Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Pertengkaran


__ADS_3

Setelah mereka berbincang-bincang, datang lah nyonya Anya dan tuan Faruq beserta anak tampan nya yang tidak lain adalah Rifqan. Rifqan tampak sedingin es yang sudah beku beribu tahun


Dia hanya menatap diam Pinkan dan orang yang berada di ruangan itu, dia hanya duduk di sofa yang tersedia di situ sambil memainkan ponsel nya


"Permisi, kami akan memeriksa nona Pinkan terlebih dahulu." ucap dokter yang baru saja masuk dengan beberapa orang perawat


"Silahkan..." ucap Verel dengan datar


Dokter itu memeriksakan Pinkan dengan baik, dan sesekali dia terus menatap ke arah Rifqan dan tuan Faruq


Sepertinya nona Pinkan ini bukan orang biasa, lihat saja, dia mau keluar dari rumah sakit saja malah di jemput oleh orang-orang besar seperti mereka. Aku sangat iri, batin dokter wanita itu


"Kondisi nona sudah membaik, tapi jangan lupa untuk rawat jalan nya ya nona." ucap dokter itu dengan ramah


"Baik, terima kasih dok." balas Pinkan ramah


Setelah itu, dokter itu keluar dan ada dua orang perawat kembali masuk sambil membawakan beberapa jenis obat dan sebuah kursi roda untuk Pinkan


"Ah, aku jalan sendiri saja." ucap Pinkan yang malas duduk di kursi roda


"Maaf nona, anda belum boleh terlalu sering bergerak. Jadi, lebih baik menggunakan kursi roda untuk sementara waktu." jawab perawat itu ramah


"Tapi kan, aku bisa jalan sendiri. Aku sudah lebih baik." bantah Pinkan


"Sudahlah Pinkan, turuti saja apa yang di katakan oleh mereka. Itu semua kan juga untuk kebaikan mu sendiri." sanggah Kiara


Pinkan terlihat mendengus mendengar perkataan Kiara, dia merasa kenapa tidak ada yang membela nya dan dia memelototi Kiara seakan berbicara 'Kenapa tidak membelaku'


Rifqan yang hanya memperhatikan hal di depan nya hanya menautkan alisnya saja. Dia bangkit dari duduk nya dan langsung membopong Pinkan untuk mendudukkan wanita itu di atas kursi roda


"Ah, apa-apaan ini? Turunkan aku!" teriak Pinkan


"Apa-apaan kau ini? Sembarangan saja menyentuh wanita." celoteh Pinkan


Ssstt


Rifqan meletakkan jari telunjuk nya di permukaan bibir Pinkan, seolah menyuruh nya diam dan hanya menurut saja


Perlakuan itu membuat Pinkan begitu malu, dia langsung menepis tangan pria yang sekarang sedang membuat jantung nya berdetak tidak karuan


"Apa kau tidak malu dilihat oleh banyak orang? Terutama orang tuamu!" bisik Pinkan dengan merapatkan giginya


"Untuk apa aku malu? Aku sedang memperlakukan calon istriku dengan sewajarnya." balas Rifqan dengan sengaja


Pinkan langsung menolak dada Rifqan, pipi nya sudah sangat memerah seperti tomat. Dia memperhatikan sekitarnya, terlihat orang-orang sekitarnya sedang menahan tawa. Jangan ditanya lagi malunya, rasanya ia ingin sekali masuk ke dasar bumi sekarang


Rifqan hanya tersenyum melihat rona Pinkan yang terlihat malu,dia sengaja melakukan itu untuk melihat ekspresi Pinkan

__ADS_1


"Jadi, bagaimana? Apakah kamu mau tinggal di rumah kami?" tanya Anya


"Maaf mami, aku sementara akan tinggal di rumah Kiara. Nanti, pasti akan sering berkunjung ke rumah mami." jawab Pinkan dengan sungkan


