Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Wajah Dibalik Foto Buram


__ADS_3

Pinkan yang mendengar suara orang yang dikenalnya pun langsung berbalik dan mengembuskan nafas kasar


"Oh nona Vini! Apakah ada yang bisa aku bantu?" Pinkan memasang senyum terpaksa


"Tidak usah sok tersenyum padaku. Terlihat jelas itu adalah senyum yang kau paksakan." ketus Vini


"Oh, baguslah jika kamu mengetahuinya. Jadi, bibir ku tidak menjadi kaku karena harus terus memaksakan senyum untukmu."


"Kau! Ada kepentingan apa kau datang kemari?";


"Aku rasa, urusan pribadiku dengan calon suamiku belum berhak untuk anda mengetahuinya." sindir Pinkan


"Ayo, antar kan aku ke ruangan tuan Rifqan, sekarang!" seru Pinkan pada resepsionis


"Baik nona, mari ikuti saya."


Pinkan dan seorang yang bekerja di resepsionis langsung masuk ke dalam lift, saat pintu lift hampir tertutup, Pinkan sengaja melambaikan tangannya sambil menjulurkan lidahnya tanda kemenangan pada Vini


Vini yang melihat itu merasa hatinya panas. Dia mengepalkan tangannya dan di dalam hatinya dia sedang menabuh genderang perang pada wanita itu


"Lihat saja kau Pinkan, aku tidak akan menerima kekalahan dengan mudah."


Vini juga masuk ke dalam lift dan akan menemui Pinkan, dia tidak terima jika wanita itu harus berdua-duaan dengan pria yang di cintainya


"Dimana dia, Patra?" tanya Rifqan melalui telepon dengan tidak sabaran


"Tadi kakak ipar sedang menelpon seseorang. Jadi, dia menyuruhku untuk naik terlebih dahulu dan dia akan menyusul." jelas Patra


TOK TOK TOK


Setelah mendengar ketukan pintu, Rifqan langsung menutup teleponnya tanpa mengatakan hal lain


"Masuk!" ucapnya


Setelah pintu dibuka, terlihat Pinkan yang menyembulkan kepalanya mencoba mencari keberadaan orang yang berada di dalam


"Masuk saja, untuk apa kau berlagak seperti pencuri?"


"Aku hanya ingin melihat situasi, aku pikir di sini sedang ada acara keluarga."


"Pinkan, ayo, sini duduk di samping mami."


"Mami juga ada di sini? Aku pikir hanya ada Rifqan tadi. Aduh, maaf ya mi, aku tidak melihat." jelasnya dan langsung duduk di samping Anya


"Ya. Tadi nya, mami ingin mengajak dia makan siang bersama. Tapi, kata anak itu, kamu akan memasak untuknya dan kalian akan makan bersama. Boleh kan mami ikut mencicipi masakan calon menantu mami?" tanya Anya


"Tentu saja, aku sangat senang kalau mami bisa menemani kami di sini."


Sangat baik, kalau tidak dia pasti akan berbuat yang macam-macam, batin Pinkan dan menatap tajam ke arah Rifqan


"Pinkan!" teriak orang yang tiba-tiba masuk


"Ada apa, nona Vini?" tanya Pinkan sambil menahan tawanya


"Kau? Apa yang kau lakukan di sini?"


"Dia sedang menyiapkan makanan untuk calon suaminya, kenapa, Vini?" tanya Anya


"Ah, mami? Ternyata mami juga ada di sini, bolehkah aku bergabung?" tanya Vini dengan senyum merekah


"Maaf nona Vini, tapi aku menyiapkan makanannya hanya cukup untuk tiga orang. Kalau begitu, biar aku saja yang makan di luar." ucap Pinkan sengaja


"Tidak perlu, biar dia saja yang makan di luar. Orang luar juga tidak perlu bergabung bersama kita." tegas Rifqan

__ADS_1


"Rifqan, kenapa kamu seperti itu? Bukankah sejak dulu kita selalu makan bersama? Bahkan, mami juga mengetahui itu." ucap Vini dengan sengaja, dia ingin Pinkan tahu bahwa dialah orang luar


"Begitu kah? Mami, aku makan di luar saja, ya? Aku tidak ingin momen kalian dirusak oleh orang luar sepertiku ini." ucap Pinkan dengan sendu


Sial! Pandai sekali dia berakting. Sebenarnya, dia atau aku sih yang aktris, memang dasar anak haram bermuka dua, batin Vini dengan kesal


"Vini! Keluarlah, lain kali kita nanti akan makan malam keluarga bersama." tegas Anya


"Baik mami, maaf karena aku sudah menganggu."


