CEO DINGIN MILIKKU

CEO DINGIN MILIKKU
SENSITIF PART 2


__ADS_3

Pagi ini penghuni mansion dibuat panik oleh Nisa yang tak sadarkan diri didalam kamar, kamar yang dari semalam Nisa kunci dari dalam, pagi ini dibuka paksa oleh Dion.


"Sayang, sayang bangun" Dion menepuk nepuk pipi Nisa pelan


"Mom, bagai mana ini???"


"Bawa Nisa ke rumah sakit"


Dion mengendong Nisa membawa nya keluar kamar. Terlihat jelas raut khawatir Dion melihat Nisa yang belum sadar.


Dion masuk kedalam mobil setalah membaringkan Nisa dipangkuan Dyah. Dyah mengusap rambut Princess.


"Sayang bangun jangan membuat Mommy khawatir nak" Lirih Dyah yang masih bisa didengar Dion


Dion melajukan mobil nya dengan kencang, Dion ingin segera sampai di rumah sakit. Mata yang sudah berkabut tidak mengurangi kecepatan Mobil nya, malah semakin menambah kecepatan.


Perasaan bersalah menghantui pikiran Dion saat ini, andai kemarin malam Dion tidak memaksa Nisa berganti baju mungkin sekarang tidak akan menjadi seperti ini.


"Maafin aku sayang" Batin Dion melihat Nisa dari kaca


Dion sampai di rumah sakit, Dion dengan cepat membawa Nisa masuk kedalam rumah sakit di ikuti Dyah dari belakang.


"Dokter" Teriak Dion


Dokter dan beberapa perawat datang membawa brangkar yang akan digunakan untuk menidurkan Nisa.


Nisa dibawa ke ruang IGD. "Maaf taun muda ada tidak boleh masuk"


"Kenapa aku tidak boleh masuk???"


"Mohon tuan muda menunggu diluar"


"Aku ingin masuk, kalau tidak aku ratakan rumah sakit ini dengan tanah"


Dion menatap tajam dokter yang bertugas di rumah sakit. Dokter yang tidak tau kalau rumah sakit yang sekarang dia bertugas, adalah rumah sakit keluarga Dion, yang hanya dokter tau Dion orang terpandang. Dan tidak bisa disinggung.


"Biarkan tuan muda masuk dok"


"Ini akan mengganggu pemeriksaan sus"


Suster membisikan sesuatu yang membuat dokter itu terkejut. Suster tadi memberi tahu bawa rumah sakit ini milik keluarga Alexander.


"Maaf kan saya tuan muda, mari silahkan masuk"


Dion masuk kedalam, melihat wajah pucat istrinya yang masih terpejam, tangan yang dipasang jarum infus.


Dokter masuk, mulai meriksa Nisa yang belum sadarkan diri, Dokter was was melakukan kesalahan. Apalagi yang ditangani bukan sembarang pasien. Kesalahan sedikit bisa menghantar kan ke gerbang neraka.


"Maaf tuan muda, apa nona belum makan?"


"Hemm"


"Nona muda asam lambung nya naik, yang membuat nya tidak sadarkan diri tuan, apa nona muda juga sedang hamil???"


"Hemm"


"Sebaik nya nona dibawa ke ruangan obgyn agar diperiksa kandungan nya"


"Hemmm"


Nisa dibawa keruangan obgyn untuk memeriksakan kandungan nya. Dion dan Dyah masih setia disamping Nisa yang didorong keruang obgyn.


sesampai nya diruang obgyn Nisa langsung ditangani oleh dokter yang berjaga. Karena Dokter tau pasien yang ditangani istri dari pemilik rumah sakit.


"Sus periksa tekanan darah nya"

__ADS_1


"Baik dok"


Setelah memeriksa tekanan darah Nisa, suster mulai memberi gel diperut Nisa. Dokter menyuruh Dion untuk melihat layar yang ada di depan nya.


Dion memperhatikan dengan mata yang berkaca kaca, begitupun dengan Dyah melihat cucu nya bertumbuh sehat didalam perut menantu nya.


"Nona dan calon bayinya sehat hanya saja nona asam lambung nona naik, apa nona belum makan??"


"Belum makan dari semalam dok!!"


"Itu yang menyebab kan asam lambung nona naik, apa lagi dalam keadaan hamil muda"


"saya akan meresepkan obat untuk nona minum, dan juga Vit yang harus minum"


Dokter menulis beberapa obat dan Vit, lalu memberikan nya kepada Dion untuk ditebus. Sedang kan Nisa akan dipindah ke ruang rawat inap, karena Nisa masih belum sadar.


Dion masuk kedalam ruang inap Nisa yang di sana ada Dyah dan Erick yang menatap Dion tajam. Mereka seakan ingin memakan putra mereka.


