Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Tulalit


__ADS_3

Seluruh Sekolah dibuat hancur karena Sang Richard sedang mengamuk. Putranya hilang dan tak ditemukan siapa yang membawanya.


Wajah itu berkerut, hatinya sakit dan jantungnya bagai ditusuk pisau tajam saat tiba di sekolah tapi tak menemukan putranya dimana pun. Bahkan tak seorang pun yang tau kemana anak itu pergi.


" Sialan, kalau sampai terjadi apa apa pada putraku maka akan kupastikan sekolah ini hancur untuk selamanya, arkhhhh bajingan sialan mengawasi satu orang anak saja kalian tidak becus!!!" Richard menghancurkan seisi ruangan para guru. Dia benar-benar kecewa karena perbuatan mereka yang lalai dan tak tanggap.


" Sialan, salahku juga tidak menunda rapat, akhhh dimana kamu nak, dimana kamu sekarang? Seandainya tadi aku langsung datang, seandainya aku tidak melanjutkan rapat siapkan itu... akhhh sialan!!!!" Richard memukuli dirinya sendiri, dia benar benar pusing memikirkan keberadaan putranya.


" Chard tenanglah, kami sedang melacaknya!" Senggak Max yang tidak suka dengan sikap Richard saat ini.


" Kau harus tenang, bagaimana Gege akan ketemu kalau kau bahkan tak bisa menenangkan dirimu!" imbuh Damian.


Max dan Daniel mengambil alih pencarian, keduanya mengecek seluruh CCTV, mencari tau kemana anak itu pergi.


" Gege keluar dari area sekolah tanpa memberitahu guru maupun satpam, sepertinya dia melihat sesuatu!" ucap Daniel.


Di saat yang sama anak buah Richard berlari sambil menenteng tas sekolah Richard dan membawa kursi Roda Richard yang patah.


" Tuan... kami menemukan ini di jalan, sekitar seratus meter dari sekolah!!!" teriak orang itu dengan wajah panik dan pucat pasi.


Deghhh....


Hancur sudah pertahanan Richard, melihat tas dan kursi roda putranya berhasil membawa pikirannya kemana mana.


" Gege... Gege... anakku.... ba..bagaimana ini!!!!"


Sementara itu Damian mengangkat panggilan telepon dari Rara, seketika air mukanya berubah, tadinya dia panik kini pria itu merasa lega setelah mendapatkan kabar dari Rara.


" Kami akan segera kesana Ra, terimakasih banyak, terimakasih telah menyelamatkan Gege!!!" ucap Damian.


Richard langsung menghampiri Damian," Apa yang terjadi!? apa kau menemukan putraku!?? katakan dimana dia dam!" teriak Richard sambil mengguncang tubuh pria itu.


"Tenang dulu, Gege berada di tempat yang aman, selain itu ada sindikat penculik anak yang berkeliaran di sekitar sekolah ini, Rara tadi menjelaskannya padaku, Gege hampir saja diculik, beruntung saat itu Gege berteriak, nanti kita dengar penjelasan lengkapnya, tapi aku ingin kita mencari tau apa yang terjadi, Daniel aku bisa melacak mereka kan!?" Damian memberikan foto mobil yang dikirim oleh Rara.

__ADS_1


" Ini dari siapa!?"


"Dari teman yang menyelamatkan Gege, mereka sempat dikejar tapi beruntung Gege bertemu dengan monyet tembok ini, dia terlalu licik untuk dikelabui oleh penculik seperti mereka, sebaiknya kita cepat ke tempat itu,dan Daniel tolong cari tau apa yang terjadi," ucap Damian.


" Siap, tapi kirim makanan, aku akan bekerja dari rumah, disini terlalu banyak orang!" ucap Daniel yang langsung beranjak dari kursinya.


Damian dan Richard bersama Max langsung melaju menuju rumah Rara sedangkan Daniel tidur di mobil menuju perjalanan pulang ke rumah, wajah pria itu kelihatan tidak sehat karena kebanyakan makan es malam malam, aneh memang, tapi manusia perut karet ini tidak akan pernah meninggalkan kebiasaan buruknya itu.


Sementara itu, Richard dituntun oleh Damian menuju rumah Rara. Mereka melaju kesana dengan cepat, beruntung rumah itu tidak terlalu jauh dari sekolah Gege.


Setelah beberapa menit, mereka tiba di ruang sederhana itu.


