
KEESOKAN HARINYA...
Pinkan sedang bersiap-siap di dalam kamar nya untuk pergi mengunjungi mami nya Rifqan. Seketika ponsel Pinkan pun berdering, dia melihat ponsel nya dan meletakkan ponsel nya di daun telinga nya
"Halo kia, ada apa?" tanya Pinkan memulai pembicaraan
"Pinkan, kita pergi kesana naik apa? Aku jemput kamu saja?" tanya Kiara
"Tidak perlu, nanti kita akan di jemput oleh supir mami Anya. Nanti aku yang akan menjemput mu." ucap Pinkan sambil mengoleskan eyeliner nya
"Hem baiklah, sampai bertemu nanti Pinkan." ucap Kiara dan langsung mematikan ponsel nya
Saat Pinkan mau turun, dia melewati kamar Amrita. Dia mendengar percakapan Amrita dengan seseorang, Pinkan berhenti di depan pintu kamar dan sengaja menguping pembicaraan itu
"Iya sayang, bagaimana pun cara nya kamu harus bisa mendapat kan hati nya." ucap Amrita dengan lembut
"............." ucap orang dibalik telpon tapi tak terdengar oleh Pinkan
"Anak kurang ajar itu sudah semakin berani sekarang padaku. Aku sudah tidak tahan lagi untuk menghabisi nya bersama dengan ayah nya yang bodoh itu." ucap Amrita geram
"................" ucap kembali orang di balik telpon
"Baiklah, aku harus bersabar kan? Aku mengerti. Untung dia juga belum mengetahui fakta tentang ibunya. Yasudah aku tutup ya telpon nya sayang, bye." ucap Amrita dan mengakhiri panggilan nya
Pinkan tersentak saat Amrita menyebutkan ibu nya tadi, siapa yang ada dibalik telpon itu? Apakah Dharma? Atau ada orang lain yang berkonspirasi dengan Amrita? Pinkan memikirkan itu dengan mengerutkan dahi nya
Saat Pinkan tersadar, ada suara langkah kaki yang mendekat. Pinkan langsung melangkahkan kakinya kembali berjalan turun ke bawah
Amrita yang baru saja membuka pintu terkejut melihat bayangan Pinkan di anak tangga, dia takut Pinkan akan mendengar semua pembicaraan nya dengan orang dibalik telpon tadi
Sejak kapan Pinkan melintasi kamar ku? Apakah Pinkan mendengar semua pembicaraan ku dan dia? batin Amrita
Amrita langsung mengejar Pinkan, dia menepuk bahu Pinkan dan memanggil nya. Pinkan yang merasakan ada yang menyentuh nya langsung berbalik
"Pinkan." ucap Amrita dengan lembut
"Kenapa bu?" tanya Pinkan seperti biasa nya
"Kamu mau kemana?" tanya Amrita yang menilai penampilan Pinkan dari atas ke bawah
"Aku mau pergi main sama Kiara. Kenapa?" tanya balik Pinkan
Aku harus bersikap biasa saja agar dia tidak curiga aku mendengar percakapan nya tadi, aku juga tidak bisa bilang aku akan pergi ke rumah mami Anya. Takut nya dia akan waspada dan aku akan kecolongan nanti nya, batin Pinkan
"Ah tidak, aku hanya bertanya saja. Yasudah aku mau masuk ke kamar."
"Silahkan..." ucap Pinkan seraya tersenyum ramah namun di paksakan
Amrita hanya berdehem gugup dan langsung membalikkan badan nya, dia mempercepat langkah nya untuk segera menjauh dari Pinkan
Aku tidak tahan lama-lama berdekatan dengan nya, tapi sepertinya dia tidak mendengar percakapan ku dengan orang itu tadi, batin Amrita sambil melangkah pergi
Pinkan masih berdiri mematung di tempatnya, seketika dia dikejutkan oleh satpam rumah nya yang menghampiri nya untuk menyampaikan amanah
__ADS_1
"Nona Pinkan, diluar ada utusan nyonya Anya," ucap satpam itu
"Baiklah pak, aku akan segera keluar." ucap Pinkan dan dia langsung berlalu keluar
Pinkan langsung masuk ke dalam mobil, dia mengarahkan supir tersebut ke arah rumah Kiara untuk segera menjemput Kiara
Di sepanjang perjalanan Pinkan hanya termenung karena memikirkan percakapan Amrita tadi, dia memijit pelipisnya berulang kali karena merasa pusing dengan apa yang dia pikirkan
"Apa lagi yang dilakukan oleh Amrita yang tidak aku ketahui. Seperti nya terlalu banyak rahasia yang disimpan amrita." ucap Pinkan pelan
"Nona, kita sudah sampai." ucap supir itu membuyarkan lamunan Pinkan
"Ah iya, tunggu sebentar pak saya akan masuk kedalam." ucap Pinkan dan langsung turun
"Kiara..." panggil Pinkan dan mengetuk pintu
Kiara langsung membuka pintu rumah nya, dan terlihat lah Pinkan yang sedang berdiri sambil tersenyum kuda
"Ayo, kita sudah ditunggu." ucap Pinkan sambil mengulurkan tangan nya
"Tunggu dulu, aku takut Pinkan!" ucap Kiara sambil menahan tangan Pinkan
"Tidak papa, sudahlah jangan kelamaan disini. Kasihan supir yang menunggu kita."
"Yasudah ayo." ucap Kiara pelan
Sementara itu, di mansion orang tua Rifqan. Nyonya Anya baru saja masuk ke dalam kamar milik Rifqan, dia membangun kan anak semata wayang nya itu untuk pergi bekerja
Bukan nya bangun, Rifqan menanggapi ibu nya hanya dengan berdehem saja, nyonya Anya sangat kesal dengan tingkah anak nya itu
"Nanti rezeki mu di patuk ayam sayang." ucap Anya
"Mami ini! Seperti orang susah saja." ucap Rifqan dan menutup tubuh nya dengan selimut
"Baiklah, terserah kamu saja! Sesekali kamu pulang ke mansion. Bukan nya menemani mami mu ini, kamu malah tidur!" ucap Anya dan berlalu pergi dari kamar anak nya dengan kesal
"Lihat saja nanti, kamu tidak mau bangun jika mami yang membangunkan mu kan, jika Pinkan yang membangunkan mu, kamu pasti akan sangat sangat senang kan?" gerutu Anya
"Nyonya, nona Pinkan dan teman nya sudah sampai." ucap seorang pria paruh baya
"Langsung persilahkan mereka masuk saja." ucap nyonya Anya
"Baik nyonya." jawab pria paruh baya itu dan membungkukkan badan nya
Pria paruh baya itu langsung keluar dan menemui kedua nona muda itu, dia mempersilahkan mereka masuk sesuai dengan perintah sang nyonya rumah
"Pinkan! Mami sangat merindukan kamu." ucap Anya dan langsung memeluk Pinkan
Kiara yang melihat itu pun tersenyum senang, karena dia tahu selama ini tidak ada yang menyayangi Pinkan seperti seorang ibu
"Oh iya mam, ini adalah…" ucapan Pinkan terpotong karena suara dari seseorang yang baru saja datang
"Kiara!" ucap seorang pria dengan tersenyum senang
__ADS_1
"Tuan Patra?" ucap Kiara yang sedikit terkejut karena melihat kehadiran Patra
"Ada apa Patra? Kenapa kemari?" tanya Anya
"Patra mau menjemput Rifqan Tante."
"Rifqan ya? Hampir saja lupa, kebetulan sekali kamu disini Pinkan. Ayo bangunkan Rifqan sana." ucap Anya
"Tapi mam..." belum sempat Pinkan menyelesaikan kalimatnya, dia sudah di dorong oleh Anya ke arah lift
"Kamar Rifqan ada di lantai 3 ya sayang!" teriak Anya sebelum pintu lift tertutup. Anya pun tersenyum jahil
TING !!
Suara pintu lift terbuka, Pinkan melangkahkan kakinya ragu untuk mulai mencari kamar milik Rifqan. Sampai di depan sebuah pintu kamar dia melihat ke arah pintu dan tertawa
"Wajah nya saja yang kejam, tapi perilaku nya masih seperti balita." ucap nya sambil tertawa geli. Pasal nya, di pintu kamar Rifqan terdapat wall plate holder yang bertuliskan 'kamar Rifqan'.
Pinkan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Pinkan kagum melihat kamar Rifqan yang berwarna black and grey itu
Pinkan berjalan ke arah Rifqan dan menarik selimut Rifqan. "Bangun Rifqan..." ucap Pinkan sedikit berteriak
Rifqan yang mendengar itu langsung membuka mata nya dan terkejut melihat wujud di depan nya itu
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Rifqan sambil menunjuk Pinkan
"Untuk membangunkan mu!" ucap Pinkan santai sambil duduk di sofa yang berada dalam kamar itu
"Kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu?" tanya Rifqan lagi
"Aku kan ingin membangunkan mu! Memang nya kalau aku mengetuk pintu terlebih dahulu, kamu akan mendengar nya?" tanya pinkan mengejek
Benar juga yang dia katakan, apa sih yang aku katakan dari tadi. Sudahlah jangan salahkan aku, aku kan baru bangun jadi mana nyambung jika berbicara, batin Rifqan membela diri
"Kamu jika bangun tidur tetap tampan ya." ucap Pinkan pelan dengan malu-malu. Namun perkataan itu masih dapat di dengar oleh Rifqan
"Makanya, menikahlah dengan ku. Jadi kamu bisa melihat wajah bantal ku setiap hari." ucap Rifqan percaya diri
"Apa yang kamu katakan tuan muda? Cepatlah pergi mandi." ucap Pinkan dan berdiri
"Kamu mau kemana?" tanya Rifqan
"Aku akan menunggumu dibawah! Memang nya kamu berharap aku yang akan memandikan mu?" tanya Pinkan sengit
"Boleh juga saran mu, ayo!" ucap Rifqan
"Dasar mesum!" ucap Pinkan dan melempar bantal sofa ke wajah Rifqan. Dia segera beranjak keluar dengan wajah yang bersemu merah
Rifqan yang melihat itu pun tertawa keras. "Kamu sangat menggemaskan Pinkan, aku tidak sabar untuk memiliki mu."
"Hahahaha!" tawa Rifqan keras sampai terdengar keluar
"Dasar sinting!" ucap Pinkan dan berlalu pergi
__ADS_1