Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Walinya Atau Pacarnya


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya seorang dosen killer wanita yang kebetulan sedang lewat. Dia sempat melihat pertengkaran itu. Dia menurunkan kacamata nya dan menatap Pinkan dari atas ke bawah


"Bu, dia menamparku. Lihat! Pipi ku sampai membengkak seperti ini." ucap Erika yang sudah menangis tersedu-sedu. Dia langsung berlindung di belakang dosen itu dan menunjukkan pipinya yang lebam


"Kalian, ikut saya. Yang lain, bubar!" ucapnya setengah berteriak


Pinkan terpaksa ikut dengan dosen itu dan Erika juga teman-temannya. Mereka ikut masuk ke dalam kantor dosen itu dengan tangan yang dilipat di dadanya dan tersenyum penuh makna. Sedangkan Pinkan, wajahnya hanya datar tak menunjukkan ekspresi apapun


"Kamu? Kenapa kamu menampar temanmu hingga wajahnya tidak menyerupai manusia lagi?" tanya dosen itu dengan sorot mata tajamnya


"Aku hanya memukul orang yang patut dipukul!" jawab Pinkan santai


"Apa maksudmu? Kau berpikir bahwa kau seorang anak haram ini pantas untuk memukul orang, sudah menjadi jagoan kamu?"


"Tidak. Apakan ibu tidak bertanya kenapa aku memukul nya dan langsung menudingku sok jagoan? Ckck." ucap Pinkan kesal


"Untuk apa bertanya, sudah jelas karena kamu memang merasa sok hebat makanya berani memukul orang." sindir Silvy


"Diam! Aku tidak butuh pendapatmu." ucap Pinkan dengan sengit


"Masih ada aku di sini, kamu tidak menghormati ku sedikitpun. Kenapa? Kamu tidak terima? Hubungi walimu sekarang juga! Aku ingin lihat, anak brutal seperti mu, siapa yang akan berani datang untuk menjadi walimu."


TOKK TOKK TOKK


"Masuk!" ucap dosen itu


Seketika pintu terbuka dan terlihat lah wajah Verel yang cemas, dia langsung menghampiri kakaknya dan berdiri di samping kakaknya. Saat pintu terbuka, Silvy langsung tersenyum senang karena memperlihatkan wajah pria yang selama ini ia taksir. Tapi, saat Verel menghampiri Pinkan, wajah nya langsung berubah masam


"Kak, kenapa kamu bisa di sini? Apa yang mereka lakukan kepadamu?" tanya Verel sambil melirik Erika dan kawan-kawan


"Hey, apa maksudmu? Kakakmu lah yang sudah menamparku hingga wajahku seperti ini. Kau malah mencurigai kami yang sudah melukai kakakmu?" tanya Erika geram


"Ya, kami juga tidak mengerti kenapa kakakmu memperlakukan kami begitu kasar." ucap Silvy dengan wajah sedihnya yang dibuat-buat


"Diam! Aku tidak berbicara denganmu! Lebih baik kau diam dari pada aku semakin membencimu." tegas Verel dan menatap Silvy dengan tajam


"Sudah. Pinkan, segera panggil walimu sekarang. Aku tidak punya waktu untuk menunggu terlalu lama." ujar dosen itu sambil melihat sebuah buku

__ADS_1


"Kak, biarkan aku saja yang menghubungi walimu. Berikan aku ponselmu." ucap Verel sambil menengadahkan tangannya


Pinkan tanpa berpikir panjang langsung memberikan ponselnya. Dia sudah malas untuk berdebat atau hanya sekedar mengeluarkan suara di situ. Dia ingin segera keluar dari ruangan yang begitu membuatnya muak itu


"Aku tidak bisa menghubungi ayah. Kalau aku menghubungi ayah, jika ibu tahu, pasti dia akan menghasut dan membuat ayah marah pada kakak. Aku tahu harus menghubungi siapa." gumam Verel di luar ruangan


DRRT DRRT DRRT


Ponsel Rifqan yang sedang di alihkan menjadi mode getar menggetarkan meja, peserta rapat yang hadir langsung mengalihkan pandangannya pada ponsel yang menganggu berjalannya rapat mereka


Saat melihat nama yang tertera, Patra langsung tersenyum samar. Dia tahu, rapat ini akan segera berakhir. Rifqan langsung mengangkat tanganya seolah memberikan isyarat pada mereka semua untuk diam. Wajahnya yang datar, kaku, dan dingin pun langsung berubah menjadi sumringah dan penuh senyuman saat mengangkat panggilan itu


"Halo?" ucapnya penuh kelembutan


"Halo, kak Rifqan? Apakah kau sedang sibuk?"


"Kenapa kau? Kemana Pinkan?" tanya Rifqan yang kembali menunjukkan wajah datarnya


"Kak Rifqan sedang dalam masalah, dan dia diminta untuk mendatangkan walinya." ucap. Verel menjelaskan


"Jadi, kau mau aku datang untuk menjadi wali Pinkan?"


