Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Siapa Dia


__ADS_3

"Kakek? Kakek siapa maksudmu?"


"Aku juga tidak mengenalnya, Kak. Ibu hanya memintaku memanggilnya kakek saja." jelas Verel


"Sepertinya, asal muasal kakek yang kau sebutkan ini harus kita selidiki juga. Aku jadi sangat penasaran dengan identitas sebenarnya sang kakek."


"Pinkan, apakah kita akan mengunjunginya nanti?" tanya Kiara


"Aku juga belum tahu. Kalau kakek itu berpihak pada Amrita, bisa-bisa rencana kita bisa kacau, kan?" ucap Pinkan sambil berpikir


"Benar juga. Lebih baik, kita mencari penginapan sendiri." ucap Kiara


"Tenang saja, aku sudah menyuruh orang untuk mencarikan kita penginapan yang nyaman." sahut Patra, membuat kekhawatiran mereka jadi berkurang


"Tapi, kita tetap harus berhenti di supermarket terdekat untuk membeli beberapa kebutuhan makan pokok kita." ujar Kiara


"Aku juga sudah meminta mereka untuk mengisi lemari pendinginnya dengan penuh. Jadi, kita hanya tinggal menikmati liburan sambil mencari bukti-bukti yang konkrit." sambung Patra


"Memang suami idaman." seru Kiara. Mungkin, disekelilingnya sekarang sudah dipenuhi dengan tanda-tanda cinta


Mereka melanjutkan perjalan dengan berbincang-bincang dan bernyanyi ria. Tapi, Verel hanya diam dan wajahnya terlihat murung. Dia memikirkan, dia disana akan memakai pakaian apa. Tidak mungkin kan dia disana memakai pakaian pantai


Bisa malu dia jika dilihat oleh orang-orang sekitar desa. Jika memikirkan itu, wajahnya bertambah murung


Setelah menempuh perjalanan panjang dan jalanan yang lumayan landai. Mereka berhenti tepat di depan penginapan yang tampak asri. Di kelilingi dengan sawah-sawah yang padinya hampir tiba masa panen. Burung-burung juga berterbangan kesana-kesini seakan sedang menikmati angin yang bertiup semilir


Pinkan terlihat memejamkan matanya sembari menikmati angin dingin yang berhembus menerpa wajahnya. Dia menghirup dalam-dalam aroma khas yang ditimbulkan dari asrinya area itu


"Kamu menyukainya?" tanya Rifqan tiba-tiba mengagetkan Pinkan


"Sangat, aku sangat menyukainya." jawab Pinkan cepat-cepat diiringi dengan anggukan


"Tidak sia-sia aku membangun sesuatu untuk mu di desa." ucapnya dengan semangat dan senang


"Apa? Desa apanya?" tanya Pinkan, dia kurang jelas mendengar apa yang dikatakan oleh Rifqan. Karena suara laki-laki itu memang sangat kecil


"Tidak. Hehe." Rifqan malah tertawa dan memeluk Pinkan dari belakang


"Lepaskan! Orang-orang disini bisa berpikiran yang tidak-tidak." seru Pinkan


"Maafkan aku. Jika sedang berada di dekat mu. Aku selalu ingin memelukmu. Atau, menjadikanmu guling ku." ujarnya


Semua orang sudah turun dari mobil. Tinggal Verel yang masih duduk termangu di dalam mobil. Pinkan menghampiri adiknya itu

__ADS_1


"Kamu kenapa? Ayo masuk, mandi dan kemudian beristirahat." ujar Pinkan


"Kalau aku mandi, nanti aku harus memakai apa Kak? Aku harus pakai baju pantai?" tanyanya dengan raut wajah kecewa


"Ya. Pakai saja baju-baju pantai itu. Bukannya kamu membeli semua itu untuk persiapan dan akan dipakai saat berlibur?" goda Pinkan


"Karena aku pikir kita akan pergi ke pantai, Kak. Jika aku tahu kita akan pergi ke desa ini. Aku pasti akan membawa pakaian yang semestinya." bantahnya lagi dengan lemah


Pinkan tertawa melihat keadaan adiknya. Dia berjalan mengitari mobil dan membuka bagasinya. Dia mengambil dua buah tas duffel bag berwarna hitam dan cokelat dari bagasi itu. Sebenarnya, saat Verel mulai menanyai tentang pakaian pantai, dia sudah menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Verel di desa. Dia tahu, adiknya tidak tahu kalau mereka akan berpergian ke tempat yang berbeda dari apa yang mereka katakan. Jadi, dia sengaja secara diam-diam mempersiapkan semua keperluan Verel


Tas yang berwarna cokelat diserahkan pada Verel. Pinkan melemparkan tas itu ke atas pangkuan Verel hingga pria itu mengalihkan perhatiannya. Rifqan pun hanya memperhatikan interaksi antara dua orang itu


"Ambillah, dan segera masuk." ujar Pinkan


Verel hanya menatap tanpa menjawab ke arah kakaknya. Dia seperti sedang bertanya 'apa ini kak'. Pinkan yang seakan mengetahui maksud dari tatapan sang adik. Dia menjawab dengan lugas


"Itu adalah pakaian mu. Aku sudah mempersiapkannya sejak awal saat kau mulai menanyai pakaian pantai yang kau persiapkan."


