CEO DINGIN MILIKKU

CEO DINGIN MILIKKU
MANSION DION.


__ADS_3

Matahari bersinar sangat terang menerobos masuk ke dalam jendela kamar Aura dan Aula tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bangun dari tidur nya, malah semakin menutup diri nya dengan selimut tebal mereka, suara ketukan berulang kali tidak membuat sang empu bangun dari tidur nya, alarm terus berdering tak kunjung membangunkan mereka.


Entah apa yang membuat mereka sama sama bangun telat, jika bisanya sang rambut Pirang yang telat bangun dan membuat sang kakak harus turun tangan membangunkan pirang. Tapi kini ke dua nya enggan untuk membuka mata mereka berdua.


"Aura, Aura, Aura"


"Kenapa dengan mereka berdua ini kenapa tidak ada yang bangun, padahal sudah setengah delapan"


"Aula, Aula, Aula"


"Astaga, aku sangat frustasi dengan ke dua anak ku!!! Sebenarnya apa yang mereka lakukan kemarin malam sampai tidak bangun"


Nisa dengan wajah Frustasi turun dari lantai dua menggunakan tangga, saat sampai lantai satu dia melihat Monica sedang bercanda tawa dengan Dyah dan Erick. Dyah melihat menantu nya menghela napas lalu mendekat ke arahnya, Nisa duduk di Sofa yang ada di samping Dyah.


"Kenapa nak???"


"Aku sangat lelah Mom membangunkan mereka berdua"


"Apa mereka belum bangun???"


"Belum"


"Apa mereka tidak sekolah???"


"Sekolah harus nya, tapi sekarang sudah terlambat Mom"


"Biarkan mereka libur sehari sayang!! Mungkin kemarin malam ada yang mereka kerjakan"


"Mommy selalu saja memanjakan mereka"


"Sudah!! pergilah ke butik nak"


"Yah sudah, kalau mereka bangun langsung suru ke kantor saja Mom"


"Kamu selalu tidak bisa melihat anak kamu bersantai"


"Mom aku baru ingat kalau aku ingin berbicara dengan Mommy"


"Apa nak???"


Nisa menceritakan apa yang dilihat nya tentang Aura dan David, Nisa juga menceritakan semua kejadian yang mereka berdua lalui, kemanjaan, ketegasan, sikap hangat selalu Aura tunjukan untuk Aura kepada David, Nisa ingin meminta saran mertuanya yang selama ini menurutnya sudah menjadi malaikat tak bersayap.


"Biarkan saja kalau dia suka, toh jodoh maut ada yang mengatur nak"


"Tapi Mom, apa Mommy setuju kalau David memang suka dengan Aura??? Aura masih tujuh belas tahun sedangkan David 35 tahun Mom???


"Kenapa tidak nak!!! Kalau sama-sama mencintai tidak baik memisahkan, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung"


"Terima kasih Mom untuk saran nya"


Dyah tersenyum melihat wajah Nisa yang kembali tersenyum saat membahas kisah anak anak nya, Dyah mengingat bagaimana dulu Dion mencari Nisa sang peri kecil yang membuat nya tidak mau dekat dengan wanita mana pun.


"Lalu bagaimana dengan sih pirang???"

__ADS_1


"Dia lurus aja Mom, enggak ada tanda tanda menyukai seseorang malah semakin fokus dengan rakitan senjata dan game online nya"


"Apa itu semua mengganggu belajar nya nak???"


"Tidak Mom"


"Kalian jangan khawatir dengan Aura dan Aula mereka tau apa yang akan mereka lakukan"


Erick yang sedari diam bersuara karena menurut nya Mereka sangat khawatir dengan Aura dan Aula yang dia percaya sudah bisa tau mana benar dan salah, mana baik dan mana buruk.


"Daddy tidak tau saja kalau Aula main game sampai dini hari"


"Kamu tega mengambil laptop nya???"


"Tidak!!!"


"Itulah kalian berdua suka nya mengomel tapi selalu saja memanjakan mereka"


"Sama"


Erick terkejut mendengar suara kompak menantu dan istrinya, mereka menatap Erick dengan malas dan juga kesal, bagaimana bisa Erick mengolok Nisa dan Dyah tanpa berkaca.


"Lebih baik Daddy berkaca"


"Daddy tidak begitu"


"Tidak begitu salah yah kan Mom???"


