
Raka mengalihkan perhatiannya dari ponselnya. Dia melihat Pinkan yang datang bersama seseorang. Dia tercengang dan tidak mengedipkan matanya. Dari tatapan nya, sudah terbaca kalau ia tak suka
"Pinkan, kenapa kamu bisa datang bersamanya?" tanya Raka skeptis
"Ya, Ayah. Kami memang sudah membuat janji untuk menemui Ayah bersama." jawab Pinkan berusaha tenang. Padahal, dia sudah ketar-ketir karena takut ayahnya marah dan memukul Rifqan atau membuat keributan yang lainnya yang tidak pernah terlintas dipikirannya
"Kamu datang terlalu lama. Sepertinya, jam makan siang di kantor sudah habis. Jadi, aku harus segera kembali. Maaf, karena kesempatan kali ini tidak bisa kita gunakan." ucapnya. Raka langsung berdiri dan bersiap untuk pergi dari tempat itu
"Tuan, berikan aku dan Pinkan kesempatan untuk meluruskan kesalahpahaman antara kita." ujar Rifqan. Dia buru-buru menahan tangan Raka agar laki-laki paruh baya itu tidak pergi
"Tuan, Rifqan! Saya sangat ingin bisa makan siang bersama, Anda. Tapi, ini bukanlah waktu yang tepat." jawabnya sambil mengerutkan keningnya
Rifqan dan Pinkan tahu, sebenarnya Raka memang sedang menghindari Rifqan. Beribu alasan yang ia pakai agar dia bisa pergi dari sana secepatnya. Tapi, Rifqan tetap saja berusaha menahannya tinggal dengan Beratus ribu alasan yang lainnya
"Ayah, ku mohon. Berikan kami waktu sepuluh menit saja." pinta Pinkan. Dia mengatupkan kedua tangannya memohon
Raka kembali melihat jam di pergelangan tangannya. Dia pun akhirnya mengangguk setuju untuk memberikan anaknya untuk mengatakan sesuatu yang ingin mereka luruskan
Pinkan tersenyum senang. Dia cepat-cepat menarik tangan Rifqan agar duduk bersamanya
"Ayah, kami menemukan ini." ujar Pinkan langsung pada intinya. Dia mengajukan sebuah amplop berwarna cokelat
"Apa ini?" tanya Raka yang masih belum mengambil amplop yang disodorkan anaknya
"Ayah buka saja." ujar Embun
Raka mulai membuka amplop itu perlahan tapi pasti, semakin dia melihat isi dari amplop itu. Raut wajahnya semakin tidak menyenangkan
"Ini, bukankah laki-laki yang dijodohkan oleh ibumu untukmu?" tanya Raka
"Ayah benar. Dia memang laki-laki itu."
"Lalu, kenapa dia melakukan hubungan tak senonoh seperti ini dengan wanita lain?" tanyanya lagi
"Itulah wajah aslinya, Yah. Dia itu juga merupakan seorang penipu." seru Pinkan
Sedangkan Rifqan hanya memilih diam saja. Menurutnya, ini belum waktunya untuk dia yang berbicara. Di bawah meja, mereka saling menggenggam tangan untuk saling menguatkan
Raka juga melihat lembaran-lembaran yang lainnya. Raka melihat data-data penculikan Pinkan dan foto-foto saat Pinkan disekap
__ADS_1
"Ini, ini kamu kan, Nak?" ucapnya dengan wajah cemas
"Iya, itu aku, Yah." jawabnya cepat
"Kamu diculik? Kapan hal itu terjadi?"
"Sudah lama. Dan ayah tahu, dalang di balik penculikanku adalah Dharma!"
"Apa? Kenapa dia menculikmu, apa alasannya."
"Alasannya sangat mudah. Ya, seperti, seorang super Hero menyelamatkan seorang gadis."
"Aku akan segera memenjarakannya." ucap Raka dengan geram dan rahang yang mengeras
"Jangan, Yah. Aku akan membalaskannya sendiri padanya." jawab Pinkan cepat
"Sebenarnya ada apa ini? Apa maksud kalian memberikan bukti-bukti ini padaku?" tanyanya lagi sambil menatap Rifqan dan Pinkan secara bergantian
"Ayah, Dharma itu bukanlah laki-laki baik. Dia adalah laki-laki bejat, Yah. Dia tidak bisa memenuhi ekspektasi Ayah tentang laki-laki baik." ujar Pinkan
"Lalu?"
"Aku membawakan beberapa bukti untukmu agar kamu mempercayai aku, Yah. Jadi, kau tidak berpikir aku hanya bisa berbicara tanpa bukti." lanjutnya lagi
"Semua bukti-bukti atas ucapanku sudah ada di tangan Ayah. Tinggal ayah percaya atau tidak saja." lanjut Pinkan
Raka hanya diam saja. Dia tahu, anak-anak muda di depannya ini pasti ada maksud lain. Dia masih setia menunggu mereka untuk mulai pembicaraan mereka yang sebenarnya
"Sebenarnya, kami sudah mulai berpacaran, Tuan!" ucap Rifqan
Raka terlihat terkejut dengan pernyataan Rifqan. Tapi dia menutupi keterkejutannya sesempurna mungkin dan hanya menampilkan wajah sangar seorang Ayah saat ada umunya, jika ada laki-laki yang mendekati anaknya
"Sejak kapan?" tanya Raka cuek
"Sudah dua Minggu." jawab Pinkan kemudian
"Apakah kau masih ingat, apa yang Ayah katakan padamu?" tanya Raka masih memasang raut wajah pelit senyumnya
"Maaf. Aku ingat, tapi aku tidak bisa mengabaikan perasaanku begitu saja, Yah."
