Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Kenyataan Menyakitkan


__ADS_3

"Rifqan, tunggu aku!" teriak Pinkan, namun orang yang namanya diteriaki tidak ingin melihat


Dia mendengar tapi tidak ingin menoleh, dan langsung masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan penghangat


"Rifqan, kenapa kamu tidak menghiraukan aku?" tanya Pinkan sambil menutup pintu mobil


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit dingin saja."


"Bukan suhu tubuhmu yang kedinginan. Tapi, sikapmu yang mendinginkan aku!" bantah Pinkan tak membenarkan apa yang dikatakan Rifqan


"Bukankah ini yang kamu mau? Kamu mengabaikan aku, agar aku menjauh darimu, bukan? Mungkin, harapanmu akan segera terwujud!" ujar Rifqan tanpa menoleh


"Ayo, kak! Aku sudah mengantuk." ucap Verel yang sudah masuk ke dalam mobil


Pinkan ingin membantah semua yang dikatakan laki-laki itu. Tapi, tidak bisa, karena adiknya sudah masuk dan dia tidak ingin adiknya berpikir yang macam-macam tentangnya


Selama perjalanan, mereka hanya diam saja. Pinkan berulang kali mencuri-curi pandang untuk melihat Rifqan. Namun, pria itu seperti tak peduli dengan yang dilakukan Pinkan


"Aku akan mengantarmu terlebih dahulu." ujar Rifqan


"Aku? atau kak Pinkan?"


"Pinkan!" Rifqan hanya menjawab dengan dingin


Dia benar-benar marah! Memang aku yang sudah sangat keterlaluan


Setelah sampai ke rumah Kiara, Pinkan langsung turun, namun tidak seperti biasanya, dia akan langsung masuk. Kali ini, dia berdiri mematung melihat mobil Rifqan yang sudah melaju membelah jalanan yang sepi


"Sudahlah, besok saja aku menghubungi nya dan menjelaskan." Pinkan menghela nafas berat dan masuk ke dalam dengan lesu


"Kak, bolehkah aku berbicara denganmu?" tanya Verel


"Silahkan saja..."


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan kakakku. Tapi, aku bisa melihat, dia sangat menyukaimu,"


"Mungkin, ada sesuatu yang membuat dia tidak bisa menunjukkan rasa sukanya padamu, dan dia terpaksa memilih jalan untuk mengorbankan perasaan nya sendiri demi kebahagiaan orang terdekatnya." ucap Verel


Mungkinkah, yang dikatakan oleh Verel, benar? Lalu, apa yang harus aku lakukan jika itu memang benar


"Aku juga bingung. Semakin aku mengejarnya, aku merasa dia semakin berusaha untuk berlari dariku. Jadi, aku memutuskan untuk membiarkannya berlari." jawab Verel


"Itu semua keputusanmu. Tapi, aku hanya berharap yang terbaik untuk kalian. Karena, aku juga tahu, kau sangat menyukai kakakku melebihi apapun."


"Kau benar! Aku menyukainya melebihi apapun, tapi aku juga tidak bisa membiarkan hatiku selalu terluka. Aku juga tidak bisa mengabaikan hatinya yang tidak bisa menerimaku. Kalau dia ingin berlari, aku pasti akan melepaskannya sekarang!"


"Aku tahu! Kau pasti terluka, tapi apakah kamu akan mengorbankan hatimu juga yang mengatakan menginginkannya,"


"Aku tahu, kak Pinkan tidak mudah untuk membicarakan masalahnya kepada orang lain selain sahabatnya. Tapi, aku yakin, pasti ada cara lain agar dia bisa mengutarakan perasaannya yang sebenarnya padamu, kak!"

__ADS_1


"Bagaimana? Apakah kamu memiliki sebuah cara yang kamu yakini akan berhasil?" tanya Rifqan


"Tentu saja, aku akan memberitahumu segera!" Verel menyeringai


*********


Keesokan harinya, setelah selesai kampus. Dia menelpon Verel mengajak adiknya bertemu. Dia sudah membulatkan tekad nya untuk mengatakan semuanya pada adiknya meskipun nanti pada akhirnya asiknya mengatainya gila atau membencinya, dia siap dengan semua konsekuensi itu


"Kak, sudah lama menunggu?" tanya Verel dan langsung duduk di depan kakaknya


"Lumayan, aku sedang mempersiapkan hatiku dengan semua konsekuensi yang ku terima setelah mengatakan ini padamu." Pinkan kembali menyeruput minumannya untuk menghilangkan gundahnya


"Kenapa, begitu? Aku tidak akan menjauhimu apa pun yang terjadi." ucap Verel sambil menampakkan dua jarinya


"Baiklah, aku juga bingung harus memulai dari mana?"


"Dari mana saja, aku siap mendengarnya!" jawab Verel yang sudah tidak sabaran


"Apakah kamu ingin tahu, penyebab aku dan ibu saling membenci?" tanya Pinkan yang sudah membulatkan keberaniannya


"Kenapa? Aku memang sangat ingin tahu. Mungkin, aku bisa memperbaiki keadaan."


