Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Kejutan Untuk Sang Istri


__ADS_3

"Ya, karena sekarang aku sudah mulai lapar lagi." Rifqan kembali menerkam tubuh polos istrinya. Mereka kembali menghabiskan malam panjang itu entah sampai jam berapa.


☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️


Pagi harinya, Pinkan terbangun karena merasa perutnya sangat perih. Karena semalam dia tidak memasukkan makanan apa pun ke dalam perutnya. Malahan, dia yang dimakan habis-habisan oleh Rifqan, pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.


Pinkan mencoba meregangkan tubuhnya. Tapi, baru saja dia hendak bergerak, area sensitifnya sudah terasa sangat perih.


"Aww. Setelah kenikmatan, kenapa yang tinggal hanya kepedihan?" Gumamnya yang terus mencoba bergerak.


Karena tempat tidur yang terasa bergoyang-goyang, membuat Rifqan terbangun. Dia memperhatikan Pinkan yang kelihatan sulit untuk bergerak.


"Selamat pagi, Sayang!" Ucapnya yang langsung mengecup pipi Pinkan.


"Pagi." Jawab Pinkan ketus karena masih merasa kesal.


"Kenapa?" Tanya Rifqan sambil menautkan alisnya, dia heran melihat perubahan sikap Pinkan. Bukankah semalam masih baik-baik saja? Lalu, kenapa sekarang jadi cuek begitu.


Bukannya menjawab, Pinkan malah menangis, membuat Rifqan menjadi panik melihatnya. "Kenapa, Sayang? Apakah aku menyakitimu?" Tanyanya lagi yang memang benar-benar tak tahu kenapa Pinkan menangis.


"Rifqan, area sensitifku terasa sangat perih." Keluhnya sambil menggigit bibir bawah.


"Maafkan aku, Sayang. Seharusnya aku lebih berhati-hati karena ini kali pertamanya." Serunya merasa bersalah.


"Dan aku juga merasa sangat lapar, Rifqan." Imbuhnya lagi.


"Kamu lupa, di sini ada asisten rumah. Saat kita turun, dia pasti sudah selesai memasak." Saut Rifqan enteng.


"Kalau begitu, ayo papah aku ke kamar mandi. Aku ingin membersihkan diri." Ucapnya sambil menjulurkan tangan seperti anak kecil minta digendong.


"Dengan senang hati." Rifqan langsung menggendong Istrinya itu ala bridal style, membawanya ke kamar mandi. Rifqan langsung meletakkan Pinkan dalam bathtub, kemudian dia menyalakan airnya dan duduk di dekat kepala Pinkan.


"Ka-kamu, kenapa tidak keluar?" Tanya Pinkan terbata-bata.


"Aku ingin menemani kamu mandi. Ayo kita mandi bersama." Ucap Rifqan mengutarakan maksudnya. Dia memang sudah sangat lama menginginkan hal ini. Rasanya, akan lebih asik kalau mandi bersama Pinkan.


"Dasar mesum. Bahkan rasa perihku belum kunjung hilang." Celetuk Pinkan yang jelas menolak ajakan Rifqan itu.

__ADS_1


"Hahaha. Sayang, apa yang kamu pikirkan? Aku hanya ingin mandi bersama saja, tidak ada maksud yang lainnya." Sahut Rifqan sambil terkekeh pelan.


Seketika, wajah Pinkan langsung bersemu merah. Ternyata dia hanya berpikir terlalu berlebihan. Dia menutup wajahnya karena merasa malu.


Akhirnya, keinginan Rifqan terwujud, mereka melaksanakan ritual mandi tanpa bersentuhan.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, mereka turun. Sudah banyak hidangan makanan yang tertata di atas meja. Asisten rumah Bara senyum-senyum ketika melihat pengantin baru yang baru saja turun. Melihat asisten rumah yang senyum-senyum tak jelas membuat Pinkan menjadi salah tingkah sendiri.


Pinkan mulai menaruhkan nasi dan lauk pauk ke piring milik Rifqan, dia mulai melayani suaminya itu dengan setulus hati.


"Sayang, ayo buka mulutmu. Aku ingin menyuapimu." Ucap Rifqan yang sudah memegang sendok berisi makanan. Tapi Pinkan tak kunjung membuka mulutnya, membuat sendok itu menggantung di udara.


"Kenapa diam saja? Ayo buka mulutmu." Ucap Rifqan lagi yang sebenarnya sedang memerintah tapi terdengar lembut.


Pinkan malah melirik arah asisten rumah yang masih sibuk membereskan dapur. Rifqan juga mengikuti arah pandangan Pinkan. Kini dia mengerti, kenapa Pinkan bersikap tak seperti biasanya.