"Iya, karena Pinkan sedang kuliah pada tahap akhir mi, harus mulai menyusun skripsi. Jika, dikerjakan bersama pasti akan lebih bersemangat." Kiara menambahkan


"Mami mengerti, tapi nanti setelah selesai itu semua, mami akan menjemput kamu untuk tinggal di rumah kami." ucap Anya sambil menepuk pundak Pinkan lembut


"Ah? Baiklah." jawab Pinkan sekenanya karena terkejut mendengar penuturan Anya


Pinkan sempat melirik ke arah Rifqan, dia melihat Rifqan sedang menahan tawa nya akibat perkataan ibu nya yang menurutnya sangat mengerti kemauan dirinya


Sedangkan, tuan Faruq hanya diam tak bergeming dan tak menunjukkan ekspresi apapun. Hal itu, membuat Pinkan tambah berpikir yang tidak-tidak


"Yasudah, ayo kita pulang. Semakin cepat sampai di rumah, akan semakin cepat beristirahat." ucap tuan Faruq


"Biar aku yang mendorong nya!" titah Rifqan


"Biar Verel saja yang membantuku, kamu kembali saja ke kantor." seru Pinkan


Tanpa mendengar permintaan wanita yang sekarang sedang duduk di kursi roda, Rifqan langsung mendorong kursi roda yang di duduki Pinkan dengan santai sambil memancarkan aura wajah nya yang tersenyum


"Aku mau Verel yang mendorongku, bukan kamu!" ucap Pinkan dengan jengkel


"Diam! Kenapa kau sangat keras kepala sekali? Kepala mu terbuat dari batu ya?" balas Rifqan tanpa melihat lawan bicaranya


"Terserah! Aku hanya tidak ingin berdekatan dengan pria yang menjadi incaran para wanita di luar sana, dan nantinya aku yang akan celaka." alibi Pinkan


"Kau?! Sangat menyebalkan!" ucap Pinkan kemudian mengerucutkan bibirnya, dia langsung diam karena takut dengan ancaman pria itu


Mereka sampai di parkiran, Tapi Pinkan masih belum membuka suaranya. Dia benar-benar takut dengan ancaman pria itu, seperti terkahir kali, ancaman seperti itu benar-benar dilakukan


Bukan menunggu Kiara datang, Rifqan malah langsung membopong Pinkan masuk ke dalam mobil nya. Tidak lupa, dia juga memasukkan kursi roda milik Pinkan ke bagasi mobil nya


"Aku pulang ke rumah Kiara, bukan ke rumah mu! Untuk apa kau memasukkan ku ke mobil mu? Turunkan aku sekarang!" ucap Pinkan


"Kenapa kau cerewet sekali? Duduk saja, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu."


"Turunkan aku, atau aku akan berteriak?!" ancam Pinkan


"Teriak saja sampai pita suaramu putus. Aku ingin lihat, pria mana yang berbaik hati menolong mu? Jika ada yang berani, aku akan mengirimkan foto mayat nya yang tragis itu padamu!" ancam Rifqan kembali sambil menyeringai


Pinkan langsung kikuk. Jujur saja, nyali nya langsung menciut usai mendengar perkataan mengerikan yang keluar dari mulut Rifqan


"Mulut dan wajahmu sangat tidak sesuai. Wajah tampan, tapi mulut sangat pedas dan mengerikan." sindir Pinkan


"Terima kasih atas pujian nya. Tapi, aku tidak butuh pujian darimu." jawab Rifqan sambil tertawa sinis

__ADS_1


"Kau ini sudah menjadi pengangguran ya? Kenapa kau tidak sibuk seperti presdir-presdir lain yang seperti di Drakor itu?" ejek Pinkan


"Cih, bawahan ku banyak. Rugi saja aku menggaji mereka kalau aku sendiri juga bekerja terlalu banyak."


