Cinta Agresif Tuan Muda

Cinta Agresif Tuan Muda
Rifqan Ngambek


__ADS_3

"Pinkan.."


"Hem, kenapa?"


"Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"


"Rifqan, kita sudah sampai, aku akan menemui adikku, ya?" Pinkan langsung keluar dan seperti melompat dari mobil yang dinaikinya


"Jangan lama!" teriak Rifqan dari dalam


Pinkan menemui Verel yang sudah berdiri di pagar rumahnya dengan santai. Dia memang sedang menunggu kedatangan kakaknya yang akan membawanya datang menemui ayahnya


"Verel! Ayo, nanti kita dilihat ibu." ucap Pinkan sedikit berbisik


"Tenang saja kak, ibu sedang tidak di rumah sekarang." jawab Verel dengan sedikit terkekeh


"Yasudah, ayo! Ayah pasti sudah menunggu kita." ucapnya dan langsung menarik tangan adiknya


"Pelan-pelan kak, kaki ku masih bisa ku pakai untuk berjalan!" celetuk nya


"Maaf, aku sangat merindukan ayah. Jadi, aku juga menjadi sangat antusias," ucapnya juga terkekeh pelan


"Yasudah, ayo!" sambungnya lagi


"Ayo, kamu duduk disini depan saja, ya?!" ucap Pinkan yang terlihat santai, padahal dia sedikit memohon pada adiknya


"Duduk di depan? Kakak tidak salah, menyuruhku duduk di depan, di samping kak Rifqan?" tanya nya berusaha untuk memastikan


"Tidak, aku sangat tidak salah menyuruh mu untuk duduk di depan, laki-laki harus duduk dengan laki-laki, kan?"


"Tidak! Aku masih sangat sayang dengan nyawaku. Maafkan aku kak, karena kali ini aku harus membantah perkataanmu." Verel langsung mendorong kakaknya ke kursi depan dan menutup pintunya. Dia juga langsung masuk ke kursi bagian belakang dan duduk dengan tenang


Melihat hal itu, Rifqan tersenyum lucu. Namun, senyuman itu hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri. Dia tahu apa apa yang di maksud Pinkan. Sekarang, Pinkan sedang menaikkan tingkat kewaspadaan nya


"Bagus sekali, ternyata kamu masih sayang dengan nyawamu!" sarkastik Rifqan


"Ya. Tentu saja, aku tidak mau mati di usia muda." jawab Verel


"Bagus, memang adik ipar yang sangat pengertian." ucap Rifqan dan tersenyum simpul


"Diam!" teriak Pinkan dan dia langsung memutar lagu di dashboard mobil dengan suara keras


Setelah melalui jalan yang lumayan panjang, mereka sampai di rumah sakit milik keluarga Novusul yang cukup tersohor disana


"Kak, sebenarnya ayah sakit apa?" tanya Verel saat mereka menyusuri koridor rumah sakit


"Aku juga bingung mengatakannya."


"Kenapa bingung, bukankah kakak yang mencarikan dokter ini? Pasti, kakak tahu kan apa penyakit ayah yang sebenarnya. Katakan padaku kak, aku juga anak ayah, kan?" Verel memohon


"Baiklah, tapi tidak sekarang, aku akan mengatur waktu untuk menceritakan semua nya padamu. Yang penting sekarang, kamu hanya perlu menyenangkan hati ayah." jelas Pinkan


"Baik. Aku akan menunggu kakak mau menceritakan semuanya padaku. Jadi, setidaknya aku bisa melindungi ayah kelak." jawabnya dan menggenggam tangan kakaknya


"Pinkan, aku akan masuk bersama mu, ya?" ucap Rifqan berusaha memutuskan pegangan tangan adik kakak itu


"Apa sih? Aku tidak boleh memegang tangan kakak ku sendiri?"


"Siapa bilang tidak boleh? Aku hanya ingin berbicara dengan kakak mu!" Rifqan memelototi Verel


"Kekanakan sekali!" sindir Pinkan dan langsung berlalu pergi


Pinkan langsung masuk ke dalam ruangan ayahnya. Dan tidak lama, di susul oleh Verel dan Rifqan


"Ayah..." panggil Verel


"Verel, Pinkan, kalian sudah datang?!"

