
Rara membawa anak-anak ke dalam kamar ayah mereka dan mengunci ruangan itu agar tidak ada yang sembarangan masuk ke sana selama mereka di dalam kamar Richard.
“ Anak- anak sini,” ajaknya.
Kedua anak itu mengikuti langkah kaki ibu mereka dan menatap sang ayah dengan tatapan sedih karena berpikir kalau ayah mereka sama sekali belum bangun.
“ Ma... Papa kapan bangunnya ya?” tanya Gege yang susuk di samping Richard dan menggenggam tangan pria itu dengan erat sama hal nya dengan Elliot yang duduk di sisi lain kasur itu.
Rara tersenyum,” Papa kalian akan segera bangun sayang,” ucapnya.
“ Kapan ma? Elliot takut pelayan yang kemarin itu memasukkan sesuatu ke kamar Papa,” ucapnya dengan nada khawatir. Gege menyimak saja karena dia pun sudah tahu setelah Elliot memberitahunya pagi tadi.
Dengan lembut Rara mengusap kepala anak sulungnya,” Papa akan baik-baik saja,” ucapnya .
“ Tapi kapan Papa akan bangun Ma? Elliot belum banyak menghabiskan waktu bersama Papa, tapi kenapa papa sakit hiks hiks hiks.... apa karena Elliot Papa jadi sakit seperti ini? Elliot...
“ Ekhhmm.. siapa yang bilang begitu pada jagoan Papa hmm?” Suara Richard menghentikan tangisan anak itu.
“ papa bangun...” seru Gege yang langsung melompat dan memeluk Richard dengan wajah berseri-seri.
“ Gege kamu?” Mata Richard membulat sempurna kala melihat sang anak yang kini bisa menggunakan kakinya dengan normal. Dia menatap Rara dengan tatapan tidak percaya,” Dia sudah sembuh,” bisik Rara.
Tawa bahagia terlontar dari mulut pria itu, dia sangat bahagia dan membalas pelukan putra keduanya ,” wahhh anak Papa, anak Papa kamu hebat anak, kamu berhasil sembuh dari sakitmu, Wahh ini luar biasa.. ini benar-benar luar biasa..” seru Richard sambil memeluk Gege dalam posisi duduk di kasur.
Elliot mengulum bibirnya, dia menangis bahagia dengan bulir-bulir air mata yang jatuh dari kedua matanya. Ingin rasanya dia memeluk Richard seerat itu tetapi dia dan Richard belum sedekat hubungannya dengan Rara.
Sambil memilin ujung pakaiannya dia berusaha untuk tidak menangis dan terlihat baik-baik saja di depan mereka semua. Tersenyum getir dan menatap mereka dengan tatapannya yang sendu.
Rara melirik putranya, rasa takut yang ditanamkan oleh James, Giselle dan Nyonya Siska masih belum hilang sepenuhnya dari putra kecilnya itu. Rara menatap suaminya dan memberi kode bahwa Elliot sedang menunggu gilirannya.
“ Papa.. ini semua karena bantuan kakak, Gege sangat senang punya kakak sehebat kak Elli,” bisik Gege sambil melepaskan pelukannya. Seolah anak ini terhubung dengan perasaan kakaknya yang sensitif, dia memberikan giliran berikutnya pada Elliot.
__ADS_1
Richard paham, dia menatap Elliot sambil tersenyum. Anak itu masih menjaga jarak, batas diantara mereka masih ada, dia masih terlalu takut untuk bersikap serakah dan mendapatkan kasih sayang yang memang seharusnya dia dapatkan.
“ Elliot... anak Papa kemarilah,” ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya dan tersenyum pada Elliot.
Tangisan anak kecil itu akhirnya pecah, dia menghamburkan pelukannya pada sang ayah dan memeluk erat Richard dengan kedua tangannya sambil menangis sesenggukan.
Mereka membiarkan Elliot menangis sampai dia puas. Hati nya begitu lembut tetapi dihadapkan dengan kehidupan yang keras dan menyedihkan selama ini, sehingga ketika dia mendapatkan sesuatu yang agaknya seperti mimpi dan menurutnya tidak layak untuknya malah membuatnya menangis seperti saat ini.
Richard mengusap wajah putranya. Rara dan Gege juga terlihat menahan tangis menyaksikan tangisan Elliot yang begitu pilu seolah mengucapkan bahwa dia sangat bahagia menjadi bagian dari keluarga itu.
“ Anak papa kamu hebat sayang, maaf kita baru bertemu tetapi Papa sakit dan tidak memiliki banyak waktu bersamamu, maafkan Papa nak, Papa menyayangimu,” ucap Richard sambil menatap Elliot dengan tatapan dalam dan penuh kasih.
