
"Aku juga tidak tahu, apakah kamu bersedia untuk datang juga dan memenuhi undangan dari mamiku?" tanya Rifqan dengan pelan
"Kapan?" tanya Pinkan
"Besok malam. Kamu akan datang, kan?" tanya Rifqan gusar
"Ya. Aku akan datang, anggap saja ini adalah pertemuan terakhir kita, aku dengan keluarga mu." ucapnya
"Pinkan..." Rifqan semakin gusar mendengar ucapan wanita yang dicintai
"Aku tidak apa-apa. Kamu bisa menjemputku di tempat biasa saja?" jawabnya dan langsung mematikan sambungan telepon
Rifqan sebenarnya sangat bimbang dengan apa yang ia putuskan. Dia takut, semuanya akan menjadi mimpi buruk untuknya dan Pinkan. Tapi, dia juga harus mengajak wanita itu sesuai dengan permintaan maminya
**********
Keesokan harinya, malam hari pun telah datang. Pinkan sudah bersiap-siap untuk datang memenuhi undangan dari orang yang sangat akrab dengannya. Dia sudah mempersiapkan mental dan hatinya dengan sangat siap agar nanti air matanya tidak jatuh saat melihat orang yang sangat dia cintai akan bersama dengan orang lain
Sekarang, Pinkan sedang duduk di bangku taman. Seperti biasanya, saat akan bertemu atau pergi kemanapun, laki-laki itu akan menjemputnya disitu agar tidak terlihat oleh ayahnya
"Pinkan?" Suara seorang pria mengejutkannya
"Kau sudah datang? Ayo, kita pergi sekarang. Aku tidur mau, karena aku acara kalian jadi terhambat." Pinkan berjalan cepat menuju mobil Rifqan yang terparkir di sekitar taman
Rifqan menarik pergelangan tangan Pinkan. Pinkan langsung berdiri tanpa menoleh ke belakang. Rifqan langsung memeluk wanita yang sangat ia cintai sekarang
"Pinkan, ku mohon ... jangan tinggalkan aku." pintanya sambil memeluk wanita itu
Pinkan hanya berdiri mematung, dia tidak membalas kembali pelukan pria yang sangat dicintainya dan sekarang sedang memeluknya dengan air mata yang berurai
"Rifqan, lepaskan aku. Kalau ini adalah jalan untuk kita. Kita harus menerimanya. Tidak ada jalan tikus lain yang bisa kita lalui sekarang. Ayahku, dan orang tuamu tidak menerima hubungan kita." ucap Pinkan yang tidak sesuai dengan hatinya
"Kenapa kamu berbicara seperti ini? Kamu akan menerima ini dengan mudah?"
"Mungkin, memang inilah yang terbaik untuk kita berdua. Kita memang harus putus!" tandas Pinkan dengan memejamkan matanya
"Tidak. Apapun yang terjadi, aku tidak akan menerima keputusan mu ini." sangkal Rifqan
"Jadi? Maksudmu, kamu akan melawan ibumu?"
Rifqan hanya terdiam. Pinkan menguraikan pelukan mereka dan menjauhi Rifqan. Dia langsung masuk ke dalam mobil pria itu
__ADS_1
Mau tidak mau, Rifqan juga ikut masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikan mobilnya dengan perasaan campur aduk. Setelah beberapa jam berkemudi, sampailah mereka di mansion utama keluarga Faruq
Pinkan turun tepat di depan pintu utama. Sedangkan Rifqan, pria itu akan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu
"Aku parkir mobil dulu, ya? Kamu masuklah, anggap saja ini rumahmu." ujar Rifqan
Pinkan hanya tersenyum getir. Tanpa berkata apapun, dia turun dan meninggalkan Rifqan sendiri di dalam mobil. Saat berada di depan pintu. Pinkan bertemu dengan Vini yang sedang berjalan beriringan bersama ibunya
Awalnya, Vini juga terkejut dengan kehadiran musuh cintanya itu. Namun, sepersekian detik kemudian, dia menyunggingkan senyum menyeringai dan merendahkan
"Oh, ternyata ada tamu lain yang ingin mendengarkan tanggal acara pertunangan ku dan calon suamiku." ucap Vini berdiri tepat dihadapan Pinkan
Pinkan hanya diam, dia menghindari Vini, dan ingin melanjutkan kembali masuk ke dalam tanpa membuat masalah apapun
"Kenapa? Kamu pasti sedang bersedih, kan? Seharusnya, kamu tidak perlu datang, aku takut kamu tidak tahan nanti saat mendengar hal-hal yang membuatku senang, tapi akan membuatmu menderita!" celetuknya tanpa perasaan
"Memangnya, hal apa yang akan membuatku harus menderita? Lucu sekali!" jawab Pinkan
"Tentu saja, kabar pertunanganku dengan Rifqan. Dengan calon suamimu. Eh, maksudku, sekarang akan menjadi calon suamiku!" sindirnya
"Kamu begitu yakin, kalau acara makan malam ini akan membicarakan tentang pertunangan kalian? Bisa saja, itu adalah mimpi buruk untukmu dan kamu akan kecewa."
