Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Maaf!


__ADS_3

Dharma membuka paket yang berbalut dengan kertas hitam itu dengan santai. Saat dia telah membuka paket itu dengan sempurna, matanya membeliak dengan sempurna


Di dalam kotak itu, terdapat beberapa bukti fotonya dan beberapa orang wanita yang sedang melakukan hal-hal mesum dan juga bersama Amrita. Juga banyak terdapat bukti-bukti kalau Amrita sering memberikannya uang dan barang-barang mewah, termasuk apartemen yang sedang ia tinggali sekarang


"Apa-apaan ini? Siapa yang telah mengirimkan ini, sial!" umpatnya


Masih sambil memegangi kertas-kertas yang membuat jantungnya terpompa sempurna, dia meraih ponselnya karena ingin menghubungi Amrita


"Halo, Sayang!" sapa Amrita


"Besok, aku ingin bertemu denganmu. Di cafe biasa." ucap Dharma


"Lebih baik kita bertemu di hotel saja. Jangan di cafe itu lagi." sela Amrita


"Kenapa?" tanya Dharma


"Aku akan memberitahu alasannya saat kita sudah bertemu. Besok aku akan mengirimkan lokasinya padamu." ucapnya


*******


Keesokan harinya, sesuai dengan janji mereka. Dharma dan Amrita pun pergi untuk bertemu di hotel yang sudah mereka sepakati. Mereka chek-in di kamar yang paling mewah


Dari wajahnya, terlihat kalau Dharma sedang kesal dengan wanita yang berada di depannya itu. Mungkin, dia mengira kalau yang mengirimkannya paket misterius itu adalah Amrita


"Apa maksudmu?" tanyanya langsung sambil melemparkan kertas-kertas bukti itu ke dada Amrita


"Apa ini?" tanya Amrita tak mengerti


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa maksudmu mengirimkan itu padaku?" Dharma berteriak dengan wajah yang sudah merah padam


Amrita semakin tak mengerti dengan sikap Dharma. Dia membaca semua tulisan-tulisan halus yang terlukis di kertas itu dengan indah. Dia hanya membawa bukti-bukti tentang harta Amrita yang diberikan padanya, dan foto-foto dirinya dan Amrita. Foto antara dia dan wanita lain tidak ditunjukkan pada Amrita


"Aku tidak mengetahui apapun tentang ini." jawab Amrita


"Tidak mengerti? Bukankah hanya kau dan aku yang mengetahui kalau kau sering membelikan ku barang-barang berharga? Dan, tidak ada satupun orang lain yang tahu keberadaan apartemen yang kau berikan padaku. Jika bukan kau yang berulah begini. Lalu, siapa lagi?" tanyanya skeptis


"Tapi, ini memang bukan ulahku." Amrita tetap berusaha meyakinkan Dharma


"Kau lihat saja, bahkan sampai jumlah rekening ku saja tertera disitu. Apa kau masih ingin menyangkalnya?" ucapnya kesal


"Kenapa kamu malah menuduhku? Apa kamu tahu, selama ini aku juga mendapatkan kiriman surat misterius dari seseorang!" tandas Amrita


Dharma tampak terkejut, dia yang semulanya berjalan mondar-mandir langsung duduk di samping Amrita dan menatap wajah Amrita lekat berusaha menelisik, apakah tersirat kebohongan atau tidak


"Apakah yang kau katakan itu benar?" tanyanya sambil menguncang tubuh wanita yang sudah tidak muda lagi itu


"Untuk apa aku berbohong. Hari ini, aku mengajak mu bertemu di sini, karena aku takut pertemuan kita ini akan tercium dan diketahui oleh si penguntit itu!" ucapnya sungguh-sungguh


"Penguntit?" Dharma mengulangi perkataan Amrita


"Ya. Aku yakin, ada seorang penguntit yang sengaja mengikuti kita." ucap Amrita sangat yakin

__ADS_1


"Tapi siapa? Tidak ada yang mengetahui tentang apartemenku. Tiba-tiba, malah ada paket yang datang." ucapnya


"Kita harus menyusun rencana untuk menangkap orang yang mengirimkan paket itu. Agar kita tahu siapa orang di balik ini semua."


