CEO DINGIN MILIKKU

CEO DINGIN MILIKKU
SENSITIF


__ADS_3

Dihari sabtu keluarga Erick disibukan dengan persiapan ulang tahun Kiya dan juga hari pertunangan Kiya.


Begitupun dengan Nisa yang antusias dengan pesta yang akan dilakukan di mansion. Nisa dengan Kiya kini sudah ada di butik Dyah, mereka berdua sibuk dengan gaun apa yang akan mereka gunakan di pesta nanti.


"Kak lihat ini, bagus tidak aku gunakan???" Kiya menunjukan baju yang dia coba pada Nisa.


"Bagus cantik cuma dada kamu terlalu terekspos"


"Iyah juga kak, kenapa mommy membuat baju yang kurang bahan seperti ini"


"Nanti kita tanya sama mommy, kamu cari yang lain saja"


Tanpa banyak bicara Kiya mencari baju yang ada di butik, Nisa sengaja tidak meminta Dyah membuatkan gaun untuk ulang tahun dan pertunangan nya.


Nisa melihat semua koleksi mommy nya. Ada satu gaun putih tulang yang sangat indah menurut Nisa.


Nisa mengambil nya lalu membawa nya ke ruang ganti yang ada di sana. Nisa mencoba baju yang dia ambil disalah satu koleksi mommy nya.


"Cantik bajunya"


Kiya memutar tubuh nya melihat gaun yang diambil tadi sangat pas di badan nya. Gaun putih tulang, tanpa lengan, di atas lutut. Sangat cocok dengan Kiya yang memilik badan ramping dan berisi di bagian tertentu.


Kiya keluar dari ruangan ganti menunjukan baju yang dia coba bagus atau tidak. Kiya mendekat ke arah Nisa.


"Kak bagus tidak??? Cantik tidak"


Nisa menatap kagum pada Kiya yang sangat cantik menggunakan gaun putih tulang itu. Nisa mendekat ke arah Kiya.


"Lepas gaun nya, pakai nanti saat ulang tahun kamu, jadikan kejutan buat mas Fani"


"Jadi cocok kak aku pakai baju ini???"


"Sangat cocok terlihat semakin cantik kamu"


"Baik lah terima kasih kak, Apa kakak sudah menemukan gaun yang kakak mau???"


"Aku menginginkan baju yang terlihat uwau"


Nisa menarik tangan Kiya mendekat diantara baju baju kurang bahan. Nisa menunjukan salah satu Gaun kemben putih susu.


"Apa kakak ingin memakai ini nanti???"


"Iyah kenapa memang nya???"


"Kakak yakin???"


"Hay lihat perut ku saja masih rata, kalau aku memakai ini pasti sangat cantik, sudahlah ayo kita pulang"


"Yah sudah ayo kak"


"Kamu jangan tunjukan sama Fani aku juga ini menjadi surprise"


Kiya melangka turun dari lantai atas, mencari pegawai Dyah yang bertugas di butik nya.


"Mbak tolong kemas gaun ini"


"Baik nona tunggu sebentar"


Setelah mereka mendapatkan apa yang mereka cari di butik Dyah, mereka meninggalkan butik langsung pulang ke mansion.


"Kalian lama sekali ada di butik, Kalian menemukan apa yang kalian inginkan disana???"


Kiya dan Nisa yang baru sampai sudah mendapat pertanyaan dari Dion. Dion menatap dua perempuan didepan nya terlihat sangat aneh seperti menyembunyikan sesuatu.


"Apa yang kalian sembunyikan???"

__ADS_1


"Kami menyembunyikan apa?? Jelas jelas kami hanya menenteng paper bag"


"Sudah mandi lalu siap siap karena sudah sore, apa lagi kalian dua perempuan penghuni mansion yang sangat lama berdandan"


"Aku akan berdandan sangat cantik hari ini, lalu para undangan akan melihat ku terpana. Biar kamu tau rasa mas"


"Sayang kenapa kamu bicara seperti itu???"


Dion lupa jika istri nya dalam mode hormon naik turun. "Kamu sudah sangat cantik"


Kiya senyum mengejek kakak nya yang ingat kalau istrinya sedang dalam hormon naik turun. "Cemen banget"


"Gemmm, kakak tidak cemen hanya menjaga pesta kamu tidak hancur gara gara hormon Nisa"


"Alasan saja" Kiya menggandeng tangan Nisa menuju lift. Saat sampai atas mereka melihat Dyah ingin masuk kedalam kamar nya.


"Mom"


"Kalian baru pulang?? Mommy mau memanggil kalian tadi"


"Kalian mandilah dulu lalu masuk MUA akan mommy suru datang ke kamar Kiya"


"Nak kamu dirias di kamar Kiya yah???"


"Yah mom, mommy banyak pekerjaan banyak yang harus dicek. Kalian cepatlah ini sudah jam 5 sore"


"Baik mom"


"Begitu lama kita ada di butik 3 jam kita disana kak"


"Yah kamu benar, kamu masuk lah ke kamar kamu mandi nanti aku ke kamar kamu"


Kiya dan Nisa masuk kedalam kamar mereka masing masing. Kiya dan Nisa langsung masuk kedalam kamar mandi, sebelum mereka akan di rias oleh MUA.


Ceklek...


"Ayo masuk kak"


Didalam kamar Kiya sudah ada MUA yang akan merias, tadi nya sudah ingin merias Kiya, urung karena mendengar ketukan.


