
Pinkan yang melihat mami nya Rifqan yang menangis bersandar di dada nya pun reflek tangan nya mengelus punggung Anya
"Tidak apa mam, mungkin Rifqan sedang sibuk karena banyak pekerjaan yang harus di urus." Ucap Pinkan mencoba membujuk Anya
"Tapi kan aku merasa sangat kesepian. Tidak ada yang menemani ku disini!" Masih dengan berpura pura menangis
"Yasudah tidak papa, jangan menangis lagi. Nanti sebagai ganti nya Pinkan yang akan sering main kesini untuk menemani mami." Bujuk Pinkan sambil mengelus punggung Anya
Anya yang mendengar itu pun langsung tertawa dalam hati. Dia ingin bersorak sorai namun takut akting nya ketahuan oleh Pinkan
"Benarkah?" Tanya Anya masih berpura pura menyedihkan
"Benar mam. Aku berjanji!" Ucap Pinkan yang sudah tertipu oleh Anya
Anya pun semakin senang, Anya yang masih dalam pelukan pinkan pun melihat ke arah Rifqan dan tersenyum sambil mengedipkan mata nya
Tidak sia sia aku berakting. Jika begini dia akan benar benar menjadi menantuku. Ah, senang nya, batin Anya yang tertawa puas
Seperti nya mami tidak akan melepaskan nya lagi. Baguslah jika mami menyukai pinkan. Rencana ku untuk menikahi nya akan berjalan dengan lancar, ucap Rifqan dalam hati sambil tersenyum tipis
Seperti nya ada yang tidak beres dengan ibu dan anak ini. Mengapa rasa nya seperti aku sudah masuk ke dalam kandang harimau ya, batin Pinkan sambil menatap ibu dan anak yang ada di depan nya
Anya melepaskan pelukan nya pada Pinkan, dan mengajak Pinkan untuk mengobrol sejenak
"Apakah kamu akan menginap disini?" Tanya Anya dengan antusias
"Tidak mam, ayah ku pasti akan khawatir nanti." Ucap Pinkan untuk menolak tawaran ibu nya Rifqan
"Yasudah tak apa, jika sudah menikah dengan Rifqan pun nanti kamu akan sering menginap disini dengan cucu cucuku juga!" Ucap nya antusias seperti anak kecil
Pinkan yang mendengar kata cucu langsung melotot, dia tidak percaya ibu nya Rifqan sudah berpikir sejauh ini
Bagaimana jika dia tahu bahwa aku dan Rifqan hanya berpura pura saja? Pasti dia sangat sedih. Aku merasa sangat bersalah telah membohongi orang baik, batin Pinkan seakan ingin mengungkap kan fakta yang ada
Aku tahu kamu dan anak ku hanya berpura pura saja. Itu semua adalah rencana anak sialan itu, bukan nya langsung mengajak menikah malah sok jual mahal, batin Anya
"Aku akan mewujudkan keinginan anak ku untuk menjadi kan mu menantuku!" Ucap Anya pelan nyaris tak terdengar
"Apa mam? Aku tak mendengar apa yang mami ucapkan." Ucap Pinkan dengan mendekatkan wajah nya ke arah Anya agar bisa mendengar dengan jelas
"Tidak papa, ayo makan." Ajak Anya untuk mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
"Hem baiklah mi ayo kita makan!" Ajak Rifqan lagi
Mereka makan dalam diam dan sangat menikmati makanan yang tersaji di depan nya itu
Setelah mereka selesai makan, Anya dan Pinkan duduk diruang TV
"Pinkan ayo temani mami ke mall, mami akan membelikan beberapa barang untukmu." ucap Anya mengajak Pinkan
"Tidak usah mam, kita menonton saja ya." Tolak Pinkan dengan lembut
"Ayolah Pinkan! Anggap saja ini sebagai hadiah pertemuan pertama kita ini!" Ajak Anya dengan paksa sambil menarik tangan Pinkan
"Tapi mam..." Belum sempat Pinkan melanjutkan kalimat nya tapi sudah di potong oleh Anya
"Mami tidak mau dibantah! Ayo ikut sekarang!" Pinkan terpaksa mengikuti kemauan ibu nya Rifqan
Setelah sampai di mall, mereka masuk ke beberapa toko ternama hanya untuk membelikan Pinkan hadiah
"Rifqan tolong bujuk ibumu, itu sudah sangat banyak. Nanti hutang budi ku bertambah banyak." Ucap Pinkan sambil sedikit berbisik pada Rifqan
"Yang mana yang kamu sukai sayang?" Tanya Anya pada Pinkan sambil memperlihatkan baju yang sedang ia pegang
