
Acara resepsi sudah selesai dua jam yang lalu kini para keluarga tengah berkumpul di taman belakang hotel, dengan anak anak yang selalu saja membuat ula dengan perdebatan mereka.
"Mom, ini pacar Febby tampan kan?? Febby memeluk lengan Noval yang dengan senyum mengembang.
Noval menatap satu satu keluarga yang ada di taman belakang, Noval tidak menyangka kalau Aura dan Aula saudara Febby. Apalagi anak SMP yang ada di antar mereka, yang terkadang main diarea gedung SMA juga saudara Febby.
" Eleh orang tampang pas pasan aja di bilang tampan" Aula menyahut dengan mengejek Febby
"Yah aku maklumi orang situ jomblo!! Mana ada yang mau sama situ, orang kekuatannya kayak laki"
"Hello Nona kecil Alexander yang tidak terhormat, apa kamu tidak mengaca"
Semua orang tua kembali parsa melihat anak anak mereka kembali berdebat, kalau enggak ada mencari kalau ada berdebat. "Kalian lanjut bertengkar saja Kami lelah ingin istirahat" ucapan Nisa berhasil membuat dua gadis itu menutup mulut mereka dengan satu tangan.
"Jangan Mom, kami tidak akan berdebat, kamu anak onta ulangi lagi perkenalan nya"
"Siapa anak onta??"
"Situ lah" Aula menyahut dengan nada santai dengan mengarahkan dagunya kearah Febby
"Dad, Kak Aula bilang Daddy onta lho" Febby mengaduh kepada Fani yang sedari tadi menyuapi Kiya dengan kue.
"Udah kamu jangan dengerin kakak kamu, kamu kenalkan saja pacar kamu yang nama nya siapa tadi Nopal, Apal, atau siapa tadi Daddy lupa" Dengan Fani yang masih menyuapi Kiya.
Febby kembali memperkenalkan Noval yang sedari tadi bingung dengan perdebatan kekasih nya dan juga Aula, teman satu kelasnya.
Kiya menatap Novel dengan pandangan menyelidik, Menilai, sedangkan Fani yang ada di samping Kiya sudah seperti kebakaran jengot, karena merasa cemburu.
"Mom, kenapa juga kamu melihat dia seperti itu??" Fani bertanya dengan nada kesalnya, semua keluarga menyadari kalau Fani tengah cemburu.
"Mommy sedang menilai apa dia pantas atau tidak dengan Fabby Dad"
"Jangan seperti itu menatapnya Mom" dengan masih dengan nada kesal.
"Lalu yang seperti apa Dad?? seperti Daddy dengan wajah datar, tanpa senyum??"
"Itu lebih bagus sayang" Fani mengatakan nya dengan tanpa ada beban, sedangkan keluarganya ingin ngakak tapi takut kena semprot Nisa
Setelah Febby memperkenalkan Noval, berlanjut makan makan di taman belakang sebelum nanti malam mereka kembali ke Mansion. Dengan masih ada saja perdebatan anak anak, sedangkan pengantin baru tidak menghiraukan perdebatan adik adik nya yang entah apa tidak tau mereka.
__ADS_1
David dan Aura malah asik dengan dunia mereka sendiri, David menyuapi Aura sedangkan Aura menyuapi David. Ke uwuan mereka jelas menjadi gosip Aula dan juga Yasmin. Sedari tadi dua gadis itu membicarakan kakak mereka dengan suaminya.
Kadang mereka juga berkhayal mendapatkan suami yang tampan, kaya dan juga kekar. Apalagi jika ada yang tua tapi Hot itu lah yang mereka bahas di selah membahas kakak mereka.
Aura dan David sendiri malah tengah malu malu kacong eh.. Maksud Mamak Malu malu kucing dengan pembahasan mereka berdua.
"Kak, apa kakak sudah perna merasakan gua banyak rumput nya??"
"Hah?? Dulu aku perna di ajak Rezza untuk naik gunung di sana ada gua"
"Bukan itu kak maksud ku" Kedua pipi Aura memerah, David yang melihat pipi Aura memerah seketika panik takut Aura sakit.
