Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Hasil Tes DNA


__ADS_3

"Tidak, aku sama sekali tidak pilih kasih, tuan! Aku hanya ingin, anda sebagai walinya mengetahui kelakuannya saat di kampus. Dia sangat brutal." jawab dosen wanita itu percaya diri


"Apakah kau sudah memanggil wali wanita ini juga?" tanya Rifqan


"Tidak, karena aku merasa dia tidak bersalah sama sekali." Erika tersenyum licik mendengar jawaban dosen itu yang jelas sekali sedang membelanya


"Kau hanya memanggil wali Pinkan, tapi tidak dengan wanita ini. Kau pasti tahu kan yang dimaksud dengan sebab dan akibat! Apakah kau tahu, kenapa Pinkan bisa sampai memukul wanita aneh ini?"


"Aku, aku..." Dosen wanita itu tergagap karena dia memang tidak menanyakan dengan jelas perihal masalahnya. Jelas sekali kalau dia memang sedang menyudutkan murid yang tidak disukainya


Sial! Aku tidak menanyakan dengan jelas. Aku tidak tahu mengapa mereka bertengkar. Tapi, aku tidak boleh kehilangan muka di depan laki-laki tampan ini


"Aku sudah menduga kau pasti tidak tahu. Ckck, bahkan aku meragukan kualitas mu dalam mendidik!" sindir Pinkan


"Tidak begitu, tuan! Erika, cepat jelaskan duduk perkaranya sekarang! Panggil walimu, cepat!" titah dosen itu dengan gelagapan karena merasa tertekan


"Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu untuk mengurusi kebodohan kalian. Biarkan aku berbicara dengan Dekan kampus kalian nanti! Ingat wajahku. Jika kau tidak puas dengan yang terjadi hari ini, kau bisa mencariku di Faruq Company!" ucapnya lalu berdiri


Rifqan mengandeng tangan Pinkan keluar. Verel juga ikut-ikutan berlari keluar menyusul kakaknya. Sebelum dia benar-benar keluar, dia sempat melihat ke arah Silvy. Mata mereka sempat bertemu dan beradu pandang untuk beberapa saat


Silvy menunjukkan senyum indahnya. Tapi, Verel malah memunculkan bendera perang tanda permusuhan pada wanita itu. Dia benar-benar sudah menabuh genderang perang pada wanita itu


Sial! Gara-gara Erika bodoh ini, aku jadi semakin dibenci oleh Verel. Jika begini, bagaimana aku bisa menikah ke keluarga kaya, batin Silvy sambil menatap horor ke arah Erika


"Bu, kenapa kamu membiarkan Pinkan pergi begitu saja? Lalu, bagaimana dengan wajahku sekarang, bahkan untuk keluar dari ruangan ini saja aku tidak berani." ucap Erika


"Sudahlah, gara-gara masalah kecilmu itu. Aku kehilangan kesempatan emasku. Bahkan, bisa saja pekerjaan ku menjadi taruhannya." balas dosen itu tak terima


Di luar, Pinkan sudah melepaskan gandengan tangan Rifqan. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian dan lagi-lagi akan menjadi sumber gosip disana


"Pinkan!" panggil seorang laki-laki dengan suara yang terdengar terengah-engah


Laki-laki ini lagi? Siapa sebenarnya dia, kenapa selalu bersama Pinkan, batin Dharma


"Pinkan, kamu tidak apa-apa? Aku mendengar kamu bertengkar dengan Erika karena diriku, maafkan aku karena terlambat mendengar beritanya." tanya Dharma sambil memegang tangan Pinkan


Bertengkar karena dirinya? Dan, berani-beraninya dia memegang tangan Pinkanku dengan tidak tahu malunya seperti itu. Rasanya, aku ingin mencabik-cabik wajahnya, batin Rifqan dan melotot ke arah tangan Dharma yang sedang menggenggam tangan Pinkan


Verel yang melihat ada aura pembunuhan dari Rifqan, berusaha melepaskan genggaman tangan itu dengan berjalan di tengah-tengah antara Dharma dan Pinkan yang sedang berbicara

__ADS_1


"Ah maaf, uangku jatuh di sini." ucap Verel dan tersenyum


"Aku tidak apa-apa. Terima kasih untuk perhatianmu." jawab Pinkan dengan tersenyum canggung


"Dan, siapa dia?" tanya Dharma lagi dengan menunjuk ke arah Rifqan


"Tentu saja aku adalah pa..." Perkataan Rifqan langsung dipotong oleh Pinkan karena takut pria itu terlewat bicara


"Hem, dia datang sebagai waliku. Kalau begitu, kami permisi dulu." Pinkan cepat-cepat menarik tangan Rifqan agar berlalu dari sana agar tidak muncul masalah dan menghancurkan rencananya


Sampainya di parkiran, Pinkan kembali menggenggam tangan Rifqan. Dia melihat wajah Rifqan yang sudah berubah menjadi masam


"Rifqan, aku minta maaf. Di depanmu malah ada laki-laki lain yang memegang tanganku, begitulah hubungan kita yang akan kita hadapi kedepannya. Jika kamu memang tidak sanggup, katakanlah dari sekarang, sebelum perasaanku semakin dalam untukmu."