Kiya yang sudah di make up, sudah mengenakan gaun yang tadi dia pilih di butik Dyah. Gaun putih tulang, tanpa lengan, di atas lutut, make up tipis, rambut panjang yang dibentuk gaya kepang fishtail braid.


Sedangkan bumil sudah memakai gaun kemben putih susu, panjang, ada belahan selutut di satu sisi gaun, make up tipis, rambut panjang yang disanggul kepang dengan aksesoris rambut. Yang jelas memperlihatkan leher sampai pundak Nisa yang putih.


Ceklek...


Dyah masuk ke dalam kamar Kiya karena pesta sudah ingin dimulai. Dyah melihat dua bidadari yang Mansion, bagi Dyah Nisa dan Kiya sama saja. Sama sama putrinya tidak membedakan anak dan menantu


"Kalian terlihat sangat cantik ayo turun sayang"


Kiya ada di tengah tengah Nisa dan Dyah keluar dari dalam lift. Mereka berjalan ke samping mansion. Pesta yang di rayakan disamping mansion Erick.


Semua mata tertuju pada ketiga perempuan yang berjalan dari dalam mansion. Para undangan terlihat menatap ketiga nya ingin memiliki salah satu nya.


Yang datang tidak hanya parang orang tua melain kan para anak muda, dan pria matang. Dion yang melihat istrinya dengan gaun yang memperlihatkan leher sampai pundak mulus nya berjalan mendekat ke arah nya.


Dyah, Nisa, dan Kiya yang sudah ingin sampai dimana kue ulang tahun Kiya berada tertunda dengan Dion yang menghalangi jalan mereka.


"Sayang"


"Kenapa??"


"Itu baju kamu lengan nya kemana???"


"Tanyakan sama mommy??"

__ADS_1


Dyah yang tidak paham itu pun menatap putra nya dengan bingung. "Ada apa???"


"Kenapa baju Nisa seperti itu"


"Karena model nya memang begitu"


"Sayang kamu ganti yah pakai gaun yang lain???"


"Tidak, aku suka yang ini"


"Sayang"


Nisa yang merasa disalahkan, merasa bawa dia tidak pantas memakai gaun ini. Karena Dion menyuruh nya ganti dengan yang lain.


Mata Nisa yang berkaca kaca menatap Dion, buliran bening yang siap jatuh dari kelopak mata Nisa. Dion yang melihat nya bingung. Dyah yang paham hanya bisa menghela nafas.


"Aku tahu mas, aku orang kampung tidak pantas memakai gaun ini" buliran bening yang sudah membasahi pipi Nisa.


Dion bingung dengan apa yang diucapkan Nisa, dia tidak berniat seperti itu. Dion menatap Mommy nya.


"Kamu sudah tau hormon nya naik turun malah kamu paksa dia"


"Tapi mom" belum sempat Dion melanjutkan kata kata nya melihat Nisa berjalan masuk ke dalam mansion.


Dyah dan Kiya hanya bisa menghela nafas, karena Dion tidak mengerti hormon Nisa yang sangat sensitif.


Dion mengejar langka Nisa yang semakin menjauh, Nisa masuk kedalam lift. Belum samapi Dion sampai pintu lift tertutup Dion berlari melewati tangga. Berharap bisa mengejar Nisa, tapi terlambat saat Dion sampai lantai tiga Nisa sudah masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.


Acara ulang tahun dan pertunangan dilanjutkan tanpa Nisa dan Dion, karena Dion yang masih sibuk dengan Nisa. Dion masih berusaha membujuk Nisa.


Sampai tukar cincin Kiya dengan Fani. Dion duduk didepan pintu kamar nya. Nisa yang didalam kamar terus menangis sejadi jadinya.


Dyah yang khawatir dengan Nisa langsung masuk kedalam mansion saat tukar cincin selesai. Dyah melihat putra nya duduk didepan pintu bukan nya kasihan malah geram dengan tindakan Dion.


"Mommy sudah berapa kali bilang sama kamu Nisa itu sensitif, tapi kamu malah memaksa nya"


"Dion tidak suka cara pakainya


Nisa"


"Kamu saja yang berlebihan, tau tidak"


"Sudah minggir biar mommy yang bujuk"


Dyah mengetuk pintu, berharap Nisa mau membuka pintu nya saat dia yang mengetuk pintu.


"Sayang, ini mommy nak"


"Sudahlah mom, Nisa tidak mau bertemu dengan siapa pun"


"Dengarkan mommy, mommy akan menjewer telinga Dion yang sudah menyakiti kamu"


"Mas Dion sudah tidak cinta lagi sama Nisa mom"


Dion yang mendengar istrinya bilang dia sudah tidak sayang pun menggedor pintu kamar. "Sayang aku cinta dan sayang sama kamu"


"Tidak pergi sana, pergi mas. Atau aku yang pergi dari mansion"


"Okay aku akan pergi, tapi tolong kamu jangan pergi"


Dion tidak benar benar pergi, dion kembali duduk didepan pintu kamar nya. Dyah hanya menatap putranya kesal.


"Nisa belum makan dan kamu tidak mau memahami sifat nya yang sedang mengandung"


Dyah meninggalkan putra nya yang sedang meratapi dirinya yang sangat bodoh tidak memahami Nisa yang selalu berubah ubah sifat nya.

__ADS_1


__ADS_2