"Huff!!!! Kalian berdua sangat cocok"


Tidak lama mereka saling mengobrol sampai pukul 9 pagi, saat asik dengan obrolan mereka, mereka mendengar teriakan melengking dari lantai atas.


"Apa yang terjadi Nak???"


"Biar Nisa yang naik Mom"


Nisa beranjak dari duduk nya untuk naik ke lantai dua mansion nya, sebelum dia masuk ke dalam lift Maura sudah turun dan lantai atas dengan menenteng tas dan sepatu nya. Sedangkan Aura keluar dari dalam lift dengan wajah datar nya.


"Mommy kenapa tidak membangunkan kami"


"Mommy sudah membangunkan kalian berdua yah!! Kalian aja yang kayak kebo"


"Mommy!!!!!!!!"


Nisa, Dyah, Erick, Monic dan juga Aura menutup telinga mereka mendengar suara teriakan Aula, setelah itu mengusap telinga mereka, teriakan Aula membuat telinga mereka berdengung.


"Akak, akit telinga aku"


"Oh Maafkan kakak yang cantik ini"


"Kalian pergi saja kekantor"


"Lho kami mau sekolah Mom"

__ADS_1


"Mommy sudah ijinkan untuk tidak masuk hari ini"


"Atau akak mengantar aku ke malkas Mom untuk belajal clalinet dengan Uncle David"


"Baik lah tuan putri sesuai dengan keinginan kamu nak"


"Tapi Mom"


"Sudah lah turuti Adik kalian dari pada dia menangis"


"Aku ke kantor Daddy, dan kamu antar Monic ke Markas"


"Baik kak" Aula dengan gaya hormat mendengar perintah Kakak nya.


Dengan malas Aura pamit kepada Ke Mommy dan oma, opa nya tidak lupa mencium semua yang ada di sana termasuk sang adik kecil dan kembaran nya. "Aku pergi dulu"


"Jangan pasang wajah datar seperti Daddy kamu bikin kesel aja" ucap Erick sebelum Aura benar benar pergi.


"Dasar tidak tau diri kau Dad!! Itukan meniru kamu saat kamu muda"


"Aku pria Mom, dia perempuan. Nanti tidak ada yang mau"


"Ada dan Daddy sudah tau!! Anak kurang ajar itu yang kemarin mau melenyapkan kucing kesayangan Daddy, Kalau dia benar benar suka dengan cucu ku aku buat dia kesal setip hari"


"Itu kan karena kucing salah kucing Daddy yang tiba tiba berhenti di depan mobil nya dia"


Aula yang tidak mengerti pun akhir nya mengajak Monic pergi dari sana dengan menggandeng tangan Monic, adik kesayangan nya. "Kamu jangan membuat kakak emosi nanti di sana"


"Tidak"


Aula dan Monic menaiki mobil Aula yang sudah terparkir cantik di depan Mansion, Mobil sport berwarna gold, sedangkan Aura memiliki Mobil sport berwarna merah menyalah. Aula melajukan mobil nya meninggalkan Mansion nya bersama dengan Monic.


Sedangkan Aura kini sudah memasukan Mobil mewah nay masuk ke dalam gerbang menjulang tinggi kantor Daddy nya, Aura keluar menggunakan setelah kerja yang membuat nya sangat cantik, masih sama berjalan dengan wajah datar dan dingin. Membuat karyawan dia lewati bergidik ngeri.


Aura masuk kedalam ruang Daddy nya saat sampai di lantai 10, tanpa mengetuk lebih dulu Aura langsung masuk ke dalam ruang Dion lalu duduk di Sofa yang ada di sana.


Aura menatap perempuan yang ada di depan nya yang dia tidak perna lihat, pasalnya dia baru tiga bulan berkerja mejadi modeling di kantor Dion. Apalagi selama ini Aura tidak perna keluar dari ruangan sebelah tempat dia dan Aula, dia akan keluar saa jam sudah menunjukan jam pulang kerja.


"Apa Daddy menggunakan jasa lotong???"


"Tidak"


"Lalu dia???" Dengan sangat berani Aura menunjuk Rika


"Dia memang tidak tau diri"


"Kenapa tidak Daddy usir???"


"Sudah dari tadi sayang"


"Kenapa tidak membuang nya ke kolam buaya milik ku Dad"


"Harus nya begitu"

__ADS_1


Rika tentu saja terkejut mendengar apa yang di katakan Aura untuk nya, dengan rasa kesal dengan malu Rika beranjak dari duduk nya dan meninggalkan ruangan Dion.


__ADS_2