Biarkan ibuku yang menabahkan hutang mu padaku. Dengan begitu kau tidak akan bisa lari dari ku, batin Rifqan senang dan tampak tersenyum
"kenapa kamu malah tersenyum? Tolong hentikan ibumu." Ucap Pinkan memohon
"Biarkan saja ibuku memilih untuk mu! Kami tidak akan kehabisan uang jika hanya membelikan barang barang seperti ini untuk mu!" Jawab nya sedikit ketus
Pinkan hanya bisa pasrah dan mengikuti semua keinginan Anya. Saat mereka sudah selesai berbelanja Anya menyuruh para bodyguard nya untuk mengangkut semua barang belanjaan nya
Pinkan terkejut melihat banyak nya barang yang dibelikan oleh ibu Rifqan untuk nya
Ini bukan beberapa! Ini bukan hadiah pertemuan tapi ini lebih mirip seperti hadiah pernikahan. Banyak sekali, ucap nya dalam hati dan mata nya melotot melihat banyak nya paper bag yang dibawa oleh anak bodyguard mereka
"Bawa ini semua ke rumah keluarga cleotra! Jangan ada yang kurang satupun!" Ucap Anya tegas dan datar
Tapi saat akan berbicara dengan Pinkan, Anya langsung mengubah ekspresi wajah nya dengan penuh senyuman
…………………………………………………………………
Sementara di tempat lain, semenjak pertemuan nya dengan Kiara di cafe itu. Patra selalu datang ke cafe itu untuk berusaha menemui Kiara
__ADS_1
Namun sayang nya, orang yang selalu ia tunggu tidak pernah lagi muncul di hadapan nya. Dia merasa kecewa dan menyesal kenapa saat pertemuan terakhir mereka dia tidak menanyakan identitas Kiara dengan jelas saat itu
"Sudah satu Minggu berlalu, kenapa dia tidak pernah datang lagi kesini?" Ucap Patra yang sedikit frustasi karena dia memang sangat tertarik pada Kiara
"Apa dia tau ya aku selalu menunggu nya disini, maka nya dia tak mau datang lagi kemari?" Tanya nya lagi pada diri nya sendiri sambil menggaruk tengkuk nya
Patra sudah menanyakan pada beberapa pegawai tentang Kiara, tapi tidak ada yang tau. Mereka hanya tahu nama nya saja tapi tidak dengan identitas pribadi nya
Patra juga sudah mencari akun medsos nya Kiara, Namun dia susah menemukan nya karena dia hanya memasukkan nama panggilan saja pada Search engine. Sehingga nama nama yang muncul tidak satu pun terdapat orang yang ia maksud
"Mungkin kami tidak berjodoh, tapi aku juga sangat yakin pada diriku sendiri kalau kami memang berjodoh." Ucap nya dengan tekad yang kuat
Saat sedang termenung tiba tiba Patra teringat sesuatu tentang pekerjaan nya.
"Kenapa aku bisa lupa. Kalau aku lupa bisa bisa aku di habisi oleh nya!" Ucap Patra yang merasa ngeri
Patra pun langsung menelpon orang itu untuk mengatakan apa yang sudah di perintahkan oleh bos nya
TUTT..TUTT.. TUTT..
Pada sambungan telpon yang ketiga telpon pun tersambung
"Halo Hyung.. Rifqan menyuruh mu pulang besok. dan kata nya dia tak mau mendengar apapun alasan mu!" Ucap Patra dengan orang yang ada dibalik telpon
"Dia selalu sesuka hati nya begitu. Tapi aku merindukan nya sih!" Ucap orang dibalik telpon sambil terkekeh kecil
"Hyung....!" Ucap Patra sedikit berteriak
"Ya dongsaeng...!" Jawab Xavier dari seberang sana
"Kamu hanya merindukan Rifqan? Tidak merindukan ku?" Tanya Patra dengan nada sedikit merajuk
"Tentu saja tidak!" Jawab Xavier bergurau
"Yasudah aku hanya menyampaikan amanah Rifqan padamu." Patra langsung mematikan sambungan telpon nya sepihak karena merasa kesal
"Masih saja seperti anak anak. Mana mungkin aku lebih menyayangi orang lain dari pada adik ku sendiri." Ucap Xavier dan terkekeh kecil melihat tingkah adik nya
Tapi untuk apa Rifqan menyuruh ku untuk segera pulang. Sudahlah saat sudah sampai disana nanti kan aku akan tau sendiri, batin nya
"Dia lebih menyayangi Rifqan dari pada aku." Ucap nya pada diri sendiri dengan sedih sambil memandangi ponsel nya yang terdapat foto Rifqan, Patra dan juga Xavier
__ADS_1