"Kamu! Apa maksudmu?" Vini ingin menarik rambut Pinkan karena kesal
"Vini! Jangan seperti itu, jangan hiraukan dia. Dia hanya asal berbicara karena merasakan cemburu saja." ucap ibunya
"Ibu benar, Lagipula, aku tidak perlu menyombongkan diriku di depan mantan pacar calon suamiku. Akhirnya, aku yang menang!" ucapnya sambil menyeringai
Vini dan ibunya pergi, Vini menyenggol kan bahunya dengan bahu Pinkan, sampai Pinkan sedikit bergeser dari tempatnya berdiri. Rifqan yang baru saja datang, dia melihat Pinkan masih berdiri di pintu masuk sambil termenung, air matanya juga menetes tanpa izin
"Pinkan, kamu kenapa?" tanya Rifqan, dia menyentuh lembut bahu Pinkan
"Aku tidak apa-apa." jawabnya, dia menepis tangan Rifqan dan berlalu kembali masuk
"Pinkan, tunggu aku!" teriaknya
Pinkan masuk dan menemui Anya yang sedang berbincang dengan pelayan untuk menyajikan makanannya dengan cepat
"Mami." ucap Pinkan
"Pinkan? Akhirnya kamu datang juga." Mami Anya langsung merangkul Pinkan dengan wajah ramah seperti biasanya dan membawanya ke ruang makan tempat dimana mereka akan makan bersama
__ADS_1
"Mami?" Vini yang melihat adegan itu. Dia juga menghampiri mereka dan langsung bergelayut manja di lengan Anya
"Sepertinya, semua orang sudah berkumpul. Apakah bisa kita laksanakan sekarang makan malamnya?" ujar Anya
"Tentu saja bisa. Lebih cepat kan lebih baik. Jadi, kita juga bisa segera mendengarkan kabar baik." jawab ibu Vini
"Benar sekali yang dikatakan oleh ibu. Ayo, kita langsung kesana." sahut Vini sambil tersenyum
Rifqan sudah lebih dulu mengambil tempat duduk. Dengan cepat, Vini duduk di samping Rifqan yang berhadapan dengan Pinkan dan mami Anya
Dengan cekatan, Vini mengambilkan beberapa jenis makanan untuk Rifqan. Pinkan hanya diam dan melihat apa yang dilakukan oleh wanita centil itu. Dia menganggap maklum karena sebentar lagi, Vini akan sah menjadi calon istri Rifqan
"Pinkan, ayo makan." ujar mami Anya
"Ya, mami." jawab Pinkan sambil menunjukkan senyumannya. Padahal, hatinya sedang sangat terluka sekarang
Vini mendengus kesal melihat Anya yang masih saja mengundang Pinkan. Apa lagi sekarang, Anya malah masih ramah kepada wanita itu. Dia sangat kesal dan ingin mengusir Pinkan sesegera mungkin
Tidakkah dia cemburu dengan ini, kenapa dia hanya diam. Bahkan, menunjukkan senyuman itu? Apakah dia sudah tidak menyukaiku lagi. Rifqan hanya menatap ke arah Pinkan yang sedang makan tanpa melihat ke mana pun. Dia fokus dengan makanannya sendiri seperti takut orang merebut makanannya jika ia melihat ke arah lain sebentar saja
Mereka makan dalam diam, karena seperti itulah kebiasaan leluhur keluarga mereka. Hal itu, karena mereka ingin menikmati dan menghormati makanan yang berada di depan mereka
Selesai makan, mereka duduk di ruang keluarga bersama-sama. Mereka kembali di jamu dengan berbagai minuman dan cemilan sehat yang enak
"Mami, aku akan pulang sekarang. Lagi pula, acara makan malamnya sudah selesai." ucap Pinkan
"Tunggu sebentar lagi, ya? Masih ada acara lainnya lagi." jawab Anya yang tidak memberi izin pulang untuk Pinkan
"Tinggal lah sebentar lagi, kamu harus mengetahui kabar bahagia selanjutnya. Mumpung kamu sudah datang kesini. Jadi, tunggu acara selesai saja baru kamu pulang." sambung Vini dengan berpura-pura tersenyum ramah
Kenapa, apakah mami Anya sengaja membuatku tinggal dan mendengar kabar bahagia mereka. Tapi, dia pasti tahu, kalau hal itu adalah kabar buruk untukku
Pinkan hanya mengangguk dan tersenyum. Sesungguhnya, hatinya sedang diseruduk oleh babii hutan sekarang
"Ya sudah, berhubung waktu sudah semakin malam. Lebih baik, kita mempercepat apa yang akan dilakukan selajutnya. Aku akan mengumumkan kabar bahagia untuk, Rifqan."
Masih mengatakan kabar bahagia untukku. Itu adalah kabar bahagia untukmu sendiri, Bu, batin Rifqan
"Aku mengumpulkan keluarga kita. Karena keluarga kita sudah bersama sejak dulu, sudah berteman baik. Dan, Rifqan dan Vini juga sudah berteman sejak kecil." ucap Anya memulai pembicaraan
Vini dan ibunya mulai tersenyum-senyum, ingin mendengar lanjutan dari perkataan Anya. Sedangkan Pinkan, dia rasanya ingin menulikan telinganya sekarang
__ADS_1
"Jadi, aku ingin kalian membantu kami untuk mengurus acara pertunangan Rifqan dan Pinkan. Mungkin, akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini!" sambungnya lagi