Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Sadar


__ADS_3

Hingga waktu menjelang pagi, tidak ada pergerakan apa pun yang di rasakan dari Pinkan. Rifqan masih saja tertidur dalam keadaan duduk, hingga dia dibangunkan oleh seorang suster yang hendak akan mengecek perkembangan tubuh Pinkan


"Tuan.... bangun!"


Rifqan langsung terbangun dan mencoba meluruskan punggung nya yang terasa mungkin sudah patah saat ini


"Ah, ternyata sudah pagi. Apakah, ada pergerakan dari nya?" tanya Rifqan sambil mengerutkan alis nya


Bukan nya menjawab, perawat tersebut malah terpanah dengan ketampanan Rifqan yang ia lihat


Tampan nya, baru bangun tidur begitu saja bisa membuat hatiku jedag-jedug. Seandainya, aku setiap hari terbangun di samping nya, pasti sangat membahagiakan, batin perawat tersebut


"Hei, kau tidak mau bekerja lagi ya?" teriak Rifqan


"Maaf tuan, aku melamun karena anda sangat tampan." jujur perawat itu malu-malu


"Apa? Aku menanyakan keadaan pasien, dan kau malah menilai penampilan seorang pria?" ucap Rifqan


"Ma... maaf tuan, aku?!"


"Satpam!" teriak Rifqan yang langsung memotong ucapan suster itu


"Ada apa tuan?" ucap satpam itu dengan gelagapan


"Seret wanita ini keluar, sekarang!"


"Tapi, dia perawat di rumah sakit ini, tuan."


"Sekarang bukan! Tunggu apa lagi? Apa, kau juga ingin di pecat seperti wanita ini?"


"Baik tuan."


Rifqan langsung menekan tombol yang berada di atas ranjang untuk memanggil dokter


"Ya, tuan?"


"Periksakan pacarku! Bila, ada sesuatu sedikit saja yang salah. Maka, kalian yang akan menanggung nya!" ucap Rifqan


Setelah mendengar perkataan tuan muda di hadapan mereka. Sontak saja, dokter dan beberapa orang perawat itu langsung mengeluarkan peluh sebesar jagung, ruangan yang ber-AC pun masih terasa panas oleh mereka


Mereka langsung memeriksa pasien yang mereka anggap status nya sebagai pacar tuan muda angkuh itu. Tidak ada satu pun yang terlewatkan oleh mereka, karena mereka tahu siapa yang sudah mengancam mereka barusan


"Sudah tuan. Kami permisi dulu." ucap dokter itu dengan menunduk


"Tunggu!"


"Ada yang bisa saya bantu lagi, tuan?" tanya salah satu perawat itu dengan menelan Saliva nya


"Katamu, dia akan segera sadar. Tapi, kenapa sampai sekarang dia belum juga sadar?" tanya Rifqan dengan serius


"Maaf tuan, kita hanya bisa menunggu sampai pasien memiliki keinginan nya sendiri untuk segera sadar. Kita, hanya bisa berdoa." jawab dokter itu ragu-ragu karena takut salah berkata


Posesif sekali tuan muda ini, aku mana tahu kapan pacar nya akan sadar, batin dokter itu


"Sudah keluarlah." ucap nya dan mereka langsung kocar-kacir dari ruangan itu

__ADS_1


Tak lama, datang lah Verel bersamaan dengan Patra dan Kiara. Mereka, langsung masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu


"Sepertinya, tuan muda ini sungguh sangat gelisah." ejek Patra


"Kakak ku belum juga sadar?" tanya Verel dan langsung menuju ke ranjang kakak nya


Rifqan duduk di sofa yang berada di dalam ruangan itu, Patra juga menyusul duduk bersama sahabat sekaligus atasannya itu


Kiara duduk di samping Pinkan, dia menggenggam tangan sahabat nya itu sambil meneteskan air mata. Sedangkan, Verel berdiri di sisi ranjang Pinkan dan lama dia memperhatikan kakak nya itu


"Pinkan... ku mohon sadarlah, kau tidak mungkin akan mati kedua kali nya dan akan meninggalkan aku lagi kan? Tolong, bukalah matamu dan kau harus melanjutkan balas dendam mu yang masih belum selesai." ucap Kiara sambil sesekali terisak


Perkataan Kiara ternyata menyita perhatian ketiga pria tampan yang berada dalam ruangan tersebut. Mereka sama-sama menoleh ke arah Kiara dan mengerutkan keningnya


Mati kedua kali? Balas dendam yang belum selesai? Apa maksud perkataan nya itu, batin ketiga pria itu


Tidak lama, tangan Pinkan sedikit bergerak. Kiara yang merasakan hal itu langsung berdiri dan berbicara dengan histeris


"Tolong panggilkan dokter, Pinkan sudah sadar."


Rifqan langsung berdiri dan kembali menekan tombol yang tadi sempat dia gunakan untuk memanggil dokter dan perawat


Dokter dan beberapa perawat yang merasa mendapatkan panggilan dari ruangan tuan muda itu pun langsung berlari tunggang langgang ke arah kamar VVIP yang di tempati Pinkan


"Pasien sudah sadar, cepat periksa!" ucap Kiara


Dokter itu memeriksa keadaan Pinkan secara menyeluruh, tanpa ada yang terlewatkan dan takut ada kesalahan sekecil apapun. Reflek, Kiara dan yang lainnya mundur untuk memberikan ruang pada dokter agar lebih leluasa memeriksa pasien mereka


"Keadaan nona Pinkan baik-baik saja, hanya perlu istirahat beberapa hari lagi dan sudah boleh pulang. Hanya saja, jahitan bekas pasca operasi tetap harus di rawat dengan baik, pemulihan bisa dilakukan dengan rawat jalan." jelas dokter itu


