
"Aku tahu. Tapi, sebenarnya aku juga tahu kalau dia adalah anakku. Anak kandungku!" jawabnya santai
"Apa? Ayah tahu hal itu?" tanya Pinkan tak percaya
Raka hanya menaikkan alisnya tanda mengiyakan. Pinkan masih menatap tak percaya pada ayahnya
"Kenapa? Kamu pikir Ayahmu ini berbohong?" tanya Raka setelah melihat raut wajah anaknya yang tak bersahabat
"Hem. Mana mungkin, bolehkah kamu menceritakan sedikit, yah?" pinta Pinkan, dia memasang wajah puppy eyes
Raka mulai mengenang masa lalunya. Dia mulai menerawang jauh saat-saat dimana dia dan Amrita memulai semua kekacauan itu
FLASHBACK ON
"Hahahaha. Terima kasih, tuan! Karena anda sudah mempercayakan kami untuk menerima tender ini." ucap Raka disela tawanya sambil berjabat tangan dengan seorang pria yang juga memakai setelan jas rapi
"Ini semua juga karena usaha keras Anda. Kalau begitu, kami permisi." sahut sang lawan bicara
Raka hanya tersenyum, dia sebenarnya sudah merasakan sesuatu yang tidak beres dari tubuhnya. Entah kenapa, tiba-tiba dia merasakan pusing dan hawa tubuhnya panas
Dia memutuskan untuk membereskan semua barang-barangnya agar bisa cepat-cepat pulang. Tapi, ada seorang wanita yang menghampirinya dan sepertinya sedang mencoba menarik perhatiannya
"Suamiku. Ayo, kita pulang sekarang!" ujar wanita yang tiba-tiba datang
Raka melihat wanita itu dengan pandangan kabur, dia tidak jelas melihat wajah dari wanita itu karena pusing sudah sangat menderanya. Wanita itu membopong Raka dan memasukkan Raka ke dalam taxi yang sudah berdiri di depan cafe itu
Entah kemana mereka melaju. Raka sudah tidak mengetahui apapun lagi. Saat tiba di sebuah hotel kecil, wanita itu langsung membawa masuk Raka yang dibantu oleh sang supir taxi
"Aku harus cepat! Sehabis itu harus cepat-cepat pulang dan beristirahat." ujar Amrita
Amrita buru-buru menanggalkan pakaiannya sendiri dan juga pakaian Raka. Mereka hanya setengah bugi*. Amrita mulai mengambil beberapa gambar Raka dan dirinya, Raka terlihat seperti sedang tidur
Setelah mengambil beberapa gambar dan Amrita ingin beranjak, tiba-tiba kepala Amrita juga pusing. Dia juga pingsan di samping Raka yang sedang pingsan
Tidak lama Amrita pingsan, Raka terbangun, dia memegangi kepalanya. Namun, hawa panas akibat obat perangsang yang diberikan oleh seseorang menggelapkan matanya. Dia melihat wanita yang tidur di sampingnya dalam keadaan yang tidak memakai pakaian
Dia khilaf, dia pun menyetubuhi wanita yang dikira istrinya itu. Hingga, rasa inginnya tiba-tiba menghilang begitu saja. Dia tersadar dan dia terkejut melihat wanita yang berbaring di bawahnya ternyata bukanlah istrinya
__ADS_1
Dia langsung mundur ketakutan. Entah kenapa, rasa takut yang begitu besar menghinggapi dirinya. Dia gemetar karena merasa telah mengkhianati istrinya. Dia langsung terbayang anak dan istrinya yang sedang menunggunya di rumah dengan harapan besar
Dia buru-buru memakaikan pakaian wanita itu. Setelah memakaikannya, dia juga secepat mungkin keluar dari hotel kecil yang berada di pinggir kota itu dan pulang ke rumah
Saat sampai di rumah, Raka masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat istrinya sudah tertidur di sofa di ruang tamunya sambil memeluk dirinya sendiri
Dia terhenyak melihat istrinya yang sedang tertidur. Dia sudah menduga kalau istrinya itu pasti sedang menunggu kepulangannya
"Jessy, ayo bangun." Raka menggerak-gerakkan tubuh istrinya agar istrinya terbangun
Melihat kehadiran Raka, Jessy langsung bangun dan memeluk suaminya karena senang suami yang sedari tadi dia tunggu sudah berada di depannya saat ini
"Sayang, kenapa kamu baru pulang? Ini sudah sangat larut." ucapnya sambil sesekali masih menguap
