
Dharma malah tercengang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rifqan yang sama sekali tidak ia mengerti
"Kembali ke habitat ku? Apakah aku terlihat seperti buaya Amazon?" tanyanya sambil menunjukkan dirinya sendiri
"Kenapa? Kau merasa dirimu adalah orang yang tertampan disini? Ckck, aku malah merasa kau yang paling buluq diantara para buaya Amazon itu! Kasihan sekali mereka setiap hari melihat wajahmu yang begitu membosankan itu!" ejek Rifqan dengan tatapan merendahkan
"Tuan, kenapa anda terlihat sangat memusuhiku? Memangnya, apa kesalahan fatal yang sudah aku lakukan?" tanya Dharma dengan wajah polosnya
"Kau pikirkan saja sendiri. Kau merenungkannya sampai kau berpindah ke planet lain pun, kau tidak akan menyadari kesalahanmu. Karena kau berwajah tebal." ejek Rifqan lagi. Dia sangat kesal dengan manusia yang sedang berdiri dihadapannya sekarang ini
"Tuan, aku sangat mencintai, Pinkan. Aku hanya berharap anda juga bisa menjadi wali kami saat hari pernikahan kami nanti." Dharma langsung memegang tangan Rifqan dan mencium punggung tangannya
Hal itu membuat Rifqan jijik. Dia langsung menepis tangannya dan kembali melayangkan tatapan membunuh pada pria tak tahu malu itu
"Hari pernikahan? Jangan berharap! Kau mungkin harus menyelenggarakan hari pernikahanmu di pemakaman mu. Tapi bukan dengan Pinkan ku!" ucapnya seakan mendikte setiap ucapannya
Kiara dan Pinkan yang memperhatikan mereka tidak henti-hentinya menahan tawa. Perut mereka sudah sangat geli seakan tergelitik dengan bulu angsa
"Sudah-sudah. Dharma, pergilah dari sini. Waliku ini sangat garang! Jika kau terus menyahuti ucapannya yang tidak masuk akal itu, dia akan membunuh mu." ucap Pinkan sambil menolak punggung Dharma agar menjauh
"Nanti malam aku akan menghubungimu." teriak Dharma dari jauh
Karena tidak bisa memaki Dharma lagi, Rifqan malah menatap Pinkan dengan tatapan tajamnya dan tatapannya sangat mengintimidasi
"Awas saja jika kau berani mengangkat panggilannya. Akan ku pastikan, besok sudah beredar kabar kematiannya di seluruh media." ancam Rifqan
"Hahaha. Tenang saja, aku juga tidak tertarik untuk berbicara dengan plankton." jawab Pinkan sambil menunjukkan senyum manisnya
"Siapa plankton? Bukankah dia buaya Amazon?" Rifqan malah tidak mengerti arah pembicaraan mereka
"Wajahnya terlalu banyak. Jadi, sesuai dengan wajahnya, panggilannya juga banyak." sahut Pinkan. Kemudian dia mengandeng lengan Rifqan sambil setengah memeluk tubuh pria itu
"Ayo kita masuk. Jangan memikirkan hal yang tidak perlu. Pikirkan saja hal-hal yang penting."
Mereka masuk sambil beriringan. Rifqan berdiri di samping Pinkan sambil memeluk pinggang ramping wanita itu
"Jadi, cafe ini akan kalian dekorasi seperti apa?" tanya Patra yang masih mengamati ruangan sekitar
"Menurutku, lebih baik cafe ini di dekorasi dengan mewah dan elegan. Ala-ala bintang lima begitu. Dan setiap yang ingin ke ruangan VIP, harus ada kartu member." sahut Rifqan sambil memeluk Pinkan
__ADS_1
"Aku juga setuju. Tempat ini juga mendukung. Luas dan dan tempatnya juga strategis. Bagaimana menurut kalian?" tanya Patra yang juga memberikan pendapatnya
"Kalau aku sih, menurut Pinkan saja. Kan dia yang punya. Jadi, kalau cafenya sesuai dengan yang dia inginkan, pasti bisa lebih semangat dalam menjalaninya." usul Kiara
"Sayang, kenapa kamu tidak berpendapat? Kamu setuju kan dengan ide yang aku usulkan? Kamu tenang saja, aku adalah CEO di Faruq Company, jadi aku bisa mempromosikan cafe milikmu ini dengan mudah." ujar Rifqan dengan santai
"Tapi aku tidak setuju dengan pendapat mu. Aku lebih ingin mendekorasi cafe ini dengan gaya yang sederhana saja. Dan, aku juga ingin memberikan tema pada cafe ini dengan nama yang manis, yang tidak jauh-jauh dengan remaja, tapi juga cocok untuk keluarga." ucapnya sambil tersenyum
"Kenapa kamu selalu saja berbeda pendapat denganku sih?" Rifqan mengerucutkan bibirnya
"Berbeda pendapat juga tidak masalah, kan? Yang terpenting, hati kita selalu sama. Sama-sama saling mencintai." jawab Pinkan sambil menyandarkan kepalanya di pundak laki-laki yang dicintainya
"Huek! Kak, sejak kapan kamu menjadi begitu puitis dan lebay begitu? Sisi keji mu jadi hilang?" ucap Verel yang berpura-pura muntah
