
Rifqan mulai meminta bawahannya untuk mencari keberadaan Dharma. Hanya membutuhkan satu hari, mereka berhasil menemukan keberadaan Dharma.
"Lepaskan aku! Siapa kalian, kalian bisa dikenakan sanksi hukum karena menculikku." Dharma terus saja meronta berusaha untuk membebaskan dirinya dari pegangan anak buah Rifqan.
PLOKK PLOKK PLOKK
Dharma berhenti melepaskan diri saat mendengar suara tepukan tangan dari seseorang. Dia terkejut saat melihat kehadiran Pinkan di sana.
"Kau sendiri berlari dari hukuman hukum. Dan ingin mengingatkan orang tentang sanksi hukum?" Ejek Pinkan.
"Pinkan? Kenapa kau mengejarnya sampai kemari? Lepaskan aku!" Dharma kembali memberontak meminta mereka untuk melepaskannya.
"Hahahaha. Kau sudah pernah membuatku mati, lalu aku harus melepaskanmu?" Sinis Pinkan.
"Apanya yang mati? Kau saja masih berdiri tegak di sini." Sangkal Dharma yang memang tidak mengerti apa pun yang diucapkan Pinkan.
__ADS_1
"Sudah diamlah! Tidak ada gunanya berbicara dengan calon orang mati sepertimu!" Pinkan berdecih, dia tidak mau berbicara banyak dengan laki-laki yang membuatnya jijik itu.
"A-apa maksudmu?" Dharma tergagap karena sudah merasa takut dengan ucapan Pinkan.
"Sebelum kau tidak bisa lagi mendengar, aku akan mengatakan sesuatu padamu. Pihak polisi sudah menyerahkanmu padaku. Apa pun yang aku lakukan, tidak akan diurusi oleh mereka. Hidupmu akan jadi mainanku!" Ucapnya sambil tersenyum sinis.
"Bunuh dia sekarang! Jangan sisakan nyawanya sedikit pun. Sampah sepertinya memang hanya ditakdirkan untuk mati!" Ucap Embun tak berperasaan.
Setelah mengatakan itu, Embun pergi dari sana meninggakann Dharma yang dihabisi oleh para bawahan Rifqan.
Ternyata, yang membantu Dharma melarikan diri adalah Erika. Wanita itu ada di mana, tidak ada yang tahu. Karena sepertinya wanita itu sudah dibunuh oleh Dharma. Agar rahasia keberadaannya tertutupi. Tapi, pada kenyataannya, dia juga ditemukan oleh Pinkan.
Sesekali, Verel akan mengunjungi Ibunya itu, karena mau bagaimana pun, Amrita tetaplah ibunya. Wanita yang telah melahirkannya.
Raka, dia sudah menceraikan Amrita, dia sekarang tidak berniat untuk menikah lagi karena dia hanya ingin fokus dengan Pinkan dan calon cucu-cucunya.
__ADS_1
Pinkan dan Rifqan dikarunia dua orang anak laki-laki yang pintar. Kini, jika hari liburan tiba, mereka akan datang ke villa yang dulu dibangun oleh Rifqan untuk mereka.
"Rafa! Jangan berlari ke sana. Adikmu juga ikut." Pekik Pinkan, dia memang lebih memilih untuk menjaga kedua jagoannya sendiri. Padahal, orang disekitarnya berulang kali memintanya untuk mencari seseorang yang dapat membantunya, tapi dia selalu saja menolak.
Berbagai alasan dia ungkapkan. "Tidak masalah, Mi. Selama Rifqan tidak menganggap ini sebuah masalah, aku juga tidak apa-apa mengurus mereka sendiri. Lagu pula, kan ada Mami yang selalu berada di sampingku." Ucapnya sambil menyuapi Rafael, Anak keduanya.
"Lihatlah, Rifqan. Mami tidak mau Pinkan kelelahan. Kasihan dia selalu saja sibuk dengan kedua Anak ini." Keluh Mami Anya pada Rifqan. Agar Rifqan mau mencarikan babysitter untuk menolong Pinkan.
"Biarkan saja, Mi. Selama dia sanggup, aku tidak masalah." Sahutnya sambil membantu menyuapi Rafa makan.
Begitulah Rifqan. Selama Pinkan menginginkannya, dan tidak membahayakan Pinkan, dia pasti akan selalu menurutinya.
Novel ini aku tamatkan. Maaf jika dalam novel ini ada kesalahan kata. Saya selaku author juga minta maaf jika ada salah kata pada kalian.
Terima kasih sudah mengikuti novel ini.
__ADS_1
Jika berkenan, mari mampir di novelku yang lain ❤️❤️❤️
Salam sayang untuk kalian semuanya ❤️❤️❤️ Lope-lope di udara, hehe