Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Merekam


__ADS_3

Saat sudah di dalam mobil. Pinkan mencampakkan map berwarna cokelat kepada Verel. Verel yang sedang fokus mendengarkan musik langsung melihat apa yang diberikan kakaknya


"Bukalah. Itu adalah hasil tes DNAmu."


"Kenapa cepat sekali? Apakah kakak sudah membukanya?" tanya Verel. Hatinya sudah gundah, karena dia melihat raut wajah Pinkan yang datar


"Sudah." jawab Pinkan singkat


"Apa hasilnya, kak?"


"Bukankah aku sudah memberikan hasilnya padamu? Lihat saja sendiri!"


"Aku tidak berani kak, aku takut dikecewakan oleh kertas selembar ini." nyali Verel benar-benar menciut


"Aku memintamu untuk membukanya, kau harus buka. Bagaimana kau akan tahu hasilnya jika kau tidak melihatnya secara langsung?"


"Lebih baik aku tidak tahu. Dengan begitu, aku akan menjadi adikmu untuk selamanya, kak!" Verel membantah ucapan kakaknya, jika menyangkut dengan keluarganya. Dia pasti akan berubah menjadi laki-laki lemah


"Bukalah sekarang!" pinta Pinkan dengan lembut agar ketakutan Verel menghilang


Sama dengan yang dilakukan Pinkan tadi, Verel membukanya perlahan, dia menutup matanya dan kembali membukanya secara perlahan dan mulai membaca hasilnya


Terlukis senyum dari bibirnya. Bibirnya melengkung begitu saja tanda kebahagiaan. Pertanda, bahwa dia sudah mendapatkan apa yang selama ini ia mau


"Aku, aku adalah anak kandung ayah, kak!" teriak Verel dan langsung memeluk Pinkan


"Hahaha, aku sudah tahu." jawab Pinkan


"Akhirnya, kekhawatiran ku selama ini hilang. Aku memang benar-benar keluarga kalian, kak!" ucapnya terharu


"Ya. Tapi, jangan beritahu ibumu tentang ini. Juga jangan beritahu ayah." ucap Pinkan


"Kenapa? Bukankah seharusnya kita memberitahukan ayah?"


"Untuk ayah, biarkan aku yang memberitahunya langsung. Tapi, untuk ibumu, biarkan kenyataan ini menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri nanti."


"Aku tidak mengerti, kenapa ibu menganggap ku bukanlah anak ayah. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Verel


"Aku juga tidak mengerti, ini adalah masalah di masa lalu. Kita hanya bisa mengikis dan mencari kejelasannya secara perlahan dan bertahap. Kita tidak bisa terburu-buru dan membuat ibu curiga." jelas Pinkan


"Aku mengerti. Nih, aku berikan padamu saja untuk kamu simpan. Jika aku yang menyimpannya, aku takut ibu akan menemukannya." Pinkan mengambil kertas itu, lalu dia hanya memfotonya. Kemudian, dia membakar kertas yang asli itu sampai menjadi debu

__ADS_1


"Kenapa kakak membakarnya?"


"Bukti penting hanya bisa kita simpan dalam diri kita sendiri. Aku sudah memfotonya, jadi bisa kita copy dilain waktu." jelas Pinkan


"Hem. Baiklah."


"Apakah ibu pernah menceritakan sesuatu tentang masa lalunya padamu?" tanya Pinkan yang menatap Verel dengan intens


"Tidak. Tapi dia selalu menasehatiku agar tidak terlalu percaya dan menyayangi orang lain seperti keluarga sendiri. Karena bisa saja orang itu akan menipu dan meninggalkan kita suatu hari nanti. Seperti yang pernah dia alami dulu."


"Ibu yang mengatakannya padamu?" tanya Pinkan. Dia mengernyitkan alisnya


"Iya. Dia selalu mengatakannya. Bahkan, baru-baru ini dia sudah mengatakannya beberapa kali."


Itu terdengar seperti nasihat. Tetapi, kenapa aku merasa ada makna yang tersirat, dan ada hubungannya dengan foto yang aku temui itu, batin Pinkan


"Apakah kamu mempercayai itu?" tanya Pinkan kemudian


"Awalnya aku percaya, jadi aku membencimu dari dulu. Tapi, sekarang sudah tidak lagi."


