
Halima yang mengingat kejadian puluhan tahun yang lalu tidak menyadari jika Eko tengah menunggu nya di luar dengan perasaan kacau balau, khawatir, sedih, dia merasa kalau dia bukan Ayah yang baik selama ini. Serly putri yang di manjakan dan dia besarkan yang selalu menyambut nya pulang saat pulang kerja bersama istrinya sekarang dia ada di rumah sakit jiwa karena obsesi nya terhadap laki laki.
Eko tersadar dari lamunan masa lalu yang mengingat masa kecil Serly keluarga nya sangat bahagia, tanpa ada nya permusuhan sampai akhir nya Serly besar yang masih Eko manjakan merusak pesta pernikahan Dion anak dari sahabat nya yang selama ini membantu nya bangkit dalam keterpurukan sampai usaha juga dia yang membantu. Dan kini hubungan itu sira semuda membalik telapak tangan karena ula Putri nya yang sudah kehilangan Arah.
"Mas" Halima memanggil Eko yang ada ditepi ranjang dengan raut bingung.
"Ayo kita pergi sekarang!!" Eko beranjak dari duduk nya dan menggandeng tangan Halima.
Halima menatap wajah Eko yang sangat Frustasi, sedih bercampur menjadi satu. Halima merasa sangat bersalah terhadap Eko, bukan hanya merasa bersalah melainkan merasa berdosa dengan Eko yang tidak tau kebenaran bahwa Serly bukan anak kandung nya.
Halima dan Eko menuruni anak tangga satu persatu untuk ke lantai bawah, Setelah sampai di lantai bawa Halima dan Eko masuk ke dalam Garasi Mansion. Kedua orang tua Serly masuk kedalam mobil yang ada di garasi setelah itu Eko melajukan mobil nya meninggalkan Mansion nya membelah jalan yang sangat padat.
Puluhan Menit berlalu kini mobil Eko sudah memasuki kawasan rumah saki jiwa, Eko dan Halima turun dari mobil, Mereka berdua masuk ke dalam rumah sakit jiwa berjalan ke arah resepsionis menanyakan Serly ada dimana. Setelah itu Eko dan Halima di antara oleh salah satu perawat yang ada di sana untuk menemui Serly yang ada di rumah sakit jiwa.
Saat ingin masuk ke dalam ruangan Serly mereka berdua mendengar kalau Serly berteriak teriak memanggil nama Dian dan Nisa, Teriakan demi teriakan terdengar dari dalam kamar Serly. Saat mereka masuk ke dalam kamar rawat Serly, Halima dan Eko melihat putrinya yang sangat Miris dengan baju compang camping, rambut bak singa wajah yang berantakan karena make up yang luntur.
Halima mendekat ke arah putrinya mencoba untuk memberi pengertian Serly. "Nak, ini Mama"
Serly mendongak menatap orang yang ada di depan nya, Serly melihat Mama nya tenga berjongkok di depan nya dengan Air mata yang sangat banyak.
"Ma aku ingin menikah dengan Dion"
"Iyah Mama akan menikahkan kamu dengan Dion tapi kamu tenang dulu yah nak"
"Mama janji Mama tidak bohong kan ???"
__ADS_1
"Tidak Mama janji sayang!! Sekarang dengarkan Mama nak, kamu diam dan nurut sama Mama yah???"
"Iyah"
Halima membantu Serly untuk bangun dari duduk nya setelah itu dia membawah Serly mendekat ke arah Eko yang ada di ambang pintu dia tidak kuat melihat Serly dalam ke adaan kacau balau.
"Saya akan membawa anak kami pulang!!! Karena dia tidak gila"
"Baik ibu dan bapak silahkan urus semua di depan yah!!!"
"Iyah terima kasih"
Setelah itu Halima dan Eko berjalan keluar dari sana membawa Serly yang sudah seperti orang gila atau memang Serly udah gila karena obsesinya kepada Dion??? Autor masih pusing enak nya di bikin gila atau di bikin setengah gila atau apa enak nya gaes??? Beri saran Autor nanti suara terbanyak Autor bikin cerita nya yah!!!!
Setelah kepergian Halima dan Eko yang membawa Serly, perawat yang mengantar ke dua orang tua Serly bertanya tanya pada dirinya sendiri. "Bagaimana mungkin anak nya sudah gila dibilang tidak gila!! Apa orang tua nya seorang dokter sehingga mereka bisa menyembuhkan Anak nya yang sudah Gila???" pertanyaan yang ada di batin nya itu membuat dia pusing sendiri dan setelah bergelut dengan pikiran masing masing perawat itu masuk ke dalam ruang pasian lain untuk memberi obat.
Setelah beberapa puluh menit akhir nya Eko memasukan Mobil nya masuk ke dalam gerbang yang menjulang tinggi di depan Mansion nya, Eko memarkirkan mobil nya ada di depan garasi mobil nya.
Mereka bertiga turun dari dalam mobil membawa Serly masuk ke dalam Mansion saat di dalam mansion dia melihat pengawal yang membawa belanjaan yang sangat banyak, dia membantu salah satu pelayan yang kesusahan membawa belanjaan nya. Serly berlari dan memeluk pengawal itu dari belakang dengan sangat Erat tentu saja Eko dan Halima terkejut dengan tingkah Serly yang tiba tiba.
"Dion kamu sudah bosan dengan Nisa iyah dan kamu datang kemari untuk menikahi ku"
Deg..
Halima dan Eko tidak bisa berkata kata mendengar apa yang Serly katakan, Mereka tidak mengira kalau Serly sudah depresi. Mereka pikir Serly masih sangat sehat.
__ADS_1
"Maaf Nona saya Budi pengawal Nona"
Suara Budi membuyarkan keterkejutan nya Halima dan Eko, mereka menatap Budi lalu mendekat ke arah Mereka berdua dengan Serly yang memeluk Budi dari belakang.
"Kamu mau kan menikahi putriku??? Dan aku akan membayar dua kali lipat gaji mu!!!"
Eko sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Halima, bagaimana mungkin dia membayar orang untuk menikahi putrinya.
"Ma, kamu sehat???"
"Ini cara yang terbaik agar Serly tidak datang ke mansion Erick"
"Tapi nyonya!!!!"
"Jangan khawatir kamu boleh menyentuh Serly melakukan hak kamu sebagai suami dan jika kamu tidak mau aku akan melenyapkan kamu mengirim kepala mu ke rumah ibu mu"
Deg..
Budi terkejut dengan apa yang dikatakan Halima bukan Budi saja melainkan Eko juga merasa terkejut dengan apa yang dikatakan Halima. Dengan sangat berat hati Budi menyetujui menikahi Serly yang depresi.
Setelah itu tidak ada persiapan atau apa pun Halima menyuruh orang menyiapkan keperluan menikah Serly dan Budi pengawal Serly, Halima membawa putrinya naik ke atas ke lantai Dua dimana kamar nya berada dengan Eko yang mengikuti dari belakang.
Setelah semua nya selesai Serly di nikahkan dengan Budi, di sore hari tepat saat penghulu mereka berdua langsung menikah dan pernikahan mereka sudah terdaftar di negara dengan kekuasan keluarga Eko yang memang berada di tingkat nomor dua keluarga Erick.
Kini Budi Sudah menikah dengan Serly secara agama dan negara. Serly tidak melepaskan Budi sedikit pun dia terus menempel bak cicak di dinding lengket seperti perangko.
__ADS_1
Eko yang memang tidak menyetujui tindakan Halima kini berubah pikiran dan berharap putrinya bisa kembali seperti dulu ceria dan bisa berubah.