa berkurang.
Sudah beberapa kali dia pulang balik ke dokter bagian saraf, mereka semua menyerah menangani penyakit langka yang di derita oleh Rara.
Tak ada obat selain menenangkan diri sendiri dan menemukan apa yang dia cari selama ini. Bahkan dokter mengatakan, selama Rara tak bertemu dengan putranya, bisa saja rasa sakit itu akan terus menghantui dirinya selama dia hidup.
Hati dan pikiran manusia tak tertebak, sekalipun pikiran ingin berhenti mencari tetapi hati akan terus terikat dengan darah daging yang sangat dia sayangi. Rara berusaha keras untuk menenangkan dirinya, kejadian seperti ini bukan hanya sekali dua kali dia alami, bahkan yang lebih parah telinganya bisa sampai berdarah hanya karena memikirkan masa lalunya yang menyakitkan.
__ADS_1
Rara tersiksa, tetapi dia tidak cengeng dia harus kuat supaya bisa menemukan keberadaan putranya.
“ tahan Ra... sebentar lagi utang pada Bibi akan lunas, setelah itu kau bisa menemukan putramu... tahan .. aku tidak boleh begini sebelum aku menemukan anakku, setidaknya aku harus melihat kalau dia hidup dengan layak bersama keluarganya, aku harus kuat...” harapan untuk menemukan anaknya kembali membuat Rara bangkit.
Sekalipun harapan itu sangat kecil, Rara menguatkan dirinya hanya untuk menemukan keberadaan putranya. Dia menarik nafas dalam dalam, menenangkan dirinya dan meredam rasa sakit itu.
“ huhhh... tenang Ra... demi anak kau bisa...” seru perempuan itu menyemangati dirinya sendiri.
Rara berdiri, dia sudah lebih tenang dan suara itu mulai menghilang perlahan. Setelah menenangkan dirinya Rara keluar dari kamar mandi sambil memasang senyum dan menghadapi semuanya dengan berbesar hati.
Perempuan itu melangkah dengan riang sambil berjalan dengan lurus, disaat yang sama Damian yang sedang mendorong kursi roda Gege berpapasan dengan gadis itu, dia baru saja membantu Gege ke toilet.
“Loh ra.. kau disini? Kru mencarimu, katanya kau tadi kesakitan.. ada apa? Apa kepalamu sakit lagi?” Suara Damian menghentikan langkah perempuan itu, dia berbalik dan menatap Damian juga Gege di belakangnya.
“ eh.. kak.. iya.. kepalaku sedikit sakit tadi,tapi sudah tidak apa apak” jawabnya sambil memasang senyum.
Mata Rara tertuju pada anak laki laki yang duduk di atas kursi roda itu. Seketika tubuhnya merinding seolah ada sesuatu yang membuat darahnya berdesir saat melihat wajah lembut anak laki laki itu.
“ Siapa?” tanya Rara sambil melirik anak laki-laki yang kelihatan sangat dingin ketika berhadapan dengan orang lain.
“ ahh ini anak temanku, “ ucap Damian,” Gege ini teman paman Damian, dia yang jadi monyet tembok tadi..” ucap Damian memperkenalkan rara pada bocah itu.
“ Paman ayo pergi, Papa pasti mencari kita, “ Gege tak suka berhadapan dengan orang asing apalagi itu perempuan. Dia tak ingin perempuan asing menggunakan dirinya untuk mendekati sang ayah sama seperti beberapa kejadian sebelumnya di masa lalu.
“ Baiklah,” jawab Damian yang paham dengan sifat bocah itu, sama persis dengan ayahnya.
“ dia tidak suka bertemu orang asing, apalagi perempuan, kami pergi dulu ya..” ucap Damian.
“ Sebentar..” ucap Rara yang tak tahan ingin menatap mata anak itu.
__ADS_1
Rara duduk berlutut di atas lantai sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celana kodoknya,” hey salam kenal, senang bertemu denganmu, ini kamu bawa, jangan dibuang, “ ucap Rara memberikan sebuah boneka kecil berbentuk beruang yang dia buat sendiri dari benang wol.
Gege tentu saja menolak, dia hendak membuang benda itu ke lantai tetapi tangan Rara menggenggam tangan bocah dingin itu,” pegang ya, jangan dibuang,” ucap Rara yang menyatukan pandangannya pada Gege, dia tersenyum dengan lesung pipinya yang indah itu tepat di depan mata Gege.
Anak kecil itu terdiam, ini pertama kalinya dia melihat perempuan dengan lesung pipi yang persis sama seperti miliknya, sangat cantik dan menawan, ini pertama kali Gege bertatapan dengan perempuan itu dan dia merasa sangat tenang apalagi saat Rara menggenggam tangannya.
“ anak yang tampan,” ucap Rara sambil tersenyum sekalipun hatinya begitu pedih membayangkan putranya yang seharusnya sudah sebesar ini.
Tanpa sadar Gege memegang wajah rara tanpa berbicara dan terus menatap wajah perempuan itu,” lesung pipi....” gumam Gege sambil menatap wajah Rara dengan intens.
“ George juga punya..” ucap anak itu sambil memasang senyum dan menatap Rara.
Damian sampai dibuat terkejut dengan George yang baru pertama kali bisa tersenyum dengan perempuan asing bahkan sampai menyentuh wajahnya.
“ Wahh kamu juga punya, kita sama sama punya lesung disini, manis sekali!!” ucap Rara dengan senyum bahagia sambil mencubit gemas wajah Gege.
Di saat yang sama, pemimpin kru pertukangan memanggil Rara karena tim mereka harus memperbaiki bagian panggung yang tiba tiba bermasalah.
“ Rara ayo cepat, ada bagian panggung yang bermasalah, sepertinya rekanmu tadi tidak mengikatnya dengan kuat!" teriak ketua kru.
“ ahhh iya baik pak.. saya kesana..” jawabnya dengan cepat sambil berdiri.
“ kak aku duluan,” pamit wanita itu pada Damian,” bye Gorge ingat disimpan ya.. oh iya nama tante.. tante Rara.. sampai jumpa lagi..” Rara melambaikan tangannya lalu berlari mengejar ketua kru untuk melanjutkan pekerjaannya.
Gege menatap wanita itu,” manis sekali...” batin Gege sambil mengusap wajahnya yang disentuh oleh Rara barusan.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen