Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB: Richard


__ADS_3

Babak baru dalam hari-hari para umat manusia pemegang takhta tertinggi dalam penciptaan kembali di mulai. Mentari yang cerah dan hangat menyentuh wajah sepasang anak manusia yang sedang terlelap di dalam kamar penuh dengan kehangatan.


Berkas-berkas sinar menerobos melewati tirai tipis yang menutup pintu balkon itu. Richard mengedipkan kedua matanya kala merasakan betapa hangatnya sinar sang mentari menghangatkan wajahnya.


Pria itu terbangun dari tidurnya, tubuhnya tentu saja merasa lemas tetapi tidak separah semalam, mungkin karena nyawanya mulai terkumpul dan kembali menjadi Richard yang normal.


“ Eghhh.. kelamaan berbaring membuatku lemas,” gumamnya.


Kedua netranya menangkap tangan Rara yang masih memeluknya dengan erat, terlelap dengan begitu tenang di samping tubuh suaminya dengan kondisi tubuhnya yang penuh dengan bau alkohol dan tato .


Richard mengangkat tangan istrinya,” tato apa ini? Kenapa dia tiba-tiba punya tato?” pikirnya.


Dia menatap wajah istrinya,” semakin kurus, aku membuatnya menderita, tunggu saja pasti Marco dan Daniel menekannya, kedua orang ini benar benar membuatku kesal,” batinnya.


Dia meraba tubuhnya, ada yang aneh di bawah sana,” Diapers? Apa aku memakai diapers?” pikir Richard.


“ ahhh enam minggu tidak sadarkan diri, tentu saja aku memakai benda ini, padahal dulu aku mengejek orang yang memakai benda seperti ini tapi nyatanya sekarang aku memakainya,” batin ria itu.


Tetapi tidak peduli apa dia memakai popok celana atau tidak yang terpenting saat ini sepertinya hubungannya dengan sang pujaan hati telah memulai babak baru.


Pria itu tersenyum, sekalipun tubuhnya sangat berat dan sulit bergerak, tidak membuatnya merasa marah atau sedih karena ada istri yang mendampinginya disana,” cantiknya milikku, istriku...” gumam pria itu sambil menatap Rara dengan mata terharu. Dia mengusap wajah istrinya dan menatap wajah yang sangat dia sayangi itu.


Di saat yang sama, Damian masuk bersama beberapa tim medis. Keadaan Richard tidak diberitakan di seluruh rumah mengingat kejadian tadi. Bahkan yang tahu kalau Richard sudah sadar itu hanya Rara, Damian dan 2 dokter kepercayaan Richard yang juga merawat putranya.


“ sejak kapan tuan bangun?” mereka tentu saja terkejut melihat sang pahlawan sudah bangun dari tidurnya.


“ Semalam, periksa kondisiku, tubuhku terasa sangat berat, rasanya tidak nyaman, lemas seolah aku ini menyatu dengan kasur,” balasnya dengan suara berbisik.


“ apa perlu ku bawa Rara?” tanya Damian yang hendak membangunkan Rara agar mereka bisa melakukan pemeriksaan tetapi tiba tiba....


Pletaakkk....


“ Satu Centi saja kau sentuh kepunyaanku awas kau, “ ancam Richard yang malah jadi agresif dan semakin sensitif setelah dia bangun.


Damian tergelak, yap sahabatnya telah benar-benar kembali pada mereka.

__ADS_1


“ hahaha ini lah Richard yang asli, gila dan bukan sok bermartabat, “ celetuk pria itu menertawakan Richard.


Dia menatap kesal ke arah Damian, Ayah dua anak itu menaruh tangannya di bibir pertanda agar mereka tidak berisik karena Rara masih tidur.


“ Periksa aku, tapi jangan buat keributan, Rara-ku sedang tidur..”


“Pffthhh.....” hampir saja mereka tertawa, beruntung bisa menahan diri.


“ apa kau benar benar Richard yang kami kenal? Kau menggelikan, “ ejek Damian. Dia duduk di sofa dan memberi ruang pada dokter untuk memeriksa kondisi pria itu.


Richard tenang dan membiarkan mereka memeriksa kondisinya dan membuat Rara tetap nyaman di sampingnya.


“ Siapa yang merawatku selama aku tidur?” tanyanya.


“ Rara, dia yang merawatmu sejak kau dibawa ke rumah sakit sampai kemarin, dia yang memperhatikan semua kebutuhanmu termasuk menggantikan pakaianmu dan kau sudah pasti tahu maksudku...” ucapnya.


