CEO DINGIN MILIKKU

CEO DINGIN MILIKKU
MENARIK


__ADS_3

Hari pertama masuk kuliah Aura dan Aula selalu saja menjadi pusat perhatian mahasiswa dan mahasiswi yang mereka lewati. Pasalnya mereka begitu sangat memukau, siapa yang tau kalau di antara salah satu dari mereka sudah ada pawang nya, masih sama seperti biasanya Aura akan bersikap sangat dingin, sedangkan Aula dengan ceria dan rama nya.


Saat tengah berkeliling di area kampus Aula yang tidak memperhatikan jalan, menabrak seseorang yang berjalan dari arah yang berbeda.


Bruk..


Ahh..


Aula mendongak menatap siapa yang menabraknya, ralat Aula yang menabrak nya, Aula menatap Bulan yang ada di depan nya dengan mengusap bahunya. "Elo enggak punya mata" sewot Aula, jelas jelas Aula yang menabrak orang lain juga yang di salahkan.


"Apa elo bilang gue, elo yang nabrak gue asal elo paham" Bulan yang tidak kalah sewot


Mendengar keributan mahasiswa dan mahasiswi yang tidak jauh dari sana mulai kepo dengan apa yang terjadi. Mereka melihat dua perempuan cantik sedang aduh mata saling tatap dengan mata tajam.


"Gue enggak mau paham" Aula yang enggak mau mengalah dan masih enggak terima kalau dia yang menabrak.


Aura menatap sang adik dari samping dengan pandangan lelah, karena Aura tau yang salah itu Aula bukan orang yang ada didepan Aula. Aura masih menatap sang adik dengan tatapan tajam nya dari samping.


"Minta Maaf enggak elo??"


"Enggak"


"Minta Maaf"


"Enggak"


"Minta Maaf"


"Eng...."


Sebelum Aula menyelesaikan kata kata nya Aura sudah memotong kata katanya, Aula menatap kakak nya tidak percaya. "Kak, jelas jelas dia yang salah" Aula menunjuk Bulan yang ada di depan nya.


"Aula" Aura menekan kata katanya untuk membuat Aula mau meminta Maaf kepada perempuan yang ada di depan nya.


"Gue minta Maaf, puas elo??"


"Puas!!!" setelah itu dia meninggalkan Aula dengan Aura begitupun dengan yang lain yang mengikuti langka Bulan.


Saat Rion berpapasan dengan Aula dia melirik gadis yang menabrak adik sepupunya, Rion tersenyum miring dengan menatap Aula.


"Kak, ngapain kamu??"


"Enggak ada"


"Hemm"


Bulan dengan para saudaranya lanjut berkeliling di area kampus, begitupun dengan Aula dan Aura yang berkeliling. Mereka ingin melihat situasi dan memahami area kampus beru mereka.

__ADS_1


Saat sudah ada ditengah jalan, panggilan untuk mahasiswa mahasiswi baru untuk berkumpul di Aula kampus, Aula dan Aura yang mendengar itu pun berbalik arah untuk ke Aula kampus.


Di Aula kampus sudah banyak mahasiswa baru yang sudah siap dengan kegiatan ospek. Aula Aura duduk di bagian tengah terlihat jelas di depan sana banyak kakak senior mereka perempuan yang menatap garang, ada yang hanya menatap biasa saja.


Winda senior yang suka berpakaian terbuka dan selalu memakai make up tebal mendekat kearah Aula yang tengah sibuk dengan ponsel genggam nya.


"Hey... Elo"


"Gue???"


"Iyah, kenapa elo malah main ponsel di sini??"


"Lalu gue harus main di mana??" Aulan menyahut tanpa berminat menatap lawan yang ada didepan nya, Aura yang duduk di samping adiknya menatap Winda dengan sangat tajam.


"Elo enggak sopan yah"


"Gue sopan perasaan" Aula menatap Winda yang ada didepan nya dengan datar.


"Elo yang enggak sopan" Dengan nada mengejek.


"Apa elo bilang??" pekik Winda dengan melotot menatap Aula.


"Apa di rumah elo enggak ada kaca, mau kemana ente dengan pakaian terbuka dan bermake up tebal?? Mau ngeremo elo??"


"Elo, berani sama Senior?? Minta Maaf??"


