Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Perubahan Sikap Verel


__ADS_3

Setelah mereka berbicara masalah itu, mereka kembali berbincang tentang hal-hal lain yang selama ini ingin Pinkan ceritakan pada ayah nya, layak nya seorang anak gadis bersama ayah pada umum nya


Aku sangat menantikan hal seperti ini. Semenjak kehadiran Amrita, ayah tidak pernah lagi berbicara padaku seperti ini. Dia hanya tahu bekerja dan memanjakan Amrita dan Verel saja, batin Pinkan dan dia tersenyum tipis


Saat mereka sedang berbincang, tiba tiba pintu terbuka. Mereka berpikir itu Rifqan, ternyata yang datang adalah Patra. Patra langsung masuk dan tersenyum ramah ke arah Raka dan Pinkan


"Maaf menganggu. Tuan muda Rifqan berpesan jika nona ingin pulang, saya yang akan mengantar anda." ucap nya sopan


"Baiklah. Ayo kita pulang sekarang." ucap Pinkan


"Baik, saya akan menunggu anda di luar." ucap Patra undur diri


"Ayah, Pinkan pulang ya. Ayah cepat sehat ya agar kita bisa berkumpul bersama lagi." ucap nya lalu mencium tangan ayah nya


"Iya, hati hati Pinkan. Dan ingat perkataan ayah tadi." ucap Raka dan tersenyum


Pinkan hanya mengangguk saja, dia langsung keluar dengan perasaan yang kacau balau. Dia merasa sedih karena ayah nya seperti tidak menyukai Rifqan


Pinkan langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang. Saat dia sudah duduk, dia melihat ke depan dan benar bahwa dia hanya berdua bersama Patra


"Kenapa tuan Rifqan pulang terlebih dahulu? Apakah dia kurang sehat?" tanya Pinkan polos


"Tidak nona, tuan sedang ada pekerjaan yang harus ditangani sesegera mungkin, maka nya tuan langsung kembali tanpa memberitahukan Anda terlebih dahulu." jelas Patra


Kenapa anda dan tuan muda sama sama bodoh sih? Jika tuan muda sakit, pasti kan dia akan langsung meminta resep obat karena kalian tadi memang sedang berada dirumah sakit. Apa orang yang sudah jatuh cinta akan seperti itu semua ya? Tapi aku kan tidak sebegitunya sama Kiara, batin Patra sambil melirik kebelakang


Pinkan hanya membulatkan mulut nya, rasanya dia ingin kembali bertanya, namun dia takut Patra akan berpikir yang tidak tidak untuk nya. Tetapi jika tidak ditanyakan dia sudah penasaran setengah mati


"Tetapi, kenapa kamu tidak ikut? Malah menjemputku?" tanya Pinkan lagi seakan menyelidiki keberadaan Rifqan


Patra yang mendapat pertanyaan itu pun merasa geli, dia ingin tertawa tapi takut dan merasa tidak enak. Jadi dia hanya tersenyum tipis dan berusaha menahan tawa nya


"Tuan muda hanya mempercayakan saya untuk mengantarkan anda, jadi saya tidak di bolehkan untuk ikut." jelas nya lagi


Pinkan hanya mengangguk dan kembali menatap ke luar jendela, Pinkan termenung tetapi tidak ada yang dia pikirkan. Namun suara Patra malah mengejutkan lamunan nya


"Kakak ipar?" ucap Patra sedikit malu


Apa katanya? Kakak ipar? Barusan dia memanggil ku dengan sebutan nona, sekarang malah berubah menjadi kakak ipar? Cepat sekali berubah nya, batin Pinkan sambil menatap aneh ke arah Patra


"Kenapa kamu memanggilku kakak ipar?"


"Karena kamu kan memang akan menjadi kakak ipar ku!" ucap Patra dengan tertawa dan menampakkan deretan gigi nya

__ADS_1


"Belum tentu!" jawab Pinkan dengan ketus


"Boleh aku meminta tolong padamu?" tanya Patra sesekali melirik ke arah belakang


"Apa?" tanya Pinkan singkat


"Tolong comblang kan aku dengan sahabat mu yang dingin itu." ucap Patra sedikit merayu


"Aku tidak mau! Urusanku banyak, jadi tidak sempat mengurusi hal semacam itu." ucap nya cuek


Pinkan tertawa dalam hati nya, dia bersorak sorai karena ternyata ada juga pria yang menyukai sahabat nya yang super dingin itu. Namun pinkan tidak mau menjodohkan mereka, karena dia ingin Patra sendiri lah yang merebut dan melelehkan hati Kiara


"Apa? Tolong bantulah aku sekali saja kakak ipar. Hanya sekali ini kesempatan ku untuk meminta bantuan mu, dan hanya padamu aku bisa meminta bantuan." ucap Patra yang sudah merengek seperti anak yang minta dibelikan mainan


"Jika kamu memang benar benar menyukai dia, berusaha lah sendiri sampai dia juga membuka hati nya untukmu! Aku akan memberikan nomor handphone nya padamu, kamu berusaha sendiri untuk mendekati nya." ucap Pinkan


"Benarkah? Terima kasih kakak ipar." ucap Patra dengan tersenyum


Setelah itu mereka hanya diam tanpa kata, mereka sibuk dengan pikiran nya masing masing. Tanpa terasa mobil yang di tumpangi Pinkan sudah tiba di depan pagar keluarga Cleotra


Pinkan langsung masuk, saat dia baru melangkahkan kaki nya untuk masuk kerumah, sudah ada Amrita yang menunggu nya sambil meminum jus jeruk nya