“ Apa dia yang memasang pembalut kapas itu? “ celetuk Richard.


“ pembalut kapas apanya, itu pampers dasar bodoh, dia yang mengganti dan membereskanmu , semuanya dia lakuan sendiri tidak mau dibantu para dokter, “ jelas Damian.


“ Dimana Marco dan Daniel? Aku ingin menghajar dua kunyuk berengsek itu,” ucap Richard.


“ menghajar apanya, kau saja bergerak masih lemas, dasar bodoh, jangan sok jagoan, kau akan membuat Rara kesulitan lagi, dia sudah cukup menderita selama kau tidur dengan tenang,” ucap Damian dengan nada ketus seraya mengejek Richard.


“ Aku tahu, kau pikir aku bodoh,” kesal Richard.


“ Jangan beritahu siapa pun kecuali atas ijinku kalau aku sudah bangun termasuk Marco dan Daniel,” ucapnya dengan nada dingin.


“ Hmmm.... terserah, aku pergi dulu, banyak yang harus ku urus, ini terkait kecelakaan itu, aku, Rara dan Max sedang menyelidikinya, Black Phanter pelakunya tetapi belum jelas diketahui siapa otak utamanya, mereka tidak akan bergerak menyerangmu kalau tidak punya kepentingan dengan dirimu, dan.. berhati hatilah dengan siapa pun yang masuk ke ruangan ini,” ucap Damian sambil berbicara di balik punggung kedua dokter yang memeriksa Richard, sebagai ancaman jika mereka berani membuka mulut atas kasus ini.


“ Kau mau ke mana? Banyak yang ingin kutanyakan, “


“ Sembuhlah dahulu baru kita bicara, aku akan mengurus beberapa hal dulu, “


“ Hei sebentar, apa yang terjadi pada Rara kenapa dia memakai tato dan penampilannya?”

__ADS_1


“ kau bisa tanyakan itu padanya nanti, sudahlah aku sibuk pak presdir, pekerjaanku banyak, jangan bawel dan cepatlah sembuh, ahhh dan lagi...” dia menatap Richard.


“ Syukurlah kau bangun, jika tidak, Marco dan Daniel mungkin akan kembali ke jalan lama mereka,” ucap Damian seraya tersenyum lega menatap Richard.


“ Terima kasih telah menjaga istri dan anak anakku Damian, kau yang terbaik,” uapnya.


“ Hmmm ... kau ini seperti cenayang saja, seolah kau tahu apa yang akan terjadi pada dirimu,” celetuknya sambil melangkah keluar dari ruangan itu.


Saat sebelum kecelakaan terjadi, saat mereka dalam perjalanan menuju puri Emerald, Richard mengirimkan pesan terjadwal pada Damian jika saja terjadi sesuatu padanya saat tiba di rumah itu karena dia sudah punya perasaan tidak enak.


“ Jika kau membaca ini pasti terjadi sesuatu padaku, tolong jaga istri dan anak anakku, pindahkan mereka ke rumah yang kau rancang, berikan semua fasilitas dan bantu Rara melakukan apa yang dia inginkan, pastikan dia tidak merasa kesepian, jika dia ingin mengunjungi teman temannya maka ijin kan dia dan untuk anak -anak , tolong jaga mereka,"


Isi pesan Richard sebelum pria itu dinyatakan mengalami koma .


Richard menatap langit-langit ruangannya, “ bagaimana keadaanku? Kenapa aku masih lemas?” tanya pria itu dengan nada yang benar-benar berubah.


Kedua dokter itu jela tahu , tuannya sang Richard Abraham telah kembali.


“ Kondisi tuan sudah pulih hanya butuh sedikit tetapi untuk membiasakan tubuh bergerak, dalam seminggu tuan akan kembali normal,” jelas wanita yang merawat Gege dan Elliot.


“ Baiklah, kalian boleh pergi, dan ingat...” Richard menatap tajam mereka,” tutup mulut, jika tidak, siap-siap kalian tutup usia,” ucapnya dengan nada datar dan dingin serta tatapan mengintimidasi.


Glekkk...


Keduanya menenggak kasar saliva masing-masing, gaji yang besar selalu memiliki risiko paling besar pula.


“Baik tuan,” jawab mereka sambil beranjak pergi dari sana.


.


.


.


Like,

__ADS_1


__ADS_2