__ADS_1


"Iya, kami datang menjenguk ayah. Bagaimana, keadaan ayah sekarang?" tanya Verel yang berusaha masuk ke dalam pelukan ayahnya


"Ayah sangat baik. Ini semua berkat tuan muda Rifqan yang sangat baik pada kakakmu."


"Benarkah? Terima kasih tuan Rifqan." ucap Verel


"Tidak masalah. Ini memang sudah tugasku." jawab Rifqan yang juga berada di dalam ruangan itu


Saat Raka melihat ke arah Rifqan, Raka langsung terhenyak, dan dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah Pinkan. Seolah dia menuntut penjelasan 'Kenapa laki-laki itu juga ada di sini?'


Pinkan yang mengerti maksud tatapan ayahnya pun langsung tersenyum kikuk. Dia sangat lupa untuk memperingatkan Rifqan agar tidak masuk ke ruangan itu juga


"Tuan, bisakah kamu ikut aku sebentar?" tanya Pinkan dan Rifqan hanya mengangguk


Mereka keluar dan duduk di ruang tunggu. Rifqan hanya diam dan menunggu wanita di depannya itu untuk mulai berbicara


"Rifqan, maafkan aku. Tapi, bisakah kamu menunggu di sini terlebih dahulu?" Pinkan memohon


"Kenapa?" tanya Rifqan dengan nada dinginnya


"Aku tidak bisa memberitahu alasanku. Tapi, aku mohon kamu untuk mengerti, aku harus masuk dan kembali menemui ayahku." ucap Pinkan perlahan karena merasa tak enak


"Baiklah, aku akan menunggu di sini saja." ucap Rifqan pasrah


Ada apa sebenarnya, kenapa saat di depan ayahnya dia menganggap ku seperti orang asing. Apakah tidak bisa memberikan kesempatan untukku mendekat dengan tuan Raka, batin Rifqan sambil menatap punggung Pinkan yang perlahan menjauh dengan sendu


"Kak, mana kak Rifqan?" tanya Verel dan melihat ke arah luar


"Dia ingin menunggu di luar, ada yang ingin di kerjakan." alibi Pinkan


"Bukankah lebih nyaman mengerjakan nya di sini? Di luar udara nya sangat dingin kak. Angin malam berhembus lumayan kencang."


Mendengar perkataan adiknya, dia kembali menatap ke luar dan juga merasakan angin dingin yang menyelimutinya


Benar! Di luar memang sangat dingin. Tapi, apa yang bisa ku lakukan, aku tidak mau membuat ayah kecewa


"Benar sekali, aku memang sangat merindukan ayah." jawab Verel dan tersenyum tulus


"Benarkah? Ayah juga sangat merindukan kalian. Kalian sudah tidak pernah bertengkar, kan?"


"Tentu saja tidak, yah! Aku sekarang sangat menyayangi kakak." jawab Verel jujur


"Jadi, dulu kamu tidak menyayangi aku?" tanya Pinkan bercanda


Mereka tertawa dengan bahagia saat sesekali bertukar candaan yang membuat mereka semakin hangat. Pinkan juga seolah lupa bahwa saat ini ada seorang pria yang menunggunya sambil kedinginan


"Pinkan, apakah kamu sudah punya pacar, sekarang?" tanya ayahnya


"Kakak, dia sudah..."


"Belum! Aku belum berpikir untuk pacaran, yah!" sanggah nya


"Kenapa? Bukankah kamu sudah cukup dewasa untuk memiliki seorang pria? Kamu sudah harus memikirkan kebahagiaan mu juga, Nak!"