Elliot mengangguk dan memeluk Richard,” Elliot senang, Papa akhirnya bangun,” ucapnya dengan suara sesenggukan lalu memeluk ayahnya lagi. Dia menangis sampai lelah dan memeluk Richard dengan sangat erat tak ingin melepaskannya.
“ Sayang, terima kasih,” ucap Richard menggenggam tangan Rara sejenak dan dibalas senyuman lembut dari sang istri.
Sementara itu,
“ Ini wanita itu, dia memakai motor Damian untuk datang kesini, lihat penampilannya,” ujar Daniel dengan mata tak percaya dengan apa yang dia saksikan sekarang.
Marco berjalan menghampiri Daniel di meja kerja dalam ruangan kantor wakil presdir Abraham grup dimana mereka berada saat ini dan merencanakan beberapa balasan pada keluarga Fransiskus karena telah menjadi salah satu pelaku yang mereka curigai setelah kejadian itu.
“ Kenapa dia ke klub malam?” tanya Marco dengan nada tidak suka,” Aku benci perempuan seperti ini, dia minum-minum sedangkan suaminya berbaring di rumah karena sakit akibat ulahnya, seandainya hari itu Richard tidak menyelamatkannya dia tidak akan sebebas itu.” Marco kesal dia berpikir kalau Rara melakukan hal yang tidak-tidak dengan datang ke Klub padahal ada Damian dan Hansel yang mengawasi wanita itu melakukan misinya.
Daniel juga tidak senang melihat penampilan Rara apalagi dia datang ke klub malam dan terlihat berbincang dengan Khun, pria yang baru mereka hajar pagi tadi.
Tangannya yang kekar kembali menari-nari di atas papan ketik meretas sistem keamanan ponsel James. Mereka mencari segala sesuatu yang berhubungan dengan pria itu, meskipun hal ini termasuk ilegal dan melanggar undang-undang ITE, Daniel mengambil risiko untuk meretas rekaman panggilan pria itu.
“ Mari kita periksa apakah disini ada yang mencurigakan,” gumamnya segera mengcopy semua rekaman panggilan dan menghapus jejaknya sebelum ditemukan.
Daniel melihat catatan panggilan di ponsel pria itu,” Nomor siapa?” pikirnya sambil membuka rekaman panggilan.
__ADS_1
Maka terdengarlah di telinga mereka catatan panggilan James dengan Via siang ini mengenai rencana pembunuhan yang akan mereka lakukan terhadap Richard.
“ Saya akan membunuhnya hari ini tuan,” ucapan Via yang penuh dengan niat licik menjadi penutup panggilan berdurasi 3 menit lebih itu.
Marco dan Daniel terbelalak dengan hal ini, mereka berdua panik,” Marco ayo cepat kita pulang, Richard akan dalam bahaya, beritahu Damian soal ini,” ucapnya dengan wajah panik sambil memutuskan semua koneksi dan memastikan kalau jejaknya tidak akan terlacak oleh sistem.
Marco dan Daniel panik, jika benar rencana itu akan dilakukan hari ini , maka mungkin malam ini adalah waktu yang tepat. Keduanya melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah Richard.
Sementara itu di kamar Richard, Rara, Damian, Max dan si kembar sedang makan bersama sambil membahas kejadian yang menimpa Richard hari itu.
“ Bro.. aku curiga dengan orang-orang dekatmu, kau mengatakan kalau hanya kau, ayahmu dan beberapa orang penting lainnya yang tahu letak puri Emerald bukan? Tapi kenapa Black Phanter sampai tahu keberadaan puri itu? Bukankah ini mencurigakan? “ celetuk Max sambil menatap mereka dengan tatapan penasaran.
“ Apa jangan jangan tuan Fransiskus terlibat dalam hal ini?” ucap Damian .
“ Kau ingat kan sms misterius itu? Apa jangan-jangan pesan itu benar? Yang mereka targetkan disini bukan dirimu tetapi Rara dan anak-anak,” tambah Max lagi dengan kemampuan cenayangnya yang belum disertifikasi.
Pletak...
“ Untuk apa Papa melakukan itu Max, kau mencoba meramal lagi hah? Dasar kau ini , mengesalkan sekali,” Richard tidak setuju, dia memukul lengan Max dengan botol mineral membantah ucapan pria itu.
“ cihhhh aku hanya mengungkapkan kemungkinan Richard, sudah 7 tahun kau berpisah dari ayahmu kenapa kau tidak menaruh curiga padanya?” balas Max dengan wajah cemberut.
“ Itu tidak mungkin,” balas Richard lagi.
Mereka tidak bisa membantah, Richard sangat percaya pada ayahnya. Rara menatap suaminya,” aku takut yang diucapkan kak Max itu benar Richard, karena aku pun mendapatkan pesan misterius itu,” batin Rara sambil menatap suaminya.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen.