Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Percobaan Perjodohan


__ADS_3

"Ayo, kita pergi sekarang!" ucap Pinkan


"Sabar kak, kakak tidak sarapan terlebih dahulu? Mungkin, nanti kita akan lama di sana."


"Tidak apa-apa, kakak sudah terlanjur senang karena ingin bertemu dengan ayah. Jadi, tidak perlu sarapan lagi."


Senang karena ingin menjemput ayah, atau karena baru menjalin hubungan dengan tuan muda Rifqan. Tapi, rencananya berhasil tidak, ya? Verel membatin sambil memperhatikan gerak-gerik kakaknya


"Oh, aku pikir senang karena ada hal lain, kak?" sindir Verel


"Hal lain apa? Kamu jangan bicara sembarangan, ya!"


"Hahaha, ayo lah. Masih pagi sudah darah tinggi." ejek Verel sambil merangkul kakaknya dan berjalan masuk ke dalam mobil


Tanpa mereka ketahui, ada Amrita yang sedari tadi memperhatikan kelakuan mereka berdua. Dia mengepalkan tangannya erat dan merapatkan giginya karena merasa telah melihat sesuatu yang membuat darahnya bergemuruh


"Kenapa, semakin lama mereka menjadi semakin dekat. Bukankah, Verel sangat membenci wanita yang tadi dia sebut, kakak?" Amrita bergumam


Amrita mengikuti mereka hingga mereka naik ke mobil yang dikendarai oleh Verel


"Verel, nanti bangunkan aku jika sudah sampai di sana." ucap Pinkan sambil menguap. Dia berencana untuk tidur dikarenakan semalam tidak cukup tidur


"Ya. Sepertinya, kamu sangat kurang tidur ya kak semalam?"


"Banyak tanya! Lakukan saja yang aku katakan." bantah Pinkan


Verel hanya diam, dia takut kakak nya mengamuk jika dia semakin banyak bertanya mengenai hal pribadi, dia tahu Pinkan paling anti jika ada orang yang mengorek hal pribadinya, berbeda jika dia yang ingin mengatakannya sendiri


*****


Mereka sampai, Pinkan terlihat masih nyaman dalam mimpinya. Verel langsung membangunkannya seperti titah yang di ucapkan oleh wanita itu tadi sebelum tidur


"Kak, Ayo bangun! Kita sudah sampai." Verel menggoyang-goyangkan tubuh Pinkan dengan kuat


"Sudah, kau membuatku tambah pusing."


"Maaf, aku pikir kamu sangat susah dibangunkan makanya aku mengguncang sekuat tenaga." Verel tertawa tidak jelas


"Kamu masuk saja duluan. Aku harus mencari tuan Xavier terlebih dahulu untuk meminta bantuannya." Verel yang seolah mengerti maksud dari Pinkan pun segera mengiyakan

__ADS_1


Mereka masuk secara berdampingan tapi dengan tujuan yang berbeda dan berpisah di koridor rumah sakit itu. Verel langsung menuju ke ruangan ayahnya. Sedangkan Pinkan, dia pergi mencari dokter Xavier di ruangannya


TOK TOK TOK


"Masuk!" jawab seseorang dari dalam


Pinkan segera masuk, Xavier yang masih sibuk dengan berkas-berkasnya belum menyadari kedatangan Pinkan. Biasanya, dia akan menunggu orang yang akan berbicara dan dia akan mendengarkan terlebih dahulu


Namun, dia merasa aneh karena orang yang barusan masuk ke ruangannya tidak kunjung bicara, dia mengalihkan pandangannya ke orang yang sedari tadi sudah berdiri terpaku takut menganggu


"Ternyata kamu. Aku pikir siapa, maaf-maaf aku terlalu fokus pada pekerjaan ku." Xavier segera menutup berkas-berkasnya yang dia lihat tadi dan kemudian mempersilahkan Pinkan untuk duduk di sofa yang berada dalam ruangan kerjanya


"Maaf menganggu anda tuan. Aku hanya ingin mengucapkan ribuan terima kasih karena sudah merawat ayahku hingga sesehat ini." ujar Pinkan yang dipenuhi senyuman tulus


"Kau ini, masih saja bersikap sungkan. Itu adalah hal yang wajar untukku. Aku senang bisa membantumu, kau tidak perlu setidak enak itu dan berulang kali mengucapkan kata terima kasih." jawab Xavier sambil tertawa renyah kemudian menyilang kan kakinya


"Aku hanya merasa sangat bersyukur karena sudah dipertemukan dengan orang-orang hebat seperti anda. Tidak tahu, bagaimana nasib ayahku jika aku tidak bertemu dengan anda." jujur Pinkan, sangat jelas bahwa di matanya tersirat kesedihan


