
"Apa maksud semua ini, Mami? Kenapa mami mau aku dan Vini bertunangan?" tanya Rifqan langsung pada intinya
Mami Anya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan anaknya. Rifqan semakin dibuat kacau dengan tingkah ibunya yang seperti itu
"Nanti, saat makan malam bersama, kamu jangan lupa mengajak Pinkan untuk datang bersama, ya? Agar dia juga tahu." ucap mami Anya masih dengan mode senyuman
"Mami ingin mempermalukan Pinkan di depan seluruh keluarga kita dan keluarga wanita itu?" Rifqan menggeleng tak percaya
"Tidak." jawab mami Anya santai
"Kenapa mami seperti ini? Bukankah mami sangat menyukai, Pinkan?"
"Yang penting, saat makan malam bersama, kamu jangan lupa mengikut sertakan Pinkan juga." mami Anya tidak memberi jawaban atau kejelasan apapun tentang masalah terkait ini. Rifqan semakin dibuat bingung dan frustasi dengan semua yang sedang ia hadapi sekarang
Merasa tidak mendapatkan kejelasan apapun, Rifqan melenggang pergi dari mansion nya itu. Dia mendengus kesal dengan tingkah laku maminya, yang menurutnya hanya bisa semaunya saja
*******
Di kediaman Cleotra, keluarga mereka sedang. bersama-sama menonton TV. Amrita seperti sengaja memperlihatkan kemesraan nya dengan Raka di depan Pinkan dan Verel
TING TONG TING TONG
Bel pintu berbunyi beberapa kali, bi Yem yang mendengar langsung berlari ke pintu rumahnya untuk membuka pintu rumahnya karena ada tamu
"Ada apa, ya?" tanya bi Yem karena melihat ada seorang tukang kurir di depan pintu
"Saya mengirimkan paket untuk, Nyonya Amrita." ucap kurir yang masih setia berdiri di depan pintu
"Oh, sebentar, akan saya panggilkan." ucap bi Yem
"Tidak perlu, anda bisa menggantikan untuk menerimanya. Saya terburu-buru." ucap sang kurir. Kurir itu memakai masker, topi, dan kaca mata hitam
"Baik, dimana harus saya tanda tangan?" ucap bi Yem tanpa rasa curiga
"Di sini. Silahkan bubuhkan tanda tangan anda." ucap sang kurir sambil menunjukkan tempat tanda tangan
Setelah kurir itu pergi, bi Yem melihat paket yang sedang di pegang nya. Tapi, tidak ada tertera nama pengirimnya disitu. Dia ingin memanggil sang kurir dan ingin bertanya, namun sudah terlanjur pergi
"Sudahlah, juga bukan urusanku." ucapnya lalu kembali menutup pintu
"Siapa, bi?" tanya Amrita
__ADS_1
"Kurir, Nyonya. Mengirimkannya paket untuk anda." jawabnya sambil meyerahkan paket
"Oh, untukku?" Amrita membolak-balikkan paket itu untuk melihat nama pengirimnya. Tapi tidak ada disana
"Kamu tidak bertanya pada kurirnya, ini dari siapa? Kenapa tidak ada nama pengirimnya?" tanyanya lagi tanpa mengalihkan pandangannya
"Tidak, Nyonya. Saat saya ingin bertanya, kurirnya sudah pergi." jawab bi Yem
Tanpa mengatakan apa-apa, Amrita langsung membuka paket itu. Ada sebuah amplop berisi surat di dalam bungkusan paket itu, dan juga ada sebuah amplop berwarna cokelat yang kita tidak tahu isinya apa
Amrita lebih dulu membuka surat yang ada di dalam bungkusan paket itu. Dia mulai membaca surat itu dengan kening yang semakin lama semakin berkerut
"Dari penggemar rahasia mu. Semoga hubungan kalian langgeng!!" isi suratnya
Jantung Amrita sudah berdetak kencang, dia sudah mulai tidak tenang dan buru-buru melihat isi dari amplop cokelat yang satunya lagi. Betapa terkejutnya dia, isi amplop itu adalah beberapa lembar foto Amrita dan Dharma yang sedang berkencan, berciuma*, bahkan melakukan hubungan se*
Secara spontan, Amrita langsung terjingkat kaget dan menjauhkan jaraknya dengan Raka. Raka yang juga terkejut dengan hal yang dilakukan Amrita juga ikut mengerutkan alisnya dalam
"Kenapa? Apa isi paket itu?" tanya Raka sambil menatap Amrita dengan tatapan curiga