"Kamu benar. Kita memang harus menyusun rencana matang untuk ini agar tidak gegabah." jawab Dharma


"Apakah kamu tidak mencurigai seseorang?" tanya Amrita


"Tidak tahu, kamu sedang mencurigai seseorang?" tanya Dharma balik


"Ya. Aku mencurigai Pinkan lah yang menjadi dalang di balik ini semua." seru Amrita


"Pinkan? Haha, tidak mungkin! Wanita bodoh itu tidak akan melakukan hal sampai sejauh ini. Lagi pula, apa motifnya hingga mau melakukan ini semua?" bantah Dharma sambil tertawa kencang


"Tapi, aku merasa dia sudah berubah, tidak sebodoh dulu lagi. Apa kamu tidak merasakan seperti yang aku katakan ini?" ucap Amrita. Dia masih saja merasa kalau ini ulah Pinkan


"Aku tidak percaya. Wanita bodoh, tetap saja akan menjadi wanita bodoh selamanya. Kalau dia memang mengetahui apa yang kita lakukan di belakangnya, dia tidak akan tinggal diam dan tidak akan tetap bersikap baik kepadaku." sangkal Dharma


"Aku tetap yakin kalau ini semua ulahnya. Karena aku pun selalu berseteru dengannya. Bisa saja dia berpura-pura bodoh, kan?" ujar Amrita


"Sudahlah. Jangan mencurigai wanita yang jelas-jelas tidak mempunyai kemampuan untuk menipu orang lain. Yang ada, kita hanya akan lengah dan bisa-bisa si penguntit akan semakin bebas merajalela."


Amrita membenarkan ucapan Dharma. Tapi, entah kenapa di dalam hatinya, keyakinannya masih tertuju pada Pinkan. Tapi, dia tetap harus memikirkan cara bagaimana cara menangkap kurir yang mengirimkan barang itu


"Dharma, aku sedang ingin..." ujar Amrita yang mendekatkan tubuhnya pada Dharma


"Aku juga, Sayang. Aku sudah sangat merindukanmu, aku sudah lama tidak mencicipimu." ujarnya


*******


Pinkan sedang berada di cafe barunya. Setiap hari dia terus memantau perkembangan cafe barunya itu. Grand Opening yang diadakannya sudah berlalu. Saat dia sedang memperhatikan para pelanggannya yang semakin lama menjadi semakin ramai, dia tersenyum puas dengan hasil kerja kerasnya


TRING TRING


"Ayah? Kenapa ayah menghubungiku di jam kantor, ya?" ucapnya dan langsung mengangkat panggilan dari sang ayah tercinta


"Pinkan, kamu sedang berada di mana?" tanya Raka diujung telepon


"Aku sedang berada di cafe, Yah." ujarnya sambil menghitung uang


"Bisakah kita bertemu sekarang? Ada suatu hal yang ingin ayah katakan padamu."


"Kenapa tidak berbicara di rumah saja, Yah? Bukankah akan lebih gampang nanti?"


"Ayah ingin berbicara sekarang, Nak!" desak Raka


"Baik, aku akan mengirimkan lokasinya sekarang pada Ayah."