__ADS_1
"Jadi, maksudmu memintaku menunggu disini adalah untuk ini? Untuk kalian memberitahukan tentang hubungan kalian?" tanya Raka dengan wajah masam
"Kami hanya ingin Ayah merestui hubungan kami." ujar Pinkan dengan wajah tertunduk
"Mengertilah, Nak! Ayah melakukan ini semua tentu saja mempunyai alasan tertentu. Ayah tidak ingin kamu menjadi korban dari orang-orang kaya." seru ayahnya tegas
Rifqan merasa tersinggung dengan penuturan Raka. Dia langsung menyambar ucapan Raka begitu saja
"Maaf, Tuan! Aku menyela ucapanmu. Tidak semua orang kaya sama seperti yang Anda pikirkan. Aku, bahkan baru mengenal cinta saat bertemu dengan Pinkan. Dalam hatiku, tidak sedikitpun aku berniat untuk melukainya, karena dialah orang yang sudah membuka hatiku dan mencairkan gunung es ku ini." ucapnya sambil mencium telapak tangan Pinkan di depan Raka
Pinkan merasa malu, dia menarik tangannya agar Rifqan tidak melanjutkan aksi gilanya itu. Dia mengutuk keberanian Rifqan yang mungkin akan membuat ayahnya akan bertambah marah dan mungkin, bisa saja akan mengusir pria yang sudah berani bersikap kurang ajar pada anaknya itu
Dasar pria cabul tidak tahu tempat. Sadarlah! Kita baru ingin meminta restu untuk bersama. Bisa-bisa, kau akan di usir, mungkin juga akan dikarungkan dan di jual di pasar loak, batinnya sambil mendelik menatap Rifqan
"Kapan kau akan memberikan bukti atas keseriusan mu itu? Sebelum kau membuktikan keseriusan mu, aku tidak akan berhenti untuk mencarikan jodoh untuk anakku." ucap Raka otoriter
Kalau dalam bisnis, mungkin Raka akan segan dengan Rifqan, karena Rifqan adalah raja bisnis.
Tapi, sekarang keadaannya berbalik, Rifqan lah yang harus hati-hati disini, karena Raka bisa berubah kapan saja menjadi singa Padang pasir, untuk melindungi anaknya dari para predator yang siap memangsa mereka kapan saja
"Aku bisa membuktikan keseriusanku sekarang juga. Tapi, Pinkan tidak mengizinkannya. Karena dia ingin menyelesaikan urusannya yang belum selesai." jelasnya
Raka menatap ke arah anaknya. Dia seolah minta penjelasan kenapa wanita itu menolak seorang pria yang sudah berpacaran dengannya untuk serius. Bukankah Pinkan sudah tahu kalau Raka sudah sangat ingin menimang cucu
"Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dulu, Yah. Setelah itu, aku pasti akan memberikan cucu yang banyak untukmu." ucap Pinkan. Dia tidak mungkin menjabarkan rencananya untuk membalas dendam
"Anda sudah mendengar sendiri, kan? Jadi, bukan aku yang tidak ingin membuktikan keseriusanku. Jadi, ku mohon, jangan jodohkan dia pada siapapun lagi." pinta Rifqan dengan mengatupkan kedua tangan nya
Raka tersenyum melihat sikap Rifqan seperti itu. Dia tidak menyangka, kalau kelemahan si raja bisnis yang sombong itu terletak pada anaknya
"Ayah, ada suatu hal yang ingin aku tanyakan lagi." seru Pinkan
"Hem?"
"Apakah Ayah tahu perihal Amrita yang meragukan kalau Verel adalah anak Ayah?" tanyanya
Raka sangat-sangat terkejut mendengar pertanyaan anaknya kali ini. Dia tidak menyembunyikan keterkejutannya sama sekali. Dia heran, kenapa Pinkan bisa tahu dan menanyakan perihal itu padanya sekarang
"Tampaknya, kalian akan menghabiskan semua waktuku petang ini, ya? Bukan hanya sepuluh menit saja. Tapi sepertinya aku masih harus disini sampai jam pulang kerja." sindirnya
__ADS_1
Pinkan hanya tertawa renyah. Dia mengerti maksud dari sindiran ayahnya itu adalah untuknya. Tapi, dia tak ingin menjawab apapun karena dia sangat menanti jawaban ayahnya tentang pertanyaan nya tadi
"Aku tahu. Tapi, aku juga tahu, kalau sebenarnya Verel memang adalah anakku. Anak kandungku." jawabnya santai