"Terima kasih dok." ucap Pinkan dengan pelan


"Jangan terlalu banyak tersenyum dengan pacar orang, atau kau nanti tidak akan bisa tersenyum lagi kedepannya!" ucap Rifqan dengan menatap ke arah lain


Orang yang mendengar itu ingin tertawa. Namun, berbeda hal nya dengan dokter itu, dia malah mengeluarkan keringat dingin dan membungkukkan badan nya dan langsung melenggang pergi dari sana


"Apakah ada yang kau butuhkan?" tanya Kiara


"Haus.." ucap Pinkan pelan


"Apakah kakak ingin makan buah? Ingin makan nasi, atau ingin minum jus?" tanya Verel tanpa jeda


"Kakak mu belum terlalu baik. Jangan menanyakan yang tidak perlu." tegur Kiara


"Maaf... aku hanya mengkhawatir kan nya."


"Kau pulang lah dulu, biarkan kami yang bergantian menjaga Pinkan. Kau sudah semalaman disini, pulang lah dan istirahat." ucap Patra


"Tidak, aku sudah istirahat dan aku sudah tidur."


"Tapi tidur mu tidak nyenyak, kau juga belum makan kan? Kau harus mengisi tenaga mu untuk bisa kembali menjaga wanita mu!" balas Patra lagi


"Tidak masalah, nanti aku akan meminta orang mengantarkan makanan untuk ku."


"Tapi kan..."

__ADS_1


"Sudahlah kia. Dia ini sungguh sangat keras kepala, jangan mengingatkan nya lagi atau kau akan kesal." sanggah Patra memotong perkataan Kiara


Dia menjaga ku semalaman disini? Apakah itu benar, rasanya aku tidak bisa percaya, batin Pinkan


Pinkan terus menatap ke arah Rifqan. Dan tak sengaja, pandangan mata mereka bertemu. Tapi, Pinkan lebih dulu memutuskan pandangan mereka dengan melihat ke arah lain


Kenapa sepertinya dia enggan sekali menatapku, apakah dia sudah tidak ingin melihat ku, batin Rifqan


"Aku akan pulang." ucap Rifqan tiba-tiba


"Baiklah, biar aku yang menjaga Pinkan." ucap Kiara


Rifqan langsung keluar, dan hal itu juga dilihat oleh Pinkan. Pikiran Pinkan kembali berkecamuk dan hati nya juga ikut bergemuruh.


Mereka kembali dilanda salah paham akibat kurang komunikasi yang baik


Kenapa dia pergi, sebentar berkata ingin menjaga ku tapi sedetik kemudian malah ingin pergi. Dasar lelaki! batin Pinkan


"Yasudah, aku juga harus pergi. Jaga dirimu kak, lekas sembuh." ucap Verel dan berlalu pergi


"Aku juga harus pergi bekerja, karena harus mencari uang agar bisa membelikan mu berlian." ucap Patra pada Kiara


Kiara yang mendengar itu hanya tersipu malu. "Baiklah, bekerja lah dengan giat."


Setelah semua pergi, tinggallah Pinkan dan Kiara berdua di dalam ruangan itu. Kiara berulang kali meminta Pinkan untuk beristirahat. Tapi, sahabat nya itu enggan untuk tidur dengan alasan dia baru saja siuman


"Siapa yang membawa ku kerumah sakit?" tanya Pinkan


"Siapa lagi? Jika, bukan tuan muda mu itu!" jawab Kiara


"Benarkah?" tanya Pinkan tak percaya


"Tentu saja, untuk apa aku berbohong."


Pinkan hanya diam saja. Dia kembali mengingat saat dia memeluk Rifqan karena ingin menghadang tembakan pistol yang seharusnya di bidikan ke arah Rifqan


"Kau juga sempat kekurangan darah, dan Verel yang mendonorkan darah untuk mu." seru Kiara


"Ah, benarkah? Itu tidak mungkin!" bantah Pinkan


"Awalnya, aku juga berpikir demikian. Tapi, aku ingat tidak ada orang lain yang bisa mendonorkan darah nya untuk mu. Dan, aku juga sempat berpikir kalau adikmu itu tidak akan datang."


"Ternyata dia benar-benar berubah untuk menjadi lebih baik." ucap Pinkan


"Bukan kah lebih baik jika begitu. Tapi, untuk apa kamu menghadang tembakan itu? Jelas-jelas itu sangat berbahaya dan bisa membuat nyawa mu melayang." ketus Kiara


"Entahlah, tanpa berpikir panjang aku hanya ingin menyelamatkan nya." jawab Pinkan sendu


"Itu semua ada alasannya! Tentu saja, itu karena kau mencintainya."


"Bukan! Itu hanya karena naluri ku sebagai sesama manusia saja." bantah Pinkan


"Karena kau mencintainya, kamu tidak ingin dia terluka. Jadi, kamu menyelamatkan nya." ejek. Kiara


"Jangan sok tahu. Hatiku hanya aku yang tahu, bukan kamu." ucap Pinkan dan dia langsung masuk ke dalam selimut

__ADS_1


Sebenarnya memang karena aku mencintainya dan tak ingin dia terluka. Tapi, aku hanya bisa memberikan pengorbanan seperti ini untuknya, tidak bisa memberikan lebih. Karena, terlalu tinggi pembatas dan terlalu banyak perbedaan diantara kami, batin Pinkan dengan sendu dan meneteskan air mata nya


Kiara yang mengira Pinkan sudah tertidur, dia pun meluruskan tubuh nya di sofa yang terdapat di ruangan itu dan tak lama dia juga terlelap


__ADS_2