"Hahahaha. Sejak menjadi pacar dari tuan muda Rifqan Athalla Faruq yang agresif dan sombong ini." jawab Pinkan santai
"Kamu ini sangat manis, Sayang." puji Rifqan sambil mencuil hidung Pinkan
"Sudahlah. Aku tidak ingin melihat sikap lebay kalian yang dikemas rapi menjadi romantis itu. Ayo kita pergi beli makanan. Sebentar lagi sudah waktunya makan siang." ujar Kiara yang memutar bola matanya
Pinkan dan Kiara yang pergi membeli makanan untuk mereka semua. Mereka ingin menjadi yang pertama yang makan di cafe milik Pinkan. Walaupun makannya berasal dari cafe yang lain
DRRRT DRRRTT
Rifqan merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang terasa bergetar. Tertera nama Vini dilayar benda pipihnya
Rifqan mengerutkan keningnya karena Vini sedang melakukan panggilan Vidio call dengannya. Tidak seperti biasanya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menggeser icon berwarna hijau
"Ada apa?" tanya Rifqan. Terlihatlah wajah Vini yang tersenyum manis padanya
"Kamu sedang berada dimana?" tanya Vini yang menjawab pertanyaan Rifqan dengan pertanyaan
"Kamu bisa lihat sendiri!" Rifqan mengedarkan layar ponselnya agar wanita itu dapat melihat sendiri, karena dia malas menjawabnya
"Kata mami Anya, kamu sedang liburan bersama dengan teman-teman mu." ujar Vini
"Ya. Kenapa?" Rifqan terlihat sangat malas, tapi dia belum menemukan jawaban kenapa Vini melakukan panggilan Vidio call padanya
"Kenapa kamu tidak membawaku bersamamu? Aku kan juga ingin pergi dengan calon suamiku ." ucap Vini dengan suara yang terdengar manja
__ADS_1
"Kau sangat menyusahkan!" ujar Rifqan dengan wajah datarnya
"Kapan kamu akan pulang?" tanya Vini dengan suara manja. Dia tidak menghiraukan sikap Rifqan yang sangat dingin padanya
"Aku tidak ingin pulang dan akan melihat wajah jelek mu itu!" ketus Rifqan
Tanpa disadari oleh tiga jantan itu. Wanita yang membeli makanan untuk mereka sudah berdiri di ambang pintu sedari tadi. Pinkan sengaja mencegah langkah kaki Kiara untuk tidak masuk, agar dia bisa mendengar lanjutan perbincangan Rifqan dengan seorang wanita yang sudah dikenali suaranya
Ketiga pria itu duduk membelakangi pintu, jadi wajar saja kalau mereka tidak mengetahui bidadari mereka yang sedari tadi sudah menguping pembicaraan itu
Verel sengaja diam melihat pacar kakaknya melakukan panggilan Vidio call dengan wanita lain. Karena dia ingin melihat, sikap seperti apa yang akan di perlihatkan laki-laki itu pada wanita lain
"Terserah kamu saja. Memangnya, mami Anya tidak mengatakan apapun padamu?" ucap Vini
"Mengatakan apa? Aku tidak tahu." sangkal Rifqan. Dia mulai ingin tahu, karena sepertinya arah pembicaraan mereka sudah mengarah padanya juga
"Kemarin, mami Anya menelepon ke telepon rumahku. Mami Anya mengundang keluarga kami untuk makan malam saat kamu sudah pulang nanti." jawab Vini
"Hanya makan malam saja. Sedari dulu juga sudah sering mengundang keluarga kalian untuk makan malam bersama. Lalu, apa hubungannya denganku?" Rifqan mulai terlihat kembali acuh
"Rifqan, Rifqan. Tentu saja ada hubungannya denganmu. Karena, tujuan mami Anya mengundang kami untuk makan malam bersama adalah untuk membahas acara pertunangan." Vini menekankan kata-kata terakhirnya
"Pertunangan? Pertunangan siapa?" tanya Rifqan yang sedikit terkejut. Tapi dia berusaha menutupi keterkejutannya
"Tentu saja acara pertunangan kita. Lalu, siapa lagi?" Vini tertawa senang bercampur merasa lucu dengan kebodohan yang ditunjukkan Rifqan
Mendengar hal itu, Pinkan buru-buru menghampiri Rifqan yang masih melakukan panggilan Vidio call. Dia berdiri di hadapan laki-laki itu hingga membuatnya terkejut
"Pinkan?" Rifqan tergagap
"Apa maksud semua ini?" tanya Pinkan, air matanya sudah tergenang di pelupuk matanya
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Rifqan pura-pura tidak mengerti
"Kau akan bertunangan dengannya?" pekik Pinkan, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke ponsel Rifqan yang masih tersambung
Rifqan yang tersadar bahwa dia belum mematikan itu, langsung mematikan secepat kilat
"Jawab aku, Rifqan! Jawab aku!" teriak Pinkan menggema seluruh ruangan. Semua orang hanya diam tidak berani menyela sedikit pun
__ADS_1