
David naik ke lantai empat di mana Nisa memanggil nya, entah apa yang akan David terima dari Nisa Queen Alexander, Nisa yang penyayang, sabar, dan tentu saja lembut bisa bersikap kejam, sadis, kepada siapa saja yang akan menyakiti putrinya. Tapi untuk David mungkin pengecualian, karena Nisa merasa kalau David dan Aura putrinya sama sama bodoh dalam menghadapi cinta yang tumbuh dalam hati nya, Nisa yang kini sedang menatap wajah cantik Putrinya yang belum sadar dari pingsan dan ada infus di tangan nya membuat Nisa ingin memukuli David.
Saat Nisa ingin duduk di ranjang putrinya, dia mendengar ketukan dari pintu kamar putrinya, Nisa berjalan ke arah pintu, lalu membuka nya melihat siapa yang datang. Ternyata yang datang David, Nisa menyuruh David untuk masuk ke dalam kamar putrinya, dengan sangat patuh David masuk ke dalam kamar Aura, David melihat Aura yang belum sadarkan diri.
"Kamu lihat Vid, Aura belum sadar"
"Iyah Nona muda"
"Apa yang ingin kamu katakan???"
"Maaf Nona muda"
"Untuk Apa???"
"Telah menyukai Nona muda"
"Seharusnya???"
"Tidak mencintai nya"
"Apa kamu bodoh???"
"Iyah"
"Sekarang apa harus kamu lakukan???"
"Menjauhi Nona kecil"
"Kamu tau kamu bukan remaja, atau ABG yang harus terus di tuntun Vid"
"Saya tahu saya salah Nona muda"
Nisa menghela napas mendengar jawaban David, dia ingin mendengar kalau David mau memperjuangkan cinta nya kepada Aura ternyata jawaban yang Nisa harapkan tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan, dia menatap David yang ada di depan nya. Nisa mengambil Cambuk yang selalu ada di perut nya saat ada di Markas, cabuk yang dibuat khusus untuk Dion untuk Nisa sehingga cambuk yang Nisa pakai seperti ikat pinggang.
"Kamu tidak tanya Vid dari mana saya tau kamu menyukai Aura??? Kamu tidak penasaran Vid???"
"Iyah Nona muda"
__ADS_1
"Dari cara kamu memperlakukan putri ku, dan kamu juga akhir akhir ini menjauhi nya bukan??? Dan saya mendengar semua curhatan kamu kepada Rosy dan Robby saat kamu ada di taman belakang bersama mereka"
"Karena saya tidak sebanding dengan Nona kecil"
"Apa yang membuat kamu tidak sebanding Vid???"
"Saya hanya bawahan sedangkan Nona kecil seorang putri"
"Hahahahah, kamu tahu Vid aku dulu juga dari kalangan miskin yang harus berjuang demi bisa makan dan minum"
David tidak menyangka kalau Nona muda nya perna susa, dia kira Nona muda nya juga sama dari kalangan atas, apalagi David tau kalau Nisa memiliki usaha berlian sampai ke luar negeri. David mendengarkan cerita pait yang selama ini dia alami sejak ke dua orang tuanya meninggal, dia berjuang untuk bisa kuliah dan makan, dia menempati tempat tinggal yang tidak layak di tempati, setelah lulus kuliah dia kembali ke rumah orang tua nya yang Nisa kecil dulu tempati, cerita pahit yang hanya Nisa simpan dalam dirinya sendiri tanpa ada yang tau semua nya, mungkin Dion mencari tau tapi tidak semua yang Dion tau tentang kehidupan pait Nisa.
David mendengar cerita Nisa yang begitu menyedihkan di bandingkan dirinya, dia dari kalangan atas dan tidak ingin dijodohkan memilih jalan hidup sendiri, David menunduk menatap lantai Kamar Aura.
"Kamu tau Vid, ini hanya kamu dan aku yang tau bahkan suami ku saja tidak tau betapa pahit nya aku dulu"
"Sekarang kamu paham bukan Vid, cinta tidak memandang harta dan kekuasaan apalagi usia"
"Aku tau segalanya Vid, usia kita tidak jauh berbeda, kamu bukan remaja yang harus aku ingatkan dalam cinta".
"Aku tidak mau melihat putriku menangis atau jatuh sakit seperti ini Vid"
"Baik Nona muda, saya akan memperjuangkan cinta ku kepada Nona kecil".
Nisa membuang cambuk yang dia gunakan untuk mencambuk David, pengawal Aura dan Aula selama ini dan juga guru musik putri putrinya, Nisa duduk di samping Ranjang putrinya mengusap lembut pucuk kepala Aura. " Mommy tidak akan membiarkan siapa saja menyakiti kamu Nak!!! Mommy akan balas setiap rasa sakit yang kamu rasakan"
Sedangkan Dion yang sedari tadi berada diluar pintu kamar Aura mendengar semua yang Nisa dan David bicarakan, dia baru tahu kenyataan pahit yang Nisa Alamai sebelum dia bertemu dengan nya, Dion merasa bersalah selama ini tidak bisa menemukan cinta nya.
Dion masuk kedalam kamar setelah menghapus air mata nya, dan menetralkan degup jantung nya, dia menatap David yang menunduk, Dion melihat cambuk yang tergeletak dibelakang David.
"Keluarlah obati luka kamu"
"Baik Tuan Muda"
Dion mendekat ke arah Aura dan Nisa, Dion mencium kening Nisa yang sedang menatap Putrinya. "Kamu jangan terlalu kerasa dengan nya sayang"
"Aku tidak suka ada yang menyakiti putri ku Dad"
__ADS_1
"Aku tau sayang!! Dia juga tidak sepenuh nya salah"
"Kenapa Daddy membelah nya"
"Bukan membela sayang"
"Sudahlah Dad aku lelah aku mau ke kamar"
"Apa mau aku gendong Mom???"
"Tidak"
Nisa beranjak dari duduk nya berjalan ke arah pintu dengan di ikuti Dion di belakang nya, Sedangkan Aura gadis cantik itu sebenar nya sudah bangun saat Nisa mencambuk David, Aura membuka mata nya sedikit menjadikan Aura tau bagaimana David di cambuk Mommy nya.
Aura merasa kesal dengan David yang menjauhi nya tapi dia juga merasa kasihan melihat David di cambuk oleh Mommy nya dua kali, Aura menatap langit langit kamar nya dengan mengingat bagaimana cambuk Mommy nya mendarat di punggung David.
Sedangkan David kini sedang berada di kamar nya, Robby tenga mengobati luka di punggung David dengan rasa kasihan melihat David yang mendapat cambukan dari Nona muda mereka.
"Apa yang di katakan Nona muda Vid???"
"Nona muda tidak mau kalau Nona kecil merasakan sakit" David menjawab dengan menahan rasa sakit di punggung nya, rasa perih, panas dan nyeri ada di punggung nya.
"Lalu???"
"Aku harus berjuang mendapatkan kepercayaan nya"
"Apa kamu yakin bisa???"
"Entah lah Rob"
"kamu sih suka sama anak majikan"
"Nama nya juga cinta datang tak di undang, pergi terkadang membawa luka"
"Seperti ini kamu membawa lukakan"
Mereka bercerita dengan Robby yang mengobati luka sahabat nya, Robby sesekali meniup luka David karena sedari tadi David terus meringis kesakitan. Setelah selesai Robby meninggalkan David di kamar nya agar David bisa beristirahat, agar lukanya cepat kering.
__ADS_1