Setelah mendengar perkataan Pinkan, laki-laki itu menoleh ke arah wanitanya. Tatapan matanya tersimpan makna tersirat yang susah untuk diartikan


"Aku hanya cemburu. Aku sudah berjanji untuk menemanimu membalas semua dendam mu. Jadi, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Mengerti?"


"Terima kasih karena sudah mau berdiri di sampingku, menemani hariku, dan selalu membelaku." ucap Pinkan, kemudian memeluk tubuh pria tinggi nan tampan itu dengan erat


"Ya. Masuklah, aku akan kembali ke kantor sekarang."


Sesampainya di kelas, terlihat Kiara yang sudah menunggunya. Kiara langsung berdiri dan menghampiri Pinkan dengan tergesa-gesa


"Pinkan, kamu tidak kenapa-kenapa, kan?" tanya Kiara sambil memutar balikkan tubuh Pinkan


"Tidak, aku baik-baik saja."


"Maaf, aku tidak bisa membantumu untuk memukul Erika tadi. Tadi, aku diantar oleh Patra, jadi harus menunggu nya karena dia juga lumayan lama. Begitu aku sampai ke kampus, sepanjang aku berjalan, aku malah mendengar desas-desus kamu yang bertengkar dengan wanita rubah hitam berekor sembilan itu." ucap Kiara berusaha menjelaskan


"Hahaha, tidak masalah. Yang penting, sekarang aku baik-baik saja, kan?" Pinkan terkekeh sendiri mendengar penjelasan Kiara


"Ah iya, Minggu ini, keluarga Patra akan datang ke rumahku untuk menentukan tanggal pernikahan kami, papa dan mamaku memintaku untuk memberitahumu dan juga keluargamu."


"Wah, kau sudah akan menikah?" Pinkan seakan tak percaya mendengar perkataan Kiara


"Iya. Jangan lupa untuk beritahu ayahmu, ya!"


"Tenang saja."

__ADS_1


"Tadi, aku sempat mendengar ada yang mengatakan, orang yang datang sebagai walimu itu adalah pria tampan yang gagah. Siapa itu?" tanya Kiara yang tingkat penasaran nya sudah berada ditingkat tinggi


"Rifqan, aku juga tidak menduga dia yang akan datang menjadi waliku. Huh! Aku sudah lelah dengan semua ini, tapi jika aku melihat wajah Amrita dan Dharma, rasanya aku ingin langsung membakar mereka hidup-hidup."


"Kamu harus kuat! Jangan mudah menyerah. Setidaknya, ingatlah yang kamu lakukan ini semuanya demi ibumu."


"Ah, aku penasaran sekali dengan buku diary itu. Tapi, aku belum bisa membukanya."


"Tidak perlu khawatir, kita bisa membawanya ke tukang kunci. Besok, bawalah agar bisa segera kita bawa dan menghilangkan rasa penasaran mu itu."


Tak berselang lama, masuklah dosen yang akan memberikan ilmunya untuk mereka. Setelah satu jam, sudah waktunya mereka pulang


Saat Kiara membuka tasnya, terlihat sebuah map berwarna cokelat berlogo rumah sakit. Dia menepuk jidatnya karena merasa telah melupakan sesuatu yang penting bagi sahabatnya


"Pinkan, ini ada sesuatu. Patra memintaku untuk menyerahkan ini padamu." ucap Kiara. Pinkan memperhatikan map itu dengan seksama


"Apa ini?"


"Aku juga tidak tahu, tapi dia mengatakan kalau ini sangat penting untukmu, jadi aku dilarang lupa!"


"Hahaha, terima kasih." Pinkan mengambil map itu dan memperhatikannya. Setelah melihat logo resmi rumah sakit, dia merasa tahu apa yang ada di dalam map itu


Dia ragu-ragu untuk membukanya karena takut dengan kenyataan yang akan segera dia ketahui. Dia membolak-balikkan map itu dengan khawatir


"Kenapa? Aku perhatikan kamu seperti tidak tenang?" tanya Kiara yang sedari tadi memang memperhatikan Pinkan. Dia juga menunggu Pinkan membuka map itu, jujur saja, dia memang sangat penasaran dengan isi map itu


"Ini adalah hasil tes DNA Verel dan ayahku. Aku takut untuk membukanya." jujur Pinkan


"Buka saja, mau tidak mau, kamu juga akan membukanya, kan? Memangnya, kamu tidak ingin tahu?"


"Aku sangat ingin tahu. Tapi, aku merasa belum siap menerima kenyataan jika bukan seperti yang aku harapkan."


"Apapun hasilnya, aku yakin itu memang yang terbaik yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk kalian." nasihat Kiara


Dengan tekad yang ia kumpulkan, Pinkan mulai merobek map cokelat itu dengan pelan. Dia menutup matanya karena memang belum siap untuk melihat


Setelah merasa sudah berhasil mengeluarkan isi dari map itu, Pinkan mulai membuka matanya perlahan. Dia membaca hasilnya dan dia membulatkan kedua matanya


"Memang, seperti yang kuduga." ucap Pinkan bergumam

__ADS_1


__ADS_2