Akhirnya aku juga yang memenangkan pertarungan ini kan. Tapi, mereka sering makan bersama? Tunggu saja kau Rifqan!


Vini menghentak-hentakkan kakinya saat dia sudah berada di luar. Dia harus menurut jika Anya sudah angkat bicara. Karena, dia tidak ingin citra nya di depan Anya menjadi buruk


"Setidaknya, kami akan makan malam keluarga bersama. Dan mungkin, akan membahas masalah pernikahan. Di saat itu, kau akan kalah Pinkan! Kau akan menangis tersedu-sedu melihat aku dan Rifqan bersanding!" ucapnya dan mengepalkan tangannya


Sedangkan, orang-orang yang berada di dalam ruangan CEO, sedang tertawa bahagia dan saling bercanda. Sepanjang waktu saat mereka makan, tidak henti-hentinya mulut Anya memuji masakan Pinkan


Tapi, tidak dengan Rifqan. Dia hanya mengeluarkan kata lumayan tapi dialah yang paling banyak makan


"Mami, aku harus segera pulang sekarang. Aku ada keperluan mendadak yang harus aku lakukan sekarang." Pinkan mencoba undur diri


"Hem, Kalau begitu, Rifqan saja yang mengantar kamu. Mami juga sudah harus pulang sekarang."


"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri mam, mungkin Rifqan masih banyak pekerjaan yang harus di urus." tolak Pinkan


"Kalau mami sudah berkata begitu, aku akan segera melaksanakannya. Aku takut menjadi anak durhaka." potong Rifqan dan langsung menarik tangan wanitanya


Apa hubungannya mengantarku dengan menjadi anak durhaka. Memang, laki-laki tidak masuk akal


"Kau mau pergi kemana?" tanya Rifqan setalah dalam mobil


"Aku akan pulang ke keluarga Cleotra sebentar." jawabnya malas


"Sepertinya kau sudah tahu terlalu banyak tentang ku, ya? Apakah kau sesenggang itu?" sarkas wanita itu


"Tidak, hanya menebak-nebak saja. Kapan kau akan kembali mengunjungi ayah mu?"


"Kapan kau bisa mengantarkan aku?"


"Aku selalu meluangkan waktuku untukmu, kau tinggal menyebutkan nya saja."


"Bagaimana jika besok malam? Tapi, adikku ingin ikut denganku."


"Tentu saja, dan dia bisa naik mobil lain." seru Rifqan


"Jangan keterlaluan, jika kau tidak bersedia, aku bisa pergi berdua dengan adikku."


"Baiklah, kita pergi bersama."


"Di sini saja, aku akan berjalan untuk menuju rumahku."


"Tapi, kita masih belum sampai ke rumah mu kan? Kau tidak ingin orang melihat bahwa kau sedang bersamaku?" selidik Rifqan


"Tidak. Aku hanya ingin memastikan terlebih dahulu, apakah ibuku ada di rumah atau tidak." Pinkan langsung menjelaskan karena dia sangat malas kalau harus berdebat dengan pria itu lagi


Dia mulai berjalan dengan perlahan, saat sampai di pagar depan rumahnya, dia langsung menemui satpam dan bertanya tentang ibunya. Setelah merasa situasi aman, barulah dia masuk ke dalam


"Verel..?" Pinkan berusaha memanggil adiknya


"Ya, kak? Kenapa kamu lama sekali?" tanya Verel


"Yang terpenting sekarang dia belum kembali, berikan kunci kamarku. Aku akan mengambil beberapa barang untuk keperluan kuliah ku." ucapnya

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membantumu." tawar Verel


"Tidak perlu, aku bisa mengemasnya sendiri." ucap Pinkan dan langsung berlalu


Setelah mengemasi beberapa pakaian dan barang-barang yang memang sangat akan di perlukan nya. Dia mulai menatap ke beberapa sudut kamarnya untuk mengingat apakah ada yang terlupakan


"Sepertinya, aku harus membawa buku diary itu bersamaku. Aku harus mencari tahu wajah siapa dibalik foto buram itu. Aku juga takut, sewaktu-waktu Amrita masuk ke dalam kamar ku dan menemukan kembali diary itu. Jika itu terjadi, akan sangat berbahaya."