Pertanyaan dari Raka sukses membuat jantung Amrita lebih Jedag-jedug, dia gelagapan saat ingin menjawab pertanyaan suaminya. Dia tergagap sambil berpikir. Tidak mungkin kan dia mengatakan kalau itu adalah foto erotis miliknya dan Dharma
"Bukan apa-apa, hanya orang usil saja. Lebih baik, aku cepat membuangnya saja agar tidak membuat rumah kita jadi tertimpa musibah." jawabnya
"Hem, tidak!" jawab Amrita yang sudah sangat kebingungan
Amrita mengedarkan pandangannya ke sekeliling nya. Terutama Pinkan. Dia ingin melihat raut wajah Pinkan saat ini, agar dia bisa mengetahui siapa yang mengirim foto sialan itu. Tapi, yang ditatap hanya memperlihatkan wajahnya yang tidak bisa ditebak
Amrita langsing berlari ke belakang. Dia ingin membakar foto itu sampai hangus tidak bersisa. Jangan sampai foto ini diketahui oleh orang lain
Baru begitu saja kamu sudah ketakutan, itu adalah kejutan kecil dariku untukmu. Sangat tidak seru bermain denganmu, Amrita, Pinkan bergumam dalam hatinya sambil menyeringai menatap kepergian Amrita dengan berlari
Di halaman belakang, Amrita membakar semua foto-foto itu. Dia tahu, itu adalah foto erotis nya baru-baru ini. Dia kembali memikirkan siapa yang sudah mengirimkan foto erotis nya ke rumah keluarga Cleotra
"Siapa yang mengirimkan foto ini. Apakah, Pinkan? Ku rasa tidak mungkin, dia tidak akan tahu tentang hubunganku dengan Dharma. Lain kali, aku harus lebih berhati-hati lagi jika bertemu dengan Dharma." gumamnya di depan api yang menyala
Saat Pinkan ingin membuka pintu kamarnya. Tangannya di cekal oleh Amrita. Pinkan hanya memasang wajah lugunya di depan wanita tua itu
"Ada apa?" tanya Pinkan sambil melepaskannya cekalan Amrita dari tangannya
"Pasti, kau kan yang mengirimkan foto itu?" tanya Amrita dengan wajah yang memerah
__ADS_1
"Foto apa, Ibu? Bahkan, foto apa yang kau maksud pun aku tidak mengerti sama sekali." tandasnya
"Sudahlah. Jangan berpura-pura. Jujur saja, dan akhiri permainan ini!" ucap Amrita menyepelekan
"Permainan apa yang anda maksudkan? Dan, apakah ada sesuatu dibalik foto yang dikirimkan oleh orang tidak dikenal tadi? Kenapa, sepertinya ibu sangat ketakutan barusan?"sindir Pinkan
"Tidak. Kamu salah lihat."
"Oh, aku salah lihat. Tapi, ibu harus tahu. Aku tidak akan mengakhiri permainan itu dengan begitu saja. Aku akan bermain pelan-pelan dan perlahan-lahan agar kamu juga menikmati permainan ini." ucapnya sambil tersenyum manis
Kemudian, Pinkan segera berlalu dari sana. Orang yang ditinggalkan begitu saja sangat kesal dengan anak tirinya itu
"Sial! Apa benar, itu memang darinya?"
Di dalam kamar, Pinkan mendapatkan telepon dari seseorang yang selalu dia rindukan selama ini. Dia masih ragu untuk mengangkat panggilan itu atau tidak
"Hem?" akhirnya Pinkan memutuskan untukmu mengangkat panggilan itu
"Kamu, sedang apa?" tanya Rifqan
"Sedang marah. Kenapa?" Pinkan masih ketus
"Apakah aku boleh memohon, untuk tidak marah denganku?" Rifqan berkata dengan sangat lembut
"Apa?"
"Aku mohon, kamu jangan marah. Jangan tinggalkan aku." pinta Rifqan
"Bukan aku yang meninggalkanmu. Tapi, kamu yang meninggalkan aku." jawab Pinkan masih dengan mode ketus
"Tidak. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Aku sangat peduli dengan hubungan kita." ucapnya
"Kamu tidak pernah peduli denganku!"
"Aku sangat peduli padamu. Dan, juga peduli apakah kamu peduli padaku!" jawabnya
Pinkan sedikit tersentuh. Tapi, dia menyembunyikan wajah tersentuh nya dalam-dalam
"Ada apa? Kalau tidak ada yang lain lagi. Aku akan mematikan sambungan telepon nya. Aku mau tidur."
"Mami, mengundang kamu saat makan malam bersama nanti." ucapnya pelan
__ADS_1
"Mengundangku? Untuk apa lagi?" tanya Pinkan heran
"Aku juga tidak tahu, apakah kamu bersedia untuk ikut juga dan memenuhi undangan dari mamiku?" tanya Rifqan dengan pelan