"Hebat sekali kamu ya? Selama tidak ada ayah mu, kamu sudah semakin bebas berkeliaran untuk mencari mangsa mu." ucap Amrita dengan sinis


"Ahh, aku lelah sekali rasanya. Aku ingin tidur sampai besok pagi." ucap Pinkan sambil meregangkan otot dan sendi nya yang terasa kaku


Pinkan berusaha memejamkan mata nya, namun dia tidak bisa tertidur. Dia terus kepikiran perkataan ayah nya tadi


"Apa benar ya Rifqan hanya mempermainkan aku? Tapi kan dia bisa mendapatkan wanita mana pun yang dia inginkan, kenapa harus mendekati aku?" Pinkan bergumam


Dia merasa pusing dengan kenyataan yang dia hadapi sekarang, dia merasa kenyataan pahit selalu saja menghampiri nya. Kenapa bukan Amrita saja yang menelan kepahitan ini? Kenapa harus dirinya


"Aku tidak boleh memikirkan Rifqan! itu tidak penting. Yang harus aku pikirkan adalah bagaimana caranya aku membalaskan dendam ku ini pada mereka?" ucap nya sambil memeluk guling nya


"Aku harus mau di dekati oleh Dharma, agar bisa melancarkan aksi ku untuk membalas mereka! Tapi membayangkan aku dekat dengan Dharma saja aku sudah merasa jijik." Pinkan berdialog dengan diri nya sendiri


Setelah Pinkan memikirkan cara dia membalaskan dendam, dia pun tertidur pulas karena kelelahan.


Saat dia bangun dan membuka matanya, ternyata hari sudah pagi dan mentari sudah mulai terik untuk menerangi orang yang mulai beraktivitas. Dia membuka ponsel nya untuk melihat apakah Rifqan ada menghubungi nya, tapi ternyata tidak ada.


Pinkan langsung bergegas bersiap diri untuk pergi ke kampus


Dia langsung turun dan melihat Verel sudah menunggu nya dengan duduk di sofa ruang tv. Dia berlalu begitu saja melewati Verel yang sedang duduk sambil memainkan ponsel nya

__ADS_1


"Kak!" panggil Verel


Pinkan tidak menghiraukan panggilan itu, karena dia merasa itu bukan untuk memanggil nya. Pinkan berjalan dan akan membuka pintu mobil, namun tangan nya di cekal oleh verel


"Aku memanggilmu, kenapa kamu tidak menghiraukan aku?" tanya Verel


"Kau memanggilku? Oh maaf, aku tidak merasa pernah menjadi kakak mu makanya aku tidak berbalik dan menjawab panggilan mu." jawab Pinkan tajam dan menghempaskan tangan Verel


"Maafkan aku karena sudah bersikap kurang ajar padamu selama ini, aku ingin berbaikan dengan mu." ucap Verel dengan menunduk


Maaf? Berbaikan? Apa apaan ini? Dia tulus atau ini hanya salah satu trik Amrita? Tapi aku akan mengikuti permainan mu. Jika ini hanya trik mu, maka tunggu saja kau ibu dan anak! batin Pinkan


"Baiklah, aku menerima permintaan maaf mu itu. Sekarang aku akan pergi ke kampus ku, bye." ucap Pinkan dan kembali akan membuka pintu mobil


Namun lagi lagi tangan Pinkan di tahan oleh Verel. "Aku pergi bersama mu ya kak?" Verel memohon dengan mata berbinar-binar


"Tidak! Di kampus tidak ada yang tahu kalau kita kakak beradik. Jika kita berangkat bersama pasti akan ada banyak orang yang salah paham pada kita." jelas Pinkan tegas


"Biarkan saja, kamu kan hanya kakak ku. Untuk apa memusingkan hal seperti itu?" tanya Verel dan dia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang


Melihat itu, Pinkan hanya menghela nafas nya berat. Mau tidak mau dia harus masuk dan berangkat bersama Verel. Karena kalau dia memesan taxi online lagi, dia pasti akan terlambat


Selama di perjalanan, Pinkan hanya diam dengan seribu macam pikiran nya sendiri, Verel yang memperhatikan itu juga heran dibuat nya


Apa yang sedang dia pikirkan? Kenapa seperti nya sangat serius? Seperti Einstein saja, batin Verel


"Kenapa kau diam saja? Ajaklah aku berbicara kak. Aku sangat bosan karena hanya memperhatikan kau yang sedang termenung seperti itu." ucap Verel


"Apa yang harus aku bicarakan dengan mu? Kau turun saja jika merasa bosan disini." ucap Pinkan datar


Jujur saja, dia sungguh sangat imut. Tapi aku harus waspada terhadap nya. Aku tidak boleh percaya begitu saja kepada nya. Kenapa dia tiba tiba berubah pun masih menjadi tanda tanya untuk ku, batin Pinkan


"Yasudah aku akan diam saja!" jawab Verel dengan mata yang berkaca-kaca dan dia memanyunkan bibir nya


"Bagus jika begitu, diam sampai kita tiba di kampus!" ketus Pinkan yang seolah tidak termakan dengan sikap imut nya Verel


...Hai reader🖐️...


...Terus dukung karya aku ya, jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote,komentar dan juga tambahkan ke daftar favorit kalian ya...


...Jika ada yang kelebihan poin atau koin, bisa di sumbangkan untuk author, hehe...


...Author akan menerima dengan senang hati...

__ADS_1


...Terima kasih......


__ADS_2