"Apakah kamu percaya dengan terlahir kembali?"


"Tentu saja tidak! Itu semua, hanya mitos belaka kan, kak? Kamu terlalu banyak menonton Tv, sih!" ejek Verel


"Apa? Itu semua tidak mungkin!" Verel menyangkal


"Aku tidak berbohong. Sekarang, kita berada di kehidupan tiga tahun laluku. Makanya, aku berusaha mengobati ayah, karena aku tahu, ayah di racuni oleh ibumu!"


"Ibu meracuni, ayah?" tanya Verel yang sulit percaya


"Ya. Di kehidupan laluku, aku di bodohi, disiksa oleh kau dan ibumu. Makanya, di kehidupan ku yang sekarang aku berusaha mengubah segalanya." ucap Pinkan yang tampak serius


"Jadi, inilah alasan kakak membenciku dan ibu?"


"Mungkin, aku tidak membencimu. Aku tahu kau sudah berubah. Jadi, aku membulatkan kepercayaan ku padamu dan memberitahukan semuanya sekarang. Tapi, aku memang membenci ibumu, karena sampai sekarang pun dia masih belum berubah."


"Maafkan ibu, kak?!"


"Kau sempat bertanya, ayah sakit apa, kan? Sekarang kau sudah mengetahui penyakit ayah kan?"


"Sudah, kak. Maafkan aku, di kehidupan lalu, aku bersikap tidak baik padamu." pinta Verel


"Tidak apa-apa, tapi ibumu tidak tahu ayah sedang menawarkan racunnya. Yang dia tahu, ayah sedang mengobati penyakit jantungnya. Jadi, aku harap kamu tidak mengkhianati kepercayaan ku dan bisa menjaga rahasia kita!" ucap Pinkan otoriter


"Aku janji! Kakak bisa tenang dan mempercayakan aku." ucap Verel sungguh-sungguh


"Dan, apakah kamu ingin tahu, siapa kekasih ibumu di masa lalu yang membantunya melenyapkan aku dan ayah?"

__ADS_1


"Ibu selingkuh juga? Dan, kekasih nya juga membantunya membunuh kalian?" Verel benar-benar terkejut


"Ya. Dan laki-laki itu adalah Dharma!"


"Apa? Tidak mungkin!" Verel menggeleng kuat


"Kamu bisa mencari tahu sendiri kebenarannya." ujar Pinkan


Kenapa seperti ini? Aku sangat terpukul mendengar ini semua, lebih baik aku tidak tahu dan melihat semuanya seperti baik-baik saja!


"Ada satu hal lagi yang ingin ku katakan padamu!"


"Apa, kak?"


"Aku masih belum yakin bahwa kamu anak kandung ayah!" ucap Pinkan terbata-bata


JDARR


Bagai disambar petir di siang bolong. Verel terkejut sampai sekujur tubuhnya kaku. Dia langsung menitikkan air matanya kala mendengar perkataan yang menyakitkan ini


Melihat reaksi yang di berikan Verel. Pinkan langsung menjadi tak menentu. Dia juga bingung bagaimana cara menjelaskannya pada adiknya ini


"Maksudku, di kehidupan laluku. Sepertinya aku pernah mendengar ibu mengatakan bahwa kamu bukanlah anak ayah." ucap Pinkan mencoba memperbaiki perkataannya. Namun, yang dikatakan oleh Pinkan justru malah memperburuk suasana hati Verel


"A, apakah benar begitu, kak?" tanya Verel terbata-bata sambil menahan tangisnya


"Kita bisa membuktikan sendiri. Mungkin saja, yang dikatakan ibumu tidak benar."


"Tidak kak. Ibu pasti sangat yakin aku bukan anak ayah."


"Jadi, kau menganggap semuanya benar?" tanya Pinkan


"Lalu, aku harus bagaimana, selain menerima ini semua,"


"Aku menyesal, kak! Aku menyesal karena rasa keingintahuanku. Lebih baik aku tidak bertanya, jadi kau tidak memberitahuku. Dan, aku tidak mengetahui hal yang menyakitkan ini." Verel mulai menaikkan air matanya


"Kita masih bisa membuktikan dengan cara lain." Pinkan kembali menegaskan


"Cara apa kak? Aku sudah tidak tahu kak!"


"Kita bisa melakukan test DNA, kan? Aku sudah mengambil rambut ayah. Karena aku sudah bertekad memberitahumu. Jadi, aku sudah memperkirakan hari ini akan tiba."


"Tidak, aku tidak mau! Jangan buat aku terlalu berharap untuk menjadi anak ayah dan menjadi adikmu, kak! Aku tidak ingin nanti akhirnya aku akan kembali kecewa karena semuanya tidak sesuai dengan yang aku harapkan." pinta Verel


"Kita tidak akan kecewa, Verel! Aku akan meminta tuan Xavier yang melakukannya. Jadi, hasilnya pasti akan sangat akurat."


"Aku takut kecewa, kak!"


"Kau harus percaya padaku. Percaya pada dirimu sendiri!" pinkan kembali mencoba menguatkan adiknya

__ADS_1


__ADS_2