"Lihat Nisa ada disini ula kamu yang terlalu posesif sama kayak daddy kamu"


Dion hanya bisa menunduk saat sang ibu marah marah. Erick yang sudah berulang kali menasehati putra nya untuk tidak memaksa istri yang sedang hamil. Masih saja Dion ngeyel.


"Kamu puas Istri kamu ada disini???"


"Maaf mom!!"


"Emmmmm" lengkungan Nisa menghentikan Dyah yang masih ingin mengomeli putra nya.


"Sayang"


Nisa yang belum menyadari tempat yang dia tempati sekarang, hanya mengedip mata nya.


"Sayang" Dyah memanggil Nisa lagi


"Mommy"


"Kenapa Nak?? Apa ada yang sakit???


" Kita di mana???"


"Kita di rumah sakit sayang"


Dion mendekat berharap sang istri sudah melupakan kejadian kemarin malam, tapi harapan itu musnah saat Nisa menatap tajam Dion.


"Mommy"


"Iyah sayang"


"Aku tidak mau bertemu dengan mas Dion"


"Sayang maafin aku. Yah aku mengaku salah" Dion melangkah mendekat ke arah Nisa


"Stop jangan mendekat mas"


Dion menghentikan langkanya menatap Nisa dengan sendu mata berkaca kaca. Apa begitu menyakitkan kata kata kemarin.


"Sayang jangan seperti ini"


"Momm"


"Dion kamu pergi aja dari sini dulu nanti mommy akan bujuk istri kamu nak"


Dion menatap Dyah."Baik lah mom"


"Maafin aku Sayang" Dion melangka meninggalkan ruangan Nisa.

__ADS_1


Dyah menatap Nisa yang menatap tajam suaminya sampai hilang dibalik pintu ruangan Nisa. Mood Nisa yang sangat sensitif tidak bisa menolak apa saja yang dia ingin kan.


Mulai hewan peliharaan di mansion yang Nisa minta, toko berlian, masih banyak ngidam Nisa yang Lain. Sehingga penghuni mansion merasa sangat Pusing.


"Nak ayo makan dulu, mommy sudah belikan bubur tadi"


"Nisa ingin tidur saja Mom"


"Kamu tidak kasihan dengan anak kamu???"


"Sedikit saja mom"


Dyah tersenyum mendengar Nisa mau makan walau hanya sedikit. Setidak nya Nisa mau makan. Karena dari kemarin Nisa belum makan sama sekali.


Dyah mulai menyuapi Nisa yang sangat lahap makan, meskipun tadi hanya ingin makan sedikit tapi satu porsi bubur Nisa habiskan.


Erick melihat menantu nya memakan sangat lahap, meningkat Dyah yang sedang mengandung Dion dulu. Selalu bilang hanya makan sedikit tapi habis banyak porsi.


"Sayang Nisa seperti kamu saat mengandung Dion"


Dyah tersenyum ke arah sang suami, lalu memberi Nisa vit dan minum. Setelah Nisa meminum obat nya Dyah mulai membujuk Nisa agar manu memaafkan Dion.


"Sayang"


Nisa menoleh ke arah Dyah yang sedang menatap nya dengan mengusap pelan rambut Nisa.


"Apa kamu tidak mau memaafkan Dion nak???"


"Tidak"


"Kenapa sayang???"


"Mas Dion Jahat"


"Suami kamu hanya tidak ingin tubuh indah istrinya dilihat banyak orang nak, Dia hanya mau dia sendiri yang melihat tubuh indah kamu"


"Tapi Nisa ingin memakai nya"


"Baik lah mommy tidak akan memaksa kamu untuk memaafkan Suami kamu"


"Nisa mau tidur saja momm"


Dyah hanya senyum lalu menganggukkan kepalanya, dengan Dyah yang masih terus mengusap lembut rambut Nisa.


Setelah Nisa tidur, Dyah keluar ingin melihat putra nya yang ada diluar ruangan. Dyah juga merasa kasihan dengan putra nya yang dari semalam menunggu Nisa diluar kamar dan tidak tidur.


"Nak"


"Momm"


"Pulang lah nak istirahat di rumah, Nisa sudah tertidur"


"Aku mau tidur disini saja mom"


"Baik lah nak"


Dion dengan Dyah masuk kedalam ruangan Nisa. Dion menatap Nisa yang terlihat damai saat tidur. Perasaan bersalah muncul saat melihat Nisa.


"Dion kamu tidurlah, mommy sama daddy mau cari makan dulu"


"Iyah mom"


Dyah dan Erick keluar untuk mencari sarapan meninggalkan Dion dan Nisa. Dion mendekat ke arah Nisa, Dion mencium kening Nisa menyalurkan rasa sayang nya.


"Maafkan Aku sayang" sebelum Dion melangka ke arah sofa yang ada di ruangan Nisa.

__ADS_1


__ADS_2