Tahan Pinkan, kau tidak akan menang berdebat dengan pria licik ini, yang ada darah tinggi mu akan naik dan membuat mu wafat di usia muda, batin Pinkan sambil menahan emosi nya yang akan meledak


"Cepatlah, kemudikan mobilmu dengan cepat. aku ingin segera istirahat untuk mengumpulkan energi ku untuk nanti malam, pacarku akan datang mengunjungi ku." ucap Pinkan kemudian merebahkan tubuhnya


CITT


Rifqan menginjak rem mobil nya dengan tiba-tiba sampai mengeluarkan suara yang tajam


"Apa yang kau katakan tadi?! Ulangi sekali lagi!" tanya Rifqan dengan wajahnya yang sudah memerah


"Pacarku akan datang kerumah nanti malam!" jawab Pinkan sambil memejamkan matanya. Tapi, saat dia membuka matanya, dia sangat terkejut melihat ekspresi yang di perlihatkan Rifqan


"Kau berani? Pria mana yang mendekatimu? Aku tidak mengizinkannya!" ucap Rifqan meninggikan suara nya


"Tidak mengizinkan? Memangnya siapa dirimu? Aku berhak dekat dengan pria mana pun yang aku mau." jawab Pinkan tak kalah sengit


"Pria mana pun? Kau lupa dengan kontrak kita? Kau masih pacarku sampai sekarang."


"Kau sudah lupa kah? Aku sudah membatalkan kontrak itu. Dan satu hal lagi, aku pernah bilang padamu, aku tidak ingin lagi bertemu dengan mu!" tegas Pinkan


Jangan menangis Pinkan, kau harus kuat dan tegar untuk melepaskan pria ini, batin Pinkan


Pinkan berulang kali menengadahkan wajah nya ke atas agar air matanya tidak bisa mengalir. Dia takut terlihat rapuh untuk saat ini


"Jadi, jika kau berkata ingin membatalkan, maka kontrak itu bisa langsung batal hanya karena kata-kata yang keluar dari mulutmu?" tanya Rifqan yang semakin marah. Rasanya, sudah ada asap yang keluar dari telinga nya


"Tentu saja, aku ingin membatalkan kontrak itu!" tegas Pinkan sekali lagi


"Tidak. Tanpa seizin ku. Tidak ada yang bisa membatalkannya, termasuk dirimu!" seru Rifqan tak kalah tegas


"Apa mau mu? Dan apa salah ku di kehidupan lalu hingga bisa bertemu dengan pria seperti dirimu. Aku sangat menyesal mau membantumu bersandiwara."


"Seharusnya, kau mengerti kemauanku. Apakah kau tidak mempunyai sedikit pun rasa suka padaku?" tanya Rifqan dengan serius


Rasa suka? Bahkan rasa ku sudah sampai ke tahap mencintai. Tapi, aku bisa apa. Kita bagaikan air dan minyak, tidak akan pernah bersatu, batin Pinkan sendu


"Tidak. Aku sudah punya pacar! Jangan mempersulit ku, aku sangat mencintai nya. Jadi, tolong hargai pilihanku." tegas Pinkan menyangkal semua rasa cintanya


"Mulai sekarang, jangan temui aku lagi.... Umm... Lepaskan!"


Rifqan langsung ******* bibir Pinkan, dia menyesap bibir itu dengan sangat menuntut. Dia menjelajahi setiap rongga mulut Pinkan tanpa ada yang terlewatkan


Pinkan menolak tubuh Rifqan dengan sekuat tenaga, Tapi Rifqan malah menarik tengkuk wanita itu dengan kuat seakan dirinya sedang kehilangan kendali. Dia baru melepaskannya saat dirasa Pinkan sudah mulai kehabisan nafas

__ADS_1


"Ingat perkataan ku, jangan pernah bermimpi untuk pergi menjauh dariku. Satu jengkal kau melangkah, aku akan kembali menarik mu dalam genggaman ku. Aku akan mencari mu ke inti bumi sekalipun!" Rifqan memberi peringatan keras pada Pinkan


Setelah mengatakan itu, Rifqan kembali mengendarai mobil nya dengan kencang


__ADS_2