Bukan Perempuan Bayaran

Bukan Perempuan Bayaran
BPB: Monyet Tembok


__ADS_3

“ Omes.. by the way bentar deh, siapa yang rancang tata ruangnya?” tanya Max dengan mata yang mengamati seluruh bagian ruang acara yang di desain seunik dan seaman mungkin.


Dia sampai menghentikan langkah kaki Damian.


Max dengan jiwa seninya yang meronta-ronta menatap penataan ruang acara yang terlihat menakjubkan itu, sambil menunjuk dari ujung pintu masuk sampai ujung panggung dia membuat Richard dan Gege juga ikut melihat apa yang dia tunjuk tapi tidak dengan Damian yang matanya terus tertuju pada makanan yang di tata rapi di pinggir ruang acara, untung saja air liurnya tidak sampai menetes karena hal itu.


“ ini benar benar penataan ruang yang hebat, siapa yang melakukan ini, termasuk itu boneka balon udara itu, selain menarik juga aman, mereka pasti menggunakan benda-benda yang aman untuk anak,” Max terlihat sangat tertarik. Tentu saja tertarik, ini bidang pekerjaannya.


“ ahh yang melakukan itu adalah orang yang membawaku kesini Max, hmmm... “ Damian menatap sekeliling panggung,” ahh itu dia monyet tembok yang memakai masker putih itu, dia yang memberi ide penataan ruang ini,” Damian menunjuk gadis yang sedang memanjat ke tembok hanya dengan menggunakan tangga padahal tembok itu sangat tinggi.


Terlihat perempuan berambut hitam panjang itu tengah mengikatkan tali ke cantolan yang di tancapkan ke dinding. Di sisi lainnya ada rekannya laki-laki yang juga sedang mengikat tali di sisi lain untuk memasang tirai pertunjukan untuk murid SD.


“ pastikan ikatannya aman, anak-anak akan tampil disini, jika sampai terjadi apa-apa awas kau...” ancam perempuan itu sambil menunjukkan kepalan tangannya pada pria di seberangnya.


“ iya.. iya dasar cerewet, kau pikir aku tidak tahu pekerjaanku, jangan mengomel saja,lihat posisimu, wajahmu saja yang cantik tapi mulutmu pedas, lebih pedas dari cabe rawit...” gerutu pria itu sambil memperketat ikatan pada penahan tirai.


“ Heheheh.. ya maaf brother, anak-anak akan tampil disini, bahaya kalau sampai talinya lepas, “ ucap Rara sambil tertawa cengengesan.


Di arah penonton, Richard, Max dan gege menatap perempuan yang ditunjuk oleh Damian itu. Max bahkan sampai membuka mulutnya lebar lebar karena tak percaya ada perempuan yang mau bekerja seperti itu,” kau yakin? Dia itu perempuan? Yakin Dam? Wow... ini gila.. omes” celetuk Max tak percaya.


Richard menatap perempuan bermasker itu sekilas lalu memalingkan wajahnya tak peduli dengan topik bahasan dua temannya yang sedang sangat serius membicarakan penataan ruang yang menurut mereka sangat rapi itu.


“ Dia ? perempuan? Heh jangan salah, bagiku dia bukan perempuan, dia itu punya tenaga seperti laki laki dan sangat cerdas, kau mungkin akan dibuat terkejut dengan ulahnya yang di luar nalar, sudahlah.. kalian disini dulu, perhatikan si Daniel, lihat dia akan menghabiskan semua hidangan itu sendiri bahkan sebelum acara di mulai!” ucap Damian sambil menatap Daniel yang sudah nangkring di depan meja hidangan sambil mencomot satu persatu jenis hidangan yang diletakkan di atas meja.


Perhatian Max dan Richard beralih ke arah Daniel, “ Ya ampun anak unta lagi apa woiii... acara belum dimulai kau sudah makan saja..” ucap Richard dan Max yang dibuat geleng-geleng kepala dengan si manusia rakus itu.


“ lapar heheheh... aku makan sedikit saja...” ucap Daniel sambil membawa piringnya yang katanya sedikit tapi isinya sudah beragam makanan yang dia taruh disana.


“ perut karet kau membuat malu saja..”

__ADS_1


Daniel punya kebiasaan makan yang aneh, apa pun yang dia makan akan tetap membuatnya kelaparan, padahal tubuhnya tidak gemuk, entah kemana semua makanan yang masuk ke tubuhnya. Porsi makannya sama persis seperti porsi makan empat orang dewasa itu pun terkadang kurang.