"Sayang kamu sakit" David memegang kening Aura yang menurutnya tidak panas.
"Aku tidak sakit kak, tapi aku bertanya apa kak sudah, emm... Apa yah kak bahasanya??" kedua pipi Aura semakin memerah.
David bingung kenapa pipi Aura begitu sangat merah, karena udaranya juga tidak panas, malah terkesan sejuk karena banyak pepohonan yang rindang. "Sayang, kamu kenapa??"
"Ghemm.. Langsung saja" dengan nada kesal
"Apanya sayang???" David sangat bingung dengan Istri kecilnya yang menurut David sangat tidak jelas.
"Apa kakak perna nyoblos lobang perempuan"
"Belum perna sayang, aku enggak mau buang buang bibit. Mubazir"
"Bibit apaan Kak???"
"Bibit putih putih sayang yang bisa bikin cebong" David berusaha tidak berkata frontal takut ada yang mendengar.
"Oh, yah Aku paham kak" Aura menatap David dengan mengangguk.
"Iyah dari pada di buang di tampung di rahim kamu saja" David menatap Aura dengan menaik turunkan kedua alis nya
Aura menunduk menyembunyikan wajahnya yang kini seperti kepiting rebus sangat memerah, tidak ada lagi pipi putih yang ada pipi merah sampai telinga.
"Sayang"
"Hemm"
__ADS_1
"Kenapa kamu menunduk sayang"
"Ghemm... Tidak apa kakak"
"Sayang aku enggak bisa lihat wajah cantik kamu"
"Sudah lah ayo kita pulang saja kak"
"Kenapa buru buru sayang?? Kamu sudah tidak sabar melihat pedang sakti" David terus menggoda Aura yang ada di depan nya, David tau kalau Istrinya tengah malu, David melihat wajah Aura yang memerah.
Aura beranjak dari duduk nya dia mendekat kearah keluarga nya yang kini saling mengobrol tanpa anak anak karena anak anak tengah berkumpul sendiri.
"Semua Aura pulang dulu"
Semua keluarga menoleh kearah Aura dengan pandangan menggoda Aura yang wajah nya sudah memerah. "Kenapa kamu buru buru sekali Au"
"Aku ingin istirahat Uncle" Aura mengatakan dengan wajah datarnya, sedangkan David yang sudah ada di samping nya malah tersenyum menatap Aura.
"Kenapa kamu senyum senyum melihat putri ku, mulai gila kamu??" Dion menatap Menantunya dengan ngeri
"Daddy mertua ada di sana, aku tidak melihat" David membalas mertuanya yang selalu menjahilinya
"Iyah kan mertua kamu kan tembus pandang" Erick ikut dalam obralan Dion dan David
"Hahahaha... Semua orang yang ada di sana tertawa mendengar perkataan Erick yang mengejek Dion.
" Dad kau sepertinya kau ada dendam tersendiri kepada ku".
" Iyah kau tidak ingat sudah bikin ikan mahal Daddy metong" Erick sangat kesal pasalnya ikan mahal Erick yang baru dia beli 2 bulan harus merenggang nyawa karena ula putranya yang entah apa yang dia lakukan.
"Aku tidak sengaja Dad" Dion menatap Erick malas.
"Sudah lah aku pusing melihat kalian berdebat, untuk saja ikan yang Opa waktu itu tidak di goreng Daddy, soal nya Daddy perna punya pikiran seperti itu"
Erick dan Dion ternganga mendengar ucapan Aura yang kini sudah tersenyum mengejek kearah dua pria beda umur yang ada di depan nya. "Sudah lah Aura mau pulang dengan Kak David"
"Iyah, iyah hati hati. Buatkan kami cucu yang banyak yah nak" Kini Indah menatap putranya dengan tersenyum, Aura yang mendengar perkataan Indah pipi Aura kembali memerah.
"Maa.."
__ADS_1
"Hahaha" Semua kembali tertawa melihat wajah malu malu Aura.
"Ah Malu malu kacong.. Eh kucing eak eak.." Vino menggoda keponakanya yang berwajah datar seperti Dion sang Daddy.