Verel seakan mendapatkan jackpot. Dia langsung turun dari mobil dan berhambur memeluk kakaknya dengan sangat senang


"Terima kasih, Kak. Kamu memang wanita yang sangat baik." ucapnya masih dalam pelukan


"Lepaskan! Kau tidak boleh memeluknya." pekik Rifqan dan langsung menarik tubuh Pinkan ke dalam pelukannya


"Aku calon suaminya. Kenapa?" tantang Rifqan dengan mata melotot


"Dasar pria Agresif!" ejek Verel


"Ya. Siapapun yang mendekati Pinkan, aku akan berubah menjadi Udang Mantis. Aku akan mencakar dan meninju orang itu hingga terbenam ke dasar laut." ucapnya sambil berkacak pinggang


Verel merasa ngeri dengan keAgresifan pria di depannya. Dia berlari secepat kilat masuk ke dalam penginapan nya


Pinkan menatap ke arah Rifqan. Tatapan nya sangat sulit diartikan. Rifqan kembali menatap wanita di sampingnya, wajahnya yang cemberut seketika langsung berubah tersenyum bagaikan kuda sedang tertawa. Pinkan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan pria itu


Mereka semua sedang menonton TV. Ada penjaga penginapan yang masuk bersama seorang gadis belia. Semenjak masuk, gadis itu selalu melihat ke arah seorang pria yang berada di antara mereka


"Perkenalkan, saya Anton. Dan ini anak saya Zanna, Saya yang menjaga penginapan ini. Dan, anak saya yang akan membantu kalian selama berada disini. Jika kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa memberitahukannya." ucap pak Anton


Zanna seketika menunduk saat pria yang sedari tadi ditatapnya kembali melihat ke arahnya dengan tatapan datar. Wajahnya juga bersemu merah. Pinkan yang dari tadi memperhatikan sikap Zanna pun memasang raut wajah yang sukar untuk dipahami


******


Malam harinya, mereka memutuskan untuk mengadakan Barbeque Party. Disana juga ada Zanna untuk membantu mereka melakukan party mereka selama berlangsung. Mereka menyediakan Daging, Chicken,Dan beberapa jenis Seafood

__ADS_1


"Zanna, coba kamu ambilkan Baki! Aku tidak mengetahui dimana letaknya." titah Kiara yang sedang mengambil beberapa potong daging


"Baik, Kak. Akan aku ambilkan." jawabnya


"Tolong ambilkan minum juga." teriak Pinkan


Zanna hanya mengangguk sambil tersenyum. Tidak lama, dia kembali membawa Baki dan sebotol air mineral dingin


"Ini, Kak. Aku akan menemui ayahku. Jika kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa memanggilku dengan sedikit berteriak." ujarnya pada mereka


"Kamu disini saja. Lagi pula, kami sangat tidak suka dengan berteriak." jawab Kiara


"Hem baiklah. Aku akan duduk disana, ya? Kalian lanjutkan saja, anggap saja aku tidak ada."


"Bergabunglah. Anggap saja kami temanmu." ucap Pinkan


"Tapi, tidak sopan jika begitu terhadap tamu." ucapnya tak enak


"Anggap kami temanmu. Kami yang meminta kamu untuk bergabung. Jadi, tidak ada salahnya." sahut Kiara


Zanna tersenyum. Dia sangat gembira karena diperlakukan seperti itu. Dia kembali melihat ke arah seorang pria di antar ketiga pria itu yang sedang memanggang daging mereka


Pinkan kembali melihat arah tatapan Zanna. Dia kembali melihat itu dengan tatapan sukar diartikan


"Zanna, apa kamu tahu panti asuhan ini?" tanya Pinkan sambil menunjukkan sebuah foto


"Tahu. Itu berada di desa sebelah, Kak." jawabnya


"Bisakah kamu mengantar kami kesana besok?" tanya Kiara


"Bisa. Aku akan mengantar kalian kesana besok pagi. Kalian ingin berdonasi ya di panti itu?" tanya Zanna sambil tersenyum


"Hem, kami ada keperluan lain." jawab Kiara


Sedari tadi, Pinkan tak banyak bicara. Dia hanya mengamati Zanna dari atas ke bawah


"Kak, bolehkah aku bertanya sesuatu?" ujar Zanna


"Tanyakan saja. Mau bertanya saja masih harus meminta pendapat." ejek Kiara


"Hem, laki-laki yang itu. Yang berada di tengah. Bolehkah aku tahu nama nya?" tanya Zanna malu-malu


Sontak, Kiara melihat ke arah laki-laki yang di maksudnya. Sedangkan Pinkan, sudah tahu siapa yang di maksud, jadi tidak lagi melihat

__ADS_1


__ADS_2