"Maaf. Sehabis bertemu klien tadi, aku harus kembali ke kantor karena ada urusan lain yang harus segera aku selesaikan." alibinya
Jessy hanya percaya begitu saja. Dia memeluk lengan suaminya dan membawa suaminya ke kamar dan membukakan sepatunya layaknya istri berbakti pada umumnya
Pagi harinya, Amrita terbangun karena sinar matahari menembus gorden berwarna putih dan memantul ke wajahnya. Dia mengerutkan keningnya karena masih terasa sedikit pusing
Amrita beranjak, dia masih merasakan kepalanya pusing, dia kembali duduk di atas ranjang kamar hotel itu
"Ah, kepalaku pusing sekali, aku masih belum punya uang untuk menebus obat. Tapi, aku akan segera merebut semua hartamu Jessy. Dan, aku tidak akan menderita seperti ini lagi." ucapnya lirih sambil memegangi kepalanya
SATU BULAN KEMUDIAN
TOK TOK TOK
Saat Raka, Jessy dan Pinkan kecil sedang sarapan pagi bersama. Ada yang mengetuk pintu. Bi Yem membuka pintu dan melihat ada seorang wanita muda yang datang dengan mata yang sembab
"Apakah ada Jessy di rumah?" tanya Amrita
"Ada. Tunggu sebentar." Bi Yem langsung berlari tergopoh-gopoh menemui tuan rumahnya yang sedang sarapan dan menyampaikan pesan kalau ada seorang wanita yang sedang mencarinya
Jessy yang penasaran, langsung menyusul ke luar. Saat Jessy melihat siapa yang datang, dia langsung tersenyum sumringah dan memeluk wanita muda yang seumuran dengannya itu dengan erat dan bahagia
Raka juga merasa penasaran dengan siapa tamu yang datang, bisa membuat isterinya sebahagia itu. Dia meninggalkan sarapannya dan memilih menyusul istrinya ke depan
__ADS_1
Mata Raka terbelalak dan dia mundur teratur ke belakang. Jessy yang mengetahui kehadiran suaminya juga spontan melihat ke arah suaminya
"Sayang, sini! Aku kenalkan pada sahabatku." ucap Jessy yang senyumannya belum menyurut
Bukankah itu wanita malam itu? Dan, dia mengenal Jessy? Ada apa ini
Tiba-tiba Amrita memeluk Jessy dengan erat, dua mula menangis sesenggukan di pelukan sahabatnya itu. Jessy heran melihat sikap Amrita yang terlihat sangat pilu
"Rita, kamu kenapa menangis?" tanya Jessy sambil menggosok-gosok punggung Amrita pelan
"Jessy, aku hamil!" ucap Amrita masih menangis
"Apa? Siapa yang sudah menghamili kamu? Apakah pacarmu?" tanya Jessy. Jessy langsung melepas paksa pelukan mereka dan bertanya dengan wajah marahnya
Apa? Dia hamil? Tidak mungkin kan dia hamil anakku. Aku juga tidak memakai pengaman saat itu, batin Raka
Wajah Raka sudah pucat pasi. Dia sangat ketakutan kalau sempat kenyataan yang di dengarnya tidak seperti yang dia inginkan. Dia berusaha untuk tetap bersikap tenang dan seperti biasanya
"Jessy, aku harus segera ke kantor. Aku pergi sekarang, ya?" pintanya
"Tuan, aku ingin anda mendengarkan pembicaraan ini dulu. Karena, apa yang ingin aku katakan ini ada hubungannya dengan Anda." ucap Amrita dengan wajah menyedihkan
Mendengar permintaan Amrita, tubuh Raka semakin gemetar, nafasnya semakin naik turun tidak karuan. Sepertinya, dia sudah menebak kemana arah pembicaraan ini
Jessy merasa ada yang salah dengan itu semua. Kenapa Amrita meminta suaminya untuk tinggal dan ikut mendengar percakapan mereka. Bukankah ini semua tidak seharusnya di dengar oleh suaminya itu
"Rita, sebenarnya siapa laki-laki yang sudah menghamili kamu? Tolong jujur padaku." ujar Jessy sambil memegang lengan Amrita lembut
Dengarkanlah baik-baik Jessy. Mungkin saja, setelah mendengar ini, kamu tidak akan hidup lagi, batin Amrita puas dalam hatinya
"Se-sebenarnya, yang menghamili aku adalah, Raka. Raka suamimu, Jessy!" ucap Amrita, setelah itu tangisnya pecah
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya
Berikan like, komentar yang membangun, gift dan votenya agar author lebih semangat lagi
Terima kasih ❤️
__ADS_1