CEO DINGIN MILIKKU

CEO DINGIN MILIKKU
TUA BANGKA


__ADS_3

Arion menatap dua perempuan cantik yang baru saja keluar dari dalam mobil mewah miliknya, tanpa sadar senyum miring mengembang di bibirnya. "Sangat cantik"


Saat tengah asik menatap dua perempuan cantik yang masih ada di parkiran sekolah Rion di kejutkan dengan yang dia kenali.


"Haaaaa...."


Arion menatap adiknya yang kini sudah ada di samping nya dengan senyum mengembang, karena sudah berhasil membuat kakak tertuanya terkejut walau masih dengan wajah yang datar.


"Kenapa kamu ada di sini???"


"Aku sudah selesai kelas, terus kenapa kakak ada di sini???"


"Tidak ada"


Ella menatap ke bawa dia ingin tau apa yang kakak nya lihat di bawah sana, tapi di bawah tidak ada yang menarik untuk di lihat. "Kak, enggak ada apa apa???"


"Lalu kamu mau nya ada apa??" Rion menatap sang adik yang ada di samping nya.


"Enggak tau, aku pikir ada Calon kakak ipar" Ella menggoda sang kakak dengan menaik turunkan alisnya.


Rion menatap sang adik yang menggoda nya, Rion mencubit gemas pipi sang adik. "Kamu cari kekasih biar enggak kepo mulu"


"Yah nanti aku cari membawa karung sekalian"


"Karung buat apa???"


"Buat cari pacar selusin"


Rion tersenyum melihat sang adik yang kini berlalu meninggalkan nya di lorong kampus. Rion mengejar langkah sang adik yang mulai jauh dari pandangannya.


Ditempat lain, di kelas lain, di gedung yang sama Aula dan Aura tengah menatap empat kumpulan senior yang menghadang mereka dengan tatapan sinis. "Eh.. Mbak badut ada di sini???"


"Elo enggak usah banyak bacot sialan" pekik Winda mengundang anak anak lain yang ada di sekitar mereka, tentu saja mereka kepo dengan apa yang terjadi.


"Lah mbak nya ngegas dong" Aula menatap Winda dengan teman teman nya sangat santai seperti ngobrol dengan teman nya.


"Gaes pengang cewek kurang ajar ini" Sesil dengan Dian mendekat kearah Aula yang sangat santai.


Dari kejauhan terlihat Bulan dan Bintang penasaran dengan ada didepan sana karena banyak mahasiswa yang berkumpul. "Ayo kesana kita lihat ada apa di depan sana Bin"


"Yah ayo lah barang kali ada yang menarik" Mereka berdua dengan semangat mendekat kearah kerumunan.

__ADS_1


Sedangkan Aula kini kedua tangan nya sudah dipegang sama Dian dan Sesil dengan sangat kuat, Aula sendiri napak santai. "Mau ngapain elo nyuruh ini orang lemah magang gue?? Nanti jatuh nangessss!!!" ejek Aula kepada Winda


Winda mendekat dia mengangkat tangan nya mengayunkan tangannya kearah Aula yang ada di depan nya masih dengan sangat santai.


Dhep... Bhrukk..


Ahhhh uhuk.. Uhuk..


Winda memegang dadanya yang terasa nyeri karena tendangan yang di beri oleh Aula tidak main main saat tangan Winda sudah sangat dengan pipi putih sih pirang.


Mahasiswa yang menyaksikan itu sungguh tidak menduga kalau Aula sangat lah kuat, mereka menatap miris Winda yang sudah ada di lantai dingin lorong.


"Elo berdua lepasin gue sebelum elo berdua gue kirim bertemu malaikat"


Seketika Dian dengan Sesil melepas pegangannya dari tangan Aula, Aula mengambil tisu basah yang ada di dalam tas nya, dia membersihkan kedua tangannya pakai tisu basah. "Dengerin gue, jangan perna ganggu gue kalau enggak mau gue kirim elo ke alam lain"


Aula sudah muak karena sedari masuk pertama hingga dia sudah dua minggu ada di kampus Winda dengan teman temannya selalu saja mencari masalah dengan nya.


