Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB : Kembar


__ADS_3

Rara dan Richard sontak berlari menuju pintu, wajah mereka pucat kala mendengar teriakan khawatir dari Pak Dono.


" MANA KUNCINYA RICHARD!??" teriak Rara panik sambil menarik-narik engsel pintu yang terkunci karena ulah si manusia robot itu.


"Iya sabar bawel!" Balas Richard spontan.


Richard meraba-raba tubuhnya, dia berlari menuju kasur dan melemparkan selimut ke sembarangan arah mencari dimana gerangan kunci itu berada.


Hap...


" Dapat, " ucap pria itu yang langsung berlari lagi menuju pintu.


"Lama sekali!!" Kesal Rara.


"Itu sudah cepat, jangan berdebat sekarang!!" Balas Richard.


Rara hanya menekuk wajahnya dengan bibir manyun. Dengan cepat tangan Richard membuka pintu itu dan keluar bersama Rara.


" Ada apa pak!?" Tanya kedua orang itu serentak. Pak Dono melongo melihat penampilan mereka yang acak-acakan, sontak pikirannya traveling kemana-mana kala melihat pakaian mereka acak-acakan, kamar porak poranda dan rambut bak sarang burung.


"Ya ampun, " batinnya mulai berbicara," aku salah mengambil waktu, mereka pasti sedang asik bikin adik buat tuan Gege, kenapa ku ganggu!??" Batin pria itu sambil menepuk jidatnya sendiri karena berpikir kalau dia sudah mengganggu pasangan itu melakukan sesuatu yang bisa menciptakan anak.


"PAK DONO, SADARLAH!!!" teriak kedua orang yang sudah pergi dari depan Pak Dono karena tak kunjung mendengar jawaban pria yang malah melongo di depan mereka itu.


" Ehh.. itu.. anu.. maaf tuan, saya mengganggu ya," gumam pak Dono sambil garuk-garuk kepala memandang mereka berdua sambil cengengesan.


Rara dan Richard berlari dan membuat seisi rumah heboh kala mendengar tangisan dari si kecil Gege. Tangisan ketakutan yang menggelegar dari dalam kamar anak berusia hampir mendekati delapan tahun itu.


Dengan kasar Richard membuka pintu kamar Gege, langkah besar dia dan istrinya ambil saat masuk ke dalam kamar anak kecil itu.


"GEGE!!" Mereka berdua tampak panik, Rara mengikuti langkah Richard dan masuk kesana.


Gege duduk dengan wajah sembab berlinang air mata sambil menggenggam selimutnya dengan erat, menangis histeris karena tidak mendapati ibunya di samping dirinya.


"Nak.. ada apa?" Richard langsung menghampiri Gege sedang Rara mengambil air hangat.


"Mama hiks hiks hiks... mana Mama Pa? Mana Mama Gege huwaaa... Apa Gege mimpi!? Semalam Mama tidur di samping Gege, Gege berusaha supaya tidak terlelap, tapi mata Gege berat sekali, saat Gege bangun rupanya Mama nggak ada hiks hiks hiks... Mana Mama???" Racau anak itu sambil memeluk ayahnya

__ADS_1


Sangat sakit ketika melihat Gege seperti itu, Richard memeluk putranya dengan erat dan mengusap air mata anak itu.


"Sayang, Mama disini kok nggak kemana-mana, kan Papa sudah janji kalau kita akan hidup bersama," ucap Richard dengan lembut.


Kepala Gege terangkat, dia menengadah dan menatap ayahnya," benarkah?" Tanya anak itu dan dibalas anggukan kepala oleh Richard.


Disaat yang sama Rara menampakkan dirinya sambil membawa segelas air hangat yang selalu tersedia dalam kamar Gege.


"Sayang, Mama disini sayang," ucap Rara yang langsung meletakkan gelas dan naik ke ranjang sebela Gege, memeluk anak itu dengan lembut.


"Mama? Hiks hiks hiks....Gege pikir Mama pergi karena nggak suka sama Gege huaaaa..... jangan pergi, jangan tinggalin Gege lagi..." Gege memeluk ibunya dengan sangat erat, tangan kecilnya gemetar, air matanya sampai membasahi kaos yang dipakai Rara.


Wanita itu menatap Richard sejenak, demikian juga Richard. Mereka merasakan kesedihan yang sama saat melihat Gege dalam kondisi ini. Jika Gege saja sampai begini, bagaimana lagi dengan putra mereka yang hilang?


Air mata Rara tidak terbendung, dia memeluk putranya dan mengecup kepala anak itu dengan lembut.


