
"Jadi, aku ingin kalian membantu untuk mengurus acara pertunangan Rifqan dan Pinkan. Mungkin, akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini." sambungnya
Mereka semua terperangah. Kecuali tuan Faruq, yang memang sudah mengetahui tentang itu semua. Dari raut wajahnya, Vini terlihat sangat kesal dengan apa yang baru ia dengar, tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan
"Tunggu! Kenapa malah bertunangan dengan wanita tidak jelas ini? Bukankah, seharusnya Rifqan akan bertunangan dengan, Vini?" sahut ibu Vini yang tidak terima. Dia segera berdiri sambil mendelik ke arah Pinkan dengan tatapan tidak suka
"Kata siapa? Dan, dia adalah calon menantuku. Bukan wanita tidak jelas! Jaga ucapan anda." sahut mami Anya dengan lugas
"Anda sendiri yang mengatakannya. Kenapa sekarang berbalik seperti ini? Kamu ingin mempermainkan kami?" Ibu Vini sudah berapi-api karena merasa sudah dipermainkan
"Aku? Coba anda ingat-ingat lagi. Memangnya, kapan aku mengatakan kalau anakku akan bertunangan dengan dia?" ucap Anya yang mengalihkan tatapannya ke arah Vini
FLASHBACK ON
Mami Anya menelepon ke telepon rumah milik keluarga Andra, keluarga Vini. Dan, saat itu, yang mengangkat panggilan itu adalah ibu Vini
"Halo?" sapa ibu Vini
"Ini aku, Anya. Aku ingin mengundang kalian makan malam. Sekalian membicarakan acara pertunangan Rifqan dan pacarnya." ucap Anya
"Pertunangan? Rifqan dan pacarnya? Hem baiklah, ini adalah kabar baik untuk Vini. Dia pasti sangat bahagia karena akan bertunangan dengan, Rifqan. Itu dia sudah pulang, aku akan segera memberitahunya. Kami pasti datang." jawabnya panjang lebar, lalu ibu Vini langsung memutuskan sambungan teleponnya
"Tunggu dulu! Sepertinya kamu salah paham!" ucap Anya berusaha menjelaskan namun telepon sudah ditutup
FLASHBACK OFF
Ibu Vini terdiam sambil mengingat-ingat percakapan mereka saat ditelepon saat itu. Vini menggoyangkan tangan ibunya yang sedang termenung agar kembali sadar
"Bagaimana, apakah kamu sudah ingat?" tanya Anya sarkastik
"Iya, a-aku sudah ingat. Tapi, kamu mengatakan kalau Rifqan akan bertunangan dengan pacarnya. Bukankah, Vini dan Rifqan sudah berpacaran sejak kecil?" ucapnya masih ingin mencoba membela diri
"Ya. Dialah Pacarnya. Apakah kamu sudah mengerti, kalau kamu hanya salah paham?" jawab Anya, dia menunjuk Pinkan yang masih menatap cengo perdebatan mereka
"Aku sudah mengerti." jawabnya tertunduk
Wajah Vini dan keluarganya langsung memerah bak udang rebus. Mereka benar-benar malu saat ini akibat kecerobohan ibunya yang terlalu senang. Terlebih lagi, dia sangat malu dengan Pinkan. Wanita itu terus-menerus menatapnya dengan tatapan mengejek
__ADS_1
"Dan kau, Vini! Ku harap, kau bisa menghapus kabar yang kau sebarkan di media sosial itu." tegur Anya
"Tapi, itu bukan aku mami. Aku juga tidak tahu perihal kabar itu. Mungkin saja, itu adalah ulah fans ku yang mengharapkan kami bersatu." ucapnya berusaha menyangkal dan menatap Rifqan seolah meminta pembelaan
"Jangan menyangkalnya! Aku sudah menyelidiki semuanya. Kau tidak bisa mengelak lagi! Kalau kau tetap tidak mau mengaku, aku mempunyai bukti-bukti yang kuat, dan akan menjebloskan mu ke penjara. Karena kau telah menyebarkan berita palsu dan melakukan pencemaran nama baik!" ancam Anya yang terlihat tak main-main
"Aku minta maaf. Aku mengaku salah, tapi aku melakukan itu semua karena rasa cintaku yang sangat besar, Mami! Ku mohon, mengertilah." pinta Vini dengan menangis
"Alasan apapun, tidak akan membenarkan kejahatan yang sudah kau lakukan. Aku tidak bisa memaklumi apa yang sudah kau lakukan." ujar Anya tegas
Pinkan hanya diam. Dia tidak berani menyela sedikit pun perseteruan orang dewasa itu. Baru kali ini dia melihat sikap Anya yang begitu tegas. Dari wajahnya, terlihat kalau dia memang bukan seseorang yang tolerir dan memaklumi
"Kami mohon maaf atas kesalahpahaman hari ini. Kami mohon undur diri." ucap tuan Andra yang wajahnya sudah memerah karena sangat malu akibat ulah anak dan istrinya