“ aku akan mengantar Gege ke barisan kelasnya, kalian duduklah disini,” ucap Richard sambil mendorong kursi roda anaknya menuju barisan dimana anak-anak SD duduk bersama.


Tak beberapa lama, acara itu dilaksanakan, pentas seni yang dimulai dengan tarian pembukaan dari anak anak SMA dilanjut dengan acara persembahan dari anak SMP .


Terlihat sangat meriah dan ramai. Acara pentas seni dalam rangka memperingati hari jadi ke 25 tahun yayasan itu berdiri dipenuhi dengan tamu undangan dari berbagai kalangan, alumni dari tahun pertama sampai ke angkatan ke 24 juga hadir dalam acara yang meriah itu.


Tampaknya semua orang menikmati perayaan ini dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan.


“ wahh ayo minum dulu minum... acaranya sukses besar..” seru supervisor pemimpin kru tata ruang itu sambil memberikan minuman bersoda pada rekan rekannya.


“ ini juga atas bantuan satu satunya yang paling cantik di tim kita, beri tepuk tangan pada Rara!!!” ucapnya sambil memberikan minuman pada perempuan itu.


Wohooooo..... prokk.... prokkk


“ hahahhaha... “ semuanya tertawa mendengar ucapan terang-terangan dari perempuan cantik itu.


“ tentu saja ada bonus nona, kau seperti baru kali ini saja bekerja dengan kami...” ucap mereka sambil tertawa.


Rara tersenyum puas sambil mengangkat minumannya,” baiklah bersulang untuk acara ini!" seru Rara sambil mengarahkan minumannya ke tengah meja tempat mereka duduk.


“ bersulang!” seru mereka semua dengan tawa bahagia karena acara ini berjalan dengan lancar dan para tamu serta peserta acara tertarik dengan penataan ruang yang mereka buat.


“ Wahh kau benar benar hebat ya... sudah menyeretku kesini tapi tak mengajakku minum..” Damian menghampiri mereka, dia baru dari ruang belakang, pria itu menaruh tangannya di bahu Rara.


“ Ayolah kak...jangan berkata begitu, minum dulu ini..” ucap Rara memberikan segelas minuman untuk Damian.


Mereka duduk disana sambil menatap ke arah panggung yang sedang bersiap untuk acara pentas selanjutnya.

__ADS_1


“ Bagaimana dengan pendengaranmu? Apa baik baik saja?” tanya Damian sambil mengunyah cemilan yang ada di depannya.


“ baik baik saja, tak ada masalah sejauh ini, “ jawabnya dengan singkat.


Rara memiliki kondisi pendengaran yang tidak normal, dan hal itu terjadi setelah perempuan itu mengalami kecelakaan saat bekerja, dia terjatuh dari lantai 5 dan kepalanya terbentur dengan keras.


Rekan rekannya berpikir bahwa perempuan itu tidak akan selamat, tetapi dia bertahan meskipun telinganya menjadi tumbal atas kejadian naas itu. Telinga bagian kirinya mengalami gangguan, terkadang bunyi berdenging akan terdengar dan mengganggu pekerjaan perempuan itu apalagi jika sampai dia stress.


Dokter mengatakan bahwa Rara mungkin akan berada dalam kondisi tersebut selama beberapa waktu yang tidak pasti dan benar saja, sudah 1 tahun sejak kejadian itu berlalu, pendengaran perempuan itu masih bermasalah.


Mereka menatap ke arah panggung, kini giliran Gege dan kelasnya untuk tampil di atas pentas.


Damian, Daniel , Max dan Richard berseru memberi semangat pada bocah itu.


“ Ra... aku kesana dulu ya, ponakanku akan tampil.. aku harus memberinya semangat..” celetuk Damian yang sudah berlari ke arah dekat panggung untuk memberi dukungan pada Gege.


Rara menatap ke arah panggung, siapa gerangan yang membuat Damian begitu bahagia. Mata perempuan itu menatap seorang bocah laki laki yang sangat manis dan tampan, senyumannya dengan lesung pipi yang sangat indah di kedua pipinya membuat Rara terpaku saat melihat wajah lembut dan menggemaskan itu.


Deg....


Rara terdiam dan menatap anak itu dengan tubuh membeku, ada sesuatu yang membuat dadanya merasa sesak saat melihat anak tampan itu duduk di atas kursi roda. Sontak dia mengingat putra yang dia lahirkan, putranya yang diculik oleh orang tak dikenal, Rara menatap dari kejauhan,” anakku... dia pasti sudah sebesar anak itu sekarang... dimana kamu nak... Mama merindukanmu...” batin Rara yang memegang Dadanya dengan rasa sesak yang tak tertahan.


.


.


.


Like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2