"Itu tugasku. Jika aku mampu, aku akan membantu. Kalau tidak, rugi saja pengetahuan ku selama ini, kan? Hahaha!" Xavier kembali tertawa


"Tuan, bolehkah aku meminta bantuan anda sekali lagi saja?" Pinkan mengucapkan kata-katanya dengan ragu-ragu


Pinkan tersenyum kikuk mendengar ejekan itu. Dia sungguh menyesali pertanyaan konyol yang dia utarakan saat itu. Tetapi, kenapa pria di depannya masih saja mengingat pertanyaan memalukan itu


"Ha? Tentu saja bukan, lupakanlah tentang itu, Tuan! Aku saja sudah tidak ingat lagi,"


"Aku, aku ingin meminta bantuan anda untuk menguji tes DNA milikku dan adikku. Hanya anda yang bisa kami percayai."


"Boleh. Tiga hari kemudian aku akan menghubungimu untuk mengatakan hasilnya."


"Tapi, jangan beritahu ayahku, ya? Aku tidak ingin dia khawatir."


"Pasti, sudah waktunya tuan Raka pulang. Ayo, kita ke ruangan tuan Raka sekarang." ajak Xavier


Di dalam ruangan, Verel yang baru saja masuk ke ruang rawat ayahnya mendapati ayahnya sedang bermain game. Dia merasa senang karena ayahnya semakin terlihat sehat dan juga semakin muda


"Ayah!"


"Kau sudah datang? Dimana kakakmu?" tanya Raka yang melihat ke belakang putranya mencari seseorang

__ADS_1


"Ada. Dia sedang pergi ke toilet sebentar," jawab Verel dan duduk di samping ayahnya


"Ayah, bagaimana dengan rencananya? Kenapa aku tidak melihat persiapan apapun?"


"Ada. Nanti saat keluar dari sini, kau akan melihatnya dan pasti akan semakin bangga dengan ide cemerlang ku." ucap Raka sambil menepuk dadanya pelan. Sepertinya, hidungnya juga sudah mancung sangking bangganya


Mereka langsung terdiam saat terdengar suara pintu yang terbuka. Terlihat lah kemunculan sosok Pinkan dan dokter Xavier bersamaan


"Tuan Raka, bagaimana kabar anda? Apakah masih ada terasa sakit di bagian tertentu?" tanya dokter Xavier ramah


"Tidak ada lagi, aku sangat berterima kasih pada anda. Apakah anda tertarik dengan putri saya?" tanya Raka terang-terangan


Xavier hanya tersenyum mendapati pertanyaan seperti itu. Dia sudah terbiasa, dan juga sudah kebal telinganya


Pinkan langsung memukul lengan ayahnya. Dia merasa sangat tidak nyaman dengan pertanyaan ayahnya itu yang menurutnya sangat-sangatlah aneh


"Ayah, tuan Xavier sudah menikah dan mempunyai seorang putri!" bisik Pinkan


"Oh, hahaha! maafkan aku. Aku sungguh tidak tahu mengenai itu."


"Tidak apa-apa tuan. Itu hal yang wajar. Tapi, jika anda ingin menjodohkan anak anda, aku punya teman yang sangat aku recomendasikan untuk menjadi menantu anda."


"Benarkah? Siapa itu, bisakah anda langsung mengenalkannya pada putri semata wayang ku ini?" Raka melirik ke arah Pinkan


"Tentu anda mengenalnya. Dia adalah tuan muda dari Faruq Company."


Saat mendengar perkataan Xavier yang terakhir. Wajah Raka yang tadinya tersenyum ramah, seketika berubah menjadi datar dan dingin


"Sepertinya sudah waktunya untuk saya pulang. Apakah saya bisa pulang sekarang?" tanya Raka mengalihkan pembicaraan


"Tentu saja. Anda sekarang sudah sembuh total. Tidak perlu meminum obat apapun lagi. Selama di sini, saya sudah memberikan antibodi yang cukup untuk anda."


"Wah, hebat sekali! Biasanya, jika keluar dari rumah sakit, pasti akan banyak di resepkan obat lain oleh para dokter." Verel terucap memuji


"Kau sangat memalukan. Dia adalah dokter Xavier. Sang ahli racun dan dokter paling terkenal. Menurutnya itu hal biasa." bisik Pinkan pada Verel untuk mencegah agar sesuatu yang memalukan tidak keluar dari mulut pria itu lagi


"Kami permisi tuan. Terima kasih!" ucap Pinkan berpamitan


Raka berjalan sendiri, dia memang sudah sangat sehat. Terlihat sangat gagah dan rileks

__ADS_1


Sepertinya kau harus berusaha lebih keras, Rifqan! Aku sangat kasihan pada nasib percintaan mu yang sangat tragis dan menyedihkan, batin dokter Xavier sambil melihat kepergian Pinkan


__ADS_2