"Kebahagiaanku tidak penting jika dibandingkan dengan kebahagiaan dan senyuman ayah." jawab Pinkan dan memegang tangan ayahnya


"Kamu salah! Kebahagiaan seorang ayah, adalah ketika dia melihat kebahagiaan anak-anaknya. Tidak ada, ayah di dunia ini yang bisa tersenyum jika belum melihat anaknya mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya,"


"Hanya dirimu sendirilah yang bisa mencari kebahagiaan itu, dan mengukir senyuman mu dengan caramu sendiri." ayahnya menimpali


"Aku setuju dengan yang dikatakan ayah. Jadi kak, kamu pasti bisa menemukan kebahagiaan mu yang sesungguhnya suatu hari nanti." seru Verel


Kebahagiaan sesungguhnya? Aku rasa, aku tidak akan bisa mendapatkannya. Karena, harapan yang akan menjadi kebahagiaan ku sudah kuletakkan pada orang yang bukan pilihan ayah, batin Pinkan dan melihat ayahnya dengan nanar


"Ayah, kapan pulang ke rumah?" tanya Pinkan, lagi-lagi dia harus mengalihkan pembicaraan mereka


"Besok lusa, ayah sudah sangat merindukan rumah."

__ADS_1


"Wah, aku akan datang menjemput ayah." ucap Verel sangat antusias


"Ayah, hari sudah larut. Kami harus segera pulang. Lusa, kami akan datang menjemput ayah."


"Baiklah, kalian belajar yang giat ya. Jangan bertengkar lagi!" seru ayahnya


"Tentu saja, selama dia bisa menjadi adik yang baik." ucap Pinkan bercanda


"Kak, bisakah aku meminta waktu untuk berbicara dengan ayah sebentar saja?" pinta Verel


"Aku akan menunggumu di luar." jawab Pinkan dan langsung keluar


Setelah Pinkan sudah menghilang dari balik pintu dan benar-benar sudah mengunci pintu. Barulah Verel mulai berbicara


"Yah, maaf sebelumnya. Aku, ingin bertanya sesuatu padamu."


"Tanyakan saja, sepertinya ini sangat penting?"


"Benar! Ini memang sangat penting, yah!" jawab Verel


"Memangnya, apa?"


"Apakah benar, kak Pinkan adalah anak haram?" tanya Verel yang berusaha mengumpulkan keberaniannya


"Apa yang kamu katakan, Verel? Kau sedang bermain-main, ha? Dari mana kau dapat keberanian itu dan mengatai kakak mu anak haram?"


"Ayah, dengarkan aku! Ini semua bukan tuduhan ku. Ini adalah rumor yang diciptakan seseorang untuk menjatuhkan kakak di kampus, yah!" jelas Verel


"Rumor? Kenapa bisa ada rumor yang sangat kejam seperti itu?" tanya Raka tak percaya


"Aku juga tidak mengerti. Tapi, menurutku kita harus memikirkan sebuah cara untuk membersihkan rumor ini, yah!?" usul Verel


"Kau benar! Aku sudah memiliki caraku."


"Cara apa? Aku bisa membantumu?"


"Yang terpenting, saat menjemputku nanti, pastikan Pinkan juga datang."


"Baiklah, aku akan menjamin itu. Ya sudah aku permisi dulu, selamat malam, ayah."


Sementara di luar ruangan. Rifqan yang melihat kehadiran Pinkan langsung berdiri dari duduknya. Dia langsung menghampirinya Pinkan dengan tangan yang memeluk tubuhnya


"Kenapa lama sekali?" tanya Rifqan


"Kenapa kamu tidak menunggu di mobil saja?" Pinkan membalas dengan pertanyaan


"Aku pikir kamu akan menyuruhku untuk masuk." jawab Rifqan


"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kamu terus menungguku di sini,"


"Apakah hatimu sekejam itu, kamu melupakanku yang menunggumu di luar sini dan kedinginan seperti ini?" tanya Rifqan sendu


"Maaf, aku..."


"Kak, ayo!" perkataan Pinkan dipotong oleh Verel yang baru saja keluar


Melihat Verel keluar dari ruangan ayah nya. Rifqan langsung melengos begitu saja dan kembali ke mobil


"Rifqan, tunggu aku!" teriak Pinkan, namun orang yang namanya diteriaki tidak ingin melihat


Terima kasih atas dukungan nya


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan cara like, vote, dan juga berikan komentar yang membangun


Langsung tambahkan juga ke daftar favorit kamu, ya!


Terima kasih!!!

__ADS_1


__ADS_2