Aula mendekat kearah Winda yang kini sudah terkapar di lantai. "Elo badut kampus jangan cari gara gara sama gue, gue silau lihat wajah elo yang penuh dengan make up tebal"


"Ayo kak" Aula mengajak sang kakak pergi dari kerumunan yang mengerumuni mereka, Aura yang sedari tadi bersandar di dinding melangka meninggalkan kerumunan bersama dengan sang adik.


Semua kejadian yang Aula lakukan bukan hanya di saksikan Bulan dan Bintang yang tadi menerobos untuk melihat paling depan melainkan ada Rion dan Ella, dan entah dimana Ar. Apa Ar sedang mencari cewek di kampus??? Nanti kita cari tau yah gaes..!!


Rion menatap kepergian Aula yang semakin menjauh dari pandangan nya, Dia menatap Aula sampai dia menghilang di balik dinding kampus.


...****************...


Di tempat lain David yang tengah ada di Markas yang dulu menghidupi nya dan membuat nya hidup menatap kesal sang mertua yang kini menyuruh nya untuk melati langsung pengawal yang akan menjadi pengawal Aula dan Istri tercinta nya.


"Dad, aku mau jemput istriku" David menatap Dion yang ada di samping nya dengan menatap anggota nya yang tengah latihan.


"Sudah lah kamu di sini saja dengan saya, untuk melati mereka" Dion menyahut dengan mata yang masih fokus kedepan.


"Jangan tumbalkan aku untuk kemarahan Mommy!! Itu kan salah Daddy sendiri kenapa enggak kasih tau Mommy kalau kemari ada kerjaan lain jadi pulang telat" ucap David panjang lebar dengan kesal.


"Sudah tapi Mommy keburu tau kalau di kantor ada Rika yang membuat ku menjadi lama ada di kantor" belah Dion.


"Bilang saja Daddy mulai tertarik dengan tubuh bahonol nya, Daddy niat selingkuh dari Mommy!! Ati ati pedang pusaka menjadi korban"


Dion menatap menantu nya, lalu menghela napas lelah. Dari mana pikiran aney sang menantu itu, Dion berpikir menantunya tertular Virus aneh yang di tularkan Putri dan keponakannya. Yang selalu bicara tampa pikir.

__ADS_1


"Seperti nya kamu tertular adik adik kamu Vid"


"Tertular apa???" David bingung mendengar mertuanya.


"Virus aneh mereka yang selalu ngomong tanpa pikir"


Davit terngnaga mendengar apa yang di katakan oleh mertua laknat nya. "Kau yang aneh Dad, perempuan kayak dia kenapa enggak Daddy kirim ke alam lain saja???"


"Saya tidak bisa sialan, kalau bisa sudah aku ledakan kepalanya"


"Kenapa?? Daddy suka???" tanya David menyelidik mertua yang selalu berdebat dengan nya setiap bertemu.


"Dia kekasih rekan kerja saya"


"Kenapa anda tidak bilang saja kalau dia itu gatal dengan Daddy, gatal seperti kutil"


"Apa kutil gatal??"


"Mana aku tau, aku enggak perna merasakannya"


"Kenapa kamu mengatakan kalau bulum perna kutilan???" Geram Dion..


"Apa itu util Dad??"


Suara polos dan cadel menyapa pendengaran dua pria matang yang tengah menatap anggota lain lantihan. "kamu sudah bangun sayang??"


"Hemmm, kamu mau berlatih pedang??" david mencoba mengalikan apa yang Monica dengar barusan


"Mau Kak!!"


"Rosy, ajari Princess untuk berlatih pedang" David memanggil Rosy yang tidak jauh dari tempat nya dan Dion.


Monica sangat menurut kini gadis kecil itu sudah bersama dengan Rosy berlatih pedang. "Kamu pintar sekali hemm, memgalikan Monica???"


"Tentu saja kan aku pawang segala gadis"


"Ala, saya juga bisa mengalihkan perhatian putriku" Dion dengan gaya songong nya.


"Dasar tua bangaka tidak mau kalah"


"Apa kamu bilang??"

__ADS_1


"Tidak ada Dad"


"Menantu Laknat" Dion mengatkan setelah David meninggalkan nya di sana sendiri.


__ADS_2