"Bi, kamu kerjakan yang lain dulu. Nanti baru selesaikan yang itu." Titah Rifqan pada asisten rumahnya.


"Baik, Tuan."


Mengerti dengan hangatnya pengantin baru, dia pun pergi meninggalkan Rifqan dan Pinkan yang masih di meja makan berdua. Dia pergi sambil senyum-senyum karena kembali membayangkan masa mudanya saat menjadi pengantin baru waktu dulu.


"Sekarang dia sudah pergi. Buka mulutmu." Titah Rifqan masih sama, dia ingin menyuapi Pinkan.


"Kenapa kamu menyuruhnya pergi? Aku jadi sungkan padanya." Tanya Pinkan dengan memelototi Rifqan.


"Kenapa harus sungkan? Kalau begitu, tidak perlu minta dia datang agar kamu tak lagi sungkan."


"Rifqan...."


"Kenapa, Sayang?" Rifqan menjawab sambil mengusap puncak kepala Pinkan.


"Aku mencintaimu'." Serunya tiba-tiba membuat Rifqan tersenyum.


"Aku juga sangat-sangat mencintaimu. Ya sudah, cepat habiskan makananmu. Aku akan membawamu ke suatu tempat." Ucapnya sambil menunjuk dagu ke arah makanan Pinkan.


"Ke mana? Kamu tidak bekerja?"

__ADS_1


"Pengantin baru tidak diterima bekerja. Pengantin baru itu hanya boleh berdiam di kamar berduaan dan membuat Rifqan junior." Ucap Rifqan menggoda Istrinya. Dan benar saja, Pinkan benar-benar tersipu malu mendengar godaan Rifqan.


"Jangan mengatakan itu. Aku belum cukup umur untuk mendengarnya." Pinkan pura-pura menutup telinganya.


"Wah, benarkah? Berarti semalam aku sudah meniduri anak di bawah umur?" Ujar Rifqan yang mengikuti sandiwara Pinkan.


Mereka menyelesaikan makanannya secepat mungkin. Setelah itu, Rifqan membawa Pinkan ke suatu tempat seperti yang telah dijanjikannya tadi. Setiap Pinkan bertanya, laki-laki itu tidak mau menjawab secara detail. Dia hanya menjawab sambil bercanda dan tertawa.


"Rifqan, sebenarnya kita mau ke mana? Kenapa perjalanannya sangat panjang? Aku lelah, Rifqan." Keluh Pinkan yang memang benar-benar merasa kelelahan. Bagaimana tidak kelelahan, semalam Pinkan tidur hanya beberapa jam saja. Sisanya, mereka melewati malam panas sebagai pengantin baru.


"Kalau kamu lelah, tidur saja. Setelah sampai nanti aku akan membangunkanmu." Sahut Rifqan tersenyum, dia mengerti kalau Istrinya itu kelelahan juga karena dirinya.


Setelah mendapat persetujuan untuk tidur dari Rifqan, tanpa pikir panjang Pinkan langsung tertidur.


******


Setelah melewati jalan yang panjang, mereka tiba di tempat yang dimaksud oleh Rifqan.


"Sayang, ayo bangun. Kita sudah sampai." Rifqan menggoyangkan tangan Pinkan perlahan.


Pinkan pelan-pelan membuka matanya, yang pertama dia lihat adalah bangunan megah di tengah hamparan hijaunya pegunungan asri.


"Rifqan kita sekarang sedang berada di mana?" Tanya Pinkan sambil melihat sekeliling.


"Ini adalah Vila yang aku bangun untuk keluarga kecil kita nanti." Sahutnya sambil menatap Pinkan intens.


"Untuk keluarga kecil kita? Bukankah kita baru saja menikah, kenapa cepat sekali siapnya? Berapa orang yang mengerjakan hingga bisa selesai dalam waktu satu malam." Pinkan memang benar-benar sedang dibuat bingung oleh suaminya itu.


"Hahaha. Kamu pikir ini seperti dalam legenda itu? Tentu saja aku membutuhkan waktu yang lama untuk membangun ini, tidak mungkin bisa selesai dalam waktu semalam." Rifqan menyentil dahi Pinkan karena merasa gemas.


"Aw, sakit!" Pinkan mendelik manja melihat Rifqan. Dia menggosok dahinya yang disentil tadi.


"Maaf, Sayang." Rifqan menarik Pinkan ke dalam pelukannya. "Aku membangun Vila ini jauh sebelum kita menikah."


"Maksudmu?"


"Ya. Aku membangun Vila ini saat kamu mengira aku mulai menjauh darimu, kamu ingat?" Tanya Rifqan sambil memperhatikan setiap inci dari wajah Pinkan

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan like, komentar, gift dan vote. Berikan rate 5 dan tambahkan ke daftar favorit kamu ya


Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2