Di dalam rumah, Rara sedang menyelimuti Gege yang terlelap setelah makan siang dengan sangat lahap. Wajah itu terlihat menggemaskan, keringat di wajahnya membuat Rara gemas sendiri melihat anak itu.


Dengan lembut dia mengusap dan menepuk-nepuk dada Gege.


Sebuah kecupan lembut mendarat di kening anak itu. Rara hendak keluar dari dalam kamar, dia berdiri dan beranjak dari sana tapi tangan Gege menggenggam jarinya dengan sangat erat," Ma... Jangan pergi, Gege disini.... Jangan tinggalkan Gege...." Dia bergumam, menarik lengan Rara dan memeluk lengan itu sambil terlelap dengan nyenyak.


Entah kenapa, Air mata Rara terjatuh, " Kenapa aku bisa merasakan kerinduan anak ini pada ibunya? hatiku sakit saat melihatnya menangis, ahhh apa anakku juga merindukanku? apa dia juga mencariku atau dia telah bahagia dengan ibu barunya?" Rara menangis.


Rara berbaring di samping Gege, dia memeluk anak itu sambil menutup mata. Pelukan hangat seorang ibu yang tidak tau bahwa anaknya ada di depannya, bahwa apa yang dia cari selama ini ada di hadapannya.


Rara malah terlelap di samping Gege sambil memeluk bocah menggemaskan itu.


Tak beberapa lama, Damian tiba di rumah yang sering dia kunjungi jika sedang suntuk dan butuh teman curhat atau butuh seseorang untuk mengomelinya selain sang ibunda yang cerewet tentunya.


Dia membuka pintu rumah dan memanggil Rara," Raa.... kami datang," suara Damian begitu lantang, langkahnya diikuti oleh Richard dan Max .


Richard menatap sekeliling rumah itu, lingkungan yang sederhana tapi unik dan malah terlihat seperti rumah seorang peri di negeri dongeng. Segar dan sangat nyaman.


" Waahhh this is masterpiece!!!" seru Max kala mata jelinya menatap pola botol plastik yang disusun membentuk wajah Rara.


" Ahh itu hasil karya si monyet tembok, dimana dia!??" celetuk Damian yang langsung berjalan masuk ke dalam rumah itu.

__ADS_1


Richard menoleh, rumah itu terlalu unik untuk tidak ditatap sekalipun pikirannya terus berada pada putranya.


Dia menatap ke arah kerajinan tangan yang unik itu.


Mata Richard membulat sempurna, Deghh....!


Detak jantungnya Bertambah sampai berkali kali lipat kala melihat wajah yang tersenyum dengan lesung pipi yang indah di pinggir ruangan itu.


Tangannya terjatuh ke bawah, kakinya lemas dan tubuhnya terasa kaku.


"Dia.... ba... bagaimana bisa!!!" Richard tak bisa berkata-kata, dia menemukan perempuan yang dia cari selama ini, dia menemukan ibu kandung putranya.


" Kak Damian kenapa kau ribut sekali!?? dia sedang tidur, sebaiknya biarkan dulu sebentar, kau ini tidak pakai otak atau sedang melamun hah!?? dasar tulalit!!!" Rara tampak Keluar dari kamar sambil mengomeli Damian yang sembarangan masuk dan berteriak di kamar itu tanpa mengetahui kalau Gege sedang terlelap.


" Ya aku mana tau, kau juga tak bicara!!!" ujar Damian sambil mengerucutkan bibirnya.


"Dasar ya, bikin kesal saja, kau membuat ribut di rumahku, mau ku tarik rambutmu hah!!!!" kesal Rara sambil menarik kepala Damian.


" Akhhhh... ampun ampun... aku salah... lepaskan, kau akan membuat botak kepalaku monyet tembok akhhhhh... Sakitt Rara....." pekik Damian yang kepalanya malah tertarik sampai ke belakang.


Richard cepat cepat menoleh, dia mendengar suara itu, suara perempuan yang masih jelas teringat di kepalanya.


" Dasar kau ini, jangan membuat kekacauan di rumahku, atau ku gantung kau di atas pohon pisang!!!!!"


Netra Richard tak luput dari wajah cantik dengan senyuman berlesung pipi itu. Tak bisa dielak lagi, dialah perempuan yang dia cari selama ini.


" Aku... menemukanmu....


.


.


.

__ADS_1


like, vote dan komen 🤗


__ADS_2