Tak lama setelah Pinkan mengirimkan lokasinya, Raka sampai dan langsung masuk. Raka mengedarkan pandangannya ke segala sudut, namun tidak menemukan Pinkan dimana pun


Dia pun memutuskan untuk menelepon saja. Setelah Pinkan menelepon anaknya, datanglah seorang pegawai laki-laki yang menghampiri Raka

__ADS_1


"Tuan, Nona Pinkan sudah menunggu di ruangannya. Mari, ikuti saya." ujarnya dengan sopan


Raka berpikir kalau Pinkan sedang menunggunya di ruang VIP room. Tetapi dia tidak menyangka kalau pegawai itu membawanya ke ruang khusus sang pemilik cafe itu


"Maaf. Apakah kamu tidak salah mengarahkan jalan?" tanyanya, dia merasa heran


"Tidak, Tuan! Nona Pinkan sudah menunggu Anda di dalam. Silahkan masuk!" ujar pegawai laki-laki itu lagi


Raka membuka pintu ruangan khusus itu dengan perlahan, dia masih takut-takut kalau nanti dia akan salah dan berakhir dengan malu. Tapi, begitu terkejutnya dia saat dia membuka pintu, memang Pinkan lah yang berada di sana sambil menghitung uang


"Pinkan, kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Raka tak percaya


"Duduklah terlebih dahulu, Ayah. Ayah mau minum apa?" tanyanya yang langsung meninggalkan pekerjaannya


"Tidak perlu, Nak. Ayah tidak akan lama." jawab Raka


"Jangan segan, Yah. Cafe ini milikku, berarti juga milikmu, kan?" ujar Pinkan terkekeh pelan. Dia menelepon ke dapur cafe untuk membawakan jus jeruk tanpa gula untuk ayahnya


Raka terhenyak kaget mendengar pengakuan anaknya itu. Matanya membulat sempurna seakan ingin keluar dari sarangnya. Sungguh, dia rasanya sangat sulit mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh Pinkan


"Cafe ini milikmu?" tanya Raka lagi untuk memastikan


"Benar, Yah. Ayah kaget ya? Maaf karena tidak mengatakannya padamu." sahut Pinkan yang sudah mendudukkan bokongnya


"Kapan kamu mulai merintisnya?" tanya Raka gusar. Sungguh, dia sebagai Ayah tidak mengetahui apapun yang dilakukan anak-anaknya


"Baru saja, Yah. Aku baru mulai merintis usahaku sendiri. Bagaimana menurutmu, apakah suasananya menyenangkan, atau ada yang harus aku tambahkan agar suasana kehangatan keluarga kian tercipta?" tanyanya berusaha mencari pendapat, Pinkan tersenyum-senyum sendiri, menggambarkan kebahagiaannya saat ini


"Menurutku, ini sudah lebih dari cukup untuk seorang pemula. Pasti ini ada campur tangan laki-laki itu, kan?"


"Hahaha. Ayah sangat handal dalam hal menebak, ya?" jawabnya diselingi dengan tawa, jawaban Pinkan itu sudah bisa menjawab pertanyaan Raka tadi


"Maaf!" ucap Raka sembari tertunduk


"Kenapa? Kenapa ayah harus minta maaf?"


"Maaf, karena aku tidak bisa membantu apa-apa. Bahkan, saat kamu memulai merintis usahamu sendiri saja, aku tidak mengetahuinya. Aku merasa menjadi Ayah yang gagal." ujarnya dengan sendu


"Ayah tidak perlu minta maaf. Bukan salah Ayah tidak mengetahuinya. Ayah tidak tahu kan karena kami yang tidak memberitahukan Ayah. Dan menurutku, tidak ada orang tua yang gagal, Yah. Ayah adalah ayah yang baik untukku." ujar Pinkan


"Terima kasih, Nak." ucap Raka tersenyum


"Jadi, apa yang ingin Ayah bicarakan?" tanya Pinkan mengingatkan


"Maaf." ucap Raka lagi


Maaf? Maaf untuk apa lagi


Kening Pinkan berkerut, dia bingung dengan sikap ayahnya hari ini. Kenapa Ayahnya sering meminta maaf


"Maaf untuk apa lagi, Yah? Bukankah barusan aku juga sudah mengatakan Ayah tidak bersalah?"

__ADS_1


__ADS_2