Tuan Faruq hanya berdehem dan mengangguk. Andra langsung menyeret keluarganya untuk segera pergi dan meninggalkan kediaman Faruq secepat mungkin. Dia tidak ingin, jika masih berlama-lama disitu, akan menimbulkan masalah yang lainnya yang akan membuat keluarga besar itu tersungging dengan mereka
"Pinkan, maafkan kami. Mungkin, gara-gara kabar burung yang dikatakan oleh Vini kemarin, membuat hubungan kalian menjadi renggang." Anya memegang tangan Pinkan yang tadinya masih termenung
"Hem. Memang sempat merenggang. Tapi, itu karena kesalahpahaman. Sekarang, semuanya sudah jelas. Jadi, bisa kembali seperti dulu lagi, kan?" sahut Rifqan sambil menatap Pinkan
"Yang mana?" tanya Anya bingung
"Tentang pertunangan kami." jawab Pinkan sambil menunjuk dirinya dan Rifqan
"Tentu saja benar. Kenapa, kamu tidak mau?" Anya bertanya balik karena dia melihat masih ada keraguan pada diri Pinkan
"Bukan. Mungkin, Rifqan belum mengatakan apapun. Aku akan mengatakannya sekarang," ucapnya dengan perlahan
Mereka semua terdiam, seolah menunggu apa yang ingin dikatakan wanita itu. Rifqan hanya diam. Dia tahu, apa yang ingin disampaikan oleh wanitanya
"Aku tahu, kalian sangat menyayangkan aku, begitu juga dengan Rifqan. Sampai, kalian merencanakan pertunanganku dengan-nya. Tapi, ayahku masih belum mengetahui kalau aku berpacaran dengan Rifqan. Bahkan, dia tidak menyetujui hubungan kami." ucapnya sambil tertunduk lesu
Anya mendengarkan setiap perkataan Pinkan. Kemudian, dia menepuk bahu Pinkan pelan dan memeluk wanita itu sebentar, lalu melepaskannya lagi
"Kami tahu itu, Xavier sudah menceritakan kejanggalan yang ditunjukkan ayahmu saat di rumah sakit. Maka dari itu, kami merencanakan pertunangan kalian, agar kalian tahu, bahwa kami mendukung hubungan kalian. Dan, untuk masalah ayahmu. Kami yakin, suatu saat dia pasti bisa menerima hubungan kalian." ucap Anya
Pinkan mendengar itu merasa tersentuh. Ternyata masih ada orang yang baik padanya dan mengerti tentang keadaannya. Dia kembali berhambur ke dalam pelukan Anya
__ADS_1
"Terima kasih, Mami." ucapnya yang masih dalam pelukan Anya
Rifqan merasakan senang. Akhirnya, hubungannya dan Pinkan bisa berjalan lebih baik lagi. Mereka berbincang-bincang sebentar. Lalu, hingga sudah hampir larut malam. Rifqan memutuskan untuk mengantarkan wanitanya untuk pulang
Dalam perjalanan, Pinkan menerima telepon dari Mr. Spy menelpon Pinkan. Pinkan mengerutkan kening, dia heran kenapa si detektif super cuek itu menelponnya malam-malam begini
"Ya, ada apa?" tanya Pinkan setelah menggeser icon hijau
"Aku menemukan sebuah bukti kejahatan Dharma. Salah satu kejahatan yang dia lakukan juga ada keterlibatan nya denganmu." ucap Mr. Spy
"Berhubungan denganku? Apa itu?" tanya Pinkan heran
"Besok saja aku jelaskan. Aku tidak sanggup menjelaskan sekarang. Besok, kita bertemu di cafe biasa. Aku akan menjelaskan sambil membawakan berkas-berkas bukti yang akan aku tunjukkan padamu."
"Jadi, untuk apa kamu meneleponku sekarang? Menganggu saja!" gerutu Pinkan
"Aku tahu, kamu sebenarnya penasaran, kan? ejek si detektif
"Banyak juga bicaramu malam ini." ucap Pinkan
"Aku menghubungimu malam ini karena harus segera membuat janji. Takut besok, kamu sudah banyak janji dengan orang lain." ucapnya
"Terserah kau saja." Pinkan langsung mematikan sambungan teleponnya
"Siapa? Kenapa lama sekali?" tanya Rifqan dengan masih fokus pada kemudinya
"Detektif yang aku sewa. Dia menemukan bukti baru." jawab Pinkan sekenanya
"Bukti apa? Kalau bukti yang dia temukan adalah foto porno pria sialan itu. Kau jangan melihatnya!" ucapnya dengan tatapan tajam
"Hahaha. Kenapa? Aku kan juga ingin menyegarkan mataku sesekali."
"Jika kau berani melihatnya. Aku akan mempraktekkannya denganmu." ancamnya
"Aku tidak mau!" tolak Pinkan sambil bergidik ngeri
"Kalau kau tidak mau. Maka jangan melihat hal-hal seperti itu lagi!" jawabnya ketus
__ADS_1