"Bagus. Walaupun dia ibumu, tidak semua perkataannya benar. Kita harus mendengar dan mengartikan maknanya terlebih dahulu. Apakah itu baik untuk kita atau tidak, jika tidak baik tidak usah dilakukan." ucap Pinkan


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Entah ayah yang terlalu mencintai ibumu, atau dia memang tidak menyukai Rifqan." Jawab Pinkan pasrah


Mereka sampai, ketika masuk, mereka tidak melihat adanya Amrita berada di rumah. Pinkan tidak ambil pusing, dia langsung masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu


Sedangkan ditempat lain, Kiara sedang membaca bukunya sambil menunggu kehadiran Patra. Mereka sudah membuat janji untuk makan siang. Dia melihat arloji yang melilit di tangan nya


Ternyata masih lumayan lama, untung aku membawa banyak buku, jadi tidak bosan menunggu


Saat Kiara sedang membalikan bukunya. Dia tidak sengaja melihat seorang laki-laki yang dikenalnya sedang menarik kursi di sebelahnya. Laki-laki itu terlihat duduk dengan santai sambil memainkan ponselnya, dan sesekali melihat ke arah pintu cafe, jika terdengar pintu itu terbuka


Kiara melanjutkan membaca bukunya sambil menaikkan buku yang dia baca untuk menutupi wajahnya agar tidak terlihat. Tidak berselang lama, datanglah seorang wanita yang sangat dikenali oleh Kiara menghampiri laki-laki itu


Wanita yang sudah terlihat sedikit tua itu menghampiri laki-laki yang sedari tadi duduk di sebelah Kiara. Mereka berpelukan sejenak kemudian kembali duduk


"Maaf aku terlambat, apakah kamu sudah menunggu lama?" tanya wanita itu


"Tidak. Walaupun aku harus menunggu lama, aku rela." jawab sang laki-laki dengan tersenyum


Dia kan Amrita dan Dharma, untuk apa mereka bertemu di sini. Dan apa tadi, Dharma berusaha merayu ibu tiri Pinkan? Sangat menjijikkan, batin Kiara. Dia juga kembali menutupi wajahnya dengan buku yang ia pegang

__ADS_1


Merasa ada buruan besar. Kiara menyalakan perekam suara di ponselnya. Jika mereka bertemu di sini, pasti ada suatu hal yang penting yang akan dibicarakan, menurut Kiara


"Kamu bisa saja, aku ingin mengatakan suatu hal padamu." ucap Amrita yang tampak tersenyum-senyum dari tadi


"Apa? Kamu merindukanku, ya?" tanya Dharma dengan tidak tahu malunya


"Ah, tentu saja. Tapi, aku sudah mendapatkan mangsa besar!" ucap Amrita dengan sangat antusias


"Mangsa besar apa?" tanya Dharma yang belum mengerti


"Aku berhasil menghasut Raka untuk menjodohkan Pinkan denganmu. Jika kalian sudah semakin dekat, kita bisa memperalat hubungan kalian untuk mulai menguras harta keluarga Cleotra."


"Apakah Pinkan menyetujuinya? Jika wanita itu menolak, kita pasti harus memikirkan rencana yang lain."


"Dia tidak akan bisa menolak. Pinkan tidak akan membantah perkataan ayahnya. Dan, Raka juga sudah memintamu untuk datang menemuinya." ucap Amrita


"Wah, bagus sekali. Kita bisa mulai memindahkan aset kekayaan keluarga itu ketangan kita." jawab Dharma yang sudah memimpikan menjadi orang kaya dengan instan


Wah, kurang ajar sekali mereka. Jika bukan aku sedang merekam percakapan kalian! Aku pasti sudah merobek kalian menjadi serpihan, gumam Kiara sambil mengepalkan tangannya


"Ya. Tapi, aku sedang tidak senang dengan satu hal."


"Apa? Kenapa lagi dengan sayangku ini?" tanya Verel sambil mengelus tangan Amrita


"Aku merasa, Verel sudah berubah. Dia seperti sudah berdiri di pihak Pinkan." jujur Amrita yang mengutarakan kegundahannya


"Biarkan saja, itu karena dia tidak mengetahui kalau Raka bukanlah ayah kandungnya. Nanti, jika kita sudah berhasil merebut harta keluarga Cleotra dan memberikannya sebuah hasil yang memuaskan, dia akan kembali kepada kita." ucap Verel mencoba menghibur wanita yang sedang cemberut di depannya


"Tapi, aku takut kalau dia akan membenciku suatu saat nanti." ujar Amrita lagi dengan khawatir


"Sudahlah, biarkan begini saja. Jika kamu terlalu memperlihatkan permusuhan mu dengan Pinkan, takutnya dia akan mencurigai mu dan mengetahui hubungan kita. Jika sudah seperti itu, apakah kamu bisa menjamin kalau dia tidak akan membencimu? Karena, dia berpikir kamu mengkhianati ayahnya." bujuk Dharma


"Benar juga! Aku akan mendengarkan kata-kata mu. Sayang, aku ingin!" ucap Amrita. Kakinya menggosok-gosok kaki Dharma dibawah meja


"Ya sudah, kita langsung ke hotel saja." jawab Dharma sangat bersemangat


Sekarang hanya bisa seperti ini, aku harus terlihat sangat mencintai wanita tua ini. Tidak rugi juga begini. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Mempermainkan wanita cantik dan mendapatkan harta kekayaan


Jika nanti rencana kami berhasil, aku akan mencampakkan wanita tua ini dan kembali mencari daun muda yang segar, batin Dharma dan tersenyum jahat


.

__ADS_1


__ADS_2