Pinkan langsung mengambil diary itu dan tanpa ragu langsung pergi dari sana. Tak lupa dia kembali menemui Verel terlebih dahulu dan pergi dengan terburu-buru


"Sudah?" tanya Rifqan mulai melajukan mobilnya


"Sudah! Ayo, antarkan aku ke rumah Kiara sekarang!" ucapnya tanpa melihat sang pengemudi


"Kau memerintah ku?"


"Ya, salah kau sendiri yang ingin mengantarkan aku. Jika aku naik taxi pun, aku akan berkata seperti itu juga pada supirnya." jawabnya


Dasar wanita licik, lihatlah, aku pasti akan menakhlukanmu


Setelah sampai, Pinkan langsung keluar dan melengos begitu saja. Rifqan yang melihat itu geleng-geleng kepala. Dia memang harus memikirkan sebuah cara agar dapat membuat wanita itu mau menerima nya dengan tulus


"Kiara... Aku sudah pulang!" teriak Pinkan menggema di seisi rumah


"Kenapa kau berisik sekali? Aku sedang bermimpi berlibur bersama sayangku!"


"Sayangku? Ahaha, sejak kapan kau menjadi manusia bucin seperti itu?"


"Diam kau! Aku akan menikah dengannya, jadi aku harus membuat panggilan yang sangat-sangat romantis. Kau, jangan iri." balas Kiara


"Mana mungkin aku iri denganmu dengan jomblo seumur hidup dan sekalinya kenal dengan seorang pria, langsung menikah." ejek Pinkan


"Lalu, bagaiman denganmu? Memangnya, kau tidak sepertiku? Dasar, tidak tahu diri." celetuk Kiara


Pinkan hanya tertawa menanggapi ejekan sahabatnya itu, dia sadar bahwa mereka adalah tipe manusia yang sama dan sejenis


"Ahh, Kiara! Aku sudah mengambil foto ini, tolong bantulah aku, aku sangat penasaran dengan wanita yang berada di samping Amrita. Mungkin, dengan ini, aku bisa menemukan sesuatu." pinta pinkan


"Mana? tunjukkan padaku fotonya. Aku juga sudah mencari aplikasi yang bisa menjelaskan wajah siapa ini." ucapnya sambil melihat foto itu


"Benarkah? Mana? Ayo, kita perjelas sekarang. Tolonglah, aku memang sangat penasaran akut."


Mereka mulai menghidupkan aplikasi itu dan mulai mendeteksi ke arah foto itu. Entah kenapa, jantung Pinkan mulai berdetak tidak karuan seperti akan mendapatkan undian besar


Dia tidak berkedip sambil menunggu hasil foto itu. Namun, saat foto itu sudah terlihat dengan jelas, dia mulai membelalakkan matanya sebesar mungkin. Dia sungguh terkejut dengan apa yang dia lihat sekarang


Ada dua orang gadis muda yang sedang berdiri sambil saling merangkul, di dalam foto itu mereka terlihat tersenyum dengan sangat manis. Di belakang kedua gadis itu berdiri, ada sebuah pegunungan dengan suasana yang asri


Jika orang melihat sekali pun, dapat mengenali itu adalah sebuah desa yang mungkin sedikit jauh dari kota. Terlihat kedua gadis itu sangat akrab dan seperti orang yang sudah bersahabat lama


"Pinkan... kamu, kenapa?" tanya Kiara menyentuh lengan Pinkan


Namun, yang di tanyai hanya diam seribu bahasa tanpa niat untuk menjawab


"Pinkan, kenapa kamu diam saja?"


"Kiara... ternyata foto ini, adalah..."


Hai readers, dukung terus karya aku ya


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, hadiah, dan berikan komentar nya ya


Masukkan juga ke daftar favorit kamu ya

__ADS_1


Terima kasih 🤗


__ADS_2