"Ngapain gue minta Maaf sama badut kayak elo"


"Elo kurang ajar yah.. Maba baru tapi sok jogo di sini. Elo belum tau gue" pekik Winda dengan mengepalkan tangan nya


"Gue emang enggak mau tau soal badut kayak elo, tapi nanti kalau adik gue umur nya 10 tahun gue panggil elo buat hibur temen temen adik gue"


tawa yang tidak bisa di tahan lagi akhir nya pecah memenuhi ruangan Aula, Winda menolah ke kanan dan ke kiri dia melihat semua mahasiswa tertawa termasuk teman teman seniornya yang ada di depan.


"Diaammm" pekik Winda menatap tajam Aula


Seketika semua mahasiswa menutup mulut mereka mendengar pekikan Winda yang kini menatap tajam Aula, Winda yang merasa tidak menghargai dia mengangkat tangannya yang akan di layangkan ke pipi mulus Aula.


Aura menahan tangan Winda yang akan sampai di pipi Aula, Aula menatap Winda dengan sinis. "Badut kayak elo mau nampar pipi mulus gue, hahahah... Jangan ngarep elo" Aula tersenyum miring melihat tangan Winda ada di genggaman Kakak nya.


Winda menarik kasar tangan nya dari tangan Aura yang menggenggam tangan Winda sangat kuat, saat Winda menarik nya dia hampir saja terjungkal. "Sialan elo, siapa elo berani sama gue???"


Aura menatap Winda dengan wajah datarnya tanpa minat untuk menyahut, Winda semakin kesal di saat dia ingin bully mahasiswa baru malah dirinya yang di permalukan.


"Elo..."


"Elo enggak usah, ela elo anjir.. Gue pusing dengernya!! Dan asal elo tau dia kakak kembar gue" dengan mengibaskan rambut panjang nya yang sekarang juga sama tergerai indah menutupi punggung Aula.

__ADS_1


"Emm, jadi dia kakak elo hahaha pantas sama murahan"


"Hahahaha... Anjai, ngakak gue"


Semua orang yang ada di sana menatap Winda dengan mencibir, di saat dirinya yang memakai baju terbuka dia juga yang bilang perempuan lain murahan.


Perdebatan mereka sedari tadi saksikan sepasang mata yang menatap kagum Aula dari jarak yang tidak terlalu jauh dari dirinya. "Dia pantas menjadi pendamping gue" batin Rion dengan menatap Aula.


Ella yang disamping Rion menatap kakak tertua nya dengan bingung, Karena sedari tadi Ella melihat kakak tertuanya tersenyum tidak jelas. "Kak, kakak lihatin siapa???"


"Tidak ada" bohong Rion dengan memalingkan wajah nya


"Kakak jangan bohong aku tau kakak tengah menatap tiga perempuan yang ada di tengah sana yang tengah berdebat, aku enggak mau yah kakak suka sama sih ondel ondel. Kalau sama sih pirang atau sih datar aku masih mau menerima mereka" Ucap Ella panjang lebar menarik perhatian Bulan, Bintang dan Ar yang ada di dekat mereka.


"Kenapa???"


"Kakak Rion suka dengan salah satu dengan perempuan yang tengah bertengkar" terang Ella dengan menatap pertengkaran yang ada di tengah


"Kalau aku sih dia antar twin dari pada orang hutan itu" Bulan memberi pendapat


"Iyah kamu benar, kalau sampai kakak Rion suka sama mak lampir aku yakin Papi tidak akan setuju"


Adik adik Rion memberi saran termasuk Ar yang tipe orang yang sangat cuek, tapi dia ikut memberi saran kakaknya. "Ar cari biodata yang berambut pirang"


"Hemmmm"


"Kalau enggak salah nama mereka Aula dan Aura, entah mana yang Aura dan mana yang Aula" Bintang memberi tahu kakaknya.


Ar mengotak atik tablet yang ada di tangannya. "Namanya sama kayak keluarga kita Alexander"


"Enggak ada yang menarik, hanya ada namanya saja Aula Alexander dan Aura Alexander" terang Ar yang masih mengotak atik tabletnya.


"Sih pirang siapa nama nya???" tanya Rion yang sudah sangat penasaran


"Aula Alexander, kalau yang saudaranya Aura Alexander hendarso"


"Hendarso???"


"Iyah dia sudah menikah dengan anak satu satu nya Indah dan Doddy"


"Hemmm, jadi Aula???"


"Dia masih singel seperti nya!! Keluarga nya punya anggota Mafia Alexander"


"Jadi dia anggota intinya???"


"Sepertinya"

__ADS_1


"Sangat menarik" dengan menatap Aula.


Rion dan saudara Saudaranya menatap dua perempuan yang tampak acu tak acu kepada Winda yang kini penampilan nya sudah sangat Awut awutan.


__ADS_2