"Husss.... Mama nggak kemana mana sayang, Mama akan selalu di samping Gege, Mama akan selalu di sisi kamu nak," ucap Rara dengan hati yang gemetar.


Tangannya mengusap pucuk kepala Gege dengan lembut, dia menatap wajah itu sambil menangis," nak..." Ucap Rara dengan pelan.


Richard hanya memperhatikan mereka, "ada yang ingin Mama sampaikan," ucap Rara ditemani buliran air mata yang begitu deras.


Lengkungan indah terlukis di wajah Rara, lesung pipi yang indah itu bak bunga yang sedang mekar. Dia menatap wajah putranya, menangkupkan kedua tangannya di pipi Gege," Mama, adalah ibu kandung kamu sayang, maaf Mama nggak bisa jaga kamu dulu, tapi Mama sangat menyayangi kamu nak,"ucap Rara.


Sejujurnya, dia sedikit takut memberitahukan hal ini pada Gege, rasanya dia takut ditolek oleh anak itu.


Namun Gege malah memeluk Rara dengan erat sambil tersenyum bahagia ditemani kristal bening di kedua pelupuk matanya," Gege sudah tau Ma, saat laki-laki jahat itu menunjukkan foto pada Mama waktu itu." Ucap Gege.


"Gege melihat dan mendengar nya, Gege sudah paham dengan hal itu, tapi Gege nggak berani bilang, takut Papa marah," jawabnya sambil melirik Richard.


Richard dan Rara sama sama terkejut saat mendengar penjelasan bocah kecil itu.


"Memang kapan Papa marah nak? Kalau soal ibumu kamu bisa bicara pada Papa," ucap Richard.


"Papa sering marah kalau Gege dekat perempuan, padahal kan mereka yang datang mau dekatin Papa, ujung-ujungnya Papa mengomel di rumah," jawabnya dengan jujur.


" kau sering memarahinya ya?" Rara bertanya, tetapi suaranya penuh tekanan. Pria itu malah menatap ke arah lain sambil menggaruk lehernya.

__ADS_1


"Dasar cyborg tak punya hati!" Bisik Raa.


"Nak, kamu harus tau satu hal lagi," ucap Rara sambil menghapus air mata anaknya.


"Ada apa Ma?"


"Kita punya misi sayang, untuk menemukan kakak kembarmu, kamu punya kembaran tetapi wajahnya tidak mirip dengan kamu dan Papa, wajah kakakmu seperti Mama tapi tanpa lesung pipi," jelas Rara.


"Benarkah!??" Mata Gege membulat sempurna.


"Iya nak, Mama dan Papa akan mencari dia, sudah saatnya Keluarga kita berkumpul," ucap Richard sembari menggenggam tangan putranya.


"Jadi mimpi Gege benar," ucapnya yang tentu saja membuat kedua orangtuanya menoleh pada anak itu.


" Maksud Gege?" Tanya Richard.


"Gege bermimpi ada anak laki-laki seumuran Gege yang tersenyum pada Gege, wajahnya seperti Mama, tapi dia menangis dan wajahnya pucat, apa dia sedang sakit? Dia membawa kelinci mati dan meminta tolong, saat Gege mau bantu tiba-tiba ada banyak monster besar yang menarik anak itu, setiap malam Gege bermimpi, tapi Gege takut bilangnya sama Papa,'" jelas anak itu sambil menatap kedua orangtuanya.


"Iya sayang, kita pasti akan menemukan dia," ucap Rara.


"Sekarang Gege bersiap ke sekolah, Papa mau bicara sama Mama, Gege bisa sendiri kan?" Tanya Richard.


" Bisa Pa," jawabnya dengan penuh semangat.


"Ra ikut denganku," ajak Richard.


Sementara itu, Marco dan Daniel sedang bekerja di lantai 3. Sesuai perintah Richard, mereka meretas sistem keamanan rumah Fransiskus.


"Apa mereka itu orangtua!?? Bagaimana bisa mereka menyiksa anak mereka seperti itu!? Jika dilihat-lihat dia itu seusia dengan Gege, jahat sekali!!" Ucap Daniel.


Namun Marco hanya diam sambil mengeraskan rahangnya, wajah anak itu sangat familiar baginya, ada yang aneh dengan perlakuan Giselle pada anak kurus itu.


"Sebaiknya kubicarakan dengan tuan," gumam pria itu sambil beranjak hendak keluar dari ruangan, tetapi Richard dan Rara sudah tiba disana .


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen 🤗


__ADS_2