"Aku sedang senggang. Tidak ada kerjaan." ucap Rifqan dengan santainya. Sontak, semua orang yang menghadiri rapat itu melotot tak percaya ke arah pemimpin mereka yang terkenal gila dalam pekerjaan


"Baiklah, kami menunggumu. Jangan terlalu lama, kak Pinkan sudah dimarahi habis-habisan." Verel mengompori


Dimarahi? Siapa yang berani memarahi wanitaku. Bersiaplah!


Setelah memutuskan sambungan telponnya yang sempat menganggu jalannya rapat, Rifqan langsung berdiri dan mengatakan hal yang tidak bisa di percaya oleh para pegawainya


"Rapat ditunda, aku ada kepentingan yang lebih penting sekarang!" ucapnya seenaknya kemudian berlalu pergi, Rifqan menuju parkiran. Dia meminta supir kantor untuk mengantarnya


Supir yang sedang memakan cemilannya itu pun terkejut dan merasa senang. Pasalnya, dia tidak pernah mengantar atasannya itu, dan hari itu dia bisa berkomunikasi langsung dengan atasannya yang paling ingin ia temui secara langsung


"Ke alamat yang sudah ku kirimkan, kamu hanya mempunyai waktu 10 menit saja!"


"Sepuluh menit? Anda tidak salah, untuk sampai ke alamat tersebut setidaknya membutuhkan waktu 30 menit, tuan!" jawab supir itu spontan

__ADS_1


"Kenapa? Kau tidak sanggup untuk menuruti kemauanku? Jika tidak sanggup, kau bisa ambil gajimu di HRD sekarang!"


"Tidak, maafkan saya tuan. Saya usahakan sampai kesana dalam waktu 10 menit."


"Jangan usaha, tapi memang harus. Cepat jalan! Aku ada urusan mendesak." titahnya yang terdengar kejam di telinga sang supir


Atas perintah atasannya. Supir itu seperti sudah di sulap mendadak menjadi pembalap handal yang tak takut mati. Dia menerobos lampu merah yang untungnya tak terlalu ramai. Jangan ditiru ya teman-teman!


Untung saja, tepat waktu sepuluh menit, mereka sampai di parkiran kampus itu. Rifqan langsung turun dan mencari kantor yang sudah diberitahu oleh Verel melalui pesan


Saat pintu terbuka. Semua orang menatap ke arah pintu. "Kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, dasar tidak tahu sopan santun!" makin sang dosen


Dia berani berkata begitu, karena dia meyakini bahwa wali yang akan datang untuk Pinkan bukanlah orang tua Pinkan. Tepat setelah dia mengatakan itu, dosen wanita itu terperangah melihat sosok pria dalam balutan jas hitam yang sangat rapi dan terlihat gagah


"Anda mencari siapa, tuan?" tanya dosen itu yang tak mengedipkan matanya


"Aku wali Pinkan Cleotra!" ucap Rifqan dengan wajah datarnya


Saat Rifqan mendapati Pinkan yang sedang berdiri di sudut, dia tersenyum sumringah dan menghampiri Pinkan


"Sayang, kenapa kau berdiri?" tanya Rifqan sambil mengelus pipi Pinkan


"Aku tidak suka duduk bersama para Anji**." jawab Pinkan


Walinya atau pacarnya? batin semua orang dalam ruangan itu kecuali Verel dan tentunya Pinkan


"Ada apa, kenapa kau sampai ingin memanggil wali Pinkan?" tanya Rifqan tanpa basa-basi, dia duduk tepat dihadapan dosen wanita yang tampak killer tapi juga terlihat genit


"Dia sudah memukul temannya, tuan. Aku merasa hal ini tidak dibenarkan. Jadi, aku memanggil walinya agar walinya mengetahui kelakuannya." jelas dosen itu


"Siapa? Dimana orang yang dipukul olehnya?"


"Aku tuan, lihatlah ini! Dia memukul ku hingga seperti ini, bukankah ini sangat keterlaluan?" ucap Erika dengan suara centilnya, awalnya dia duduk di belakang. Namun, saat Rifqan mengatakan itu, dia maju seolah ingin menunjukkan semua luka yang diukir oleh Pinkan


"Oh, ini belum seberapa. Aku bisa memanggil beberapa tukang pukul untuk membuat luka yang lebih parah di wajahmu yang tidak seberapa itu." ucap Rifqan tampak meremehkan


Pinkan yang mendengar itu berusaha menahan tawanya. Dia tidak menyangka, Rifqan yang selama ini bersikap lembut padanya akan mengeluarkan kata-kata yang begitu menyakitkan hati orang lain

__ADS_1


"Hanya begini saja, kau sudah memanggil wali Pinkan? Ini belum cukup untuk bisa memanggil wali muridmu. Apakah kau sedang pilih kasih?" tanya Rifqan dengan suara mengejek


__ADS_2