
Hari hari berlalu David dan Aura semakin jauh karena David menjauhi nya Aura dengan alasan ingin melupakan cinta nya kepada Aura, karena David merasa tidak pantas dengan Aura yang seorang putri dari orang terpandang, sedangkan diri nya hanya anak buah orang tua nya tidak lebih dari itu, karena David tidak mau kembali kepada kelurga nya yang mungkin sekarang masih ingin menjodohkan dirinya.
Ke dua orang tua David tidak bisa bertemu dengan David karena selama ini David ada di bawa lindungan Dion dan keluarga nya, siapa saja yang menjadi pengikut Dion semua identitas selalu mereka sembunyikan menjaga Privasi agar tidak sembarang orang yang bisa memanfaatkan para anak buah nya untuk hal yang tidak di inginkan, termasuk identitas David selama ini.
David kini berada di Markas bersama dengan yang lain, mereka sedang berlatih bersama bukan hanya ada David melainkan ada Roy dan juga ketua yang lain, mereka memang sengaja berlatih bersama.
Tidak lama mereka berlatih Aura, Aula, Yasmin, Febby, Monic ada di ambang pintu melihat Semua anak buah Daddy nya sedang berlatih.
"Selamat pagi Nona kecil"
"Hemm"
Hanya Yasmin yang menjawab tidak dengan yang lain mereka hanya menampilkan wajah dingin dan datar saat melangka masuk ke dalam tempat latihan.
"Yang baru maju" Suara sangat dingin dan wajah yang semakin datar
Sepuluh anak buah baru maju ke depan sesuai perintah Aura, Suara dingin nya membuat sepuluh anak buah merasa ngeri hanya dengan mendengar wajah nya.
"Kak Robby"
"Siap Nona kecil"
"Ketua satu, ketua dua ambil posisi"
"Siap Nona kecil"
Dan berlanjut membubarkan latihan bersama mereka, dan kini tinggal David berserta anak buah nya yang masih di gantung oleh Aura, Rosy sendiri sudah melati anak buah nya sedari tadi sedangkan David masih menunggu abah abah Aura.
"Aula suru Kak David memulai"
"Iyah kak"
"Kak David"
"Siap Nona kecil"
__ADS_1
David memberi komando kepada anak buah nya dan siap berlatih, begitu pun dengan Aura dan yang lain yang berlatih dengan Dion dan para orang tua lain, di Markas yang besar ini semua keturunan Alexander berada di hari libur.
Aula melihat wajah kakak nya sangat pucat sedari kemarin entah apa yang terjadi dengan kakak nya, wajah cantik itu semakin terlihat pucat saat bertemu dengan David, David pun menyadari perubahan Aura kepada nya dan David juga menyadari kalau wajah cinta nya pucat.
Dia ingin mendekat dan bertanya tapi dia urungkan karena dia takut menatap wajah dingin cinta nya, cinta tapi tak bisa, cinta tapi tak berani, itu lah David.
David tidak fokus dengan latihan nya sedari tadi melirik Aura yang tenga berlatih dengan Daddy nya, Pukulan dengan menjadi fokus David, saat David menatap wajah nya dada nya terasa nyeri melihat wajah pucat Aura.
"Aura!!!"
Teriakan Nisa mengejutkan Semua orang yang ada di sana, mereka melihat calon pemimpin baru nya tak sadarkan diri setelah memukul Daddy nya, dia tergeletak di lantai dingin Markas, Dion sendiri masih terkejut dengan apa yang terjadi. Membuat Dion masih bergeming di tempat nya, Sedangkan Nisa sudah memangku kepala putrinya yang terlihat pucat dan tenang itu.
Nisa menangis dengan memeluk kepala putrinya. "Dad apa yang kamu lakukan bawa Aura ke kamar nya"
Barulah Dion tersadar setelah itu Dion menggendong putrinya keluar dari ruang latihan dan berjalan ke arah lift yang ada di dekat ruang latihan, Dion membawa putrinya kelantai empat di mana kamar nya berada, Markas yang awal nya hanya berlantai tiga kini sudah menjadi empat lantai.
Saat David ingin mendekat Rosy menghalangi nya, dia menatap David dengan pandangan mengingatkan David agar lebih paham situasi. "Kamu yang memanjakan nya, kamu yang memberi perhatian kepada nya, kamu juga yang membiarkan masuk kedalam hidup kamu, kamu juga yang mendapatkan cinta nya, dan kamu juga yang menyakiti nya"
"Sudah lah kamu yang ingin jauh dari nya jadi ini resiko yang harus kamu terima"
David bingung dengan perasan nya dia melangka meninggalkan teman teman nya yang lain, dia memilih ke taman belakang di mana dia dulu bertemu dengan Aura kecil yang sangat polos, wajah cantik, dan dingin nya membawa hatinya untuk bisa lebih dekat dengan nya, dia mengajarkan Aura kecil dengan banyak nya permainan musik samapi dia menginginkan David menjadi guru musik nya.
"Nona kecil"
"Kenapa kakak ada di sini???"
"Hanya ingin saja"
"Ingin atau mengingat masa lalu???"
"Apa maksud Nona kecil"
"Jangan berpura pura bodoh kak"
"Tidak Nona kecil"
__ADS_1
"Lalu kenapa bersedih"
"Saya tidak bersedih"
"Kenapa Air mata nya jatuh"
David tidak sadar kalau dia menangis, dia memegang pipi nya yang sudah basa, David menghapus air mata nya dengan kasar dia berbalik membelakangi Aula.
"Kenapa malu??? Kakak bukan remaja lagi"
David terdiam mendengar apa yang dikatakan Aula kepada nya dengan sangat dingin, dia merasa kalau Aura tenga menahan suara nya.
"Laki laki kayak kakak memang enggak pantas bisa dapatin kak Aura, jangan kan mendapatkan nya dekat dengan nya saja tidak pantas"
"Iyah Nona kecil benar saya enggak pantas dekat dengan Nona kecil Aura, saya enggak sebanding dengan Nona kecil Aura yang seorang putri, Saya juga tidak pantas dengan Nona kecil Aura karena saya bukan apa apa yang dengan lancang nya sudah menyukainya" David berteriak dengan Frustasi, dan itu tidak membuat Aula kasihan malah Aura tersenyum miring melihat David yang Frustasi.
"Dasar tua bangka cemen, kalau sudah di ambil orang baru tau rasa"
Setelah mengatakan itu Aula pergi dari belakang David, Sedangkan David jatuh tertunduk di taman belakang Markas, dia mentap bunga bunga yang bergoyang tertiup angin pagi menjelang siang.
"Aku sangat bodoh"
Di lantai empat di mana kamar Aura dokter baru selesai memeriksa Aura, Dokter mengatakan kalau Aura kurang istirahat apa lagi lambung Aura yang kambuh Membuat Aura tidak sadarkan diri.
Nisa mengusap tangan putri nya yang belum sadarkan diri di ranjang nya sedangkan Dion menatap Aura dan Nisa bergantian dia benar benat lelah harus bagaimana menghadapi Aura dan David yang sama sama membohongi hati nya masing masing.
Huufffff...
"Mom aku keluar dulu"
"Bawa David ke sini biar aku pukuli dia Dad"
"Kenapa Mommy pukul???"
"Aku ingin memberi paham kalau aku merestui tanpa melihat status dan usia"
__ADS_1
"Hemmm, baik lah sayang"
Dion pergi meninggalkan Kamar putri nya dia mencari David di taman belakang tempat nya untuk menenang kan pikiran nya. tentu saja Dion tahu karena David sudah mengikuti nya belasan tahun lama nya.